Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Namaku Rani. Rasa syukur tak pernah berhenti ku ucapkan. Selepas lulus SMK, berbagai macam lowongan pekerjaan telah aku coba. Tak ada kata lelah dan putus asa. Selagi ada kemungkinan pasti akan aku coba. Karena apa? Karena aku hanyalah anak dari keluarga yang kurang mampu. Bapak ku hanya seorang tukang yang biasa ikut di proyek. Ibuku, hanya seorang butuh linting di sebuah pabrik rokok, demi membantu Bapak beliau rela berjibaku dengan aroma tembakau. Aku memiliki seorang adik lelaki. Kami selisih 2 tahun saja.
Dari beberapa lamaran yang aku kirim, alhamdulillah hari ini aku dapat panggilan di sebuah CV yang bergerak di bidang farmasi.
"Mbak, yakin mau kerja aja? Apa nggak kuliah aja to? Sayang loh, beasiswa nya kalau nggak di ambil!" ucap Ibu ketika kami memasak untuk sarapan dan bekal Bapak nanti.
"Nggak papa, Bu. Kerja saja, toh beasiswa juga nggak di cover seratus persen. Biar uangnya nanti buat biaya adek kuliah aja. Tahun depan dia sudah kelas tiga, harus mulai nyiapin biaya buat kuliahnya nanti. Mbak kuliahnya nanti saja, sambil kerja. Ambil kelas malam."
"Hari ini jadi datang interview?"
"Jadi, Bu. Doakan lolos ya. Mbak bisa langsung kerja."
"Iya Mbak, Ibu doakan lancar, diterima kerja, dan nanti Mbak bisa sukses. Bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita nya Mbak."
"Aamiin... " jawabku mengaminkan doa tulus dari Ibu.
Aku hanya ingin membantu meringankan beban kedua orang tuaku. Aku juga ingin membanggakan mereka. Siapa lagi yang bisa mengubah jalan hidup jika bukan kita sendiri yang berjuang untuk sebuah perubahan. Siapa lagi yang akan membantu kita selain doa dan kuasa dari Allah.
Akhirnya tak berapa lama masakan pun siap. Setelah sarapan bersama-sama, Ibu pun segera bersiap untuk berangkat kerja. Begitupun Bapak. Sementara adikku, dia masih bisa bersantai karena hari ini dia libur setelah kemaren baru saja ada kegiatan diluar kota. Tahun ini dia masih praktek kerja di unit usaha yang dimiliki sekolahnya, layaknya siswa SMK yang ada di tingkat 2.
Akupun bersiap untuk interview kerja hari ini. Untuk sampai di tempat interview, aku harus naik angkot dulu. Tidak terlalu jauh, sekitar 3 menit perjalanan. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ku lantunkan doa dan sholawat agar diberi kelancaran, hingga akhirnya aku pun sampai di tempat tujuan.
"Bismillah.... " aku tarik nafas dalam untuk menenangkan hati dan fikiran.
"Permisi Pak, Selamat pagi. Saya Rani. Kalau mau interview sebelah mana ya? Kemarin saya dihubungi untuk datang pagi ini." sapa ku pada Bapak-bapak yang sedang duduk di meja dekat pintu.
"Oh, iya. Pagi, silahkan duduk Mbak!" jawab Bapak-bapak itu yang ternyata adalah pemilik dari CV Pratama, tempat ku interview hari ini.
"Saya Rani, Pak" ucapku memperkenalkan diri.
"Saya Pak Wandi! Silahkan duduk!"
"Baik Pak, terimakasih."
Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya aku selesai interview. Beberapa pertanyaan juga bisa aku jawab dengan lancar dan meyakinkan.
"Iya, jadi.... selamat ya mbak! Besok sudah bisa mulai bekerja, nanti tugasnya di bagian gudang menyiapkan pesanan obat dari customer. Nanti lebih jelasnya Mbak Rani akan diberi tahu oleh kepala gudangnya."
"Baik Pak, terimakasih." jawabku sambil tersenyum. Setelah itu aku pamit pulang.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur. Aku yang hanya seorang lulusan SMK, bisa langsung bekerja setelah lulus. Akan aku buktikan pada mereka, orang yang selama ini meremehkan kami. Tanpa sadar jika sebenarnya mereka sampai pada titik itu bukan karena perjuangan mereka Tapi karena fasilitas dan juga sokongan dana dari nenek.
Ya, sejak kecil aku dan adikku mendapat perlakuan yang berbeda dari nenek. Padahal Bapak adalah anak lelaki satu-satunya. Di saat semua sepupu kami mendapat fasilitas barang-barang yang terbilang mewah saat itu, aku dan adikku tak dapat apa-apa. Saat mereka semua mendapat sokongan dana untuk kuliah dan lain sebagainya, orang tuaku harus banting tulang untuk kami agar bisa sekolah dan makan.
Itulah alasanku kenapa ingin segera bekerja. Meski berawal dari pekerja kasar saja. Tapi sebuah kebanggaan bagiku nanti saat aku bisa menghasilkan uang sendiri dan membeli barang yang aku inginkan dengan uang hasil kerja kerasku sendiri.
*****
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Suasana kerja sangat nyaman dan kekeluargaan menurutku. Insya Allah aku betah dan harus betah. Semua hal aku pelajari, semua petunjuk dari mereka yang lebih senior aku ingat.
