NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan MPLS besok

"Air mineral rasa semangat?"

Yuna menghela napas panjang.

Tatapan serius di balik kacamata bulat berbingkai tebal itu menyapu deretan minuman dingin di minimarket untuk ketiga kalinya.

Rambut pendeknya yang sebatas rahang mulai berantakan karena berkali-kali ia garuk dengan ekspresi datar.

Matanya kembali melirik ke secarik kertas berisi daftar perlengkapan Masa Orientasi Siswa.

Air pemadam kebakaran.

Air minum rasa semangat.

Roti isi tawa.

Permen anti ngantuk.

Susu sapi yang belum pernah melihat sapi.

Yuna meremas pinggirannya. Seolah ingin melampiaskan kekesalannya kepada kertas yang tak bersalah.

Padahal dalam hati...

Kenapa setiap angkatan harus mengulang tradisi absurd begini...?

Ia melangkah pelan menyusuri lorong makanan ringan. Mata hijaunya bergerak cepat membaca satu demi satu merk di rak. Sembari berharap ada produk yang secara ajaib bertuliskan "rasa semangat".

Yang jelas... tidak ada.

Yang ada hanya rasa jagung bakar, balado, rumput laut, keju, dan barbeque.

"... seharusnya memang tak ada, Para Kambing!"

(Kambing \= Kakak Pembimbing)

Saat sedang menghela napas untuk kesekian kalinya, ponselnya bergetar.

Ting!

Sebuah notifikasi muncul di layar. Tangannya membukanya dengan tatapan malas.

Azka: Masih nyari barang buat MPLS?

Yuna menatap layar tanpa ekspresi.

Azka: Kalau mau, aku kasih bocoran arti semua kodenya.

Alis Yuna berkedut.

Azka: Biar gak makin manyun tuh bibir.

"..."

"..."

Yuna hanya memutar bola mata pelan.

"Pelakunya malah menawarkan bantuannya sendiri. Benar-benar aneh."

Tanpa membalas sepatah kata pun, ia menekan tombol yang ada di sisi ponsel, hingga layarnya mati. Lalu memasukkannya kembali ke dalam tas bahunya.

Tatapannya kembali jatuh pada daftar perlengkapan yang diberikan panitia orientasi.

"Air pemadam kebakaran..." gumamnya lirih.

Matanya mengerjap cepat seperti sedang mencerna kata-kata itu.

"Lama-lama akan ku bawa nitrogen cair untuk orang-orang itu minum."

Ia mendengus sekali. Tatapannya bergantian antara kertas yang menampilkan daftar kode orientasi dan deretan rak di kanan kirinya.

Sesekali ia berhenti beberapa detik untuk membaca nama produk, lalu kembali menggeleng pelan karena tidak menemukan petunjuk apa pun.

Tepat saat ia hampir membuka kulkas yang berisi berbagai minuman dingin, terdengar bunyi pintu otomatis minimarket bergeser.

Ding...

Seseorang baru saja masuk.

Yuna hanya melirik sekilas ke arah pintu masuk. Sebelum kembali memusatkan perhatian pada daftar pada kertasnya.

Hanya pengunjung lain.

Namun saat ia hampir ingin mencondongkan tubuhnya untuk mengambil salah satu kaleng minuman—

"Loh? Yuna?!"

Suara itu memecah keheningan minimarket.

Sedikit terlalu keras.

Membuat Yuna refleks menoleh.

Seorang gadis seusianya sedang berjalan cepat ke arahnya. Ia mengenakan sweater longgar berwarna krem yang dipadukan dengan celana rumahan merah muda bermotif kotak-kotak.

Rambutnya diikat asal ke belakang, seolah ia hanya berniat membeli sesuatu sebentar sebelum pulang.

Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, gadis itu memperlambat langkahnya.

"K-kamu... Yuna, kan?"

Nada suaranya berubah sedikit ragu, seakan takut salah mengenali orang.

Yuna mengamatinya beberapa detik.

Wajahnya terlihat asing. Atau memang dirinya tadi pagi yang terlalu sibuk untuk menganalisis semuanya hingga mengabaikan sesuatu yang lebih penting.

Wajah dan nama teman sekelasnya.

"Ehm..."

Yuna menggaruk pelipisnya pelan.

"Maaf... kita pernah bertemu?"

Gadis itu langsung tertawa kecil.

"Ya ampun."

"Aku Melody."

