The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
“Ishar, tunggu. Dengarkan aku.”
Aku mengejarnya masuk ke rumah Danmer dengan napas tersengal. Pintu depan membentur dinding ketika Ishar mendorongnya terlalu keras. Bungkusan belanjaan yang masih berada dalam pelukannya dijatuhkan begitu saja ke atas meja dekat pintu. Sekantong tepung terguling, sedangkan ikatan daun sage terlepas dan berserakan di lantai.
Ishar tidak berhenti untuk memungutnya. Ia melintasi ruang utama menuju lorong pendek di samping dapur. Kamar tidurnya berada di ujung lorong itu, masih di lantai dasar.
“Ishar.”
Aku berlari di belakangnya sambil memegangi sisi tubuh. Rusukku terasa nyeri setiap kali kaki menghantam lantai, tetapi aku tidak ingin membiarkannya menutup pintu sebelum mendengar penjelasanku.
Marlow dan Rosh sedang duduk berhadapan di meja makan. Cangkir-cangkir teh mengepulkan uap di antara mereka. Marlow telah selesai menambal atap. Kemejanya basah oleh keringat pada bagian dada dan punggung, lengan bajunya masih tergulung sampai siku, sementara serbuk kayu menempel pada rambut serta kulitnya. Palu, paku, dan sisa sirap ditumpuk dekat pintu belakang.
Marlow mengangkat kepala ketika Ishar berlari melewati meja dengan mata merah. Tatapannya kemudian berpindah kepadaku yang mengejarnya dengan wajah panik.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali mengangkat cangkir teh, seolah yang sedang terjadi hanyalah persoalan kecil antara dua anak muda yang tidak layak mengganggu waktu istirahatnya.
Rosh melihat cucunya menghilang ke dalam lorong, kemudian memandangku. Pria tua itu terkekeh pelan dan menggelengkan kepala. Mungkin ia mengira aku mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan di pasar, atau bahwa Ishar marah karena alasan remeh yang akan terlupakan sebelum siang.
“Ada apa lagi?” tanya Marlow.
Nada suaranya lebih terdengar lelah daripada penasaran. Ia bahkan tidak menurunkan cangkir dari tangannya.
Aku tidak sempat menjawab.
Ishar mencapai kamarnya dan membanting pintu tepat sebelum aku tiba di ujung lorong. Daun pintu bergetar di dalam bingkainya. Bunyi kunci diputar dari dalam sebelum tanganku sempat meraih gagang.
“Ishar.”
Aku mencoba membukanya, tetapi pintu itu sudah terkunci.
“Ishar, aku bisa menjelaskan.”
Tidak ada jawaban. Aku masih bisa mendengar napasnya dari balik kayu, cepat dan terputus-putus.
Aku mengetuk pintu sekali.
“Tolong dengarkan aku dulu.”
“Pergi!”
Suaranya pecah dari dalam kamar.
“Apa yang kau dengar tadi tidak sepenuhnya benar.”
“Pergi kau, pendosa! Aku benci padamu!”
Di ruang utama, cangkir Marlow diletakkan di atas meja dengan bunyi pendek.
“Pendosa?”
Nada santai dalam suaranya lenyap seketika.
Aku memejamkan mata sebentar. Di belakangku tidak terdengar lagi tawa kecil Rosh. Aku menarik tangan dari pintu, lalu kembali ke ruang utama.
Marlow telah berdiri. Tehnya masih mengeluarkan uap di atas meja, tetapi tubuhnya sudah kembali pada kewaspadaan yang kukenal selama perjalanan. Pandangannya bergerak dari pintu depan menuju jendela, kemudian berhenti padaku.
Rosh tetap duduk, tetapi senyum di wajahnya telah hilang. Kedua tangannya menggenggam kepala tongkat yang berdiri di antara lutut.
“Apa yang terjadi?” tanya Marlow.
“Pasukan Izengard datang ke alun-alun.”
Marlow langsung berjalan menuju jendela depan. Ia menggeser tirai selebar beberapa jari dan memeriksa jalan desa. Penduduk masih berlalu-lalang di luar. Alun-alun tidak terlihat dari rumah karena tertutup deretan bangunan.
“Mereka membawa pengumuman,” lanjutku.
Rosh mengangkat wajah. Aku berdiri di antara meja makan dan lorong menuju kamar Ishar. Rumah itu cukup kecil untuk membuat suaraku terdengar jelas dari balik pintunya tanpa perlu berteriak.
“Mereka mengatakan Raja Jerrod telah meninggal karena penyakit.”
Rosh tersentak. Tongkatnya hampir terlepas sebelum berhasil ditahan kembali.
“Jessiah Yang Agung.”
