NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:116k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Ujian Tanpa Gelar

Rahardja terdiam cukup lama. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Saras langsung meremehkan Enzo saat mengira ia hanya staf.

Ranti pun tidak menegur putrinya hingga ia sendiri yang harus melakukannya.

Chantika ternyata sejak lama memilih menjaga jarak karena merasa tidak benar-benar diterima.

Sementara Enzo rela menanggalkan statusnya hanya demi membuat Chantika merasa tenang.

Pria itu akhirnya menarik napas panjang, lalu menatap Enzo. "Baik. Papa akan merahasiakan identitasmu."

Enzo dan Chantika saling berpandangan. Keduanya baru saja merasa lega ketika Rahardja kembali berbicara.

"Bukan karena Papa ingin berbohong kepada mereka." Sorot mata pria paruh baya itu tenang. "Tapi karena Papa ingin melihat siapa yang benar-benar menghargai seseorang tanpa memandang status."

Ia melanjutkan, "Kalau seseorang baru berubah baik setelah tahu lawannya kaya atau memiliki jabatan, berarti yang ia hormati bukan orangnya, melainkan statusnya."

Chantika mengangguk pelan.

"Tapi ada satu syarat."

Enzo dan Chantika kembali saling berpandangan.

"Apa itu, Pa?" tanya Enzo.

Rahardja menatapnya lurus. "Kalau suatu hari penyamaran ini justru menyakiti keluargaku atau membuat keadaan semakin rumit, Papa sendiri yang akan membuka semuanya."

Enzo mengangguk mantap. "Itu adil, Pa."

Rahardja tersenyum tipis, lalu menyerahkan kembali map hitam itu kepada Chantika. "Ini adalah pemberian calon suamimu untukmu. Maka simpanlah olehmu."

"Iya, Pa." Chantika menerima map itu dari sang ayah.

"Ayo," ajak Rahardja. "Kita kembali kee ruang tamu."

Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruang kerja.

 

Begitu melihat mereka kembali ke ruang tamu, Saras dan Ranti langsung mengalihkan perhatian. Tatapan keduanya penuh rasa ingin tahu.

Rahardja kembali duduk di sofa bersama Chantika.

"Jadi," katanya tenang, "kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"

"Setelah izin dari kesatuan keluar, Pa," jawab Chantika.

Rahardja mengangguk. "Lalu resepsinya akan diadakan di mana?"

Chantika menoleh kepada Enzo. "Aku maunya sederhana saja, Pa. Cukup keluarga dan orang-orang terdekat."

Ia tersenyum kepada Enzo. "Kamu enggak keberatan, 'kan?"

Enzo membalas tatapannya. "Selama itu membuatmu bahagia, aku tidak keberatan."

"Gak heran maunya sederhana," gumam Saras lirih. "Mungkin memang kemampuan finansialnya cuma sampai situ."

Walaupun pelan, ucapan itu masih terdengar jelas.

Rahardja memejamkan mata sesaat. Ranti tampak serba salah. Chantika hanya mengembuskan napas pelan, seolah sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu.

Sementara Enzo tetap tenang, seakan tidak terusik sedikit pun.

Marco justru menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya. "Bos... sabar banget. Kalau Bos mau, satu gedung tempat resepsi termewah di kota ini juga bisa langsung dibeli."

Namun ia tetap diam. Bukan haknya ikut campur.

Rahardja menoleh kepada Marco. "Bukankah tadi ada cincin?"

Marco refleks menegakkan punggungnya. "Benar, Pak."

Ia mengambil kotak beludru hitam yang sejak tadi dibawanya, lalu menyerahkannya kepada Enzo.

Enzo membukanya perlahan. Di dalamnya hanya terdapat sepasang cincin emas putih dengan desain yang sangat sederhana, tapi elegan. Tanpa berlian besar. Tanpa ukiran mencolok.

Saras yang melihatnya langsung mengangkat sebelah alis. "Cincinnya... sederhana sekali."

Marco hampir refleks menjawab, tetapi memilih diam.

Rahardja justru memandang Enzo. "Kamu sengaja memilih model seperti ini?"

"Iya, Pa."

"Kenapa?"

Enzo menoleh kepada Chantika. "Karena Chantika seorang polisi. Perhiasan yang terlalu mencolok justru akan merepotkannya saat bertugas."

Ia tersenyum tipis. "Aku ingin cincin ini bisa tetap dipakainya setiap hari, bukan hanya disimpan di kotak."

Chantika menatap Enzo beberapa saat. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu memikirkan hal sekecil itu.

Sementara Saras kembali bergumam, "Atau memang karena..."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Rahardja sudah menatap tajam. "Saras."

Saras langsung diam.

Rahardja mengangguk pelan kepada Enzo. "Kalau begitu... silakan."

