Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Layar televisi di ruang tamu memancarkan pendar biru yang dingin, memamerkan raut tegang pembawa berita yang terus-terusan mengulang kata skandal dan kebangkrutan.
Kirei berdiri membeku. Pikirannya serasa menabrak dinding kosong. Prestasi akademik yang ia susun bertahun-tahun, impian menembus olimpiade nasional, hingga reputasi Kakeknya... mendadak dilumat dalam semalam oleh narasi karangan Keluarga Aditama.
Sebuah telapak tangan yang kokoh hinggap di bahunya, menarik tubuhnya perlahan membelakangi layar kaca.
Arka memadamkan TV memakai remote di tangan kiri, lalu melempar benda itu asal ke sofa. "Enggak usah ditonton. Media itu cuma corong yang sudah dibeli Aditama."
"Arka... olimpiade gue," bisik Kirei dengan suara tercekat, matanya menatap kosong. "Dinas pasti mencoret nama gue begitu berita ini mencuat besok pagi. Terus Kakek... kalau Kakek sampai nonton ini di rumah sakit—"
"Kakek enggak bakal lihat," potong Arka cepat, nadanya sarat kepastian yang tak terbantahkan. "Gue sudah suruh anak buah Om Wijaya mengamankan semua akses TV sama ponsel di kamar VIP. Kakek aman."
Arka menangkup kedua pipi Kirei dengan telapak tangannya yang hangat, memaksa cewek itu mengunci pandangan padanya. Iris cokelat gelap Arka memancarkan ketenangan yang gila, bertolak belakang dengan kekacauan di luar sana.
"Dengar gue, Kirei. Aditama cuma mau memancing panik lo," Arka berbisik rendah, ibu jarinya menyapu sisa air mata di sudut mata Kirei. "Mereka menggoyang bisnis Kakek dan posisi lo di sekolah secara bersamaan biar fokus kita terpecah. Kalau lo tumbang sekarang... mereka yang menang."
Napas Kirei kempas-kempis, berjuang meresapi setiap kalimat Arka. Sentuhan hangat di pipinya perlahan memompa kembali sisa-sisa keberaniannya yang sempat menguap.
"Terus... kita harus gimana?" tanya Kirei lirih.
Arka menyunggingkan senyum miring—seraut senyum berbahaya yang biasa muncul tiap kali ia siap membantai lawan di lapangan basket.
"Kita bikin counter-attack," cetus Arka singkat.
Pukul 02.00 WIB.
Ruang tamu rumah minimalis itu mendadak berubah fungsi jadi pusat kendali darurat. Tumpukan dokumen keuangan, salinan audit internal Wijaya Group, hingga laptop milik Arka berserakan di atas meja kaca.
Kirei duduk bersila di karpet dengan kacamata minus bertengger di pangkal hidung. Sebagai Ketua OSIS yang terbiasa mengolah data rumit, ia menemukan benang merah kejanggalan dalam laporan keuangan yang sengaja dibocorkan ke media.
"Ini aneh," Kirei menunjuk sebuah grafik di layar. "Laporan investasi yang bocor itu dokumen revisi tahun lalu yang sudah dibatalkan Kakek. Berarti ada jajaran direksi Wijaya Group yang sengaja memasok data ini ke Aditama."
Arka yang duduk merapat di sampingnya, menyandarkan siku di lutut sambil memperhatikan jemari Kirei yang menari lincah di atas papan ketik. "Siapa saja yang pegang akses dokumen revisi itu?"
"Cuma tiga orang," sahut Kirei, matanya menyipit menatap barisan angka. "Om Wijaya, kepala akuntan, sama... pengacara senior perusahaan. Pak Rahardja."
Arka terkekeh dingin. "Rahardja? Bukannya dia yang kemarin lusa sempat makan malam bareng bokapnya Bima?"
Kirei membelalak, menoleh mendadak ke arah Arka. "Lo tahu dari mana?"
"Anak-anak basket gue enggak cuma modal nongkrong, Bu Ketua," Arka mencondongkan badan, merebut cangkir kopi dari genggaman Kirei lalu meminumnya santai. "Gue sudah suruh mereka membuntut pengacara itu sejak Bima mulai berulah di sekolah."
"Arka! Itu kopi gue!" protes Kirei, pipinya mendadak mendidih mendapati Arka menyeruput bekas cangkirnya tanpa canggung sedikit pun.
"Pelit amat. Minta dikit doang," cibir Arka ringan, tapi matanya menatap bibir cemberut Kirei dengan pendar intens yang ganjil.
Atmosfer ruangan serta-merta berubah. Ketegangan skandal perusahaan seolah terkikis oleh letupan percikan aneh yang mendadak hadir di antara mereka. Jarak wajah mereka kini terkikis sisa belasan sentimeter. Aroma kopi pahit bersatu dengan wangi citrus khas Arka, menyerbu penciuman Kirei.
Jantung Kirei berdegup liar. Saat ia hendak menarik diri mundur, lengan Arka bergerak cepat melingkari pinggang belakangnya, menahannya bergerak.
"Arka... kita lagi bedah dokumen," bisik Kirei gagap, suaranya tertahan.