Ia mengangkat dua jari ke dahinya. Gerakannya gemetar ketika membuat tanda penghormatan.
“Rajaku meninggal?”
“Dibunuh,” kata Marlow.
Kata itu keluar datar, tanpa usaha untuk melembutkannya.
“Jerrod dibunuh oleh adiknya sendiri.”
Rosh menatap Marlow. Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Pangeran Dann?”
“Sekarang dia menyebut dirinya Raja Dann,” kataku. “Mereka mengatakan ia menerima mahkota untuk menjaga Izengard agar tidak kehilangan pemimpin.”
Rosh menggeleng perlahan. Bibirnya bergerak tanpa suara, tetapi tidak ada doa yang benar-benar keluar. Kedua tangannya kembali menekan kepala tongkat, seolah benda itu satu-satunya yang menjaga tubuhnya tetap tegak.
Marlow melepaskan tirai dan menghadapku.
“Apa lagi?”
Aku menarik napas. Tatapanku sempat berpindah ke lorong sebelum kembali kepada mereka.
“Mereka mengumumkan bahwa Pangeran Kal Valdyr telah meninggalkan Izengard. Pasukan kerajaan mencarinya, dan warga diminta melapor bila melihatnya.”
Rosh mengerutkan kening.
“Pangeran Kal?”
“Mereka mengatakan ia menuju ke barat bersama seorang pria.”
Marlow tidak bergerak.
“Namanya Marlow Renad.”
Tatapan Rosh langsung berpindah kepadanya. Kemudian kembali kepadaku.
Keheningan memenuhi ruangan. Dari luar terdengar suara roda gerobak bergerak di atas jalan batu, juga seorang pedagang yang memanggil pembeli. Suara-suara itu terasa jauh dibandingkan rumah yang tiba-tiba menjadi terlalu sempit.
Rosh mengamati wajahku. Matanya bergerak dari rambut ke mata, lalu turun ke hidung dan rahang. Sama seperti ketika aku membuka tudung semalam, tetapi kali ini ia tidak menggeleng untuk menolak pikiran yang muncul.
Aku menelan ludah.
“Kal Primm bukan namaku.”
Jari-jari Rosh menegang pada tongkat.
“Namaku Kal Valdyr.”
Rosh membeku.
“Aku putra Raja Jerrod.”
Napasnya keluar perlahan. Ia mencoba bangkit dari kursi, mungkin karena kebiasaan lama memaksanya memberi penghormatan kepada keluarga kerajaan. Tubuhnya yang bungkuk bergerak lambat, dan satu tangan harus menekan tongkat agar ia tetap seimbang.
Aku segera mengangkat telapak tangan.
“Tidak perlu.”
Rosh tetap berdiri. Semua hal yang sejak semalam tampak janggal kini tersusun di wajahnya: namaku yang sama dengan sang pangeran, perjalanan menuju barat, kehadiran Marlow, serta perubahan ekspresinya ketika pertama kali melihatku tanpa tudung.
“Yang Mulia,” katanya lirih.
“Jangan panggil aku begitu.”
Ia menatap Marlow, kemudian kembali kepadaku. Kesedihan atas kematian Dad masih berada di wajahnya, tetapi kini bercampur kegelisahan karena baru memahami siapa yang telah tidur di bawah atapnya.
“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Permintaan itu keluar dari mulut Rosh dengan suara rendah, tetapi cukup tegas untuk membuatku tahu ia tidak akan menerima setengah jawaban.
Aku bergerak sedikit mendekati lorong. Bila Ishar masih berdiri di dekat pintunya, ia akan mendengar setiap kata.
Aku tidak menceritakan semuanya satu per satu. Tidak ada cukup waktu, dan beberapa bagian bahkan belum sanggup kuucapkan kepada orang lain. Aku hanya mengatakan bahwa Dann telah merencanakan serangan dari dalam istana, membalikkan sebagian tentara melawan keluarga kerajaan, lalu membunuh Dad untuk merebut mahkota. Mom dan Cecil juga tewas dalam kekacauan itu. Dad memaksaku melarikan diri dan menyuruhku mencari Marlow, satu-satunya orang yang ia percaya masih bisa membawaku menjauh dari tangan Dann.
Rosh mendengarkan tanpa menyela. Matanya beberapa kali terpejam ketika aku menyebut Mom dan Cecil. Saat aku selesai menjelaskan pelarian dari istana dan perjalanan menuju Gisa, ia duduk kembali dengan napas berat.
“Jadi pengumuman tentang kematian Raja Jerrod adalah kebohongan,” katanya.
“Dia memang meninggal,” jawabku. “Tapi bukan karena penyakit.”
“Dan Pangeran Dann merebut mahkota setelah membunuhnya.”
