NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: SISA KENANGAN DI HARI PERCERAIAN

Udara sore di ruang tamu rumah kecil itu terasa begitu berat, seolah setiap butuh udara yang dihirup membawa rasa perih yang tak terucap. Nadia duduk di tepi sofa, tangannya saling meremas di atas pangkuan. Gaun sederhana berwarna krem yang ia pakai sudah kusut sedikit, sama seperti perasaannya yang selama dua tahun ini ia rajut dengan penuh kesabaran dan harapan—namun kini terancam hancur berantakan.

Di hadapannya, Rian berdiri tegak. Wajahnya dingin, tak ada sedikit pun ragu atau belas kasih yang terlihat di mata yang dulu sering menatapnya penuh kasih sayang. Dengan gerakan santai namun tajam, ia meletakkan selembar kertas bertuliskan surat perceraian di atas meja kayu yang pernah mereka beli bersama dengan menabung sedikit demi sedikit.

"Tanda tangani," ucapnya singkat. Suaranya datar, seolah yang ia minta hanyalah tanda terima barang yang tak berharga, bukan mengakhiri ikatan suci yang pernah mereka janjikan di hadapan Tuhan dan orang banyak.

Nadia menatap kertas itu lama, lalu perlahan mendongak menatap pria yang telah menjadi seluruh dunianya selama ini. "Rian... apa tidak ada jalan lain? Kita sudah lewati banyak hal bersama. Bukankah kita bilang akan membangun semuanya pelan-pelan?" suaranya bergetar, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

Rian mendengus pelan, menatapnya dengan pandangan yang terasa merendahkan. "Membangun apa? Rumah sempit seperti ini? Hidup pas-pasan setiap hari? Nadia, aku punya mimpi besar. Aku tidak mau habiskan sisa hidupku hanya untuk bertahan hidup seperti ini. Kamu tidak mengerti dunia yang aku tuju. Kamu terlalu biasa, terlalu lemah untuk menemaniku meraih semua itu."

Kata-kata itu menghujam tepat di jantungnya. Nadia menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu benar betapa besar ambisi Rian. Selama dua tahun pernikahan mereka, ia rela melepaskan segalanya—pekerjaan yang dulu ia tekuni, kemewahan yang sebenarnya bisa ia dapatkan kapan saja, bahkan identitas aslinya sendiri—semata-mata agar dicintai apa adanya, sebagai Nadia yang sederhana, bukan sebagai pewaris tunggal Grup Arka yang namanya disegani di dunia bisnis.

Ia ingin Rian mencintainya bukan karena harta atau nama besar keluarganya, melainkan karena dirinya sendiri. Namun ternyata, pengorbanan itu dianggap sebagai kelemahan oleh pria yang ia cintai sepenuh hati.

"Jadi... karena aku tidak bisa memberimu kemewahan atau koneksi yang kamu butuhkan? Kamu memilih wanita lain yang bisa membantumu lebih cepat?" tanya Nadia pelan, meski di dalam hatinya ia sudah tahu jawabannya. Kabar itu sudah ia dengar berhembus pelan beberapa minggu terakhir, namun ia masih berharap ada penjelasan lain, ada sedikit saja rasa sayang yang tersisa.

Rian tidak menyangkal. Ia malah mengangkat dagunya sedikit, seolah apa yang ia lakukan adalah keputusan yang paling tepat. "Diana bisa membukakan semua pintu yang selama ini tertutup bagiku. Keluarganya punya pengaruh besar. Bersamanya, aku bisa mencapai puncak dalam waktu singkat. Sedangkan kamu? Kamu hanya akan menjadi beban yang memperlambat langkahku."

Kalimat terakhir itu membuat hati Nadia seolah diremas kuat-kuat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, mengalir di pipi yang mulai pucat. Namun ia tidak berteriak, tidak memohon dengan merendahkan diri. Perlahan, rasa sakit itu mulai berganti dengan kesadaran yang menyakitkan: orang yang ia perjuangkan ternyata tidak pernah benar-benar mengenal dan menghargainya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Nadia mengambil pulpen yang diletakkan Rian di samping surat itu. Ia membaca sekali lagi baris per baris isi surat tersebut, memastikan bahwa semuanya benar-benar berakhir. Saat namanya ditulis di sana, setiap goresan tinta terasa seperti mengukir luka baru, namun sekaligus menjadi tanda bahwa ia harus berhenti menahan diri.

Setelah tanda tangan itu selesai, ia mendorong kertas itu kembali ke arah Rian. Tatapannya kini sudah lebih tenang, meski sorot matanya menyimpan kepedihan yang mendalam. "Semoga apa yang kamu cari darinya benar-benar bisa kamu dapatkan. Semoga kamu tidak pernah menyesali keputusan ini."

Rian menyambar surat itu dengan cepat, melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Ia tidak melihat ke arah Nadia lagi, seolah wanita yang ada di hadapannya sudah tidak ada artinya baginya. "Aku tidak akan menyesal. Hidupku baru saja dimulai," ucapnya dingin, lalu berbalik berjalan menuju pintu.

Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Aku akan ambil barang-barangku besok pagi. Kamu bisa tinggal di sini sampai kamu menemukan tempat lain. Sewanya sudah dibayar sampai akhir bulan."

Pintu tertutup. Bunyi kunci yang diputar terasa seperti penutup bab terakhir dari hidupnya sebagai istri sederhana Rian. Ruangan itu kini sunyi senyap, hanya terdengar isak tangis yang akhirnya meledak tak terbendung. Nadia merosot ke lantai, memeluk lututnya, membiarkan segala rasa sakit, kekecewaan, dan harapan yang hancur meluap bersama air matanya.

Namun di tengah kepedihan itu, sebuah tekad perlahan mulai tumbuh dari dalam hatinya yang paling dalam. Ia tidak akan terus terpuruk seperti ini. Jika dunia menganggapnya lemah dan tak berharga, maka ia akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Mulai hari ini, tidak ada lagi Nadia yang menyembunyikan identitasnya demi cinta yang salah. Mulai hari ini, ia kembali menjadi Nadia Kirana—pewaris sah Grup Arka, wanita yang mampu berdiri tegak di puncak tanpa harus bergantung pada pria manapun.

Matahari sore perlahan tenggelam, menyisakan cahaya kemerahan yang memudar di balik jendela. Dan bersamaan dengan lenyapnya cahaya itu, berakhirlah masa lalu yang penuh kebohongan, serta dimulainya perjalanan baru yang penuh kejutan bagi mereka yang pernah meremehkannya.

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!