Enzo mengambil cincin itu. Dengan lembut ia menggenggam tangan kiri Chantika. "Semoga cincin sederhana ini menjadi pengingat bahwa aku akan selalu pulang kepadamu."

Perlahan ia menyematkan cincin itu di jari manis tangan kiri Chantika. Setelah itu Chantika melakukan hal yang sama kepada Enzo.

Tepuk tangan pelan terdengar memenuhi ruang tamu.

Marco melirik Saras dan Ranti. "Kalau mereka tahu harga cincin yang disebut sederhana itu..." Marco menarik napas pelan. "Mungkin mereka gak bakal berani nyebutnya murahan."

Setelah cincin terpasang, Rahardja akhirnya berdiri. "Sudah. Mari kita makan malam. Kebetulan kami sudah menyiapkan hidangan sederhana."

Kalimat itu keluar begitu saja. Namun setelah mengetahui siapa Enzo sebenarnya, Rahardja justru merasa kata sederhana benar-benar memiliki arti yang berbeda malam ini.

 

Di meja makan, berbagai hidangan telah tersaji.

Marco melihat ada steak wagyu, lobster panggang, foie gras, truffle soup, hingga berbagai hidangan penutup premium.

"Lumayan juga," gumam Marco dalam hati.

Saras melirik Enzo dan Marco sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia sengaja berkata kepada Ranti dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.

"Ma, coba minta pelayan ambilin steak knife yang satunya. Yang ini kurang cocok."

"Iya, sekalian ganti sendok supnya juga," sahut Ranti tanpa menyadari maksud putrinya.

Saras kembali tersenyum. "Takutnya nanti ada yang bingung bedain pisau steak sama pisau butter."

Rahardja langsung mengangkat kepala. "Saras. Nanti tamu kita tidak enak hati."

"Oh... aku cuma mengingatkan, Pa."

Saras tersenyum polos. Padahal tatapannya diam-diam mengarah kepada Enzo dan Marco.

Marco hanya melirik Bosnya, lalu berbisik pelan. "Bos... Ini kalau saya tunjukkan sertifikat pelatihan jamuan bisnis internasional yang dulu Bos suruh saya ikuti, kira-kira dia bakal pingsan gak, ya?"

Namun Enzo tetap tenang. Dengan gerakan yang begitu alami, ia mengambil serbet, membentangkannya di pangkuan, lalu menggunakan seluruh peralatan makan sesuai etiket fine dining tanpa sedikit pun ragu. Setiap gerakannya tampak santai, tetapi begitu berkelas.

Marco melakukan hal yang sama.

Saras yang semula hendak menyindir perlahan kehilangan senyumnya. Ia tidak menemukan satu pun kesalahan.

Rahardja diam-diam memerhatikan kedua pria itu. "Seandainya aku belum tahu siapa Enzo... Cara makannya saja sudah cukup untuk membuatku curiga."

 

Usai makan malam, mereka masih berbincang sejenak di ruang tamu. Tak lama kemudian, Enzo dan Marco berpamitan.

"Terima kasih atas jamuannya, Pa, Ma," ucap Enzo sopan.

Rahardja mengangguk sambil menepuk pelan bahu calon menantunya. "Hati-hati di jalan."

Marco ikut membungkukkan badan. "Permisi."

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan halaman rumah Rahardja.

Semua penghuni rumah masih berdiri di teras hingga kendaraan itu menghilang di balik gerbang.

Rahardja baru berbalik setelah lampu belakang mobil tak lagi terlihat.

"Ayo masuk."

Mereka pun kembali memasuki rumah.

Begitu tiba di dalam, Rahardja tidak langsung menuju kamarnya. Ia justru mengalihkan langkah ke arah ruang keluarga.

"Kita ke ruang keluarga."

Semua menoleh kepadanya.

"Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan." Nada suaranya tenang. Namun cukup untuk membuat suasana berubah. "Soal kontrak investasi yang dibawa Saras."

Langkah Saras mendadak terhenti. "Kontrak investasi?"

Wajah Saras perlahan memucat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia berusaha tersenyum, tetapi sudut bibirnya terasa kaku.

"Jangan-jangan... mereka benar-benar menemukannya."

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

 

...🔸🔸🔸...

..."Jangan terburu-buru menilai nilai seseorang dari apa yang ia kenakan, karena harga diri tidak pernah ditentukan oleh harga barang yang dipakainya."...

..."Kekayaan bisa disembunyikan. Jabatan bisa dilepaskan. Namun akhlak akan selalu menemukan caranya untuk terlihat."...

..."Status dapat membuka pintu, tetapi hanya sikap yang mampu membuka hati."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kadek Sri
Bryan jangan percaya diri dulu, tunggu saja kehancuranmu
Hanima
👍👍
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!