Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Selamat datang di Benteng Pertahanan Orion,” ujar Elliot dengan nada setengah bercanda, namun matanya—gelap dan berkilat lembut—tak lepas menatap istrinya yang duduk di hadapannya dalam kereta yang bergoyang pelan.
Kereta perlahan melambat saat memasuki gerbang besar dari batu dan kayu. Salju turun tipis, menutupi jalan dan atap bangunan benteng yang berdiri gagah di antara tebing-tebing es.
Mata Davira membesar. Ini pertama kalinya ia melihat pegunungan es dari jarak sedekat itu. Bahkan dalam kehidupannya yang terdahulu, pemandangan semacam ini tak pernah tersentuh matanya.
“Indah sekali… Aku hanya pernah melihat pegunungan seperti ini di lukisan istana. Tapi nyatanya... jauh lebih megah dari yang kubayangkan.”
Elliot ikut menatap hamparan putih di luar jendela. “Dan juga jauh lebih berbahaya. Di balik punggung gunung itu, suku Avarian hidup dan berkuasa. Mereka tak menyukai orang luar.”
Kereta berhenti dengan bunyi logam berderit. Begitu pintu terbuka, hembusan angin dingin langsung menyambut. Beberapa prajurit Orion berdiri tegak di peron batu, mantel mereka tebal, senjata terikat di bahu.
Begitu mereka turun dari kereta, seorang pria bertubuh tegap dengan mantel tebal segera melangkah maju. Dada bajunya penuh lambang perak—tanda kehormatan pasukan utama Orion.
“Selamat datang!” ucapnya lantang sambil menundukkan kepala singkat. “Saya, Jenderal Oric Vaelthorn, menyambut kedatangan kalian di Benteng Orion."
Di sampingnya berdiri seorang wanita berambut hitam legam. Matanya tajam, penuh kewaspadaan, tapi sikapnya tetap anggun. Armor baja hitam membalut tubuhnya, memperlihatkan bahwa ia bukan sekadar pendamping seorang jenderal.
Elliot mencondongkan kepala sedikit. “Jadi ini sang prajurit wanita yang katanya dulu pernah menantang pasukan kerajaan sendirian?” katanya dengan nada menggoda.
Wanita itu tersenyum miring. “Hanya karena mereka mengira perempuan tak bisa memimpin barisan,” jawabnya tenang.
Davira menatapnya penuh ketertarikan tersirat. “Boleh aku tahu namamu?”
Wanita itu menatap balik, lalu memberi salam singkat. “Kapten Lyanna Vaelthorn, Komandan Divisi Sayap gagak hitam... sekaligus istri Jenderal Vaelthorn.”
Davira tersenyum ramah. “Senang berkenalan denganmu, Kapten Lyanna,”
“Bawa kemari tiga peti itu,” ujar Elliot, menyuruh salah satu pengawal pribadinya.
Beberapa prajurit segera bergegas menurunkan 7 kotak kayu berukir dari gerbong belakang kereta. Setiap peti bersegel lambang keluarga Varest.
Elliot menepuk salah satu peti dengan bangga. “Oleh-oleh dari ibukota. Anggur terbaik dari kerajaan Nether. Kupikir, setelah sebulan berjaga di dataran es, para penjaga Orion pantas mendapat sedikit kehangatan.”
Jenderal Oric tertawa lebar. “Kau masih tahu cara membuat prajuritmu bahagia, Elliot.”
Lyanna mengangkat alis, “Atau membuat mereka mabuk dan menambah keturunan?”
Elliot terkekeh ringan. “Tenang, Lady Lyanna. Aku tahu batasnya. Lagipula, Duke yang baik takkan datang tanpa hadiah untuk sahabat lamanya.”
Lyanna mendengus sambil melipat tangan. “Oh tidak, Elliot. Kalau Oric mulai minum lagi, aku yang akan berurusan dengan prajurit mabuk di benteng ini.”
Elliot terkekeh. “Seperti dulu, ya. Aku yang menyalakan api, dan kau yang memadamkannya.”
Oric menatap istrinya dengan senyum nakal. “Ayolah, My Love... hanya satu gelas. Tidakkah kau ingin sedikit suasana lama kembali? Siapa tahu... bisa menambah adik untuk anak-anak kita?”
Lyanna menatap tajam sambil menyilangkan tangan. “Tidak, Oric! Sudah cukup rahimku bekerja lembur tiga kali dalam dua tahun!”
Davira spontan terkejut. Elliot pun tergelak, menepuk bahu sahabatnya. “Kau dengar sendiri, Jenderal. Di sini yang berkuasa bukan kau Jendral, tapi Kapten Lyanna.”
Oric mengangkat tangan menyerah, namun senyumnya tetap lebar. “Yahh begitulah caranya Benteng Orion tetap aman—karena aku tahu kapan harus tunduk pada istriku.”
