Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Deru mesin turbin jet pribadi membelah kesunyia. Di dalam kabin luxury class yang terisolasi dari dunia luar, hanya ada Kenzo, Clara, dan dua orang kru penerbangan yang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan. Tidak ada penumpang lain. Tidak ada saksi mata.
Clara duduk di samping jendela oval tebal, mengenakan gaun terusan kain sutra hitam berlengan panjang dengan kerah tinggi, pakaian yang dipilihkan khusus oleh Kenzo untuk menutupi seluruh warna keunguan yang terpatri di sepanjang leher dan dadanya. Wajahnya yang pucat tanpa riasan menempel dingin pada kaca jendela, menatap bayangan daratan Indonesia yang perlahan melandai dan menghilang di balik hamparan awan putih. Tanah kelahirannya, teman-temannya, impian akademisnya, semua lenyap di bawah sana.
"Minum air hangatmu, Clara,"
suara Kenzo memecah keheningan kabin.
Pria itu duduk tepat di sampingnya pada sofa kulit krem yang lebar. Kenzo telah menanggalkan jas mewahnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka. Pria itu menyodorkan cangkir porselen berisi teh herbal hangat ke depan wajah Clara.
Clara tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh. Kelopak matanya bergetar pelan, menahan gelombang rasa mual dan keputusasaan yang bergulung di dalam perutnya. Kejadian semalam di penthouse, sentuhan beringas, klaim kepemilikan mutlak, dan kepasrahan fisiknya yang tak berdaya terus berputar seperti rekaman rusak di dalam kepalanya.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia masih bisa merasakan berat tubuh Kenzo yang menindihnya dan aroma woody milik pria itu yang mengunci napasnya.
"Aku tidak ingin mengulang kalimatku di atas ketinggian sepuluh ribu kaki, Dear,"
bisik Kenzo. Nada suaranya lembut, namun sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah.
Kenzo merapatkan duduknya, melingkarkan satu tangannya di pinggang Clara dan menarik tubuh gadis itu tanpa perlawanan hingga bersandar di dada bidangnya. Jemari tangan Kenzo yang panjang meraih cangkir teh, lalu mengarahkannya langsung ke bibir Clara yang agak kering dan memerah.
"Buka mulutmu,"
perintah Kenzo tepat di telinga Clara.
"Tubuhmu masih sangat lemah setelah aksi mogok makanmu kemarin. Aku tidak ingin kau pingsan saat kita mendarat nanti."
Clara memalingkan wajahnya sedikit, namun genggaman Kenzo di pinggangnya menegang, menguncinya dengan ketat. Dengan kepasrahan yang hampa, Clara akhirnya membuka bibirnya dan membiarkan cairan teh hangat itu mengalir menyusuri tenggorokannya.
Ia benci kenyataan bahwa ia harus bergantung pada pria ini hanya untuk seteguk air. Ia benci betapa lemahnya ia saat ini. Namun yang paling membakar jiwanya dengan rasa bersalah adalah kenyataan bahwa tubuhnya yang telah dipatahkan pertahanannya semalam mulai mengenali rasa hangat dari dada Kenzo dan tidak lagi tersentak ketakutan seperti sebelumnya.
"Anak pintar,"
gumam Kenzo seraya mengecup pelipis Clara setelah cangkir itu kosong. Pria itu meletakkannya kembali ke atas meja lipat.
"Kau pikir dengan membawaku ke Karibia kau bisa membuatku melupakan apa yang kau lakukan semalam?"
suara Clara akhirnya keluar, begitu pelan, parau, dan bergetar akibat emosi yang tertahan di dada.
Kenzo terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar begitu puas. Ibu jarinya merayap naik, mengusap bekas jejak air mata yang mengering di pipi Clara.
"Aku tidak ingin kau melupakannya, Clara,"
balas Kenzo, matanya yang gelap menatap lurus ke dalam manik mata Clara yang kusam.
