Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Terlahir Kembali di Malam yang Sama
Sindrom lapar sentuhan itu sedang memakannya hidup-hidup.
Vivi meringkuk di sudut sofa sambil mencengkeram boneka beruang berwarna krem. Kukunya menembus bulu sintetis sampai menyentuh kain di bawahnya. Namun, benda lembut itu tak bisa menolong. Rasa panas merayap di bawah kulitnya, disusul geli menyakitkan seolah ribuan semut menggigit tulangnya dari dalam.
Ia butuh sentuhan manusia.
Bukan sembarang manusia.
Di seluruh dunia, hanya sentuhan pria paling berbahaya yang dikenalnya yang bisa menghentikan rasa sakit ini.
Sebastian Gunawan. Suaminya sendiri.
Ponsel di atas meja bergetar karena tersenggol lutut Vivi. Layar yang masih menyala memperlihatkan panggilan WA selama tujuh detik. Ia bahkan tak ingat kapan menekan nama Sebastian. Yang ia ingat hanya suaranya sendiri, pecah dan memalukan.
“Pulang. Tolong.”
Setelah itu sambungan terputus.
Hujan sudah berhenti, tetapi tetes air masih jatuh dari tepian atap ke halaman rumah Gunawan di Pondok Indah. Bunyi tik, tik, tik itu bercampur dengan detak jam dinding. Setiap detik terasa seperti kuku yang menggores kulit Vivi.
Ia menekan boneka beruang ke dada. Biasanya benda itu mampu menenangkannya. Malam ini, aroma kain yang familier justru membuat kepalanya semakin berat.
Ada sesuatu yang salah dengan malam ini.
Ruangan ini terasa pernah ia lihat dari tempat yang sangat jauh. Lampu kuning di dekat tangga. Gelas air yang belum disentuh. Bayangan ranting basah di jendela. Semuanya terlalu akrab, tetapi ingatannya tertutup kabut tebal.
Rasa sakit kembali menghantam.
Vivi menggigit bibir agar tak menjerit. Setitik darah terasa asin di lidahnya.
Pintu utama terbuka.
Langkah sepatu menghantam lantai marmer, cepat dan teratur. Bukan langkah orang yang baru berlari dari mobil, meski napas pria itu sedikit lebih berat daripada biasanya.
Sepuluh menit.
Sebastian selalu tiba dalam sepuluh menit setiap kali penyakit Vivi kambuh. Seolah CEO Gunawan Group itu bisa membelah kemacetan Jakarta dengan satu perintah.
“Vivi.”
Suaranya dingin. Wajahnya pun sama dinginnya.
Kemeja hitam Sebastian lembap di bagian bahu. Beberapa helai rambutnya jatuh di dahi, mungkin terkena gerimis saat turun dari mobil. Ia menyerahkan ponsel kepada seseorang di luar pintu tanpa menoleh.
“Pak Yanto, jangan biarkan siapa pun masuk.”
“Baik, Pak Sebastian.”
Pintu tertutup.
Sebastian mendekati sofa. Tatapannya menyapu wajah pucat Vivi, bibirnya yang berdarah, lalu jemari yang gemetar di antara bulu boneka.
“Sejak kapan?”
Vivi mencoba menjawab, tetapi yang keluar hanya embusan napas serak.
Sebastian tak menunggu. Ia mengambil boneka itu dari pelukan Vivi dan meletakkannya di sisi sofa. Sesaat kemudian, satu lengan menyusup ke bawah lutut Vivi, satu lagi menopang punggungnya.
Tubuh Vivi terangkat.
Panas kulit Sebastian menembus gaun tidurnya. Rasa sakit yang tadi menggila langsung surut setingkat, seperti ombak yang ditarik paksa kembali ke laut.
Vivi mengeluarkan suara kecil tanpa sadar. Kedua lengannya segera melingkari leher Sebastian.
“Lebih dekat,” bisiknya.
Rahang Sebastian mengeras.
Ia duduk di sofa dan menempatkan Vivi menghadapnya, mengangkangi pahanya. Posisi itu selalu membuat Vivi ingin lenyap karena malu. Hampir setahun menjadi suami istri, tetapi mereka hanya bersentuhan ketika penyakit sialan ini kambuh.
