NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Genggaman tangan Arkan terasa begitu hangat, seolah menyerap seluruh rasa dingin yang sempat melumpuhkan persendian Milly. Sifat perfeksionis pria itu yang biasanya menyebalkan, kini menjelma menjadi dinding pertahanan paling kokoh yang pernah Milly temui.

"Bara, bawa mereka ke ruang tamu utama," perintah Arkan tanpa melepaskan pandangannya dari Milly. "Dan pastikan tim hukum kita sudah berdiri di belakang kursiku sebelum pintu itu dibuka."

"Baik, Tuan," Bara membungkuk hormat lalu mundur dengan langkah tak bersuara, menyisakan keheningan yang intens di dalam ruang rias.

Arkan menarik ibu jarinya, mengusap punggung tangan Milly sekilas sebelum akhirnya melepaskan tautan jemari mereka. Ia merapikan lipatan lengan jas abu-abunya dengan gerakan super presisi. "Ganti kacamata melorotmu itu dengan yang baru di atas meja. Dan ingat, Milly... jangan sekalipun menundukkan kepala di depan mereka. Kau adalah calon istri seorang Mahendra, bukan terdakwa."

Milly menelan ludah, buru-buru menyambar kacamata bulat berbingkai tipis yang tampak lebih kokoh di atas meja rias, lalu memakainya. "T-Tuan... bagaimana kalau mereka membeberkan detail angka transaksi dari ByteDance atau kontrak digital itu? Nilainya mungkin tidak seberapa bagi Anda, tapi bagi mereka itu bisa dijadikan alasan kalau saya sengaja mendekati Anda demi uang."

Arkan berjalan menuju pintu, lalu berbalik dan menatap Milly dengan sepasang mata elangnya yang tajam. Senyuman tipis yang dingin nan angkuh terukir di wajah tampannya.

"Biarkan mereka membeberkannya," ucap Arkan tenang. "Aku akan membuat mereka sadar bahwa seluruh nominal yang mereka sebutkan di ruangan itu... bahkan tidak cukup untuk membeli satu roda dari mobil Rolls-Royce yang kita kendarai kemarin."

Pintu ganda ruang tamu utama mansion terbuka lebar. Di dalam ruangan bernuansa Eropa klasik itu, Tuan Wijaya sudah duduk dengan wajah kaku, didampingi oleh dua pengacara berwajah dingin yang memegang tablet dan tumpukan map tebal. Di sudut lain, Davina Wijaya juga ikut hadir, menatap kedatangan Milly dengan pandangan yang sarat akan kebencian.

Arkan melangkah masuk dengan aura intimidasi yang luar biasa pekat, menuntun Milly untuk duduk di kursi utama yang berada tepat di hadapan delegasi Keluarga Wijaya. Begitu mereka duduk, empat pengacara korporat Mahendra Group langsung mengambil posisi berdiri siaga di belakang Arkan.

"Langsung ke intinya, Tuan Wijaya," buka Arkan tanpa basa-basi, melipat kakinya dengan anggun. "Aku tidak punya waktu luang untuk mendengarkan basa-basi dari keluarga yang baru saja kehilangan investasinya di Eropa Barat."

Tuan Wijaya berdeham berat, memberikan kode kepada pengacara utamanya. "Tuan Arkananta, kami kemari untuk meluruskan masalah pernikahan mendadak ini. Kami memiliki bukti otentik berupa riwayat jejak digital dan transaksi komersial eksternal dari kekasih Anda ini sebelum ia tinggal di mansion Anda."

Pengacara itu menggeser sebuah tablet ke tengah meja marmer, menampilkan grafik data transaksional.

"Nona Millyanita tercatat memiliki riwayat transaksi aktif pada platform membaca digital internasional, kontrak lisensi penulisan eksklusif, hingga pengelolaan akun bisnis digital. Kami menduga, ada motif manipulasi finansial dan konspirasi terselubung untuk mengamankan aset Mahendra Group dari pajak investasi luar negeri menggunakan nama warga sipil kelas menengah," cecar pengacara itu dengan nada menuduh.

