NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Kodeks Verlanth

Malam kedua di reruntuhan terasa berbeda dari yang pertama. Api unggun kali ini dinyalakan di tengah dinding batu yang masih berdiri, cukup terlindung dari angin, cukup terang untuk membuat bayang-bayang lembah tidak terasa seberat sebelumnya. Asapnya naik lurus ke langit malam yang mulai dipenuhi bintang, satu-satunya tanda bahwa cuaca akan tetap bersahabat sampai pagi. Yuna sudah selesai memurnikan sudut gudang tempat ia merasakan residu itu, gerakan tangannya masih pelan dan hati-hati saat membersihkan alat pemurniannya, tapi bahunya sudah tidak lagi setegang siang tadi.

Petra membantu Tomas menyusun perbekalan yang masih bisa diselamatkan dari kamp lama, memisahkan barang yang layak dibawa pulang dari yang sudah terlalu rusak. Corym duduk memeriksa peta, menandai posisi lembah dengan arang kecil agar mudah ditemukan lagi jika perlu.

Brann masih sibuk memilah sisa-sisa kertas yang berhasil diselamatkan, menyusunnya di atas selembar kain sesuai urutan yang hanya dipahaminya sendiri. Ia berhenti tiba-tiba, jarinya menekan sesuatu yang keras di balik lapisan tanah longsor dekat dinding gudang.

"Ada sesuatu di sini."

Semua orang berhenti dari kegiatan masing-masing. Corym mendekat membawa lentera, cahayanya menyoroti tangan Brann yang sudah menggali lapisan tanah tipis, menyingkap sudut sebuah peti kayu kecil, terkunci rapat dengan gembok besi berkarat.

Tomas mematahkan gembok itu dengan gagang pedangnya, dua kali pukulan cukup untuk membuatnya lepas. Di dalam peti, terbungkus kain minyak yang masih utuh melindungi isinya dari kelembapan, tersimpan sebuah buku tebal berjilid kulit, halaman-halamannya menguning tapi masih bisa dibaca.

"Kodeks Verlanth," gumam Brann, membaca tulisan di sampulnya, suaranya nyaris berbisik. "Aku pernah dengar namanya di arsip Guild. Tidak pernah kupikir akan menemukan salinannya sungguhan, apalagi di sini."

"Apa isinya?" tanya Petra, duduk lebih dekat ke api, ingin melihat lebih jelas.

"Catatan sejarah dan teori tua soal asal-usul Menara. Ditulis beberapa generasi lalu oleh sarjana yang menghabiskan hidupnya meneliti Menara Verlanth." Brann membuka halaman pertama dengan hati-hati, jarinya menahan lembaran kertas rapuh agar tidak sobek. "Kalau ini salinan lengkapnya, ini lebih berharga dari relik apa pun yang pernah kita bawa pulang."

Petra bersandar lebih dekat, mengintip sekilas ke halaman yang dipenuhi tulisan tangan rapat. "Bahasanya kuno sekali. Kau yakin bisa membacanya semua?"

"Tidak semua," aku Brann jujur. "Tapi cukup untuk mengerti garis besarnya. Ini yang kupelajari bertahun-tahun sebelum kalian menerimaku di Jangkar Kelabu, kalau kalian lupa."

"Kami tidak pernah lupa," kata Corym. "Cuma kadang lupa mengucapkannya keras-keras."

Arden duduk di seberang api, menyandarkan punggung ke dinding batu yang masih menyimpan hangat siang hari. Ia menatap buku itu dengan rasa penasaran yang tidak biasa ia tunjukkan untuk hal-hal semacam ini, jauh dari sifatnya yang biasanya lebih fokus pada hal praktis.

"Bacakan," katanya. "Kita sudah selesai untuk hari ini."

Brann membalik beberapa halaman, mencari bagian yang paling jelas terbaca. Cahaya api membuat bayangan hurufnya bergerak-gerak di wajahnya saat ia membaca, jarinya menelusuri baris demi baris sebelum berhenti pada satu bagian.

