NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 - Jarak yang Tiba-Tiba Tercipta

Alea berdiri di depan jendela lorong rumah sakit.

Langit menjelang subuh masih gelap. Titik-titik hujan menempel di kaca, membuat pemandangan kota tampak kabur.

Sama seperti pikirannya saat ini.

Ia mengingat kembali setiap momen sejak hari pernikahannya.

Raka selalu datang di saat yang tepat.

Selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Selalu melindunginya.

Semua itu membuat Alea percaya bahwa pertemuan mereka adalah takdir.

Namun kini ia mengetahui kenyataan yang berbeda.

Semuanya dimulai karena sebuah penyelidikan.

Karena sebuah misi.

Bukan karena perasaan.

Di belakangnya, langkah kaki terdengar mendekat.

"Alea."

Suara Raka terdengar pelan.

Alea tidak langsung menoleh.

"Aku butuh udara."

"Baik."

Raka tidak memaksanya berbicara.

Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakang, menjaga jarak.

Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata.

Keheningan di antara mereka terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran.

Akhirnya Alea membuka suara.

"Sejak kapan?"

Raka memahami pertanyaan itu.

"Sejak kapan kamu tahu tentang keluargaku?"

"Beberapa bulan sebelum pernikahan."

"Jadi..."

"Kamu sudah mengenalku sebelum aku mengenalmu."

"Iya."

Alea tersenyum pahit.

"Lucu ya."

"Aku merasa mengenalmu sedikit demi sedikit."

"Padahal kamu sudah mengetahui hampir seluruh hidupku."

"Aku tidak tahu makanan favoritmu, warna yang kamu suka, atau lagu yang sering kamu dengarkan."

"Tapi kamu tahu kebiasaan-kebiasaanku."

"Kamu tahu aku sering lupa sarapan."

"Kamu tahu aku selalu gugup kalau sedang banyak pikiran."

"Semuanya."

Suara Alea mulai bergetar.

"Itu membuatku merasa... bodoh."

Raka menutup mata sejenak.

"Itu kesalahanku."

"Aku memang menyembunyikan terlalu banyak hal."

"Bukan hanya menyembunyikan."

Alea akhirnya menoleh.

"Kamu membiarkanku percaya bahwa semua ini terjadi karena kebetulan."

Tatapan mereka bertemu.

Raka melihat luka di mata Alea.

Luka yang kali ini ia sendiri penyebabnya.

"Aku minta maaf."

Alea menggeleng pelan.

"Jangan minta maaf kalau kamu belum selesai jujur."

Kalimat itu menghantam Raka.

Ia sadar, kalau masih terus menyembunyikan sesuatu, kepercayaan Alea akan benar-benar hilang.

---

Sementara itu, di dalam ruang ICU...

Arga membuka matanya perlahan.

Seorang perawat sedang memeriksa infus ketika ia berbisik lemah.

"Ponsel..."

"Pak?"

"Ponsel..."

Perawat menggeleng.

"Nanti dulu, Bapak harus istirahat."

Arga menggenggam lemah selimutnya.

"Di..."

"...jaket..."

Belum sempat mengucapkan kalimat berikutnya, ia kembali terbatuk hebat.

Perawat segera memanggil dokter.

Tak ada yang menyadari, di balik pintu kaca ICU, seorang petugas kebersihan berhenti mendorong troli.

Tatapannya mengarah ke dalam ruangan.

Ia perlahan menyentuh earphone kecil yang tersembunyi di telinganya.

"Target sudah sadar."

Suara pelan itu terdengar melalui mikrofon.

"Lanjutkan sesuai rencana."

Pria itu kembali mendorong trolinya, seolah tak terjadi apa-apa.

---

Di ruang tunggu, Adrian datang membawa sebuah kantong plastik bening.

"Kami menemukan barang-barang Arga."

Di dalamnya terdapat dompet, jam tangan, kunci mobil, dan sebuah ponsel yang layarnya retak.

"Ponselnya masih bisa diperiksa?" tanya Raka.

"Tim digital forensik sedang mencoba membukanya."

Adrian mengeluarkan sebuah benda kecil dari kantong itu.

"Kami juga menemukan ini."

Sebuah kunci loker.

Nomor yang terukir di permukaannya adalah **317**.

"Tidak ada alamat?"

"Tidak."

"Tapi benda ini disembunyikan di lapisan dalam jaketnya."

"Sepertinya sengaja dijahit agar tidak mudah ditemukan."

Raka menerima kunci itu.

Perasaannya mengatakan benda kecil ini jauh lebih penting daripada yang terlihat.

---

Pagi mulai menjelang.

Bibi Maya datang membawa sarapan.

Ia tersenyum lega melihat Alea.

"Kamu belum makan dari semalam."

"Ayo."

Awalnya Alea ingin menolak.

Namun melihat wajah khawatir Bibi Maya, ia akhirnya mengangguk.

Mereka duduk di ruang tunggu.

Bibi Maya membuka kotak bekal berisi bubur ayam hangat.

"Raka dari kecil juga begitu."

Alea menoleh.

"Kalau sedang memikirkan sesuatu, dia bisa lupa makan."

Sudut bibir Alea terangkat tipis.

"Ternyata kebiasaan itu belum berubah."

"Dia memang keras kepala."

"Tapi satu hal yang Bibi tahu..."

Bibi Maya menggenggam tangan Alea.

"Kalau Raka sudah memutuskan melindungi seseorang..."

"...dia akan mempertaruhkan apa pun."

Alea terdiam.

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Apakah Raka melindunginya karena tugas?

Atau...

Karena sudah ada perasaan yang tumbuh di antara mereka?

Belum sempat ia menemukan jawabannya, Adrian berlari dari ujung lorong.

Wajahnya tegang.

"Raka!"

"Ada masalah."

"Apa?"

"Tim forensik berhasil membuka ponsel Arga."

"Lalu?"

Adrian menelan ludah.

"Semua data di dalamnya sudah dihapus."

Raka mengembuskan napas pelan.

"Itu sudah kuduga."

"Tapi..."

Adrian menyerahkan sebuah foto yang baru dipulihkan.

"Hanya satu file yang berhasil diselamatkan."

Raka dan Alea melihat foto itu bersamaan.

Foto tersebut memperlihatkan Arga sedang berdiri bersama tiga orang.

Wajah dua orang diburamkan.

Namun orang ketiga terlihat sangat jelas.

Begitu melihatnya, wajah Alea langsung memucat.

"Itu..."

"Itu Om Surya."

Om Surya.

Sahabat lama ayahnya.

Orang yang selama ini dianggap keluarga sendiri.

Dan orang yang paling sering keluar masuk perusahaan Prameswari.

Kalau Om Surya terlibat...

Berarti pengkhianatan itu memang datang dari orang yang paling dipercaya.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!