Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Boneka...
Flashback
"Varren buang boneka itu! Laki-laki tidak boleh main boneka..!!!" teriak Shena pada Varren yang memegang boneka Patrik pink miliknya.
Varren menunduk tak berani menatap Shena. "Tapi ini mainan Varren satu-satunya mah." ujar Varren bergetar takut.
Plak. Plak. Plak.
Varren memejamkan mata merasa kepalanya dipukul tiga kali oleh Shena kuat. Shena merebut paksa boneka Varren.
Plak.
Sekali lagi Shena memukul kuat kepala Varren hingga kepala Varren terasa pusing dan sakit. Varren memegang kepalanya sembari menangis.
"Nangis kamu? Varren dengar laki-laki tidak boleh menangis..!" teriak Shena lebih kuat melihat Varren menangis.
Varren menatap ibunya semakin menangis tapi Shena tidak suka. Shena menarik wajah Varren dan memukulnya berkali-kali menggunakan tangan kuatnya. Sama sekali tidak berperasaan.
Varren terduduk dengan wajah yang habis babak belur ditampar oleh ibunya. Varren menggigit bibir bawahnya menahan sesak di dadanya, tak berani menatap Shena.
Shena menarik tangan Varren yang menahan tangisnya. Melempar boneka di depan rumah. Shena mematik koreknya dan membakarnya. "Tomi… sini ambil semua boneka Varren di kamarnya..!!" teriaknya membahana. Bodyguard yang dipanggil segera berlari ke kamar Varren untuk mengambil boneka Varren.
Shena mendekati Varren dan meremas pundak Varren kuat. Varren menggigit bibir bawahnya lebih erat menatap Shena nanar. "Ingat laki-laki itu harus kuat. Tidak main boneka. Harusnya berkelahi, merokok, kamu harus menjadi laki-laki bukan perempuan. KAMU DENGAR VARREN..!!" bentak Shena.
Varren mengangguk cepat menahan laju air matanya. Shena mengambil boneka yang terbakar setengah tadi di sisi yang tidak terbakar dan menaruh di tangan Varren di sisi yang masih ada apinya. "Pegang!!!"
"Mama panas mama..!!" teriak Varren nanar dan kalut.
Tapi Shena menahan tangan Varren memegang boneka yang sudah terbakar menggunakan tangan kosongnya.
"MAMA..!" teriak Varren menggema memanggil seluruh penduduk rumah. Sedangkan para pembantu dan penjaga memalingkan wajah tak tega mendengar dan melihat Varren diperlakukan buruk begitu.
"INI PERINGATAN UNTUK KAMU. JIKA KAMU BERANI MAIN BONEKA LAGI. MAMA POTONG TANGAN KAMU, MAMA BAKAR SUPAYA KAMU TIDAK PUNYA TANGAN LAGI. PAHAM KAMU VARREN?" teriak Shena di depan wajah Varren.
Varren memejamkan mata tidak menjawab, tangannya melepuh. "Varren jawab.." teriak Shena memukul kepala Varren.
Varren mengangguk. "Paham mah. Varren nggak akan main lagi. mah maaf. maaf mah." gumam Varren bergetar.
Sampai bodyguard mengantarkan semua boneka Varren. "Bakar semuanya. Dan jangan ada yang membantu dia untuk berobat. Atau kalian semua akan bernasib sama, bahkan saya bakar hidup-hidup sekalian.." tekan Shena memperingati seluruh orang di sana dingin. Semua orang mengangguk kaku tak berani membantah.
Shena menjauh dari sana meninggalkan Varren yang terduduk menangis dengan tangan melepuh karena memegang boneka yang sudah terbakar habis.
"Tangan Varren sakit hiks hiks." Tangisannya berderai tapi tidak ada yang membantu. Varren di sana menangis meraung merasa perih dan juga sakit. Seluruh wajahnya habis dipukul Shena. Varren menatap ke depan di mana ibunya pergi. Dari kejauhan, Ivana dan Fina menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tangan mereka menutup mulut, menahan tangis. Tapi mereka tidak berani mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari jauh.
