NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Brumm! Brumm!

​Suara mesin motor bebek tua memecah keheningan siang di halaman rumah panggung.

​Adit mematikan mesin motornya dan melepas helm usangnya sambil tersenyum lebar.

​Di teras rumah, Bang Jarwo dan Bang Sopo sedang duduk bersila sambil mengisap rokok lintingan.

​Mereka berdua langsung berdiri saat melihat Adit pulang dengan keranjang bambu yang sudah kosong.

​"Bagaimana hasilnya, Dit?" tanya Bang Jarwo dengan wajah tegang.

​"Jangan bilang cabaimu ditawar murah sama tengkulak pasar," sahut Bang Sopo cemas.

​Adit tidak menjawab, dia hanya berjalan mendekati kedua pamannya dengan langkah tenang.

​Dia merogoh saku kemejanya perlahan.

​Srek.

​Adit mengeluarkan tumpukan uang pecahan seratus ribu yang masih baru dan tebal.

​Mata Bang Jarwo dan Bang Sopo seketika melotot seakan mau keluar dari kelopaknya.

​"Bapak tebak berapa yang saya dapat hari ini," ucap Adit sambil mengipas-ngipaskan uang itu di depan wajah mereka.

​"Astagfirullah, itu uang beneran, Dit?" suara Bang Sopo terdengar gemetar.

​"Ya uang beneran dong, Bang, masa daun pisang," Adit tertawa lepas.

​"Ini totalnya dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah."

​Uhuk! Uhuk!

​Bang Jarwo sampai tersedak asap rokoknya sendiri mendengar nominal tersebut.

​"Dua juta lebih? Cuma dari tiga keranjang cabai?" Bang Jarwo memegangi dadanya yang sesak.

​"Itu mah lebih besar dari gaji Abang sebulan kerja kuli bangunan, Dit!" timpal Bang Sopo tak percaya.

​Adit lalu menceritakan pertemuannya dengan Riana si pemilik restoran secara singkat.

​Tentu saja dia menyembunyikan soal sistem dan tetap berpegang pada alasan kualitas bibit rahasia.

​"Syukurlah kalau begitu, berarti kita punya langganan orang kaya sekarang," Bang Jarwo mengusap wajahnya lega.

​"Ini seratus ribu untuk Bang Jarwo, dan ini seratus ribu untuk Bang Sopo," Adit menyodorkan dua lembar uang.

​"Wah, tidak usah repot-repot, Dit, kamu kan butuh modal," tolak Bang Jarwo halus.

​"Terima saja, Bang, ini rezeki panen pertama kita," paksa Adit sambil menjejalkan uang itu ke tangan mereka.

​Kedua pria paruh baya itu akhirnya menerimanya dengan mata berkaca-kaca.

​"Terima kasih banyak ya, Dit, Abang bisa beli beras sekarung ini mah," ucap Bang Sopo terharu.

​Setelah beristirahat sejenak, Adit masuk ke dalam kamarnya sendirian.

​Dia duduk di tepi ranjang dan berniat mengecek hadiah baru dari sistem.

​"Sistem, buka inventaris," bisik Adit pelan.

​Ting!

​[Membuka Inventaris Sistem.]

​Sebuah layar biru transparan muncul di udara tepat di depan wajah Adit.

​Di sana terdapat gambar sebuah kantong benih bercahaya keemasan.

​"Keluarkan Paket Bibit Sayuran Unggul," perintah Adit.

​Pop!

​Sebuah kantong kain kecil tiba-tiba muncul dan jatuh ke pangkuan Adit.

​Dia membukanya dan melihat campuran biji-bijian yang memancarkan aura segar.

​"Lalu apa itu Peta Analisis Kesuburan Lahan?" gumam Adit membaca nama fitur barunya.

​[Mengaktifkan Peta Analisis Kesuburan Lahan.]

​Tiba-tiba, layar biru itu berubah menjadi peta tiga dimensi dari seluruh area tanah warisan Adit.

​Peta itu dipenuhi warna yang berbeda-beda, mulai dari merah gelap hingga hijau muda.

​[Area Merah: Tanah mati, butuh banyak pupuk dan air.]

​[Area Kuning: Tanah biasa, pertumbuhan tanaman normal.]

​[Area Hijau Terang: Tanah sangat subur, cocok untuk bibit unggul.]

​Adit mengamati peta itu dengan saksama.

​Dia melihat ada satu titik berwarna hijau terang yang lokasinya berada di dekat aliran sungai kecil di ujung lahan.

​"Ternyata di sana ada tanah subur alami, kenapa aku tidak pernah tahu ya," batin Adit kagum.

​"Kalau aku tanam bibit unggul ini di area hijau, pasti hasilnya lebih gila dari cabai tadi."