"Di sini disebutkan tiga teori soal asal Menara, yang katanya masih diperdebatkan sampai sekarang di kalangan sarjana." Ia berdeham pelan, menyesuaikan posisi duduknya, buku itu terbuka lebar di pangkuannya. "Teori pertama, Teori Ilahi. Menara dianggap peninggalan para dewa, gerbang yang sengaja ditinggalkan untuk menguji atau mengganjar umat manusia."

"Terdengar seperti yang diajarkan pendeta kuil kecil di kampungku," kata Petra, menyandarkan dagu ke lutut. "Nenekku dulu percaya itu. Ia selalu bilang badai adalah tanda para dewa marah lewat Menara."

Yuna mengangkat kepala dari alat pemurniannya, meletakkannya perlahan di sampingnya. "Gereja resmi tidak mengajarkan itu lagi. Sudah lama ditinggalkan karena tidak ada bukti kuat. Aku sendiri pernah diajari versi itu waktu masih magang, sebelum akhirnya diganti kurikulum baru."

"Bukan berarti salah," kata Brann. "Cuma tidak terbukti. Beda." Ia melanjutkan membaca, suaranya mengalun pelan mengikuti irama tulisan lama itu. "Teori kedua, Teori Peradaban Purba. Menara dibangun oleh sebuah peradaban maju yang sudah punah jauh sebelum sejarah tercatat mulai ditulis, alasan pembangunannya hilang bersama peradaban itu sendiri."

Corym mengangkat sebatang kayu, memasukkannya ke api, memicu percikan kecil yang naik ke udara malam sebelum padam di ketinggian. "Itu yang paling masuk akal buatku. Terlalu rumit untuk kebetulan alam, tapi juga tidak butuh dewa untuk menjelaskannya."

"Sampai kau baca teori ketiga," kata Brann, senyum kecil muncul di sudut bibirnya. "Teori Fenomena Alam. Menara dianggap hasil proses alami yang belum dipahami, semacam luka di kenyataan itu sendiri yang menyembuhkan diri jadi bentuk aneh seperti ini. Tidak dibangun siapa pun. Cuma terjadi."

Tomas, yang biasanya paling sedikit bicara, mengangkat alis dari tempatnya memeriksa perbekalan. "Kalau itu benar, berarti bisa terjadi lagi di tempat lain. Kapan saja."

"Mungkin memang begitu," jawab Brann. "Penulis kodeks ini sendiri tidak berani memutuskan mana yang benar. Ia hanya menulis semua yang pernah didengarnya, membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri." Ia mengangkat bahu kecil. "Aku menghormati itu, jujur saja. Lebih mudah pura-pura tahu jawabannya daripada mengaku tidak tahu."

Api berderak pelan, melempar bunga api kecil yang padam sebelum sempat jatuh ke tanah. Doran duduk memeluk lutut, Ashe meringkuk di sampingnya, kepala grypin muda itu bersandar di pangkuannya.

"Aneh rasanya," gumam Doran, "menghabiskan hidup di sekitar sesuatu sebesar Menara, tapi tidak ada yang benar-benar tahu apa itu."

"Bukan cuma Menara Verlanth," kata Brann, membalik halaman lagi. "Ada catatan kaki di sini soal Menara-Menara lain di benua yang jauh, arsitekturnya katanya mirip, meski wilayahnya tidak pernah tercatat berhubungan satu sama lain."

"Bagaimana bisa mirip kalau tidak pernah berhubungan?" tanya Petra.

"Itu pertanyaan yang sama yang ditulis penulis kodeks ini di pinggir halaman," jawab Brann, menunjuk coretan kecil di margin kertas. "Ia menulis tanda tanya sendiri di sini. Sepertinya bahkan ia tidak punya jawaban."

Doran menggaruk bulu di leher Ashe pelan-pelan, familiarnya mendengus puas dalam tidurnya. "Waktu aku masih kecil, kakekku bercerita soal Menara di ujung utara yang katanya punya ukiran sama persis dengan yang di sini. Kupikir dulu itu cuma dongeng untuk menakuti anak kecil supaya tidak main terlalu jauh dari desa."

"Mungkin bukan cuma dongeng," kata Yuna pelan, matanya masih menatap api. "Banyak dongeng lahir dari sesuatu yang nyata, cuma sudah dibungkus supaya lebih mudah diceritakan turun-temurun."