Ia menjulurkan tangan kanannya dengan senyum ceria.

"Kita satu kelas, loh! Masa lupa?"

Yuna membeku beberapa detik.

"Melody?"

Lalu pandangannya berpaling ke arah rak sampingnya. Seolah ingin segera keluar dari kecanggungan ini.

Namun kemudian—

"Huaaah..."

Rengekan itu berhasil membuat Yuna tersentak. Seketika ia menoleh ke arah gadis di depannya. Dan langsung disambut oleh uluran kedua tangan yang menggenggam ponsel di setinggi dada.

"Yuna..."

"Tolongin aku, dong."

Nada suaranya terdengar manja. Bukan dibuat-buat, melainkan benar-benar seperti seseorang yang sudah menyerah setelah berpikir terlalu lama.

Pandangan Yuna tanpa sengaja jatuh pada kondisi Melody.

Beberapa helai rambut gadis itu mencuat ke sana kemari, seolah berkali-kali diacak karena frustrasi. Sweater krem yang dikenakannya pun ternyata sedikit melorot ke satu sisi, membuat penampilannya jauh dari kata rapi.

Yuna hampir meringis prihatin.

Kenapa penampilannya seperti dosen yang baru tiga hari begadang mengejar revisi jurnal?

"Eee anu..."

"Mau ya, Yunaa..." bujuknya sembari memasang wajah paling memelasnya.

"Tapi..."

"Please! Ratu Ahimsa Yunanda!"

"Hah?"

Jantungnya melambat sepersekian detik.

"Dia sampai mengingat namaku?" batinnya cemas. Namun ia buru-buru memalingkan wajah ke arah rak.

"...Bagian mana yang membuatmu bingung?"

Melody mengangkat layar ponselnya.

"Semuanya."

Yuna menghela napas panjang.

"Semuanya ya? Duh..."

Mereka akhirnya menyusuri lorong minimarket bersama.

Sesekali Melody menunjuk sebuah produk.

"Lah, kalau 'biskuit anak kos mapan' itu maksudnya apa?"

"Mungkin biskuit kaleng."

"Oalah..."

"Kalau 'permen senyum lima detik'?"

"Permen mint."

"Hah? Kok tahu?"

"Karena sensasi dinginnya tidak bertahan lama."

"Oooo..."

Melody mengangguk berkali-kali, meski raut wajahnya masih menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar memahami alur berpikir Yuna.

Obrolan ringan itu terus mengalir.

Hingga sebuah pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di benak Yuna, akhirnya lolos begitu saja.

"Oh ya, Mel..."

"Hm?"

Melody yang sedang memperhatikan rak mi instan langsung menoleh.

Yuna memiringkan kepala sedikit.

"Kok... kamu bisa langsung tahu kalau ini aku?"

Melody berkedip. Lalu tawanya pecah pelan.

"Hihihi..."

Ia menutup mulutnya sebentar sebelum menjawab.

"Soalnya..."

"Tatapanmu."

Yuna membeku.

"...Tatapanku?"

"Yep."

Melody mengangguk mantap.

"Pas sesi perkenalan tadi."

"Aku langsung mikir, 'wah... anak ini serem amat.'"

Yuna berkedip pelan.

Melody buru-buru melambaikan kedua tangannya.

"Bukan serem jahat loh, ya!"

"Cuma..."

"Gimana, ya..."

"Kayak kamu lagi melihat semua orang, terus kek sedang memindai kami gitu loh!"

"Makanya aku langsung tahu."

Jantung Yuna seolah berhenti berdetak sesaat.

Ketahuan...?

Refleks, tangannya naik menggaruk tengkuk. Kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia gugup.

Apa selama ini aku benar-benar semencolok itu?

Ia menelan ludah pelan.

Tenang...

Mulai sekarang... bersikaplah lebih normal.

Setidaknya, menurut standar kebanyakan orang. Bukan menurut standar dirinya. Apalagi menurut standar buku-buku yang memenuhi rak kamarnya.

Ia mengangguk pelan pada dirinya sendiri.

"Baiklah!"

....

Selama hampir dua puluh menit, keduanya berpindah dari satu lorong ke lorong lain.

Membaca kode.

Menebak maksudnya.

Lalu saling memastikan.

Rasanya lebih mirip berburu harta karun daripada berbelanja kebutuhan orientasi.

Hingga akhirnya mereka berdiri di depan meja kasir.

"Totalnya tiga puluh lima ribu ya, Dek."