Pada malam pernikahan mereka, Sebastian sudah menyampaikan aturannya dengan jelas.
Ia memiliki gangguan obsesif-kompulsif dan tak suka disentuh. Pernikahan ini hanya kesepakatan. Vivi tak boleh masuk ke kamarnya tanpa izin, tak boleh menyentuh barang pribadinya, dan tak perlu mengharapkan hubungan seperti pasangan biasa.
Sebagai gantinya, satu persen saham Gunawan Group berpindah sesuai perjanjian. Suntikan dana dari kesepakatan itu menahan PT Winata, perusahaan tekstil milik keluarganya, dari jurang kebangkrutan.
Vivi menerima semuanya.
Hanya saja tubuhnya tak pernah belajar menerima kesepian.
“Masih sakit?” tanya Sebastian.
Vivi mengangguk. “Di sini.”
Ia menyentuh bibirnya sendiri.
Sepasang mata gelap di hadapannya menyempit.
“Kamu yakin?”
Pertanyaan itu terdengar sopan, tetapi telapak tangannya telah menahan pinggang Vivi lebih erat. Panas merembes dari ujung jarinya. Tubuh Vivi bereaksi lebih cepat daripada harga dirinya.
Ia menunduk dan menempelkan bibir ke bibir Sebastian.
Pria itu diam selama satu detik.
Lalu tangannya naik ke tengkuk Vivi.
Ciuman yang seharusnya hanya menjadi obat berubah lebih dalam. Sebastian memiringkan kepala dan mengambil napas Vivi seakan tak ingin menyisakan ruang di antara mereka. Bibirnya dingin karena udara malam, tetapi tekanannya panas dan tegas. Saat Vivi gemetar, ia tidak melepaskan. Ia menahan pinggang Vivi, membiarkan tubuh kecil itu menempel penuh pada dadanya.
Nyeri di bawah kulit Vivi memudar sedikit demi sedikit.
Sebagai gantinya, jantungnya berdetak semakin kacau.
“Sudah?” Sebastian bertanya di sela napas.
Vivi ingin berkata sudah. Namun, ketika ia mencoba mundur, jemari di tengkuknya tetap berada di sana.
Mata mereka bertemu dari jarak yang terlalu dekat.
Tak ada kelembutan di wajah Sebastian. Tak ada senyum atau rasa malu seperti seorang suami yang baru mencium istrinya. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi.
Seperti biasa.
Seperti pria yang hanya menjalankan kewajibannya.
Rasa sakit Vivi sudah hilang, tetapi sesuatu yang lebih perih menekan dadanya.
“Aku sudah membaik,” katanya pelan.
Baru kali itu Sebastian melepas tengkuknya. “Kalau begitu, kita berpisah kamar.”
Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras daripada seharusnya.
Sebastian selalu begitu. Datang dalam sepuluh menit. Memeluknya sampai sembuh. Membiarkannya mencium. Lalu pergi seolah sentuhan mereka tak berarti apa-apa.
Vivi menatap kancing hitam di kerah suaminya. Hampir setahun ia mencoba meyakinkan diri bahwa pernikahan ini cukup. PT Winata selamat. Papa dan Mama tak lagi menerima telepon penagih setiap malam. Ia tinggal di rumah mewah dan tak pernah kekurangan apa pun.
Kecuali perasaan bahwa dirinya diinginkan.
Malam ini, entah kenapa, kesepian itu terasa terlalu berat.
“Sebas.”
Sebastian yang hendak mengangkat tubuhnya berhenti. “Ya?”
Vivi menggenggam bagian depan kemejanya.
Kata-kata yang sudah ia simpan berbulan-bulan naik ke tenggorokan.
“Kita cerai sa...”
Sebuah pintu besi terbanting di dalam kepalanya.
Bukan bayangan. Bukan mimpi.
Vivi melihat jemarinya sendiri mencakar permukaan pintu yang terkunci. Ia mendengar suaranya memohon agar diperbolehkan pulang menemui Papa dan Mama. Ia mencium udara pengap dari kamar tanpa jendela. Di luar, langkah kaki Sebastian berhenti tepat di depan pintu, tetapi tak pernah membukanya.
