Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: "Berdirilah di Belakangku"
Langit di atas Pulau Oohara perlahan kehilangan cahaya keemasannya.
Awan kelabu yang menggulung tebal mulai merayap dari arah cakrawala barat, menutupi matahari senja yang bersiap untuk tenggelam. Hawa panas dari sisa pertarungan di dalam gang sempit itu perlahan tersapu oleh embusan angin laut yang membawa kelembapan pekat.
Satu tetes air jatuh dari langit.
Tetesan itu mendarat tepat di atas sebuah batu jalanan yang hangus, menghasilkan suara mendesis pelan saat air bertemu dengan sisa hawa panas.
Tetesan kedua menyusul. Lalu tetesan ketiga.
Dalam hitungan detik, rintik hujan mulai turun membasahi kota pelabuhan tersebut. Suara gemerisik air yang beradu dengan atap kayu dan jalanan berbatu mulai mendominasi suasana. Para pedagang di jalanan utama bergegas mengemasi barang dagangan mereka. Penduduk kota berlarian mencari tempat berteduh.
Madara menghentikan langkahnya tepat di ujung gang yang menghubungkan area kumuh dengan jalan utama pelabuhan.
Dia menengadah perlahan. Wajah remajanya yang tanpa ekspresi menatap ke arah langit yang menangis. Tetesan air hujan membasahi kulit wajahnya yang pucat. Air mengalir turun melewati hidung mancungnya dan menetes dari dagunya.
Rambut hitam panjangnya mulai basah dan menempel pada leher serta punggung pelindung dadanya. Armor merah yang dia kenakan menjadi sedikit lebih gelap karena terguyur air.
Madara menghela napas pelan melalui hidungnya. Udara yang keluar membawa sedikit kabut tipis akibat suhu udara yang mulai mendingin.
'Hujan,' batin Madara dengan nada tidak suka.
Dia tidak pernah menyukai hujan. Hujan selalu mengingatkannya pada lumpur di medan perang. Hujan mengingatkannya pada masa lalu di mana dia harus berdiri di atas tumpukan mayat musuh maupun rekan klannya, membiarkan air dari langit membersihkan darah dari tangannya.
Dan di dunia ini, hujan berarti air. Air adalah elemen yang paling dia benci saat ini, terutama setelah pengalaman mabuk laut yang menyiksa perutnya selama dua hari penuh.
Madara menundukkan kepalanya kembali. Pandangannya lurus ke arah pelabuhan di kejauhan.
Kapal Bajak Laut Taring Berkarat masih bersandar di dermaga, berayun pelan mengikuti ritme ombak yang mulai tidak tenang. Dia harus segera kembali ke kapal itu. Tubuhnya membutuhkan istirahat yang layak untuk mencerna kapasitas chakra yang baru saja dia dapatkan. Dia butuh tempat kering untuk merencanakan langkah selanjutnya di dunia yang asing ini.
Madara mulai melangkah maju. Sandal kayunya beradu dengan genangan air kecil di jalanan, menciptakan suara kecipak pelan yang teratur.
Di belakangnya, pada jarak sekitar sepuluh meter, sebuah sosok bayangan berjalan tertatih-tatih mengikuti jejak langkahnya.
Nico Robin memaksakan kakinya untuk terus bergerak.
Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti siksaan. Otot-otot pahanya kram. Bahu kirinya berdenyut nyeri setiap kali lengannya berayun. Mantel tebal yang dia kenakan kini terasa sangat berat karena basah oleh air hujan dan keringat.
Namun, mata birunya tidak pernah lepas dari punggung berarmor merah di depannya.
Insting bertahan hidup Robin berteriak kencang di dalam kepalanya. Insting itu mengatakan bahwa Pulau Oohara sudah tidak lagi aman. Agen Cipher Pol yang tewas di dalam gang tadi pasti akan segera diketahui oleh markas besar mereka. Dalam hitungan jam, pulau ini akan dikepung oleh kapal perang Angkatan Laut.
Jika dia tetap berada di sini, dia akan ditangkap. Jika dia mencoba menyusup ke kapal dagang biasa, anjing-anjing pelacak Pemerintah Dunia pasti akan menemukannya sebelum kapal itu mencapai perairan lepas.
Satu-satunya anomali di pulau ini, satu-satunya variabel yang tidak bisa diprediksi oleh Pemerintah Dunia, adalah pemuda di depannya ini.
Pemuda ini memiliki kekuatan monster. Pemuda ini membakar keadilan dengan ekspresi bosan. Pemuda ini adalah satu-satunya entitas yang memancarkan aura dominasi mutlak yang bahkan membuat agen rahasia gemetar ketakutan.
