Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Bekal Yang Bersih
Leon mendecak pelan.
"Ck... sok perhatian."
Meski begitu, tangannya perlahan meraih kotak makan yang tersimpan di dalam tas. Jemarinya berhenti beberapa saat di atas tutupnya, seolah masih mempertimbangkan apakah ia benar-benar ingin membukanya atau tidak.
"Ah... paling isinya sama saja." Ia mengembuskan napas pelan, lalu membuka pengait kotak makan itu.
Klik.
Begitu tutupnya terangkat, aroma hangat langsung menyeruak keluar. Wanginya begitu khas, membawa perpaduan kecap manis dan bumbu rumahan yang menggugah selera.
Leon sedikit mengernyit. "Bukan steak?"
Di dalam kotak makan itu hanya ada nasi putih hangat, ayam kecap berwarna kecokelatan yang mengilap, potongan telur dadar yang disusun rapi, serta sayur bening bayam dengan irisan wortel yang tampak sederhana.
Isi kotak makan itu jauh dari kesan mewah. Hanya nasi putih hangat, ayam kecap, telur dadar, dan sayur bening yang ditata rapi. Meski sederhana, aroma masakannya begitu menggugah selera.
Leon terus menatap isi kotak makan itu tanpa berkedip. "Serius... cuma begini?"
Ia mengambil sendok plastik yang terselip di sisi kotak. Sendok itu diputar-putar beberapa saat sebelum akhirnya ia mengambil sedikit nasi dan sepotong kecil ayam.
"Hanya sekali. Aku cuma mau tahu rasanya," gumamnya lirih, ternyata meskipun sendiri gengsi Leon masih tinggi.
Leon mengunyah perlahan. Matanya sempat terpejam beberapa saat, menikmati perpaduan rasa yang memenuhi lidahnya. Aroma rempah yang sederhana berpadu dengan manis gurih kecap, sementara daging ayamnya terasa empuk dan bumbunya benar-benar meresap hingga ke dalam.
Beberapa detik berlalu.
Gerakan rahangnya mendadak terhenti. Tatapannya sedikit berubah, seolah tak percaya dengan rasa yang baru saja dinikmatinya. Ia menelan suapan itu perlahan, lalu tanpa sadar kembali menatap isi kotak makan di hadapannya.
"Hm..."
Rasa manis gurih ayam kecap itu begitu pas. Bumbunya meresap hingga ke dalam daging. Tidak terlalu asin, tidak pula terlalu manis. Tanpa sadar ia mengambil suapan kedua. Lalu suapan ketiga.
Kali ini ia beralih pada potongan telur dadar yang tersusun rapi di salah satu sudut kotak makan. Dengan ragu, ia menyendok sepotong kecil lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Teksturnya lembut dan tidak kering. Gurihnya pas, dengan aroma telur yang masih terasa segar. Meski bekal itu sudah beberapa jam berada di dalam kotak makan, kehangatannya seolah masih tersisa.
Leon kembali mencampurkan telur dadar itu dengan nasi putih hangat dan sedikit kuah ayam kecap. Perpaduan rasa sederhana itu justru terasa begitu nikmat di lidahnya. Tanpa sadar, tangannya kembali menyendok makanan demi makanan. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya hingga ia sendiri tidak menyadari kotak makan itu tinggal separuh.
"Enak juga...." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Namun sesaat kemudian ia langsung menggeleng.
"Bukan... bukan karena dia yang masak. Hanya... kebetulan kokinya sedang bagus."
Ia kembali menyendok makanan. Tak jauh dari tempatnya duduk, dua orang teman memperhatikannya.
"Eh... lihat deh."
"Itu Leon, kan?"
"Iya."
"Kok dia bawa bekal?"
Keduanya saling berpandangan heran sebelum menghampiri. "Leon!"
Leon langsung mengangkat kepala. "Apa?"
"Biasanya kamu paling semangat ke kantin."
"Sekarang malah makan bekal?"
Leon mendecak kesal. "Memangnya kenapa?"
"Ya aneh saja."
"Kamu biasanya selalu bilang bekal itu buat anak SD."
Leon menatap mereka datar. "Hari ini lagi malas antre."
"Serius?"
"Iya."
Salah seorang temannya melirik isi kotak makan. "Wah... kelihatannya enak."
Leon spontan menarik kotak makan itu sedikit mendekat. "Bukan urusanmu."
Temannya tertawa. "Pelit amat."
"Beli sendiri."
"Oke... oke."
Mereka akhirnya pergi sambil tertawa kecil.
Leon mengembuskan napas lega. Setelah memastikan tak ada lagi yang memperhatikannya, ia kembali menikmati bekal makan siangnya. Tak butuh waktu lama.
Ayam kecap itu habis. Telur dadarnya pun tak tersisa. Sayur bening yang semula hanya ingin ia cicipi, kini tinggal menyisakan sedikit kuah.
Leon menatap kotak makan yang hampir kosong. Ia sendiri sampai bingung. "Kok... habis?"
Biasanya ia bahkan tidak pernah membuka bekal kiriman dari rumah tapi hari ini justru berbeda. Perutnya terasa hangat bukan hanya karena makanan itu. Entah mengapa, ada perasaan asing yang sulit dijelaskan.
Ia teringat kembali wajah Naomi yang pagi tadi tersenyum ketika menawarkan membuatkan sarapan.
Leon buru-buru menggeleng. "Ck... jangan salah paham. ku makan karena lapar. Bukan karena masakan Bibi itu."
Meski terus menyangkal, sudut bibirnya tanpa sadar sedikit terangkat. Ia merapikan sendok, lalu menutup kembali kotak makan yang kini benar-benar kosong.
Saat hendak memasukkannya ke dalam tas, pandangannya sempat berhenti pada tutup kotak makan itu baru kali ini. Ia tidak berniat membuangnya. Bahkan ia membersihkan sisa-sisa kuah yang menempel menggunakan tisu agar kotak itu tidak terlalu kotor.
Bel tanda berakhirnya waktu istirahat kembali berbunyi. Para siswa mulai berlarian menuju kelas masing-masing. Leon ikut berdiri kotak makan itu dimasukkannya kembali ke dalam tas dengan hati-hati. Tidak seperti biasanya, hari itu. Ia membawa pulang kotak bekalnya dalam keadaan kosong.
☘️☘️☘️☘️☘️
masih membantu para pelayan menyiapkan hidangan makan malam. Sesekali tangannya berhenti saat tanpa sadar pandangannya beralih ke arah jam dinding yang tergantung di ruang makan. Jarum jam terus bergerak, menandakan waktu pulang sekolah Leon semakin dekat.
Entah mengapa, sejak siang tadi pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran. Bukan karena ingin dipuji atau dihargai, melainkan ia hanya berharap bekal sederhana yang dimasaknya sempat dicicipi, walau hanya satu atau dua suap.
"Kira-kira... dia mau mencicipinya atau tidak?" gumamnya lirih.
Naomi mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Tak ingin terlalu larut memikirkan hal itu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya, membantu para pelayan menata piring dan menyusun hidangan di atas meja makan.
Ia sama sekali tidak menyadari.
Di sekolah, seorang remaja keras kepala yang selalu menolak setiap bekal kiriman dari rumah, diam-diam telah menghabiskan seluruh masakan buatannya hingga tak tersisa sebutir nasi pun.
Bersambung.
Selamat pagi Kak semoga suka ya.