NovelToon NovelToon
Secon Chance

Secon Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Austrea

Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?

Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.

apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?

guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

My Ex²⁰

"Anda sekretarisnya Dirga, ya?"

Serena yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mengangkat kepalanya.

Di hadapannya, Lyora berdiri sambil tersenyum ramah.

"Iya, Nona"

"Kalau begitu, boleh aku berkenalan denganmu?"

Serena sedikit terkejut mendengar permintaan itu.

Ia tersenyum canggung.

"T-tentu saja."

Senyum Lyora semakin lebar.

"Aku Lyora. Senang berkenalan denganmu."

Wanita itu mengulurkan tangannya.

Serena menatap uluran tangan tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.

"Aku... Serena."

"Jadi namamu Serena."

Lyora tersenyum hangat.

"Mulai sekarang kita berteman, ya?"

Serena hanya tersenyum tipis.

Belum sempat ia menjawab, Lyora kembali berbicara.

"Lagipula, kalau suatu saat aku tidak bisa menemui Dirga di kantor, aku bisa bertanya kepadamu."

Nada suaranya terdengar ringan.

"Sebagai sekretarisnya, pasti kamu lebih tahu jadwal dan kebiasaannya daripada siapa pun."

Serena menundukkan pandangannya.

Dadanya terasa sesak.

Ia tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar kalimat itu.

Bagaimanapun juga, wanita yang berdiri di hadapannya adalah tunangan Dirga.

Sementara dirinya...

Hanyalah masa lalu yang sudah lama ditinggalkan.

"Baik, Nona"

Hanya itu yang mampu Serena ucapkan.

Lyora tidak menyadari perubahan ekspresi Serena.

Wanita itu masih tersenyum ramah seperti sebelumnya.

Sedangkan Serena hanya bisa menatap lantai, berusaha menyembunyikan perasaan yang selama ini ia simpan seorang diri.

Perasaan yang seharusnya sudah lama ia lupakan.

Namun entah mengapa, hingga saat ini masih tetap tinggal di dalam hatinya.

"Kalau begitu, boleh aku minta nomor pribadimu?"

Pertanyaan Lyora membuat Serena sedikit terdiam.

Untuk sesaat, ia ragu.

Namun pada akhirnya, Serena tetap menganggukkan kepala.

"Tentu."

Ia mengambil ponselnya lalu bertukar nomor dengan Lyora.

"Terima kasih, Serena."

Lyora tersenyum manis setelah menyimpan nomor tersebut.

"Kalau aku butuh bantuan atau ingin menanyakan sesuatu tentang Dirga, aku akan menghubungimu."

Serena membalas senyumnya pelan.

"Baik, Nona"

Tak lama kemudian, Lyora pamit meninggalkan ruangan.

Setelah wanita itu pergi, Serena menatap layar ponselnya cukup lama.

Di sana tertera nama Lyora yang baru saja tersimpan di daftar kontaknya.

Perlahan, jemarinya menggenggam ponsel itu lebih erat.

Perasaannya terasa campur aduk.

Ia tahu dirinya seharusnya menjaga jarak.

Ia juga tahu bahwa Dirga dan Lyora akan segera menikah.

Namun di sisi lain...

Ini adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun Serena merasa memiliki alasan untuk tetap mengetahui kabar Dirga.

Meski hanya sebagai seorang sekretaris.

Serena menundukkan kepalanya.

*Setidaknya... aku masih bisa memperhatikannya dari jauh.*

*Walaupun alasannya adalah karena permintaan Nona Lyora.*

Pikiran itu membuat senyum tipis muncul di wajahnya.

Senyum yang menyimpan lebih banyak kesedihan daripada kebahagiaan.

Tak lama setelah kepergian Lyora, pintu ruangan kembali terbuka.

Sosok Dirga masuk ke dalam dengan langkah tenang.

Pria itu baru saja kembali dari White House.

Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu.

Tak ada yang berbicara.

Hanya keheningan yang menggantung di antara keduanya.

Beberapa detik berlalu sebelum mereka sama-sama membuang pandangan.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Suara Dirga akhirnya memecah keheningan.

