Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Lamaran Seorang Staf Biasa
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam saat mobil yang dikemudikan Marco berhenti di depan rumah Rahardja.
Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka, Rahardja langsung beranjak dari duduknya.
"Ayo, kita sambut tamu kita," ujarnya kepada istri dan kedua putrinya.
Ia merangkul pundak Chantika, sementara Saras dan Ranti berjalan di belakang mereka.
Saras mendekat ke arah ibunya lalu berbisik, "Ma, buat apa sih sampai disambut ke depan pintu segala? Cuma staf biasa doang juga."
Ranti langsung mengangkat jari telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat agar putrinya diam.
Saras mengerucutkan bibir.
Chantika yang sempat melirik ke belakang ikut bersuara. "Pa, gak perlu sampai disambut ke depan juga. Cuma lamaran biasa, kok."
"Mana bisa begitu?" sahut Rahardja.
Ia menoleh kepada putrinya. "Papa gak mau suatu hari nanti kamu diperlakukan tidak baik hanya karena Papa memperlakukan calon menantu Papa dengan buruk."
Rahardja lalu melanjutkan dengan nada tenang. "Lagipula, kita tidak boleh menilai, memandang, atau memperlakukan seseorang dengan tidak hormat hanya karena dia bukan orang besar."
Ia tersenyum tipis. "Kalau kita tidak menghormati orang lain, bagaimana kita bisa berharap orang lain menghormati kita?"
"Enzo bukan orang yang gila hormat, Pa," kata Chantika lembut.
"Tetap saja." Rahardja menggeleng pelan. "Kita harus memperlakukannya dengan baik karena nantinya dia akan menjadi bagian dari keluarga kita."
Chantika tersenyum hangat pada ayahnya.
"Selalu saja ceramah," gerutu Saras lirih yang hanya bisa didengar Ranti.
Ranti langsung menyiku pelan lengan putrinya.
Saat Rahardja dan keluarganya tiba di ambang pintu, mereka melihat Marco sedang sibuk menurunkan hantaran dari bagasi.
Sementara itu, Enzo berdiri di samping mobil sambil memeluk buket bunga dan menatap layar ponselnya.
Begitu melihat Rahardja dan Chantika keluar, ia segera mengantongi ponselnya lalu melangkah menghampiri mereka.
"Tuan—"
"Kamu sudah datang melamar, masih panggil aku Tuan?" potong Rahardja.
Enzo berhenti sejenak.
"Panggil Papa dan Mama saja."
Enzo mengangguk pelan. "Baik, Pa."
Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya. Meski Rahardja mengira dirinya hanyalah seorang staf biasa, pria itu tetap memperlakukannya dengan ramah, penuh hormat dan ketulusan. Sikap seperti itu jarang sekali ia temukan.
"Bos, sudah selesai."
Suara Marco terdengar setelah ia menurunkan kotak terakhir.
Rahardja menoleh. Entah kenapa wajah pria itu terasa sedikit familiar. Namun ia tidak dapat mengingat pernah bertemu di mana.
Pakaiannya memang sama sederhananya dengan Enzo. Namun, entah mengapa Rahardja merasa pria itu tidak memiliki pembawaan seperti staf biasa. Cara berdiri, sorot mata, hingga sikapnya lebih menyerupai seorang asisten pribadi atau sekretaris utama yang telah lama mendampingi seorang petinggi perusahaan.
Namun ketika pandangannya beralih kepada Enzo, kesan itu seketika memudar. Di balik pakaian sederhananya, pria muda itu memancarkan wibawa yang jauh lebih kuat.
Tatapannya tenang, sikapnya terkendali, dan tanpa berusaha menunjukkan apa pun, kehadirannya membuat orang lain secara naluriah menghormatinya.
Bahkan Rahardja, yang puluhan tahun memimpin perusahaan besar, sempat merasa seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang terbiasa berada di puncak kekuasaan.
Marco yang tadi merasa sempat diperhatikan mengangkat wajahnya.
"Tuan Rahardja, ini hantaran yang Bos saya bawakan untuk calon Nyonya Bos."
Marco berdiri di samping hantaran sambil mengembangkan telapak tangannya.
"Izinkan saya memperkenalkan hantaran yang Bos saya siapkan."
Satu per satu ia menunjuk setiap kotak.
"Buah-buahan premium. Kue tradisional dan kue modern. Teh dan kopi premium. Kain sutra."
Kemudian ia mengangkat sebuah kotak beludru hitam dengan kedua tangan.
"Dan yang terakhir, cincin lamaran."
"Yakin ini semua premium?" Gumaman Saras memang pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang.
"Saras."
Nada suara Rahardja langsung berubah tegas.