​Adit menyimpan kantong bibit itu ke dalam saku celananya dan segera keluar kamar.

​"Bang Jarwo, Bang Sopo, ayo kita ke kebun lagi!" panggil Adit semangat.

​"Wah, bos muda kita sudah semangat mau buka lahan baru rupanya," canda Bang Sopo sambil mengambil cangkulnya.

​Mereka bertiga berjalan menuju area lahan yang mengarah ke aliran sungai kecil.

​Adit memimpin jalan dan berhenti tepat di titik yang ditunjukkan oleh peta sistem sebagai area hijau.

​"Kita buka lahan di sebelah sini saja, Bang," tunjuk Adit pada semak belukar yang lumayan rimbun.

​"Di sini? Tanah dekat sungai ini kan banyak batunya, Dit," Bang Jarwo meragukan pilihan Adit.

​"Percaya sama saya, Bang, almarhum Bapak pernah bilang tanah dekat air mengalir itu bagus," Adit beralasan lagi.

​Mendengar nama almarhum bapaknya dibawa-bawa, Bang Jarwo pun langsung percaya tanpa banyak tanya.

​Wuk! Wuk!

​Suara cangkul dan parang kembali beradu dengan semak belukar dan tanah berbatu.

​Adit ikut mengayunkan cangkulnya dengan tenaga penuh.

​Tubuhnya terasa lebih bugar hari ini, mungkin akibat efek dari semangatnya yang sedang membara.

​Sekitar pukul empat sore, lahan seluas setengah lapangan basket berhasil mereka bersihkan.

​Tanah di sana memang terlihat lebih gembur dan hitam dibandingkan bagian depan rumah.

​Adit mulai membuat lubang-lubang kecil dan memasukkan benih sayuran dari sistem satu per satu.

​"Itu bibit apa, Dit? Bentuknya aneh sekali," tanya Bang Sopo sambil berjongkok melihat ke dalam keranjang.

​"Ini bibit tomat sama sawi unggulan, Bang," jawab Adit asal sebut saja agar tidak dicurigai.

​Setelah semua benih tertanam rapi, mereka duduk bersandar di bawah pohon rindang untuk minum air kendi.

​Tiba-tiba, Bang Jarwo teringat sesuatu dan menepuk dahinya pelan.

​"Oh iya, Dit. Tadi waktu kamu di dalam kamar, Paman sempat ke warung ujung desa beli kopi."

​"Ada apa memangnya di warung, Bang?" tanya Adit sambil meneguk air dingin dari kendi.

​"Pemilik warung bilang ada dua orang asing bertampang preman dari kota yang nanya-nanya soal kebun kita."

​Adit menghentikan minumnya dan mengerutkan kening.

​"Nanya-nanya bagaimana maksudnya?"

​"Mereka tanya siapa yang jual cabai raksasa di pasar kota tadi pagi," jelas Bang Jarwo dengan nada khawatir.

​"Mereka juga memaksa tanya lokasi pasti rumah warisan bapakmu ini."

​Bang Sopo membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan kasar.

​"Pasti itu orang suruhannya tengkulak pasar yang kesal sama kamu, Dit."

​"Tengkulak pasar memang licik, kalau ada saingan yang jual barang bagus, mereka suka main kotor," tambah Bang Sopo.

​Adit terdiam sambil menatap lahan sayurannya yang baru saja ditanam.

​Dia teringat wajah Pak Kumis yang menatapnya penuh kebencian dan amarah di pasar tadi pagi.

​"Pak Kumis rupanya tidak main-main dengan ancamannya," batin Adit dingin.

​"Kalian tenang saja, Bang," ucap Adit memecah keheningan di antara mereka bertiga.

​"Kita jaga kebun ini sama-sama, kalau mereka berani macam-macam, kita hadapi."

​"Tentu saja! Golok Abang ini belum pernah dipakai buat motong preman kota!" seru Bang Sopo galak sambil menepuk sarung golok di pinggangnya.

​Meski mencoba terlihat tenang di depan paman-pamannya, hati Adit tetap merasa waspada.

​Lahan ini adalah nyawanya sekarang, dia tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya begitu saja.

​Sistem telah memberinya kesempatan kedua, dan dia bertekad mempertahankannya dengan cara apa pun yang diperlukan.

​"Ayo kita pulang dulu, Bang, besok pagi kita pasang pagar bambu keliling lahan ini," ajak Adit sambil berdiri.

​Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga di langit Desa Sukamaju.

​Namun bagi Adit, malam ini mungkin akan terasa jauh lebih panjang dan menegangkan dari biasanya.

​Ancaman dari luar desa diam-diam mulai mengintai kebun ajaibnya.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!