Rasa penasaran yang membludak bercampur dengan keputusasaan yang gelap di dalam dada Robin. Dia harus pergi dari pulau ini. Dan dia harus pergi bersama pemuda ini.
Jarak di antara mereka perlahan menyusut karena langkah Madara yang santai dan tidak terburu-buru.
Hujan turun semakin deras. Suara air yang menimpa atap bangunan menutupi suara napas Robin yang tersengal-sengal.
Madara merasakan kehadiran gadis itu di belakangnya. Sensor chakranya yang baru saja pulih sebagian bisa membaca pola pergerakan dan ritme jantung Robin dengan sangat jelas. Namun Madara mengabaikannya. Dia menganggap gadis itu hanya sedang mencari jalan keluar yang sama menuju pelabuhan.
Mereka tiba di area dermaga yang mulai sepi. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang pekat.
Madara berhenti tepat di depan papan titian kayu yang menghubungkan dermaga dengan geladak kapal bajak laut miliknya. Dia bersiap untuk melangkah naik.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan pelan terasa di bagian belakang tubuhnya.
Madara menahan langkahnya. Mata hitamnya melirik sedikit ke arah samping.
Sebuah tangan yang ramping dan pucat menjulur dari arah belakang. Jari-jari tangan yang gemetar itu mencengkeram erat ujung bawah armor merah Madara. Cengkeraman itu tidak kuat, nyaris tidak memiliki tenaga sama sekali, tetapi ada sebuah tekad yang sangat keras di balik sentuhan tersebut.
Robin menundukkan kepalanya. Napasnya memburu. Air hujan menetes dari ujung hidung dan rambut hitamnya yang basah kuyup.
Dia mengerahkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki untuk menahan langkah pemuda yang bahkan namanya belum dia ketahui ini.
“Biarkan aku ikut denganmu.”
Suara Robin terdengar serak dan nyaris tenggelam oleh suara deru angin dan hujan.
Madara tidak menjawab. Dia bahkan tidak berbalik. Dia hanya berdiri diam bagaikan sebuah patung batu, membiarkan gadis itu menyelesaikan apa pun yang ingin dia katakan.
Melihat pemuda itu tidak langsung menepis tangannya, Robin menarik napas panjang. Dia menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Dia tahu dia harus menawarkan sesuatu yang bernilai. Seseorang dengan kekuatan sebesar pemuda ini tidak akan menerima beban tanpa alasan. Dia tidak akan memohon belas kasihan, karena dia tahu pemuda ini tidak memilikinya.
Robin harus menawarkan sebuah transaksi yang menguntungkan.
“Aku bisa membaca cuaca,” lanjut Robin. Suaranya kini terdengar sedikit lebih stabil, berusaha menutupi getaran keputusasaan di baliknya.
Dia mengangkat wajahnya sedikit, menatap punggung tegap di depannya.
“Aku bisa menavigasi kapal melewati lautan yang paling berbahaya sekalipun. Aku tahu letak arus laut, dan aku tahu cara menghindari patroli Angkatan Laut. Aku juga bisa membaca sejarah, bahasa kuno, dan memecahkan teka-teki yang tidak bisa dibaca oleh manusia biasa.”
Robin mempererat cengkeramannya pada pelat baja armor merah itu. Buku-buku jarinya memutih.
“Aku akan berguna untukmu,” pungkas Robin. Kalimat terakhir itu diucapkan dengan sebuah penekanan yang sangat dalam, sebuah janji pengabdian yang ditukar dengan tempat untuk berlindung.
Hening.
Hanya ada suara hujan yang memukul papan kayu dermaga dan deburan ombak yang menabrak tiang-tiang penyangga pelabuhan.
Madara masih diam di tempatnya. Matanya menatap lurus ke arah geladak kapalnya.
Di dalam kepalanya, roda pemikiran analitis dari seorang mantan pemimpin klan Uchiha mulai berputar dengan cepat.
Dia mengevaluasi setiap kata yang baru saja diucapkan oleh gadis di belakangnya.
Membaca cuaca. Menavigasi kapal. Menghindari Angkatan Laut.
Madara mengingat kembali sekumpulan serangga bodoh yang saat ini sedang menunggunya di dalam kapal. Kapten bertubuh gemuk dengan lutut yang sudah hancur. Para kru yang tidak memiliki kemampuan bertarung dan hanya mengandalkan keberuntungan saat berlayar di laut dangkal.
