NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Jejak yang Tumpang Tindih

#

Wulan pulang dari forum ekonomi itu dengan kepala penuh pertanyaan. Dia duduk di meja kerjanya, di apartemen kecilnya yang penuh tumpukan berkas berkas lama, foto foto dari lokasi ledakan pabrik yang udah dia kumpulin bertahun tahun, dan dia naro kartu nama Rendra Alief itu di depan laptopnya, ngeliatinnya lama banget.

"Rendra Alief," dia gumam sendiri, jarinya udah mulai ngetik nama itu di kolom pencarian.

Hasil pencarian pertama, muncul beberapa artikel bisnis yang nyebut nama Alief Capital, perusahaan investasi yang katanya berpusat di Singapura, dengan reputasi yang lumayan bagus di kalangan investor Asia Tenggara. Ada beberapa wawancara tertulis, tapi anehnya, semuanya dijawab lewat email atau perwakilan, nggak ada satupun foto Rendra yang jelas, cuma siluet siluet kabur di beberapa acara, atau foto dari jauh yang mukanya nggak keliatan detail.

"Aneh," Wulan bisikin, sambil terus nyari.

Dia coba lacak lebih dalem, cari riwayat pendidikan, cari data keluarga, cari apapun yang bisa nunjukin dari mana orang ini berasal. Tapi makin dalem dia gali, makin dia nemuin kejanggalan yang bikin bulu kuduknya berdiri.

Nggak ada apa apa. Nggak ada catatan sekolah, nggak ada catatan keluarga, nggak ada jejak digital sebelum kira kira tujuh tahun lalu. Seolah olah, Rendra Alief, sebagai manusia, baru bener bener "lahir" tujuh tahun yang lalu, dan sebelum itu, dia nggak pernah ada.

Wulan sandarin punggungnya ke kursi, mikir keras. Sebagai jurnalis yang udah kerja bertahun tahun, dia tau, orang orang yang punya latar belakang bener bener kosong kayak gini biasanya cuma ada dua kemungkinan. Satu, orang itu emang sengaja bikin identitas baru buat alesan yang nggak enak, mungkin buronan, mungkin lagi ngindar dari sesuatu. Dua, identitasnya emang sengaja dibikin sangat rapi dan sangat mahal, dan cuma orang orang dengan sumber daya besar yang bisa bikin identitas kayak gitu.

"Siapa sebenernya orang ini," Wulan gumam, matanya nggak lepas dari layar laptop.

Dia coba telfon temennya, seorang mantan kolega di media besar yang sekarang kerja di bagian riset keuangan, minta tolong dicariin data tambahan soal Alief Capital.

"Wulan," temennya itu jawab, di ujung telfon, "aku udah cek beberapa database keuangan, dan jujur, ini aneh banget. Perusahaan ini gede, aset kelolaannya udah triliunan, tapi struktur kepemilikannya berlapis lapis, kayak sengaja dibikin susah dilacak. Aku aja butuh waktu lama buat nemuin siapa pemegang saham utamanya, dan begitu ketemu, itu juga cuma nama perusahaan cangkang lain, bukan nama orang."

"Jadi kesimpulannya?"

"Kesimpulannya, siapapun yang di balik Alief Capital, dia beneran serius banget soal jaga privasi. Ini bukan level orang biasa yang cuma nggak suka wawancara media, Wulan. Ini level orang yang emang niat banget nyembunyiin identitas."

Wulan nutup telfon itu, dan dia duduk diem lama banget, ngeliatin kartu nama itu lagi.

Harusnya, sebagai jurnalis yang waspada, dia jaga jarak dari orang misterius kayak gini. Tapi justru sebaliknya, makin banyak kejanggalan yang dia temuin, makin dia ngerasa tertarik, penasaran, kayak ada benang yang narik dia buat gali lebih dalem lagi.

"Kenapa sih, Wan," dia nyeletuk ke diri sendiri, "kamu ini emang paling suka ngejar hal hal yang nggak jelas."

Dia inget lagi, obrolan mereka di forum kemaren, cara Rendra ngomong soal "orang yang milih diem diem karena mereka udah pernah kena, hancur, gara gara terlalu terbuka di masa lalu." Kalimat itu, entah kenapa, kedengeran terlalu personal buat sekedar argumen debat biasa. Kayak orang yang lagi ngomongin pengalamannya sendiri, bukan cuma teori.

Dia mutusin, malem itu, buat nulis catetan kecil di buku hariannya, kebiasaan lama yang selalu dia lakuin buat kasus kasus yang bikin dia penasaran, "Rendra Alief. Latar belakang kosong sebelum tujuh tahun lalu. Cara bicara terlalu berpengalaman buat orang yang katanya baru muncul di dunia bisnis. Ada sesuatu yang dia sembunyiin, dan saya harus tau apa itu."

Sementara itu, di sisi lain kota, di penthouse mewahnya, Rendra juga lagi ngelakuin hal yang sama, tapi arahnya kebalik. Dia minta Bara nyariin info lebih dalem soal Wulandari Kusuma, bukan buat curiga, tapi buat dia lebih ngerti siapa perempuan yang, entah kenapa, terus nyangkut di kepalanya sejak forum kemaren.

"Bang," Bara bilang, nyodorin laptopnya, "ini data yang saya kumpulin soal Wulandari Kusuma. Umur tiga puluh dua, jurnalis independen, dulu kerja di media besar sebelum keluar tujuh tahun lalu, katanya sih dipaksa resign gara gara artikel yang dia tulis soal ledakan pabrik Hartono ditarik paksa dan dia ngotot pengen tetep nerbitin ulang."

Rendra ngangguk, matanya nyisir data itu pelan pelan.