"Berani kamu sentuh dia dan bantu dia. Saya bunuh anak itu!" Shena sudah memperingatkan. Dan mereka tahu, Shena tidak pernah main-main.
Varren paham. Ia menunduk, mengusap air matanya dengan lengan yang tidak terluka. Tidak ada yang akan membantunya. Tidak sekarang. Tidak pernah.
Usia Varren baru enam tahun di kala itu, mendapatkan boneka karena kado dari Ivana dan Fina.
Varren mencoba berdiri sembari mengedepankan tangannya yang melepuh. Mengusap air matanya lirih menggunakan lengannya.
"Varren harus kuat hiks hiks." Varren menangis sesegukan. Dadanya bahkan terasa sakit. Perutnya terasa keram. Varren menatap sekali lagi ke arah Ivana dan Fina yang masih berdiri di kejauhan. Mereka menangkupkan tangan di depan dada, menatap Varren dengan nanar dan penuh sesal. Varren paham, mereka tidak akan membantunya. Ia segera pergi meskipun terpincang-pincang.
Tidak ada yang mengobati tangannya, tidak ada yang mengobati kepalanya. Varren masuk ke kamarnya, menangis terisak karena tangannya yang mengelupas karena melepuh. Tak paham akan luka itu harus diapakan selain diberi odol. Varren hanya tahu jika obat melepuh itu hanya odol seadanya.
Sebab itu Varren tidak menyukai boneka, setiap melihat boneka Varren ingat jika tangannya pernah melepuh karena terbakar bersama boneka.
---
Varren menutup pintu mobil cukup kencang, menghela napas pelan mengingat masa kelamnya yang tidak berujung. Memandang danau yang sering ia datang sejak dulu. Di sini tidak gelap, tidak seperti yang dibayangkan. Dulu pernah menjadi wisata populer, tapi semenjak semakin bertambah tahun tempat ini terlupakan oleh orang-orang, lebih memilih kepada wisata yang lebih indah lagi.
Pemandangan di sini tidak bagus, hanya ada danau tapi dibuat seperti jembatan yang hanya sampai ke tengah danau, hawanya sejuk.
Hanya saja jika malam di sini banyak nyamuk. Mungkin sejak usianya lima tahun dirinya suka main di sini. Usai pulang sekolah, dirinya pulang diharuskan untuk mengikuti banyak les dan juga mata pelajaran bahasa asing membuat dirinya pusing.
Berakhir dirinya bolos ke sini, atau bahkan saat guru melakukan rapat dirinya main ke sini, sebab ini tidak jauh dari sekolahnya yang dulu, dan lagi dulu di sini banyak jual makanan-makanan yang murah dan Varren bisa bebas seperti anak-anak lain tanpa diawasi, bisa bermain sepuasnya dan tertawa lepas. Ah Varren merindukan tempatnya di sini.
Varren meminum air mineral yang dimilikinya tadi, dan segera melangkah menuju jembatan dekat danau.
Katanya di sini ada buaya. Itu juga yang membuat di sini menjadi sepi padahal Varren selama di sini memang sering melihatnya sejak kecil.
Sebab buaya tersebut Varren yang melepaskannya ke sini.
Varren merasa buaya itu harus bebas tidak seperti dirinya yang tersiksa dan terikat.
Varren duduk di ujung jembatan, menatap air danau yang tenang. Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang menusuk kulitnya. Ia memeluk lututnya, menundukkan kepala.
"Papa..." bisiknya pelan. "Di mana sih..."
Air matanya mulai menggenang.
"Kenapa ninggalin Varren sendirian..."
Suaranya pecah. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan isak yang mulai mendesak.
"Apa benar kata mama... Papa itu iblis yang sebenarnya..."
Angin malam menerbangkan bisikannya ke atas danau yang gelap. Tidak ada yang menjawab. Hanya air yang bergerak pelan, seakan menelan semua pertanyaan yang tak terjawab.
Varren mengusap matanya kasar, lalu menatap langit malam yang berbintang.
Di mana pun papa berada... apakah papa tahu betapa sakitnya hidupku?
Bersambung...