Serena yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung tersadar dari lamunannya.

"S-saya hanya ingin menunggu anda, tuan—" Serena langsung menghentikan ucapannya, wajahnya sedikit memucat.

"Em... maksud saya, menunggu berkas ini."

Ia mengangkat map yang berada dalam pelukannya.

Dirga mengangkat sebelah alisnya.

Jawaban itu terdengar aneh.

Sangat aneh.

Namun pria itu memilih untuk tidak menanggapinya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk di kursi kebesarannya.

Ia membuka beberapa dokumen yang harus segera diperiksa.

"Kalau tidak ada urusan penting, tinggalkan aku sendiri."

Nada suaranya terdengar datar seperti biasa.

Serena menggenggam map di tangannya sedikit lebih erat.

"T-Tuan, saya hanya ingin mengingatkan sekali lagi bahwa rapat anda—"

"Nanti aku akan datang."

Dirga memotong ucapannya tanpa mengangkat kepala.

Tatapannya masih tertuju pada dokumen di atas meja.

Serena terdiam sejenak.

"Baik, Tuan."

Ia menundukkan kepala dengan hormat.

Setelah itu, Serena berbalik dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, tanpa sadar ia melirik Dirga untuk terakhir kalinya.

Namun pria itu bahkan tidak menoleh.

Seolah keberadaannya memang tidak berarti apa-apa.

Perlahan, senyum pahit muncul di bibir Serena.

Kemudian ia melangkah keluar dan menutup pintu ruangan tersebut dengan pelan.

*Sepertinya dia benar-benar membenciku...*

Serena menundukkan pandangannya.

*Dan aku tidak bisa menyalahkannya.*

*Ini semua memang salahku.*

*Akulah yang memutuskan hubungan kami tanpa memberikan penjelasan apa pun.*

Dadanya terasa sesak.

Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan itu masih terasa menyakitkan.

*Namun... apakah menjelaskan semuanya sekarang masih ada gunanya?*

Serena menggigit bibir bawahnya pelan.

*Dirga sudah memiliki tunangan.*

*Aku akan terlihat seperti wanita yang berusaha merebut kembali pria yang akan menikah.*

Pikiran itu saja sudah cukup membuat hatinya terasa semakin berat.

Belum lagi ancaman yang masih menghantuinya hingga sekarang.

*Dan jika orang itu mengetahui aku menceritakan semuanya kepada Dirga...*

Jemarinya perlahan mengepal.

*Aku akan dibuang jauh dari sini.*

*Aku tidak akan bisa melihat Dirga lagi.*

Meskipun hanya dari kejauhan.

Meskipun hanya sebagai sekretarisnya.

Pikiran itu membuat Serena memejamkan mata sejenak.

"Nona Serena..."

"Nona Serena."

Suara seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

Serena langsung tersadar dan mengangkat kepalanya.

Di hadapannya, Zayn berdiri sambil membawa beberapa berkas.

"Ah, Pak Zayn."

Serena buru-buru berdiri dari kursinya.

"Ada perlu apa datang kemari?"

Tanyanya dengan sopan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

Bersambung.....

Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃

1
Lenny Utami
semangat Thor...
Lenny Utami
preeeettt masih ada rasa itu..
Lenny Utami
tahan tahan tahan
Lenny Utami
terkejut kan itu Serena..
Lenny Utami
ikut deh degan ini
Lenny Utami
semangat serena🔥
falea sezi
ini presiden direktur apa presiden negara
Lenny Utami
kannnnn kannnnn kannn bener....🤭 sok galak
Lenny Utami
ahhh masih cinta itu mah.😌
Lenny Utami
ohhh karena patah hati rupanya...
Lenny Utami
dirga...😬
Lenny Utami
sabar Serena. galaknya Abang satu nii...
Lenny Utami
balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah 🤭
Lenny Utami
Serena mau kerja di kebon sawit, dr pada GK dapet² kan..
Lenny Utami
serena😭
Lenny Utami
semangat kaka
Lenny Utami
cantiknya serena
Lenny Utami
dih Dirga emosian🤭
Lenny Utami
sabar dirga sabar, Serena punya alasan tersendiri...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!