"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimisan
"Adeline bukan begitu,kami bukan bermaksud apa-apa.Hanya saja kami terpaksa mengatakan ini pada mu,kami...kami juga bukan bermaksud menghina atau merendahkan mu"
Helen mencoba membuatnya mengerti.
Namun Adeline kembali tersenyum dengan linangan air mata.
Helen merasa hatinya sedikit terluka, bahkan saat sudah seperti ini senyuman menantu tertua nya itu tidak berubah sama sekali,tulus dan tidak pernah ada kebencian di matanya.
Sebenarnya Ia menyukai Adeline,tapi kalau untuk menjadi menantu nya Ia mungkin tidak akan pernah bisa terima dengan kenyataan itu.
Ia selalu merasa kalau Damar putranya yang paling menonjol dari semua keturunan keluarga Pradipta,termasuk putranya yang lain dan merupakan pemegang saham terbesar sekaligus CEO perusahaan mereka sekarang harus memiliki pasangan yang setara.Ia juga tidak bisa membiarkan keluarganya hancur di tangan wanita yang tidak tau mengatur keuangan dan mengontrol pengeluaran.
"Berapa pun yang kau minta akan kami berikan, katakan saja jumlahnya akan kami berikan sekarang"
Lanjut ayah mertuanya tanpa perasaan.
Ia tertawa sembari menghapus air matanya,"Aku pikir selama 4 tahun ini kalian melihat ketulusan ku,tapi ternyata aku salah"
Tanpa berbasa-basi Ia bangkit dari duduknya mengambil tasnya."Ma Pa,Kalian tenang saja.Aku juga tidak berniat mengambil nya kok,aku bukan wanita serakah dan cinta uang seperti yang kalian pikirkan tentang ku"
"Mungkin bagi kalian ini terlalu dramatis tapi aku sudah menganggap kalian sebagai mama dan papa kandung ku sejak aku masuk ke keluarga ini...,",Ia menahan agar tangisannya tidak pecah."Aku kehilangan peran orang tua sejak aku kecil,dan saat melihat kalian aku berjanji pada diri ku sendiri kalau aku akan membuat kalian mencintai ku dan menganggap ku sebagai putri kalian"
"Aku melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian kalian dan simpatik kalian,aku berusaha agar membuat kalian menyayangi ku bukan sebagai menantu tapi melihat ku sebagai putri kalian"
"Aku melakukan semuanya untuk membuat kalian senang dan memandang ku",Ucapnya hingga berhenti beberapa saat.
"Tapi aku mulai sadar,kalau kalian tidak akan pernah melihat ku dan menganggap ku sebagai putri kalian,karna bagi kalian aku tidak akan pernah pantas untuk keduanya"
Hening...
Hanya suara Isak tangis Adeline yang tertahan.
"Tapi untuk terakhir kalinya aku ingin mengatakan ini,cinta ku pada kalian adalah nyata",ungkapnya dengan tulus dan senyum yang terus bertahan.
"Terimakasih untuk semuanya,aku menyayangi kalian"
Ucapnya dan berbalik dengan perlahan hingga Helen menahannya dan memeluknya dengan suara Isak tangis.
Ia memeluknya dengan begitu erat tanpa mengatakan sepatah kata pun,hingga berakhir melepaskan nya tanpa kata pun lagi.
Adeline tak langsung berbalik,Ia menatap Ayah mertuanya yang selalu berwajah datar,dengan keberanian terakhir Ia mendekat."Pa,apa boleh aku memeluk mu sekali ini saja", ujarnya dengan mata yang kembali menggenang.Sungguh rasanya Ia merindukan pelukan sosok papa, tapi bukan papa kandung nya saat ini.
Butuh waktu beberapa detik,hingga pria paruh usia itu perlahan membuka tangannya yang sejak tadi terlipat di depan dadanya,dan sedikit membuka tangannya seolah setuju hingga membuat Adeline yang haus akan kasih sayang langsung memeluknya dengan air mata yang kembali membanjiri wajahnya.
"Aku tau,kau tidak pernah benar-benar membenci ku,kau hanya tidak terima dengan status ku", gumamnya dalam hati, meski dengan segala sikap dan perkataan pria itu yang sering kali menyakiti hatinya,namun sebuah percakapan nya beberapa waktu lalu dengan Damar yang secara tidak sengaja Ia dengar memberikan nya sebuah kebahagiaan sekaligus kesedihan.
Setelah dengan semua itu, Adeline benar-benar pergi,angkat kaki dari rumah itu dan tidak akan kembali lagi sebagai istri Damar ke sana.
Saat keluar dari mansion itu,Ia berpapasan dengan mobil milik Damar yang masuk ke dalam mansion sementara mobil yang membawanya keluar,kaca mobil depan Damar selalu terbuka hingga Ia melihat dengan jelas kalau Jesika duduk di sampingnya dengan tenang dan tersenyum.
Entah karena terlalu banyak menangis, kepalanya menjadi pusing lagi,hingga dadanya juga menjadi sesak,namun kepalanya l rasanya semakin sakit tak tertahan,sampai Ia memukul-mukul kepalanya sendiri untuk mencoba menekan rasa sakitnya, namun bukan rasa sakit yang perlahan sembuh tapi darah yang tak terkontrol mengalir dari kedua hidungnya"
"Non Adeline kenapa?,apa anda baik-baik aja"
"Pak,tolong antarkan saya ke rumah sakit terdekat sekarang"
"Eh?, Baik nyonya"
Bersambung...
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu
jangan mau Terima apapun dr mereka Adeline..