Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Membongkar Jejak Rekayasa
Pukul sembilan pagi, Alexander Wijaya duduk di ruang pemeriksaan Polres Kota Cahaya sebagai terlapor.
Di depannya ada meja logam, satu alat perekam, map laporan Anthony Wongso, dan gelas plastik berisi air yang belum ia sentuh. Di luar kaca buram, suara langkah petugas lalu-lalang. Semua dibuat resmi. Semua dibuat menekan.
Penyidik yang kemarin datang ke kos membuka map. "Saudara Alexander, pelapor menyerahkan rekaman suara, tangkapan pesan, dan keterangan saksi dari Saudari Priscilla Salim. Anda tetap membantah?"
"Saya membantah laporan itu," jawab Alexander. "Tapi saya tidak membantah bahwa sebagian suara di rekaman memang suara saya."
Penyidik muda yang duduk di sisi kanan langsung mencondongkan badan. "Berarti mengakui?"
"Mengakui bahwa suara saya dipotong berbeda dengan mengakui isi tuduhan." Alexander menatap alat perekam di meja. "Mohon dicatat lengkap."
Penyidik utama menahan senyum tipis. "Lanjutkan."
Anthony duduk di kursi samping sebagai pelapor, jasnya sudah kembali rapi. Di belakangnya, seorang staf dari kantor hukumnya berdiri dengan map hitam. Priscilla tidak hadir, tetapi namanya memenuhi berkas seperti bayangan yang sengaja ditaruh di setiap halaman.
Anthony menyela, "Pak, jangan biarkan dia mengajar prosedur. Intinya dia menekan saya dan Priscilla."
Alexander tidak menoleh. "Pak Penyidik, boleh saya mendengar rekaman penuh yang diserahkan pelapor?"
"Yang kami terima hanya potongan ini."
"Itu masalah pertama."
Ruangan menjadi sunyi.
Penyidik utama memutar audio. Suara Alexander terdengar lagi.
"...kalau tidak mau semua orang tahu... bayar... jangan salahkan aku..."
Alexander memejamkan mata. Panel Status tidak muncul besar seperti saat pertama kali aktif, tetapi di sudut pandangannya ada garis biru tipis yang bergerak bersama gelombang suara.
Logika Hukum aktif.
Basis Data Hukum aktif.
Pengumpulan Bukti aktif.
Indikator ketidaksesuaian: noise latar berubah pada detik 03,21; jeda digital pada detik 06,84; volume vokal tidak konsisten; metadata file hasil ekspor ulang.
Alexander membuka mata. "Pak, file ini bukan rekaman asli."
Anthony tertawa pendek. "Kau ahli audio sekarang?"
"Bukan. Karena itu saya tidak meminta Bapak mempercayai telinga saya. Saya meminta file asli diperiksa."
Alexander mengeluarkan kertas kronologi yang sudah ia siapkan. "Pertama, nama file yang diserahkan pelapor memakai format ekspor aplikasi edit. Rekaman panggilan asli biasanya punya jejak berbeda. Kedua, durasi file hanya sebelas detik, tetapi pelapor menyebut percakapan berlangsung lebih dari dua menit. Ketiga, jika rekaman itu benar dari malam restoran, noise latar seharusnya konsisten dengan ruang restoran. Di sini, latarnya berubah dari ruangan kecil ke tempat bergema."
Penyidik muda menatap layar laptop. Tangannya mulai bergerak.
Anthony mengeras. "Itu asumsi."
"Maka uji." Alexander mendorong daftar permintaan bukti. "Saya minta penyidik meminta file mentah dari perangkat pelapor, bukan salinan yang dikirim. Saya juga minta permohonan resmi ke restoran untuk mengamankan CCTV pukul dua puluh satu sampai dua puluh satu tiga puluh, termasuk rekaman area meja dan pintu keluar."
Penyidik utama membaca daftar itu. "Anda sudah menyiapkan semua ini?"
"Sejak sebelum polisi mengetuk pintu kos saya."
Kali ini Anthony menoleh cepat. Ia baru sadar bahwa serangan pagi kemarin tidak membuat Alexander kacau. Serangan itu justru memberi waktu bagi Alexander untuk menata perangkap balik.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang petugas masuk dan berbisik kepada penyidik utama.
"Pak, ada telepon dari pihak restoran. Manajer mengonfirmasi CCTV masih utuh. Mereka juga menyebut ada permintaan dari seorang pengacara senior agar rekaman tidak dihapus dulu."
Penyidik utama mengernyit. "Pengacara senior?"