Penjaga minimarket tersenyum ramah sembari memasukkan seluruh barang ke dalam kantong plastik.

Sementara itu, Yuna justru kembali menatap langit-langit.

Pikirannya melayang jauh.

Mungkin...

...aku harus berhenti membaca ensiklopedia sebanyak itu.

Kalau terus begini... aku benar-benar akan dianggap aneh.

"Sini belanjanya, Dek."

Panggilan itu hanya terdengar bagaikan gema samar diantara suara di pikirannya. Membuat Melody dan sang penjaga toko saling bertatapan kebingungan.

"Yun? Yunaa!"

Suara Melody langsung membuat gadis berambut pendek itu tersentak kecil.

"Oh, iya."

Ia buru-buru menyodorkan barang belanjaannya.

Penjaga toko mengeluarkan satu persatu isi keranjang itu.

Memindainya.

Hingga ketika barang terakhir hampir di tempelkan barcode pada scanner—

"Loh? Barangnya sama semua kek temennya ya, Dek."

Yuna mengangguk singkat.

"Iya, Kak."

"Ya sudah. Berarti totalnya sama juga ya, Dek," ucapnya sembari mengemasi barang-barang itu ke dalam kantong kresek besar.

Yuna sudah membuka dompetnya. Namun sebuah tangan lebih dulu mengulurkan uang.

"Sini! Sama aku aja."

Yuna langsung menoleh.

"Hah? Tidak usah, aku—"

"Gapapa."

Melody memotong sambil tersenyum.

"Anggap aja ucapan terima kasih karena udah nolongin aku."

Yuna terdiam. Membiarkan penjaga toko menerima uang Melody tanpa protes darinya lagi.

Tak lama kemudian, dua kantong plastik disodorkan ke arah mereka.

"Terima kasih, Kakak Cantik!" puji Melody ke arah sang penjaga toko, sembari mengambil dua kantong itu.

Lalu ia menyodorkan salah satunya kepada Yuna.

"Nih. Yang punyamu."

Yuna menerimanya pelan.

Entah karena masih ragu, atau memang tidak terbiasa menerima kebaikan dari orang yang baru dikenalnya. Tubuhnya bahkan sempat sedikit terdorong ke depan.

"Apakah ini... pola timbal-balik?" batinnya mencoba menelaah.

Tetapi gadis di depannya malah terkikik pelan.

"Gapapa loh! Gak usah sungkan..."

Melody melambaikan tangannya sekilas.

"Kita kan teman."

Yuna mengangkat wajahnya.

"Teman?"

Kata itu bergema pelan di kepalanya.

Sesederhana itu...?

Tatapan Melody tetap hangat. Tidak ada maksud tersembunyi. Tidak ada perhitungan.

Hanya senyum tulus yang membuat Yuna perlahan mengendurkan bahunya.

"Kan?"

Kalimat itu membuat Yuna mengembuskan napas pelan.

"Terima kasih atas intervensi—"

Yuna langsung membeku.

Melody memiringkan kepala.

"Inter... apa?"

Pipi Yuna memanas. Cepat-cepat ia menggeleng hingga rambut yang membingkai sisi wajahnya bergoyang.

"M-maksudku..."

"Terima kasih."

Melody kembali tersenyum lebar.

"Sama-sama!"

Jawabannya begitu ringan. Seolah tidak ada yang aneh dengan percakapan mereka.

Gadis itu kemudian melambaikan tangan kecil.

"Duluan ya!"

Lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar.

Langkahnya ringan. Nyaris seperti seluruh beban yang tadi ia keluhkan telah hilang bersama kantong belanja di tangannya.

Yuna masih berdiri di tempat. Menatap punggung Melody yang perlahan menjauh.

Tanpa sadar...

Sudut bibirnya ikut terangkat.

Bukan senyum karena berhasil menganalisis seseorang. Bukan pula senyum sopan yang selama ini ia latih.

Melainkan senyum kecil yang muncul begitu saja.

"...Mungkin."

"Belajar menjadi orang yang lebih normal..."

"...bisa dimulai darinya."

"Dek."

Suara penjaga toko kembali memanggilnya.

"Belanjaannya."

"Oh!"

Yuna tersadar.

"Iya. Terima kasih."

Di depan pintu otomatis, Melody sudah berjalan beberapa meter di depannya.

Untuk pertama kalinya hari itu...

Yuna mempercepat langkahnya.

1
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!