Davina tersenyum sinis, melipat tangannya. "Pernikahan ini palsu, Arkan. Kau hanya memanfaatkan gadis panti asuhan yang butuh uang ini untuk tameng bisnismu!"

Suasana ruangan mendadak mencekam. Milly meremas ujung gaun pastelnya di bawah meja, jantungnya berdegup kencang melihat nama-nama platform lamanya terpampang di layar monitor di depan orang-orang berkuasa ini.

Namun, keheningan itu mendadak pecah oleh suara kekehan rendah yang sangat dingin dari mulut Arkananta.

Arkan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Tuan Wijaya seolah pria paruh baya itu baru saja menyampaikan lelucon paling bodoh abad ini.

"Hanya ini yang bisa dikumpulkan oleh tim intelijen Keluarga Wijaya yang agung?" tanya Arkan dengan nada meremehkan yang amat kental. Ia memberikan isyarat tangan kepada Bara.

Bara maju, meletakkan sebuah dokumen tebal berlogo resmi otoritas keuangan internasional tepat di atas tablet milik pengacara Wijaya.

"Mari kita perjelas satu hal," ucap Arkan, memajukan tubuhnya hingga auranya mengunci pergerakan semua orang di seberang meja. "Semua riwayat transaksi dan kontrak digital yang dilakukan oleh calon istriku di masa lalu... telah resmi diakuisisi dan dilegalisasi di bawah payung hukum Mahendra Group sejak tiga hari yang lalu. Seluruh aktivitas finansialnya kini berstatus sebagai investasi domestik pribadi atas namaku."

Arkan menatap Davina dengan kilat mata yang mematikan. "Jika kau menyebut kontrak kreatif dan usaha digitalnya sebagai bentuk manipulasi... maka kau baru saja menuduh Mahendra Group melakukan tindak pidana. Dan aku jamin, sebelum matahari terbenam sore ini, firma hukumku akan memastikan seluruh izin usaha Keluarga Wijaya di kota ini dicabut tanpa sisa."

Wajah Tuan Wijaya seketika memucat pasi, sementara Davina langsung terbungkam dengan mata terbelalak panik. Mereka tidak pernah menduga bahwa sang Presdir perfeksionis ini akan bertindak sejauh dan se-ekstrem itu demi melindungi seorang gadis ceroboh di sampingnya.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Tuan Wijaya menatap dokumen berlogo otoritas keuangan internasional di depannya dengan tangan yang mulai gemetar. Gertakan Arkan bukan sekadar bualan korporat pria itu memiliki kekuatan nyata untuk meruntuhkan kekaisaran bisnis Keluarga Wijaya hanya dengan satu jentikan jari.

"K-Kau... kau gila, Arkan," bisik Tuan Wijaya, suaranya parau kehilangan wibawa. "Melindungi gadis ini sampai mengorbankan stabilitas pasar domestik?"

"Di duniaku, apa yang sudah menjadi milikku akan tetap menjadi milikku, Tuan Wijaya," sahut Arkan dingin, matanya beralih menatap pengacara lawan yang kini sibuk mematikan layar tabletnya karena panik. "Bara, antarkan tamu-tamu kita keluar. Dan pastikan memo pembatalan seluruh sirkuit investasi Keluarga Wijaya dikirim ke papan direksi dalam lima menit."

Davina bangkit berdiri dengan napas memburu, menatap Milly dengan sisa-sisa kemarahan sebelum akhirnya ditarik paksa oleh ayahnya untuk meninggalkan ruangan. Pintu ganda kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang jauh lebih lega bagi paru-paru Milly.

Milly langsung merosot di kursinya, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari eksekusi mati. "Tuan... itu tadi luar biasa menakutkan. Saya pikir mereka benar-benar akan menyeret saya ke jalur hukum."