Jika dia benar-benar ingin pergi ke Grand Line, tempat di mana para petarung terkuat berkumpul, dia tidak bisa hanya mengandalkan sekelompok bajak laut amatir. Dia tidak mau menghabiskan waktunya yang berharga untuk menahan rasa mual karena kapalnya terjebak di tengah badai akibat navigasi yang buruk.
Dia butuh seseorang yang mengerti lautan ini. Dia butuh sebuah otak, karena dia sudah memiliki lebih dari cukup otot untuk menghancurkan segalanya.
Selain itu, ada satu hal lagi yang membuat Madara menunda langkahnya.
Sejak pertama kali dia melihat gadis ini di dalam gang, sensor chakranya bisa merasakan sebuah gelombang emosi yang sangat familiar.
Aura yang memancar dari jiwa Nico Robin sangat gelap. Ada lapisan keputusasaan yang tebal, rasa sakit akibat pengkhianatan yang berulang, dan kesepian yang membeku. Itu adalah aura dari seseorang yang telah ditinggalkan oleh dunia dan dipaksa untuk bertahan hidup di dalam bayang-bayang.
Aura itu mengingatkan Madara pada sesuatu yang sangat dekat dengan hatinya.
Klan Uchiha.
Klannya sendiri memiliki sejarah panjang tentang rasa sakit dan kebencian. Emosi yang gelap adalah sumber kekuatan dari mata Sharingan. Orang-orang yang telah merasakan penderitaan terdalam adalah orang-orang yang paling tahu nilai dari sebuah kesetiaan mutlak.
Gadis ini memiliki mata yang persis sama dengan para prajurit Uchiha yang telah kehilangan keluarga mereka di medan perang. Mata yang rela melakukan apa saja, rela membakar dunia, asalkan mereka menemukan satu tempat yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Dan beberapa saat yang lalu, Sistem di kepalanya telah mengonfirmasi hal tersebut. Kesetiaan emosional mutlak dari gadis ini telah memberinya pasokan chakra yang sangat masif. Mengikat gadis ini di sisinya sama saja dengan mengamankan sumber reputasi dan kesetiaan yang akan mempercepat pemulihan kekuatannya.
Ini adalah transaksi yang sangat logis dan menguntungkan.
Madara memutar tubuhnya perlahan.
Armor merahnya bergesekan pelan. Gerakan tubuhnya memaksa tangan Robin untuk melepaskan cengkeramannya. Gadis itu menarik tangannya kembali dan memeluk dadanya sendiri, menahan udara dingin dari hujan.
Madara kini berdiri berhadapan dengan Nico Robin. Jarak mereka hanya tersisa satu langkah.
Tinggi badan Madara sedikit lebih menjulang dibandingkan dengan Robin. Pemuda itu menundukkan pandangannya, menatap langsung ke dalam mata biru gadis yang sedang basah kuyup itu.
Tatapan Madara setajam ujung pedang. Matanya mengunci pergerakan Robin, menembus lapisan pertahanan mental gadis itu, mencari kebohongan atau keraguan sekecil apa pun di dasar jiwanya.
Robin tidak memalingkan wajahnya. Dia membalas tatapan itu dengan keberanian yang lahir dari rasa putus asa. Dia membiarkan pemuda itu menilai dirinya.
Hujan terus mengguyur wajah mereka berdua.
Madara perlahan mengangkat kedua tangannya. Dia menyilangkan kedua lengannya dengan santai namun kokoh di depan dadanya yang berarmor. Sikap tubuhnya memancarkan otoritas mutlak dari seorang penguasa yang sedang memberikan titah.
“Dengar baik-baik, Wanita,” suara Madara keluar memotong suara deru hujan. Nada suaranya rendah, berat, dan dipenuhi oleh peringatan yang tidak bisa dibantah.
Robin menahan napasnya. Dia menunggu keputusan yang akan menentukan jalan hidupnya.
“Aku tidak butuh beban,” lanjut Madara tanpa belas kasihan. “Jika kau mencari tempat untuk bermanja atau mencari teman yang akan menghapus air matamu, kau memilih orang yang salah.”
Mata hitam Madara sedikit menyipit.
“Jalan yang akan aku tempuh bukanlah jalan yang damai. Aku tidak peduli dengan hukum di dunia ini. Aku tidak peduli dengan Pemerintah Dunia, Angkatan Laut, atau bajak laut mana pun. Siapa pun yang berani menghalangi pandanganku, akan aku hancurkan hingga tidak tersisa.”
Madara membiarkan kalimat itu meresap ke dalam pikiran Robin.
“Jika kau ikut denganku, kau akan berjalan di atas tumpukan mayat. Kau akan melihat sisi tergelap dari neraka yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya. Kau akan menjadi saksi dari tarian kehancuran.”
