Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10.Pertengkaran yang Hampir Meledak
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya kemerahan yang menyelimuti ruang kelas yang perlahan sepi. Hanya Kenzo dan Anisa yang masih tertahan di sana, duduk berhadapan di tengah tumpukan buku dan lembaran tugas yang tersebar di atas meja. Udara di ruangan itu terasa panas dan sesak, bukan karena cuaca, melainkan karena ketegangan yang perlahan merambat naik di antara mereka berdua. Sejak tadi siang, suasana memang belum sepenuhnya pulih setelah digoda teman-teman sekelas. Rasa canggung yang belum hilang kini bercampur dengan perbedaan pendapat yang semakin melebar, hingga akhirnya menjadi pemicu pertikaian yang nyaris meledak tak terkendali.
"Aku sudah katakan berkali-kali, bagian ini seharusnya diurutkan berdasarkan tanggal peristiwa, bukan menurut abjad!" ucap Kenzo tiba-tiba, suaranya meninggi menekan amarah yang mulai meluap. Tangannya menunjuk kasar barisan data yang tertulis rapi di atas kertas yang disusun oleh Anisa. "Dengan urutan seperti ini, pembaca justru akan bingung dan kehilangan jejak ceritanya. Kamu menyusunnya begitu tanpa berpikir terlebih dahulu?"
Anisa yang sedari tadi berusaha bersabar, seketika mendongak menatapnya dengan mata yang menyala. Kesabarannya menipis seketika mendengar nada bicaranya yang kembali menuduh dan merendahkan. "Jangan menuduh seenaknya! Aku menyusunnya menurut abjad agar lebih mudah dicari saat dibutuhkan. Itu pun sudah aku pertimbangkan masak-masak. Tapi kamu? Sekali melihat langsung menolak dan menyuruh mengubahnya sesuka hatimu. Kamu pikir kerjaku ini tidak ada gunanya sama sekali?"
"Bukan begitu maksudku! Tapi dalam laporan sejarah, urutan waktu adalah hal yang paling utama!" balas Kenzo tak mau mengalah, suaranya terdengar tajam dan penuh penekanan. Ia berdiri dari kursinya, menyandarkan kedua telapak tangannya di atas meja sambil menatap tajam tepat ke manik mata Anisa. "Kamu hanya memikirkan kemudahan sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan pembaca secara keseluruhan. Kamu selalu begitu, merasa pendapatmu paling benar dan tak mau menerima masukan orang lain!"
Kata-kata itu seakan menjadi percikan yang menghujani tumpukan kayu kering. Anisa ikut berdiri, mendorong kursinya mundur hingga berbunyi nyaring bergesekan dengan lantai. Dadanya naik turun menahan amarah yang membuncah, wajahnya memerah menahan segala kekesalan yang selama ini dipendamnya sejak awal mereka bekerja sama.
"Dan kamu selalu memandang rendah pendapat orang lain seakan hanya kamulah yang paling tahu segalanya!" bentak Anisa, suaranya bergetar namun tetap tegas menyambar ke arah Kenzo. "Setiap kali aku mengusulkan sesuatu, selalu saja ada celah yang kau cari. Selalu ada alasan untuk menolak. Kamu menyuruhku bekerja sama, tapi nyatanya kamu sendiri yang memutuskan segala sesuatunya sepihak. Kalau memang begitu caramu bekerja sama, mengapa dulu tidak kau kerjakan saja sendirian dari awal?!"
Karena emosi yang meluap-luap, tanpa disadari tangan Anisa menyambar lembaran draf yang ada di dekatnya. Gerakannya yang kasar karena kemarahan itu membuat sebagian lembaran kertas yang tersusun rapi berhamburan jatuh ke lantai, berantakan tak beraturan. Pemandangan itu seketika membuat Kenzo menahan napas, menatap tajam ke arah kertas-kertas yang berserakan itu, lalu kembali menatap Anisa dengan pandangan yang seakan menyala.
