NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Gerbang Negeri Musuh

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Ryosuke meninggalkan Desa Arvend pada pagi berikutnya. Para penduduk desa berkumpul di depan gerbang untuk mengantarnya pergi. Wajah mereka masih menyimpan kelelahan setelah serangan monster semalam, tetapi di balik kelelahan itu tersimpan rasa syukur karena desa mereka masih berdiri dan keluarga mereka masih dapat berkumpul di bawah atap yang sama.

Roland melangkah mendekati Ryosuke sambil membawa sebuah kantong kain berisi bekal perjalanan.

"Terimalah. Isinya tidak banyak, hanya roti kering, daging asap, dan sedikit buah kering."

Ryosuke menggeleng pelan.

"Aku tidak bisa menerimanya. Persediaan makanan kalian lebih dibutuhkan oleh warga desa."

Roland tersenyum tipis.

"Justru karena kau menyelamatkan desa ini, kami masih memiliki kesempatan untuk mengumpulkan persediaan lagi."

Ia memaksa kantong itu ke tangan Ryosuke.

"Anggap saja ini ucapan terima kasih dari seluruh warga."

Ryosuke akhirnya menerimanya sambil membungkukkan badan.

"Terima kasih."

Seorang anak laki-laki yang berdiri di belakang Roland tiba-tiba berlari menghampirinya.

"Kakak Ronin!"

Ryosuke menoleh.

"Ayah bilang Kakak akan pergi ke utara."

"Benar."

"Kalau begitu... hati-hati."

Ucapan sederhana itu membuat Ryosuke tersenyum tipis.

"Aku akan kembali jika suatu hari melewati desa ini lagi."

Anak itu mengangguk dengan wajah ceria, meskipun ia sendiri tidak tahu apakah janji tersebut dapat benar-benar terwujud.

Setelah berpamitan kepada seluruh warga, Ryosuke kembali melanjutkan perjalanan.

Jalan menuju Benteng Vargan semakin menanjak. Pepohonan mulai berkurang, berganti dengan tebing-tebing batu yang menjulang tinggi di kedua sisi jalur. Di beberapa tempat, Ryosuke melihat bekas kawah besar yang terbentuk akibat ledakan Meriam Rune. Tanah di sekitarnya berubah menjadi hitam, dan tumbuhan yang berada di sekitar kawah telah mati meskipun hujan beberapa kali turun sejak peperangan dimulai.

Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa perang bukan hanya membunuh manusia.

Perang juga melukai alam.

Menjelang siang, dinding Benteng Vargan akhirnya mulai terlihat dari kejauhan.

Benteng itu berdiri di atas dataran tinggi yang menghubungkan Green Continent dengan jalur menuju Empire Krusador. Tembok batu berwarna abu-abu menjulang puluhan meter, dilengkapi menara pengawas di setiap sudut. Bendera Green Continent berkibar di atas gerbang utama, sementara ratusan prajurit berjaga dengan perlengkapan perang lengkap.

Di depan benteng, antrean panjang para pengungsi menunggu pemeriksaan.

Sebagian ingin memasuki wilayah yang lebih aman.

Sebagian lagi adalah keluarga prajurit yang hendak mengirimkan perbekalan.

Ryosuke ikut mengantre tanpa banyak berbicara.

Ketika gilirannya tiba, seorang prajurit memandang kedua katana di pinggangnya.

"Kau seorang ronin?"

"Benar."

"Apa tujuanmu menuju Benteng Vargan?"

"Mencari seseorang."

Prajurit itu mengamati Ryosuke beberapa saat.

"Kalau begitu kau datang terlambat."

"Maksudmu?"

"Sudah hampir seminggu tidak ada lagi rombongan tahanan Krusador yang terlihat di sekitar sini."

Ryosuke tetap tenang.

"Apa benar mereka melewati benteng ini?"

Prajurit tersebut mengangguk.

"Beberapa pengintai kami memang melaporkan adanya iring-iringan militer Krusador di seberang perbatasan."

"Mereka membawa tahanan yang merupakan penghianat dari desa Tagawa."

"Itulah yang mereka katakan."

"Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa."

"Perintah kami hanya menjaga wilayah Green Continent."

Jawaban itu tidak semakin memberikan kepastian.

Informasi tersebut membuktikan bahwa seluruh petunjuk yang dikumpulkan Ryosuke selama beberapa hari terakhir mengarah ke tempat yang sama.

Rombongan itu benar-benar menuju Empire Krusador.

Setelah melewati pemeriksaan, Ryosuke memasuki Benteng Vargan.