Kata-kata itu bukanlah sebuah ancaman kosong. Itu adalah janji mutlak dari Sang Hantu Uchiha.
Namun anehnya, bagi Robin, kata-kata yang menjanjikan neraka itu justru terdengar seperti sebuah lagu kebebasan. Selama ini dia selalu lari dari neraka yang diciptakan oleh Pemerintah Dunia. Sekarang, pemuda ini menawarkan sebuah neraka baru, sebuah neraka di mana Pemerintah Dunia lah yang akan menjadi korban utamanya.
Robin tidak mundur satu sentimeter pun.
Madara melihat keteguhan di mata biru gadis itu. Dia melihat bahwa gadis ini siap menerima neraka macam apa pun, asalkan dia tidak lagi harus berlari sendirian.
Sudut bibir Madara kembali terangkat, membentuk sebuah senyuman arogan yang sangat khas. Senyuman seorang penakluk yang baru saja menerima sepotong bidak catur baru di atas papannya.
“Tapi...” suara Madara berubah menjadi sedikit lebih tenang, namun bobotnya terasa sepuluh kali lipat lebih berat.
Madara melepaskan lipatan tangannya. Dia membiarkan kedua lengannya jatuh ke sisi tubuh.
Dia menatap Robin dengan tatapan yang menyiratkan sebuah perlindungan absolut. Sebuah perisai yang terbuat dari keangkuhan dan kekuatan dewa.
“Selama kau berguna bagiku.”
Madara mengangkat dagunya sedikit, menatap dunia di sekelilingnya dengan penuh penghinaan.
“Berdirilah di belakangku, dan aku pastikan tidak ada satu pun institusi di dunia konyol ini yang berani menyentuh sehelai rambutmu.”
Suara guruh bergema pelan di kejauhan, seolah langit Oohara ikut menjadi saksi dari janji yang baru saja terucap.
Kata-kata itu begitu sederhana. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada janji tentang masa depan yang cerah. Hanya sebuah persyaratan yang brutal dan sebuah garansi keamanan yang mutlak.
Bagi Uchiha Madara, itu adalah sebuah pernyataan kepemilikan. Benda apa pun, atau siapa pun, yang berada di bawah namanya dan di bawah perlindungannya, adalah wilayah kekuasaannya. Menyentuh miliknya sama saja dengan menghina kehormatannya. Dan Madara tidak pernah membiarkan sebuah penghinaan berlalu tanpa darah.
Bagi Nico Robin, kata-kata itu adalah ujung dari pelariannya selama dua belas tahun terakhir.
Beban berat yang selama ini menekan pundaknya, beban dari julukan anak iblis, beban dari nilai buruan tujuh puluh sembilan juta, perlahan terangkat dan menguap bersama dengan dinginnya hujan.
Dia tidak perlu lagi bersembunyi. Dia tidak perlu lagi khawatir akan dikhianati saat dia sedang tidur. Karena pria yang berdiri di depannya ini terlalu kuat, terlalu sombong, dan terlalu angkuh untuk merendahkan dirinya melakukan pengkhianatan murahan.
Sebuah perasaan hangat mekar di dalam dada Robin. Sisa-sisa air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bercampur dengan sebuah kelegaan yang luar biasa.
Bibir Robin yang pucat dan gemetar mulai bergerak. Otot-otot di wajahnya yang selama bertahun-tahun selalu dipaksa untuk menunjukkan ekspresi datar atau senyuman palsu untuk menipu orang lain, kini berelaksasi sepenuhnya.
Dia tersenyum.
Itu bukan senyum sinis. Itu bukan senyum menggoda yang sering dia gunakan untuk memanipulasi musuh.
Itu adalah senyum yang murni. Senyum yang mencapai kedua matanya. Senyum paling tulus yang pernah dia buat dalam satu dekade terakhir hidupnya. Sebuah senyum dari seorang gadis yang akhirnya menemukan tempat untuk bernaung.
“Aku mengerti,” jawab Robin dengan suara pelan namun sangat jelas. “Aku tidak akan mengecewakanmu.”
Madara mendengus pelan, seolah senyuman dan janji gadis itu bukanlah hal yang penting baginya.
Dia berbalik, tidak lagi membuang waktu untuk menatap hujan. Dia melangkah menaiki papan titian kayu yang mengarah ke geladak kapalnya.
“Masuklah sebelum kau mati kedinginan. Aku butuh peta menuju Grand Line besok pagi,” perintah Madara tanpa menoleh ke belakang.