Petra menyandarkan dagu ke lutut, menatap api dalam diam sesaat sebelum bicara. "Kupikir dulu dunia ini sederhana. Ada Menara, ada monster di dalamnya, kita ambil relik, kita dibayar. Sekarang rasanya seperti berdiri di tepi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan."

"Selamat datang di dunia orang dewasa," kata Corym, nadanya ringan, tapi matanya sedikit lembut menatap Petra.

Petra mendengus, tapi tidak membantah.

"Aku sendiri sudah lama berhenti mencoba memahami semuanya sekaligus," kata Tomas, menyusun perbekalan terakhir ke dalam tasnya. "Aku cuma perlu tahu cukup untuk membawa kita semua pulang. Sisanya biar jadi urusan orang-orang seperti Brann."

"Terima kasih atas kepercayaannya," kata Brann, sedikit membungkuk main-main, membuat Petra tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak mereka turun ke lembah.

Arden memperhatikan mereka semua dalam diam, rasa hangat dari api dan suara-suara familiar di sekitarnya membuat sesuatu di dadanya mengendur, ketegangan yang sudah menumpuk sejak surat anonim itu jatuh di depan pintu markas. Untuk sesaat, tidak ada Draymoor, tidak ada Ordo, tidak ada laporan Guild yang harus disusun. Hanya kelompoknya, api, dan sebuah buku tua yang membuka pertanyaan tanpa memaksa siapa pun menjawabnya malam ini.

Ia meraih liontin di balik kerah bajunya tanpa sadar, ibu jarinya mengusap permukaannya yang sudah nyaris licin karena kebiasaan lama itu. Corym melirik sekilas, tidak berkomentar, tapi ada sesuatu di sudut matanya yang menandakan ia melihat gerakan itu, mengingat percakapan mereka di tepi jurang kemarin sore. Arden melepaskan liontin itu, membiarkannya kembali tersembunyi di balik kain.

"Kau memikirkan sesuatu," kata Yuna, duduk pelan-pelan di sampingnya, suaranya lembut seperti biasa saat bicara pada siapa pun yang tampak jauh.

"Memikirkan berapa banyak yang tidak kita tahu," jawab Arden pelan. "Tentang Menara. Tentang dunia ini. Rasanya seumur hidup ini terlalu pendek untuk mengejar semua jawaban."

"Mungkin tidak semua jawaban perlu kau kejar sendiri," kata Yuna. "Cukup tahu ke arah mana harus melangkah."

Arden tidak menjawab, tapi menatap api lebih lama dari biasanya, membiarkan kata-kata itu mengendap tanpa perlu dibalas segera.

Brann terus membalik halaman, mencari bagian lain yang bisa dibacakan, sampai jarinya berhenti di halaman terakhir yang masih tersisa sebelum kertas-kertas berikutnya rusak oleh air dan waktu. Ia diam cukup lama, cukup lama hingga Corym menoleh bertanya apa yang salah.

"Brann?"

Brann tidak menjawab segera. Matanya bergerak cepat menyusuri sesuatu di sudut halaman, lalu naik lagi ke atas seolah memastikan ia tidak salah lihat, tangannya mengencang di tepi kertas rapuh itu.

"Ada apa?" tanya Petra, ikut mendekat.

Brann memutar buku itu, memperlihatkan halaman terakhir ke arah api agar semua bisa melihat.

Di sudut halaman, digambar kasar dengan tinta yang sudah memudar tapi masih jelas bentuknya, tergambar sebuah sketsa kecil: lingkaran dengan tiga garis melengkung asimetris.

Sama persis dengan simbol yang tergores di dinding luar reruntuhan itu.

Sama persis dengan lambang yang dijahit di kerah jubah Ashcloak yang tewas di Hollowreach.

Doran duduk tegak, tangannya berhenti mengelus bulu Ashe. Tomas meletakkan tasnya perlahan, matanya terpaku ke halaman itu. Yuna menggenggam liontinnya sendiri, kebiasaan yang sama muncul lagi tanpa ia sadari.

Tidak ada yang bicara untuk beberapa detik, hanya suara api yang terus berderak pelan di antara mereka, dan di kejauhan lembah, angin malam yang bergerak lewat reruntuhan seolah membawa sesuatu yang belum selesai bicara.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!