Lelah memang, tapi aku nikmati saja. Hingga tak terasa sudah waktunya pulang. Kembali lagi harus sabar menunggu angkot.
"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Ibu bersamaan, mereka sedang melihat televisi di ruang tamu.
"Gimana Mbak? Enak kerjanya?" tanya Ibu.
"Ya, dibuat enak mawon Bu. Biar bisa ngumpulin duit buat kuliah nanti." jawabku.
"Kalau nggak kuat, nggak usah dipaksa Mbak! Kamu bisa cari yang lain." ucap Bapak.
"Insya Allah kuat kok, Pak." jawabku agar kedua orang tuaku tenang.
"Pak, Bu... Mbak mau bersih-bersih dulu ya! Bau banget nih!" ujarku sambil terkekeh.
"Iya Mbak, habis itu langsung makan aja,"
"Njeh Bu. Bu, Azka mana?" tanyaku mencari adikku.
"Tadi keluar, dijemput si Mufid. Mau cari alat apa tadi, ga paham Ibu. Buat tugas katanya!"
"Ooo.... ya sudah Bu. Mbak bersih-bersih dulu. Tapi nggak makan, mau sholat langsung tidur aja. Tadi sebelum pulang sama bos nya disuruh makan dulu."
Ibu dan Bapak mengangguk.
Setelah bersih-bersih, segera ku rebahkan badanku yang terasa lelah. Begini rasanya kerja cari uang. Apa kabar Bapak yang bertahun-tahun berjuang demi kami. Terkadang meski sedang sakit beliau tetap memaksa berangkat, begitupun dengan Ibu.
"Ya Allah ya Kariim, berikan nikmat kesehatan untuk kedua orang tuaku. Beri mereka kekuatan, berilah rejeki yang barokah untuk kami semua. Aamiin." ucapku lirih sebelum aku benar-benar terlelap di buai mimpi.
*****
Rasanya belum puas aku tidur, tapi azan subuh sudah terdengar berkumandang. Aku segera bangun dan menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Seperti rutinitas sehari-hari, aku segera membantu Ibu memasak untuk bekal dan sarapan kami. Bekal, adalah bawaan wajib bagi kamu untuk menghemat pengeluaran saat kami beraktivitas di luar rumah.
Seharian kami berkutat dengan aktivitas kami masing-masing hingga selesai dan kembali pulang. Saat sampai di rumah, aku lihat ada tamu adikku. Kali ini perempuan, jarang sekali ada teman perempuannya yang datang ke rumah. Apalagi saat ini dia sedang PKL.
Aku masuk rumah dan mengucapkan salam saat ada di ambang pintu sambil tersenyum pada teman adikku itu. Temannya itupun balas mengangguk dan tersenyum setelah menjawab salamku. Didepan mereka entah ada rangkaian kabel apa, aku tidak paham. Segera saja aku masuk ke kamar setelah itu bersih-bersih. Rasanya badan sudah sangat lengket setelah beraktivitas seharian. Dan bau obat pun terasa menyengat karena seharian ada di sekeliling benda-benda itu. Tubuh pun rasanya lelah dan sudah ingin rebahan di atas tempat tidur karena hari ini begitu padat hingga untuk sekedar duduk santai sebentar saja tidak sempat.
Aku baru keluar beberapa saat kemudian karena merasa lapar. Ternyata teman adikku itu sudah pulang dan terlihat Azka yang sedang asyik duduk lesehan di depan Televisi dengan stik PS di tangannya. Aku segera duduk di samping adikku dengan sepiring makanan dengan sayur sederhana ala rumahan, oseng daun pepaya campur teri medan.
"Ka, Mbak mau tanya boleh?"
"Apa Mbak?"
"Cewek tadi itu pacar kamu?"
"Bukan Mbak, pacarnya Mufid. Tadi dia ada tugas, terus ada bagian rangkaian yang nggak bisa. Jadi dia bawa kesini. Si Mufid kan PKL nya di Gresik. Biasanya kan dia dibantu sama si Mufid kalau nggak bisa."
"Oh ya? Masak? Mbak nggak papa kok kalau kamu punya pacar,tapi harus bisa jaga diri. Sekolah tetep nomer satu. Jangan sibuk pacaran aja. Ingat siapa kita ini. Jangan bikin malu dan kecewa Bapak sama Ibu. Paham kamu, Dek? Satu lagi, meski masih pacaran, kamu jangan sampai jadi perusak hubungan orang! Apalagi sahabat kamu sendiri yang selama ini sudah nemenin kamu! Sakit lho rasanya."
"Iya, Mbak. By the way Anyway bus way.... Curhat ya Bu?"
"Haahhahah.....ya sudah, kamu cepet istirahat,kalau belum makan cepet makan." ucapku sambil berdiri dan membawa piring kosong dan gelas bekas aku makan dan minum tadi.
"Ingat pesan Mbak! Jangan lupa!"
Azka hanya mengangguk karena dia masih serius dengan game nya.
Bukannya aku melarang adikku untuk berpacaran. Aku hanya ingin dia fokus belajar dan tidak mengecewakan orang tua. Sudah banyak yang mereka lakukan demi kami anak-anak nya.