Robin mengangguk pelan. Dia melangkah mengikuti jejak pemuda itu, menaiki papan titian menuju kapal layar tua berlambang tengkorak yang telah kehilangan benderanya. Kapal yang kini akan menjadi rumah barunya.
Mereka berdua berjalan menuju geladak, menghilang dari pandangan area dermaga yang sepi. Hujan terus turun dengan deras, mencuci bersih jejak-jejak pertempuran di pulau tersebut.
Namun, takdir memiliki cara yang aneh untuk merekam sejarah.
Jauh di belakang mereka, beberapa ratus meter dari area pelabuhan, di atas atap sebuah bangunan berbatu yang mengarah langsung ke gang sempit tempat pertempuran sebelumnya terjadi.
Seekor burung camar berukuran besar bertengger di atas cerobong asap yang dingin.
Burung itu mengenakan topi putih kecil dan memiliki sebuah tas selempang merah di dadanya. Di lehernya, tergantung sebuah perangkat aneh berbentuk kotak hitam dengan lensa kaca bundar di bagian depannya. Sebuah kamera.
Itu adalah News Coo, burung pengantar koran dan agen informasi terbang milik surat kabar raksasa Ekonomi Dunia.
Burung camar itu sedang berlindung dari hujan. Mata bundarnya tidak sengaja menatap ke bawah, ke arah gang sempit yang atapnya terbuka.
Di dalam gang itu, bebatuan terlihat menghitam dan meleleh. Belasan agen elit dengan seragam hitam Pemerintah Dunia terkapar tidak berdaya, saling tumpang tindih seperti boneka yang rusak.
Dan tepat sebelum sosok pemuda berarmor merah dan gadis bermantel tebal itu menghilang dari ujung jalan menuju pelabuhan, burung camar itu menekan sebuah tombol kecil di perangkatnya menggunakan paruhnya.
Klak.
Sebuah kilatan cahaya putih yang sangat terang menyala dari lensa kamera, menyatu dengan sempurna bersama kilatan petir yang menyambar di langit Oohara. Suara rana kamera tertelan oleh deru guntur yang menyusul.
Burung itu berhasil menangkap sebuah gambar yang sangat jelas. Gambar punggung seorang pemuda berambut hitam panjang dengan armor merah kuno, yang berjalan menjauh dari kehancuran yang dia ciptakan, diikuti oleh buronan paling dicari di West Blue.
Burung camar itu memiringkan kepalanya. Ia tahu insting jurnalistiknya baru saja mendapatkan emas. Ia segera mengepakkan sayapnya, terbang menembus hujan kembali menuju markas besarnya untuk mencetak berita utama esok hari.
Sementara itu, di dalam kabin kapal yang kini terasa sedikit lebih hangat, Madara baru saja melepaskan pelindung dadanya saat sebuah notifikasi dari Sistem kembali muncul di dalam kepalanya.
Suara mekanis yang kuno itu berbunyi dengan nada yang terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.
[Peringatan. Deteksi pemicu peristiwa berskala global.]
[Rekaman visual eksistensi Tuan Rumah sedang diproses oleh entitas informasi eksternal.]
[Memprediksi lonjakan ketakutan dan kekaguman dari populasi dunia.]
[Poin Reputasi dalam status antrean: Tidak terhingga.]
[Batas segel fisik tahap pertama dijadwalkan untuk terbuka dalam 24 jam.]
Madara membaca rentetan layar biru itu dengan mata menyipit.
Dia tidak tahu persis apa yang dimaksud oleh Sistem dengan 'rekaman visual' atau 'entitas informasi eksternal'. Namun dia mengerti inti dari pesan tersebut.
Dunia akan segera mengetahui keberadaannya. Dan respons dari jutaan manusia bodoh di luar sana akan membuka lebih banyak kekuatan aslinya yang masih tertidur.
Madara duduk di tepi ranjang kayunya. Dia menyeringai tajam di dalam ruangan yang remang-remang itu.
Dunia ini mungkin awalnya terlihat membosankan. Namun dengan sebuah bidak pintar yang kini berdiri di belakangnya, dan jutaan mata yang sebentar lagi akan menatapnya dengan rasa takut, permainan di atas lautan luas ini mulai terasa sedikit lebih menarik.
Di luar kabin, suara ombak beradu dengan lambung kapal. Kapal tanpa bendera itu bersiap untuk berlayar menuju lautan badai.
Legenda Sang Hantu Uchiha, sebuah anomali yang akan menghancurkan tatanan dunia One Piece dari akar-akarnya, baru saja menekan tombol mulai. Dan target pertamanya adalah lautan para monster. Grand Line.