"Gue tahu," sahut Arka rendah. Matanya yang pekat mengunci pandangan Kirei, lalu bergeser perlahan turun menatap bibir cewek itu. "Tapi Bu Ketua kelihatan cantik banget kalau lagi serius begini."
Darah Kirei rasanya berdesir naik ke kepala, aduk-aduk antara gugup dan sensasi asing yang membikin dadanya bergemuruh. "Lo... ngomong apa sih—"
Bip! Bip! Bip!
Meringkik nyaringnya telepon rumah memenggal percikan itu.
Arka mendesis rendah, mengutuk pelan dalam hati sembari mengurai cengkeramannya dari pinggang Kirei. Kirei terengah, buru-buru membetulkan letak kacamatanya lalu menyambar gagang telepon.
"H-halo?" panggil Kirei dengan nada yang masih bergetar.
"Kirei! Ini Om Wijaya!" suara pamannya menyambar tergesa-gesa dan tegang. "Bisa kamu dan Arka ke kantor pusat sekarang? Kepala Sekolah kamu, Pak Hartawan, ada di sini bersama pihak dinas pendidikan! Mereka menuntut penjelasan sebelum membatalkan status siswa kamu besok pagi!"
Kirei melirik Arka. Cowok itu mengangguk tegas, memberi gestur siap tempur kapan saja.
"Kami meluncur sekarang, Om," sahut Kirei mantap.
Pukul 04.30 WIB.
Gedung pencakar langit Wijaya Tower menjulang kokoh di bawah remang langit subuh. Namun di dalam ruang rapat lantai teratas, udara terasa membeku.
Pak Hartawan duduk di ujung meja jati, diapit dua perwakilan dinas pendidikan yang berwajah kaku. Om Wijaya berdiri gelisah di dekat jendela.
Saat pintu bergeser terbuka, Kirei dan Arka melangkah masuk berdampingan. Kirei dibalut kemeja putih rapi dan rok bahan hitam, sementara Arka mengenakan jaket kulit hitam yang melapisi kemeja polosnya—tampak tangguh dan tak tergoyahkan.
"Kirei," Pak Hartawan membuka suara berat. "Berita yang beredar di luar sudah tidak terkendali. Pihak dinas tidak bisa mempertaruhkan reputasi olimpiade untuk siswi yang terjerat skandal pencucian uang."
"Itu bukan skandal, Pak," potong Kirei lugas, maju mendekati meja rapat seraya membanting flashdisk perak dan tumpukan berkas audit hasil olah datanya semalaman. "Ini manipulasi data yang didalangi pengacara internal kami, Pak Rahardja, yang terbukti main mata dengan Keluarga Aditama."
Perwakilan dinas menyipitkan mata. "Kamu punya buktinya, Kirei?"
"Bukan cuma berkas," sela Arka, suaranya yang dalam menggema di ruangan yang dingin. Ia menekan sakelar di dinding, menyalakan proyektor. "Tapi juga bukti transaksi rekening rahasia Pak Rahardja yang menerima aliran dana dari anak perusahaan Aditama satu jam lalu."
Di layar proyektor, grafik mutasi rekening beserta rekaman suara antara Rahardja dan perwakilan Aditama terpampang gamblang—bukti tak tertolak yang dikumpulkan tim peretas Arka sebelum mereka berangkat.
Pak Hartawan dan utusan dinas melotot, bertukar pandang kaget.
"Ini... ini kejahatan korporasi terencana!" cetus salah satu pejabat dinas.
Om Wijaya mendesah lega tiada tara. Sementara Pak Hartawan menatap Kirei dan Arka dengan binar kagum yang tak bisa disembunyikan.
"Keputusan skorsing dan pembatalan olimpiade kamu resmi ditarik, Kirei," ujar Pak Hartawan mantap. "Dan untuk Arka... keberanian kamu membongkar kasus ini bakal dicatat sebagai poin kedisiplinan positif."
Kirei meremas tangannya di samping paha, menahan haru yang membuncah di dada. Ia menoleh pada Arka. Cowok itu melempar senyum tipis—sebuah senyuman bangga yang sanggup menghangatkan seluruh rongga dada Kirei.
Sayang, kejayaan singkat itu mendadak hancur tatkala pintu ruang rapat didobrak kasar.
Pria paruh baya bersetelan jas mewah bergaris masuk dengan langkah lebar, dikawal dua pengawal berbadan tegap. Di belakangnya, Bima mengekor dengan raut penuh dendam.
Pria itu—Tuan Aditama, pimpinan tertinggi Keluarga Aditama—memindai seluruh orang dengan tatapan merendahkan, sebelum akhirnya mengunci matanya tepat pada Arka dan Kirei.
"Permainan anak SMA yang lumayan," cetus Tuan Aditama dingin menusuk. "Tapi kalian lupa satu hal... bukti di flashdisk itu tak ada harganya kalau besok pagi seluruh saham Wijaya Group resmi saya caplok lewat surat kuasa Kakek kalian yang sah."
Tuan Aditama mengibaskan selembar dokumen berstempel merah di udaranya—sebuah ancaman yang siap merobohkan segalanya dalam sekejap mata.