"Kamu ini sungguh—!" Kenzo mengepalkan tangannya kuat di sisi meja, napasnya terdengar berat dan kasar. Amarahnya memuncak hingga nyaris tak terkendali. Matanya menatap lekat wajah Anisa, seakan ada percikan api yang melompat di antara pandangan mereka. "Baru saja aku berpikir mungkin sikapmu sedikit berubah... ternyata tetap sama saja! Selalu emosi, selalu tidak mau diatur, dan selalu merusak segalanya saat tak sesuai keinginanmu!"
"Ya! Aku memang begitu! Lebih buruk dari yang kau kira!" Anisa tak tinggal diam, air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya namun ia berusaha menahannya dengan sekuat tenaga. "Kalau tak suka, pergilah! Kerjakan sendiri tugasmu itu! Aku tak sudi bekerja sama dengan orang yang sombong dan tak pernah menghargai usaha orang lain sedikit pun seperti dirimu, Kenzo! Benar-benar menyebalkan!"
Suara bentakan Anisa bergema di seluruh ruangan. Tubuh mereka berdua kini berdiri berhadapan hanya berjarak selengan, dada sama-sama membusung karena marah, mata saling menatap tajam penuh kemarahan yang mendalam. Napas mereka terdengar berat dan tak beraturan. Kenzo tampak hendak melontarkan kata-kata yang jauh lebih tajam dan menyakitkan. Rahangnya mengeras kuat, bibirnya terkatup rapat sejenak seakan menahan kata-kata yang hampir meluncur menghantam. Tatapan matanya begitu tajam seakan ingin meluapkan segala kekesalan yang sejak lama tersimpan di hatinya.
Namun saat menatap lekat wajah Anisa—melihat matanya yang berkaca-kaca namun tetap menatapnya berani tanpa menyurut, pipinya yang merah padam menahan tangis, dan rahang kecilnya yang ikat rapat menahan emosi—sesuatu dalam diri Kenzo seketika berhenti. Kata-kata yang nyaris meluncur itu tertahan di kerongkongan, seketika lenyap berganti dengan rasa sesak yang entah dari mana datangnya. Ia menatap Anisa lekat-lekat, dan dalam sekejap kesadaran perlahan kembali menyusup ke akal sehatnya.
Di detik yang kritis itu, saat pertengkaran mereka nyaris meledak menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk dan tak dapat diperbaiki, Kenzo justru terdiam. Kepalkan tangannya perlahan melemah. Napas panjangnya dihembuskan perlahan, seakan berusaha mendinginkan kepalanya yang semula panas berkepanjangan. Ia menatap Anisa sekali lagi, namun kali ini kemarahan di matanya perlahan berganti dengan tatapan yang rumit—campuran rasa bersalah, kesadaran, dan sesuatu yang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata.
Anisa pun terdiam seketika. Melihat Kenzo yang tiba-tiba membungkam mulutnya, melihat raut wajahnya yang perlahan berubah dari marah menjadi gusar namun tak lagi meledak-ledak, membuat Anisa ikut menahan ucapannya yang selanjutnya. Ia masih menatap tajam, namun napasnya perlahan mulai teratur kembali. Suasana di antara mereka berdua yang sedari tadi dipenuhi amarah yang membara, kini berubah menjadi hening yang berat dan penuh ketegangan. Tak ada yang melanjutkan bentakan. Tak ada yang menambah kalimat pedas lagi. Pertengkaran yang nyaris meledak itu akhirnya terhenti tepat di bibir jurang kehancuran, tertahan oleh kesadaran samar yang muncul tiba-tiba di antara derasnya emosi yang membutakan akal sehat.
Matahari semakin terbenam, menyisakan cahaya redup yang menyelimuti ruang kelas yang hening. Di antara tumpukan kertas yang masih berserakan di lantai, berdiri dua orang yang saling berselisih namun kini sama-sama terdiam, menahan diri agar tak melukai hati satu sama lain lebih jauh lagi.
BERSAMBUNG....