"Justru sebaliknya. Aku ingin kau mengingat setiap detiknya. Setiap sentuhanku, setiap rintihanmu, dan fakta bahwa kau sepenuhnya milikku sekarang. Karibia bukan tempat untuk melupakan. Karibia adalah tempat di mana kita akan memulai hidup baru kita tanpa gangguan dari siapa pun."
"Hidup baru?"
Clara tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang dipenuhi rasa penderitaan.
"Ini bukan hidup baru, Kenzo. Ini perbudakan. Kau mengurungku!"
"Aku mencintaimu, Clara,"
potong Kenzo singkat.
Kata-kata itu meluncur dari bibir Kenzo dengan begitu tenang dan mutlak, seolah itu adalah hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat.
Clara membeku. Jantungnya berdegup kencang secara tak beraturan. Pengakuan itu terasa seperti belati beracun yang ditancapkan tepat di tengah dadanya.
"Cinta?"
bisik Clara dengan mata membelalak tak percaya.
"Kau sebut obsesi gila ini cinta?! Kau menghancurkan masa depanku, memisahkan aku dari ibuku, merusak tubuhku dan kau berani menyebutnya cinta?!"
"Cinta tidak selalu tentang membiarkanmu terbang bebas, Clara,"
ujar Kenzo seraya menyusupkan jemari tangannya ke dalam helai rambut panjang Clara, mendongakkan wajah gadis itu agar menatapnya secara mutlak.
"Bagi seorang pria seperti aku, cinta adalah memastikan kau tetap berada di dalam pelukanku, apa pun taruhannya. Kau milikku. Dulu, sekarang, dan selamanya."
Kenzo menunduk, mencium bibir Clara secara mendalam. Ciuman di atas awan itu dipenuhi dominasi yang tenang. Clara tidak lagi memiliki tenaga untuk mendorong dada bidang Kenzo. Ia hanya memejamkan mata erat-erat, membiarkan air matanya kembali meluncur deras, membasahi pipinya dan menyerap di antara tautan bibir mereka.
Beberapa jam kemudian, kapten pilot mengumumkan melalui pengeras suara bahwa jet pribadi mereka telah memasuki wilayah udara Laut Karibia dan akan segera mendarat di bandara privat pulau tujuan.
Clara menatap keluar jendela. Di bawah sana, lautan biru yang jernih dan terumbu karang membentang luas tanpa batas. Di tengah lautan lepas itu, tampak sebuah pulau kecil yang sangat hijau, dikelilingi pasir putih yang halus. Di sudut paling terisolasi dari pulau tersebut, sebuah kompleks vila mewah berdinding batu alam dan kaca raksasa berdiri megah, menghadap langsung ke arah samudera luas.
Itu adalah pulau pribadi milik keluarga Kenzo atau lebih tepatnya, sangkar emas baru yang dibangun khusus untuk mengurungnya di tengah laut lepas.
"Kita hampir sampai, Dear,"
bisik Kenzo dari belakangnya, melingkarkan kedua tangannya di pundak Clara seraya menatap pemandangan pulau di bawah sana. "Tidak ada tetangga, tidak ada polisi, tidak ada Julian. Hanya ada lautan dan kita berdua."
Clara mencengkeram kain gaunnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di pergelangan tangan kirinya, gelang perak itu berkilat diterpa sinar matahari tropis yang menyengat.
Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu dengan sentakan halus, Clara menyadari satu hal yang teramat mengerikan di dalam hatinya, fase pertama perlawanannya telah mati dan di pulau terpencil ini, ia harus belajar bertahan hidup di bawah cengkeraman sang monster yang kini telah berhasil memiliki tubuh dan kebebasannya sepenuhnya.
Sentakan keras roda pesawat yang menggerus landasan pacu membawa Clara kembali pada kenyataan yang pahit. Di luar jendela, pemandangan tropis yang sangat indah memantulkan pendaran matahari siang yang terik, namun bagi Clara, setiap keindahan di pulau ini terasa seperti racun yang manis.
Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, menyadari bahwa perjalanan panjang ini bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan babak baru di mana ia harus mempertaruhkan sisa-sisa kewarasannya.