"Gunawan Kusuma, Pak. Dari Kantor Hukum Adiwangsa."
Nama itu membuat staf di belakang Anthony berubah wajah.
Alexander menangkap perubahan kecil itu.
Anthony memukul sandaran kursi. "Apa hubungannya Gunawan dengan ini?"
Penyidik utama menatapnya. "Saudara Anthony, Anda kenal Pak Gunawan?"
"Semua orang hukum di Kota Cahaya kenal dia," jawab Anthony terlalu cepat. "Tapi kasus ini tidak perlu dibesar-besarkan."
Alexander menyimpan nama itu dalam ingatan. Gunawan Kusuma. Kantor Hukum Adiwangsa. Jika nama itu cukup membuat Anthony kehilangan nada, berarti di sana ada pintu yang bisa diketuk.
Pemeriksaan berlanjut hampir dua jam.
Anthony berusaha menekan penyidik agar laporan segera naik. Ia menyebut reputasi kantornya, menyebut Priscilla sebagai korban tekanan emosional, menyebut Alexander sebagai orang yang "punya motif ekonomi jelas". Setiap kali ia menyerang, Alexander menjawab dengan satu dokumen, satu waktu, satu permintaan uji.
Motif ekonomi? Ada, tetapi miskin bukan bukti pidana.
Suara rekaman? Ada, tetapi potongan bukan konteks.
Cek? Ada, dan justru cek itu datang dari pihak Anthony.
Pada akhir pemeriksaan, penyidik utama mengetuk meja dengan pulpen.
"Saudara Alexander, sementara ini Anda tidak kami tahan. Namun status laporan tetap berjalan. Kami beri waktu dua hari untuk menyerahkan tambahan bukti pendukung. Setelah itu berkas awal akan kami evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya."
Dua hari.
Pendek. Sengaja pendek.
Alexander berdiri. "Saya mengerti, Pak."
Anthony mendekat saat mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Suaranya rendah. "Dua hari tidak cukup untuk orang sepertimu."
Alexander menatapnya. "Untuk orang yang butuh membuat bukti palsu lagi, mungkin tidak."
Wajah Anthony menegang.
Alexander tidak menunggu balasan. Ia keluar dari Polres Kota Cahaya dengan map tipis di tangan dan baterai ponsel yang tinggal dua puluh persen. Di layar, SPP Nathan masih belum terbayar. Di kepala, nama Gunawan Kusuma terus berputar.
Ia mencari alamat Kantor Hukum Adiwangsa.
Gedungnya berdiri di kawasan bisnis yang selama ini hanya ia lewati dari jendela bus. Tidak terlalu mencolok, tetapi bersih, tegas, dan mahal dengan cara yang tidak perlu pamer. Di lobi, resepsionis menatap jas lamanya sekilas sebelum tersenyum profesional.
"Ada janji, Pak?"
"Belum. Saya Alexander Wijaya. Saya ingin meminta second opinion terkait bukti digital dalam laporan pidana. Kalau Pak Gunawan tidak bisa bertemu, saya cukup menitipkan kronologi."
Resepsionis belum sempat menjawab ketika seorang pria berusia lima puluhan keluar dari lift. Rambutnya mulai memutih, langkahnya tenang, dan semua staf otomatis menegakkan punggung.
Pria itu berhenti saat mendengar nama Alexander.
"Alexander Wijaya?"
Alexander menoleh.
Pria itu menatap map di tangannya, lalu berkata, "Saya Gunawan Kusuma. Saya sudah mendengar soal cek di restoran."
Lobi mendadak terasa lebih sunyi.
Gunawan mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada Alexander. Kartunya sederhana, hanya nama, gelar, dan logo Kantor Hukum Adiwangsa. Justru karena sederhana, kartu itu terasa lebih berat daripada kartu nama berlapis emas milik orang-orang yang suka memamerkan jabatan.
"Simpan," kata Gunawan. "Kalau waktumu cuma dua hari, kita tidak boleh membuang satu jam pun."
Gunawan mengulurkan tangan. "Kalau kau datang membawa bukti, jangan berdiri di lobi. Masuk."
Di depan mata Alexander, Panel Status berkedip pelan.
Progres Logika Hukum meningkat.
Progres Basis Data Hukum meningkat.
Koneksi profesional potensial terdeteksi.
Alexander menjabat tangan itu.
"Terima kasih, Pak Gunawan."
Sejak laporan Anthony mendarat, Alexander kini punya lebih dari bukti.
Ia punya arah.