Saras refleks menundukkan kepala.
Rahardja menatap putrinya beberapa saat sebelum berkata, "Hormati usaha dan niat baik seseorang. Nilai sebuah pemberian dari ketulusannya, bukan dari prasangka kita terhadap orang yang memberikannya."
Saras kembali mengerucutkan bibir.
Ranti diam-diam menyenggol lengannya agar tidak membantah.
Di sisi lain, Marco menyipitkan mata. "Wah... kalau Bos tersinggung karena calon iparnya meremehkan hantaran ini, bisa-bisa beliau langsung buka akta saham dihadapannya."
Untungnya Enzo tampak tidak terganggu sedikit pun. Tatapannya justru tertuju pada Chantika.
Dan seperti biasa, perempuan itu terlihat lebih sibuk menahan malu daripada memerhatikan isi hantaran.
Rahardja lalu melangkah mendekati kotak-kotak tersebut. Ia memerhatikannya sekilas sebelum mengangguk puas.
"Terima kasih. Kami menerima hantaran ini dengan senang hati."
Kemudian ia menoleh kepada Enzo dan Marco. "Jangan berdiri di luar. Ayo masuk."
Rahardja membuka pintu lebih lebar. "Malam ini kalian datang sebagai tamu keluarga kami."
Marco tersenyum.
"Terima kasih, Tuan Rahar—"
Tatapan Rahardja langsung membuatnya berhenti.
Marco berdeham. "Maaf. Maksud saya... terima kasih, Pak."
Rahardja terkekeh pelan. "Kalau Enzo sudah saya izinkan memanggil Papa, berarti kamu juga tidak perlu terlalu kaku."
Marco langsung melirik Enzo. "Waduh... kalau calon mertua tahu siapa Bos sebenarnya, jangan-jangan beliau yang malah panggil Bos 'Tuan'."
Enzo memberikan buket bunga yang dibawanya pada Chantika.
"Terima kasih," ucap Chantika tulus. Bibirnya melengkung tipis saat menghirup aroma wangi bunga di tangannya.
Enzo hanya tersenyum samar. Sorot matanya melembut.
Akhirnya mereka masuki ke dalam rumah.
Dengan berbagai pikiran yang berputar di kepalanya, Marco pun mengikuti Enzo memasuki rumah Rahardja.
Sementara itu beberapa pelayan langsung membawa masuk smu kotak-kotak itu kecuali kotak cincin yang dibawa Marco.
Mereka akhirnya duduk di ruang tamu.
Enzo duduk berdampingan dengan Marco. Di seberang mereka, Rahardja duduk di samping Chantika, sementara Ranti dan Saras duduk di sofa sebelah.
Suasana sempat hening beberapa saat hingga Enzo menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan.
"Pa," ucapnya tenang. "Karena lamaran saya sudah diterima, sebagai bentuk keseriusan saya untuk menjaga dan menafkahi Chantika, izinkan saya menyerahkan beberapa hal atas nama calon istri saya."
Marco segera menyerahkan map hitam yang sejak tadi dibawanya.
Enzo menerimanya, lalu menyodorkannya kepada Rahardja dengan kedua tangan.
"Silakan, Pa."
Rahardja menerima map itu.
Saras dan Ranti saling melirik, sama-sama penasaran dengan isi dokumen tersebut.
Perlahan Rahardja membuka map itu. Halaman pertama membuat alisnya sedikit terangkat. Akta hibah sebuah hotel bintang lima.
Tangannya berhenti sesaat sebelum membalik ke halaman berikutnya. Tatapannya berubah semakin serius. Akta hibah sebuah vila di tepi pantai.
Rahardja menarik napas pelan, lalu membuka halaman terakhir. Beberapa detik kemudian, matanya membelalak.
Dokumen pengalihan tiga puluh persen saham Arkana Global Logistics atas nama Chantika Putri Rahardja.
"..."
Untuk pertama kalinya sejak Enzo datang, ekspresi Rahardja benar-benar berubah. Ia mengangkat wajahnya perlahan menatap Enzo.
"Ini..."
Di sampingnya, Chantika yang ikut melihat isi map itu langsung membulatkan mata.
"Enzo... ini terlalu banyak."
Nada suaranya nyaris berbisik. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan membawa dokumen sebesar ini.
Enzo tetap tenang. "Menurutku, belum."
Belum?
...🔸🔸🔸...
..."Status dapat disembunyikan dengan pakaian sederhana, tetapi wibawa tidak pernah bisa disamarkan."...
..."Nilai seseorang tidak selalu terlihat dari apa yang dikenakannya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan memegang tanggung jawabnya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Terima Kasih Kak... 🙏🙏🙏😁
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