Lalu potongan lain menyambar.
Telepon tentang PT Winata yang akhirnya jatuh. Tangis Mama. Wajah Papa yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Tubuh Vivi sendiri terbaring dingin di atas lantai, napasnya putus-putus, sementara cahaya di langit-langit menyusut menjadi titik putih.
Ia pernah mati.
Ia pernah menjalani malam ini.
Dalam kehidupan pertamanya, ia mengucapkan kalimat yang sama. Setelah itu, topeng dingin Sebastian retak dan dunia Vivi berubah menjadi sangkar.
Sekarang ia kembali ke titik sebelum semuanya dimulai.
“Cerai apa?”
Suara Sebastian menariknya kembali.
Keringat dingin membanjiri punggung Vivi. Jemarinya membeku di kemeja pria itu. Ia masih duduk di pangkuannya, masih dikelilingi lengan yang tadi menyembuhkan rasa sakitnya, tetapi bayangan pintu besi membuat napasnya sesak.
“Aku...”
Tatapan Sebastian turun ke bibirnya.
Hanya sesaat, sesuatu bergerak di mata gelap itu. Bukan jijik. Bukan pula ketidaksabaran.
Sesuatu yang tajam dan lapar.
Jemarinya menekan pinggang Vivi seakan memastikan ia masih berada di sana.
Vivi menelan kata terakhir itu bersama rasa darah di bibirnya.
“Aku cuma mau bilang... cerainya sinetron tadi jelek sekali.”
Sunyi.
Alasan itu begitu buruk sampai Vivi ingin menenggelamkan kepala ke dalam boneka beruangnya.
Sebastian tak tertawa. “Kamu meneleponku karena sakit sambil menonton sinetron?”
“Aku bisa melakukan dua hal sekaligus.”
“Begitu rupanya.”
Nada suaranya tetap datar. Namun, tangan yang memegang pinggang Vivi belum juga mengendur.
Vivi memaksa tersenyum, sementara serpihan kehidupan pertama berputar di kepalanya. Ia tahu bagaimana kisah mereka berakhir. Ia tahu kata cerai akan mengubah pria ini menjadi seseorang yang tak dikenalnya.
Tetapi ia tak tahu mengapa.
Ia juga tak tahu siapa sebenarnya suami yang sedang memeluknya ini.
***
Sebastian mengenal setiap perubahan napas Vivi.
Malam ini, napas itu berubah tepat ketika bibirnya membentuk suku kata kedua dari kata yang tidak akan ia biarkan selesai.
Ia menatap wajah pucat di hadapannya. Vivi tampak seperti baru melihat hantu. Padahal beberapa menit lalu, ia sendiri yang menarik kerah Sebastian dan meminta ciuman.
Aneh.
Gaun tidur lain milik Vivi masih tersimpan di bagian terdalam ruang ganti pribadinya, terlipat di dalam kotak hitam yang tak boleh disentuh siapa pun. Bahkan Pak Yanto tak memiliki akses ke sana.
Sebastian pernah mengira menyimpan satu benda sudah cukup untuk meredam sesuatu di dalam dirinya.
Ternyata tidak.
Telapak tangannya mengunci pinggang Vivi sedikit lebih kuat.
“Kamu mau turun?” tanyanya.
Vivi langsung menggeleng terlalu cepat.
Bagus.
Sebastian menyandarkan punggung ke sofa, tetap membiarkannya duduk di pangkuan. Ia tidak bertanya lagi. Belum.
Kalau Vivi benar-benar hendak mengatakan sesuatu yang bisa mengambilnya dari rumah ini, Sebastian hanya perlu memastikan kalimat itu tak pernah memperoleh kesempatan kedua.
***
Vivi merasakan lengan di pinggangnya mengeras seperti palang pintu.
Saat ia kembali menatap Sebastian, tatapan lapar tadi sudah lenyap. Yang tersisa hanya wajah dingin suami kontraknya, sempurna dan sulit dibaca.
Namun, setelah pernah mati sekali, Vivi tak lagi yakin wajah dingin itu berarti ia dibenci.
Mungkin selama ini, ia telah salah membaca sesuatu yang jauh lebih berbahaya.