Tak berselang lama, derap roda besi kembali terdengar di pelataran benteng. Kereta kedua memasuki benteng dan dari dalamnya turun Elizabeth yang tampil mencolok dengan mantel abu-abu, diikuti Lady Duncan yang tampak lebih tenang namun jelas tidak nyaman dengan udara dingin didaerah perbatasan Orion.
Begitu melihat mereka, Jenderal Oric langsung menghela napas berat. “Demi dewa penjaga utara… Elliot, setelah sekian tahun, kenapa kau justru membawa gadis pengacau itu ke sini?”
Elizabeth menegakkan bahunya, matanya langsung menyipit. “Hei! Siapa yang kau sebut pengacau, Jenderal manusia salju?”
Lyanna yang berdiri di samping suaminya menahan tawa kecil, sementara Davira hanya menutup mulut menahan senyum.
Elliot cepat-cepat mengangkat tangan, mencoba meredakan suasana. “Dia datang bukan untuk membuat masalah disini, Oric. Elizabeth hanya ingin bertemu dengan Fenri, peliharaannya.”
Ucapan itu langsung membuat Oric terdiam sejenak, lalu mengerutkan dahi. “Fenrir? Oh, luar biasa. Kau bawa anggur dan gadis yang ingin bertemu monster perbatasan. Hari yang sempurna.” Ia memutar bola matanya malas. “Sebaiknya kau tunggu saja Jacob, si pawang serigala itu. Hanya dia yang bisa menahan makhluk itu supaya tetap bersikap waras.”
Miss Duncan yang sejak tadi diam sontak tersentak kaget. “Apa… serigala?! Maksudmu benar-benar serigala? Bukan dongeng?”
Elizabeth tersenyum manis—senyum yang jelas tidak menenangkan. “Tentu saja bukan dongeng, Lady Duncan. Fenrir itu nyata. Dia teman terbaikku dan aku sangat tidak sabar bertemu dengannya.”
Elizabeth menoleh cepat begitu melihat Davira di samping Elliot. Senyum cerah langsung terbit di wajahnya. Ia melangkah mendekat dan tanpa ragu menggenggam tangan kakak iparnya itu.
“Kakak ipar juga harus ikut denganku nanti, kita sudah jadi keluarga, jadi kakak harus berkenalan juga dengan Fenrir!” kata Elizabeth.
Oric langsung mendengus pelan, menatap Elizabeth seperti sedang menatap badai yang tak bisa dihindari. “Berkenalan? Atau kau bermaksud menjadikan kakak iparmu santapan Fenrir?” celetuknya.
Davira menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat. Matanya bergeser pada Elliot, mencari sedikit kepastian apakah ucapan Oric barusan itu benar.
Elliot langsung menatap tajam sahabatnya itu. “Hei, jangan menakut-nakuti istriku, dia baru saja tinggal beberapa hari di Orion , jangan buat dia kabur sebelum sempat beradaptasi.” serunya kesal.
Lyanna tersenyum lembut di belakang Oric, hangat di tengah udara beku Orion.
Namun di sisi lain, tatapan Miss Duncan menusuk dingin—pada Davira.
Elliot melangkah ke arah kuda hitam yang telah disiapkan oleh para prajurit. Dengan gerakan luwes, ia naik ke pelana, mantel panjangnya terangkat sedikit ditiup angin dingin.
“Sungguh udara yang kurindukan,” katanya sambil menatap puncak-puncak es di kejauhan. “Kau tahu, Oric… tak ada tempat lain yang bisa membuat darah terasa sehangat ini.”
Oric tertawa, menepuk leher kudanya sendiri. “Atau mungkin karena anggurmu yang terlalu kuat, Elliot.”
Elliot menoleh, senyumnya lebar. “Kalau begitu, mari buktikan—siapa yang lebih cepat menghangatkan tubuh di tengah badai.”
Oric menaiki kudanya dengan semangat, sementara Lyanna menepuk dahinya putus asa. “Kau lihat? Lelaki tetaplah lelaki, bahkan di bawah suhu beku sekalipun,” gumamnya, membuat Davira tersenyum sumringah.
Salju berputar di udara ketika dua kuda itu mulai berlari, meninggalkan jejak panjang di hamparan putih Orion.
Saat sorak tawa Elliot dan Oric memudar di kejauhan, Elizabeth tiba-tiba menggandeng tangan Davira. “Ayo, ikut aku. Kita akan menemui Fenrir,” ujarnya dengan mata berbinar.
Davira tertegun. “Apa harus sekarang?” tanyanya pelan, tapi Elizabeth sudah menariknya dengan semangat seperti anak kecil ingin memperlihatkan mainan kesukaan nya.
"Oh tidak…" pikir Davira, ketakutan mulai merayap di dadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...