Suasana di dalam benteng jauh lebih sibuk dibandingkan desa-desa yang pernah ia singgahi. Pandai besi menempa senjata tanpa henti, kereta logistik keluar masuk membawa Kristal Rune, sementara para penyihir militer sibuk memeriksa persediaan bola kristal yang akan digunakan sebagai amunisi Meriam Rune.

Di salah satu sudut benteng, Ryosuke melihat sekelompok prajurit yang baru kembali dari garis depan.

Jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan ketika berangkat.

Beberapa kehilangan lengan.

Sebagian lain berjalan tertatih sambil dipapah rekan-rekannya.

Tidak ada sorak kemenangan.

Yang terdengar hanyalah suara para tabib yang bergegas membawa tandu.

Perang benar-benar telah mengubah wajah dunia.

Sore harinya, Ryosuke menuju tembok benteng yang menghadap ke arah utara.

Dari tempat itu, ia dapat melihat hamparan lembah luas yang menjadi batas alami antara Green Continent dan Empire Krusador.

Di kejauhan, berdiri tembok-tembok pertahanan milik Krusador.

Bendera hitam berlambang singa emas berkibar di atas menara-menara penjagaan.

Di balik benteng itulah negeri yang telah menghancurkan Desa Tagawa berada.

Di sanalah pula kemungkinan terbesar Hana masih hidup.

Seorang prajurit tua yang sejak tadi berjaga di atas tembok menghampiri Ryosuke.

"Kau terus memandangi utara sejak tadi."

Ryosuke tidak mengalihkan pandangannya.

"Ada seseorang yang harus kutemukan."

Prajurit tua itu mengangguk pelan.

"Banyak orang memasuki perang karena kebencian."

"Lalu kau?"

"Aku hanya ingin mencari keluargaku."

Prajurit itu tersenyum tipis.

"Kalau begitu jangan biarkan kebencian menguasai langkahmu."

"Karena ketika itu terjadi, kau tidak akan berbeda dengan mereka yang memulai perang ini."

Ucapan tersebut membuat Ryosuke terdiam.

Ia teringat wajah ayahnya.

Haruto tidak pernah mengajarkan pedang sebagai alat untuk melampiaskan amarah.

Pedang selalu digunakan untuk melindungi.

Ryosuke memejamkan mata sejenak.

Dendam memang masih ada di dalam hatinya.

Namun, alasan ia melangkah menuju Empire Krusador bukanlah untuk membunuh siapa pun.

Ia pergi untuk menemukan Hana.

Dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Ketika malam tiba, Ryosuke berdiri sendirian di depan gerbang utara Benteng Vargan.

Di hadapannya terbentang jalan panjang yang memasuki wilayah Empire Krusador.

Ia mengetahui bahwa sejak melangkahkan kaki melewati gerbang itu, tidak akan ada lagi perlindungan. Setiap desa, setiap kota, bahkan setiap orang yang ditemuinya mungkin akan menganggapnya sebagai musuh,atau yang lebih menyakitkan di anggap penghianat oleh tanah kelahirannya sendiri.

Namun, ia tidak lagi memiliki pilihan.

Perlahan Ryosuke meletakkan tangan kanannya pada gagang Nichirin-gatana, sementara tangan kirinya menyentuh Tenkū Matō yang masih tersegel.

Satu pedang membawa cahaya.

Satu pedang membawa kegelapan.

Keduanya kini akan menemaninya menempuh jalan paling berbahaya dalam hidupnya.

Tanpa menoleh ke belakang, Ryosuke melangkah melewati gerbang perbatasan.

Di belakangnya terbentang Green Continent,awal rencananya untuk memulai hidup baru meninggal kan masa lalu yang telah dipenuhi luka akibat perang.

Di hadapannya berdiri Empire Krusador,tanah kelahirannya yang menyimpan jawaban tentang pembantaian Desa Tagawa, konspirasi yang menghancurkan perdamaian Aldabaron, dan kemungkinan keberadaan Hana.

Perjalanan seorang ronin baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.

Langkah Ryosuke akhirnya melewati gerbang perbatasan yang memisahkan Green Continent dengan Empire Krusador. Angin yang bertiup dari utara membawa hawa yang lebih dingin, seolah-olah negeri di hadapannya benar-benar berbeda dari tanah kelahirannya. Jalan batu yang membentang lurus menuju wilayah Krusador dipenuhi kereta dagang, pasukan patroli berkuda, serta para pengelana yang datang dan pergi di bawah pengawasan ketat para prajurit kekaisaran. Setiap orang yang hendak memasuki wilayah itu diwajibkan menjalani pemeriksaan, sementara para pemanah berdiri di atas menara pengawas dengan busur yang telah siap dilepaskan apabila menemukan gerakan mencurigakan.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!