"Terus," Bara lanjut, "saya juga nemuin data soal keluarganya. Bapaknya, namanya Herman Kusuma, kerja sebagai teknisi senior di pabrik Hartono Group, dan..."

Bara berenti sebentar, kayak lagi ragu ngomong lanjutannya.

"Terus kenapa, Bara?" Rendra nanya, ngerasa ada yang aneh dari cara Bara jadi diem tiba tiba.

"Herman Kusuma," Bara ngelanjutin, pelan, "meninggal di ledakan pabrik itu, Bang. Malem yang sama, tujuh tahun lalu."

Rendra ngerasa dadanya kayak dihentak keras banget. Dia inget, jelas banget, dia inget malem itu, dia inget dia lari ke dalem bangunan yang lagi kebakar, dia inget dia coba narikin orang orang keluar, dia inget kain kain putih yang makin lama makin banyak jumlahnya, nutupin mayat mayat yang digotong keluar satu satu ke halaman pabrik.

Dia buru buru minta Bara nyariin lebih detail, foto foto lama dari berita berita waktu itu, daftar korban yang dipublikasiin, dan begitu dia nemuin nama Herman Kusuma di daftar itu, lengkap sama foto lama pria itu, sesuatu di dalem diri Rendra kayak runtuh.

Dia inget wajah itu. Bukan cuma dari foto, tapi dari ingatan yang selama ini dia kubur dalem dalem, ingatan malem ledakan itu, waktu dia lari ke sana kemari coba nyelametin orang orang, dan dia inget, samar samar, ada seorang pria paruh baya yang dia liat digotong keluar dari reruntuhan, udah nggak sadarkan diri, dan Rendra sempet nunduk sebentar deket tubuh itu, coba ngecek nadinya, tapi udah nggak ada lagi, dan dia cuma bisa mundur pelan pelan, air mata udah nggak keitung lagi berapa kali netes malem itu, sebelum dia lanjut lari ke bagian lain buat nyari korban korban lain yang mungkin masih bisa diselametin.

Ternyata, pria yang dia liat malem itu, yang tubuhnya udah dingin sebelum dia sempet nolong, adalah ayah dari perempuan yang, tujuh tahun kemudian, berdiri debat sama dia di depan panggung forum ekonomi, perempuan yang matanya penuh kesungguhan waktu ngomongin soal keadilan buat kasus itu.

"Bang?" Bara manggil, ngeliatin Rendra yang keliatan pucet banget, "Abang oke?"

Rendra nggak jawab langsung. Dia duduk diem, matanya berkaca kaca, ngeliatin foto Herman Kusuma yang keliatan di layar laptop, dan dia mikir, dari semua orang di kota ini, dari semua orang yang mungkin bakal jadi sekutu atau musuh dalem perjalanan balas dendamnya, kenapa harus dia, anak dari salah satu korban yang malem itu, sekuat tenaga, coba dia selametin tapi gagal.

"Saya kenal bapaknya," Rendra bisikin, akhirnya, suaranya bergetar, "saya... saya ada di situ, Bara, malem waktu bapaknya meninggal. Saya coba nolongin dia."

Bara diem, nggak tau harus jawab apa, ngeliatin Rendra yang lagi berjuang nahan emosinya sendiri.

"Ini nggak kebetulan," Rendra lanjut, suaranya makin berat, "semua ini, Wulan nyelidiki kasus itu, kita ketemu di forum itu, ternyata bapaknya salah satu orang yang saya coba selametin malem itu, ini... ini kayak takdir lagi maen maen sama saya."

Malem itu, Rendra duduk sendirian lama banget di ruang tamu penthousenya, ngeliatin lampu lampu kota Jakarta yang berkelip di kejauhan, dan di antara semua rencana besar yang udah dia susun bertahun tahun, buat pertama kalinya, dia ngerasa ada sesuatu yang beda, sesuatu yang lebih personal, lebih menyayat, yang terikat langsung sama Wulandari Kusuma, perempuan yang, tanpa dia sadari, ternyata udah lama terhubung sama malem yang ngancurin hidup mereka berdua, dari dua sisi yang beda sama sekali.

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lanjut kak... tetap semangat berkarya 💪🏻💪🏻🥰🥰🥰
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iihhh aku gak mau nebak2 ah.. salah mulu giliran nebak nya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wuiihh gak nyangka komisaris dong😱😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mungkinkah dia juga sama seperti kamu sekarang.... 🤔🤔🤔wah plot twist banget kak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah itak udang nya masih ada toh... kirain si Wisnu ini otak udang nya... 🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
sok lah Rendra hancurkan semua yang telah merampas juga menghancurkan hidup kamu juga ayahmu 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh ada udang dibalik bakwan tuh... enak... 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: wali tuh.. 🤭🤭
total 2 replies
Wawan
Salam kenal buat Damar 👍
alunanfiksimalam
sepertinya dia di jebak
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kalau om Made tahu dia adalah anaknya Ariel,waah bakalan gimana dia senengnya ya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ternyata masih banyak juga orang2 yang bener....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mata hati seorang ayah 😥😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
dan doa2 tersebut menjadi kenyataan..
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
berasa anak sendiri😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa mungkin Rendra sengaja mau nunjukin sedikit petunjuk buat om Made 🤔🤔👍🏼👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaaah om Made hebat. bisa nebak cuman dengan gaya bicara aja... se dekat itu kalian dulu sama Damar... semoga semua bisa cepat terungkap.. eh... jangan duku ketang . kalau terungkap ya ceritanya tamat dong🤭🤭🤭lanjut kak... tetap semangat💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
hati nurani mulai tergerak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
takdir memang gak pernah ada yang tahu kan....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
insting pemburu berita🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
cakep..... lanjutkan 👍🏼👍🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!