Arkan bangkit dari kursinya, membetulkan letak kancing jas abu-abunya yang sama sekali tidak bergeser sejak tadi. "Mereka hanya menggali kuburan mereka sendiri dengan membawa masa lalumu ke hadapanku." Pria itu menatap Milly lambat. "Ganti bajumu. Setelah ini kita harus kembali ke mansion utama. Anggota keluargamu akan tiba sore ini."

Sore harinya, mansion utama Mahendra Group dipenuhi oleh pengamanan berlapis. Tiga mobil van hitam yang dikawal ketat oleh tim Bara akhirnya memasuki pelataran luas mansion, membawa tujuh orang anggota keluarga Milly yang tampak kebingungan sekaligus takjub melihat kemegahan rumah bak istana tersebut.

Milly berlari kecil menyambut mereka di lobi utama, mengabaikan tatapan tajam Arkan yang mengawasinya dari atas tangga marmer. Pelukan hangat dari keluarganya seketika menghapus seluruh ketegangan yang ia rasakan sejak pagi.

Namun, momen haru itu terputus saat langkah kaki Arkan yang beritme konstan terdengar menuruni tangga. Aura dominan sang Presdir langsung membuat suasana lobi mendadak sunyi. Keluarga Milly tampak agak terintimidasi melihat sosok pria tinggi, tegap, dan berwajah dingin yang kini berdiri di hadapan mereka.

"Selamat datang di mansion Mahendra," ucap Arkan, suaranya bariton dan formal. "Bara akan mengantarkan kalian ke paviliun barat. Seluruh kebutuhan kalian akan dipenuhi oleh pelayan mansion."

Sebelum keluarga Milly sempat mengucapkan terima kasih, Arkan beralih menatap Milly, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam dari saku jasnya.

"Milly, karena jumlah orang di mansion ini bertambah secara signifikan, ada amandemen baru yang harus dimasukkan ke dalam kontrak domestik kita," ujar Arkan tanpa ekspresi.

Milly mengerutkan keningnya, reflek membetulkan kacamata bulatnya. "Amandemen apa lagi, Tuan? Jangan bilang ada denda tambahan karena keluarga saya menginjak rumput mansion Anda?"

Arkan membuka buku catatannya, membacakan baris demi baris kalkulasi barunya:

"Kehadiran tujuh anggota keluargamu meningkatkan indeks risiko keamanan mansion sebesar 15%. Berdasarkan kalkulasi pengeluaran logistik, tim pengamanan, dan jaminan privasi, aku seharusnya menambahkan masa kontrakmu sebanyak delapan bulan."

Milly langsung melotot. "Tuan, Anda..."

"Tetapi," potong Arkan cepat, menatap langsung ke manik mata Milly. "Karena kau berhasil bersikap tenang dan mematuhi instruksiku selama konfrontasi dengan Keluarga Wijaya tadi siang, aku mengonversinya sebagai pencapaian kinerja."

Arkan menarik pena mewahnya, mencoret angka delapan di buku catatan tersebut dan menuliskan persamaan baru:

Arkan menutup buku catatannya dengan bunyi klek yang tegas. "Tepat sembilan tahun datar. Tidak ada kompromi, tidak ada pembulatan ke bawah lagi untuk bulan ini."

Milly tertegun sejenak, melihat angka kontraknya kini benar-benar bersih menjadi sembilan tahun tanpa pecahan bulan dan hari yang rumit. Di satu sisi, ia kesal karena pria ini memperlakukan hidupnya seperti kalkulator berjalan, namun di sisi lain, ia tidak bisa menahan senyum tipisnya.

"Sembilan tahun ya..." gumam Milly pelan, menatap Arkan yang sudah berbalik untuk kembali ke ruang kerjanya. "Baiklah, Tuan Perfeksionis. Kita lihat siapa yang akan bertahan lebih lama dengan logika matematika Anda ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!