“Ya.”
Rosh menundukkan kepala. Tangannya mengusap bagian atas tongkat, berulang kali, tanpa sadar. Aku membiarkannya mencerna kabar itu. Marlow tetap berdiri dekat jendela, sesekali melihat jalan di luar, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Beberapa saat kemudian Rosh mengangkat wajah. Tatapannya bergerak ke arah lorong, pada pintu kamar Ishar yang masih tertutup.
“Kalau begitu, kenapa Ishar menyebut Anda pendosa, Yang Mulia?”
Pertanyaan itu membuat dadaku mengencang. Marlow menatapku. Tidak ada peringatan dalam tatapannya kali ini. Hanya keharusan agar aku mengatakan kebenaran sendiri.
Aku membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan kata-kata. Rosh menunggu. Tidak ada lagi kesedihan lembut dalam sorot matanya. Ia telah menangkap keraguanku.
“Pasukan tadi juga mengatakan sesuatu tentang Mitenn Highroad,” kataku akhirnya.
Tangan Rosh berhenti bergerak pada tongkat.
“Apa yang terjadi di sana?”
Aku memandang lantai.
“Kami menemukan pos penjagaan di jalan suci. Tentara Izengard memeriksa semua peziarah yang melintas. Marlow mencoba membawa kami melewatinya tanpa menarik perhatian.”
“Salah seorang tentara mulai mengenaliku.”
Aku merasakan kembali panas di bawah tudung, bau keringat dan minyak zirah, serta tangan pemuda itu yang bergerak ke arah wajahku.
“Dia mengatakan aku meninggalkan keluargaku untuk mati. Dia menghina Dad, Mom, dan Cecil di depan semua orang.”
Rosh tidak menunjukkan reaksi. Ia hanya menunggu bagian yang belum kukatakan.
“Dia mencoba membuka tudungku.”
Aku menarik napas perlahan.
Dari kamar Ishar terdengar bunyi kecil, mungkin pergeseran kaki di balik pintu.
“Aku mencabut pedang.”
Kalimat berikutnya terasa seperti serpihan tulang di tenggorokan.
“Aku menebas lehernya.”
Rosh tidak bergerak. Namun sesuatu pada wajahnya mulai berubah.
“Di mana?” tanyanya.
Aku tahu ia tidak sedang menanyakan posisi tentara itu.
“Di Mitenn Highroad.”
Tangannya mencengkeram tongkat.
“Di atas jalan menuju Kuil Besar Jessiah?”
Rosh perlahan bangkit. Wajahnya kehilangan seluruh kelembutan yang tadi masih tersisa.
“Dan prajurit lainnya?”
“Mereka mengangkat senjata. Mereka hendak menangkapku.”
Rosh hanya menatap kami dengan raut wajah yang sulit ditebak, antara terkejut dan kemarahan.
“Berapa orang yang mati?” kata Rosh.
Aku melirik Marlow, tetapi ia tidak membantuku.
“Enam.”
Rosh menatap Marlow.
“Enam tentara?”
Marlow tidak menghindari pandangannya.
“Setelah Kal menarik pedangnya, mereka tidak akan membiarkan kami pergi.”
Tongkat Rosh menghantam lantai.
“Kalian menumpahkan darah enam orang di Mitenn Highroad?”
Suaranya tidak terlalu keras, tetapi rumah itu seolah bergetar bersamanya. Aku menundukkan kepala.
“Mereka menghina keluargaku.”
Rosh melangkah mendekat. Tubuhnya tetap bungkuk dan rapuh, tetapi kemarahannya membuatku merasa lebih kecil daripada ketika berhadapan dengan tentara.
“Jalan itu suci. Orang-orang yang saling membenci menahan tangan mereka ketika menginjak batu Mitenn. Raja dan pengemis berjalan menuju Jessiah tanpa membawa pertikaian dunia."
“Aku tahu.”
“Kau sudah mengetahuinya sebelum pedangmu keluar dari sarung.”
Aku tidak mampu membalas. Wajah pemuda itu kembali muncul. Rambut pendek yang basah oleh keringat, jerawat merah pada dagu, dan mata yang melebar ketika darah menyembur dari lehernya.
“Dia hanya seorang pemuda bodoh,” kata Rosh. “Kata-katanya mungkin kejam, tetapi itu tidak berarti kau bisa membunuhnya di jalan itu.”
“Aku tidak merencanakannya.”
“Itu bukan pembelaan.”
Tongkatnya kembali mengetuk lantai, kali ini lebih pelan. Kemarahan pada wajahnya tidak lagi meledak. Ia mengendap menjadi kekecewaan yang jauh lebih berat.
Aku sudah mendengar kemarahan Marlow di tepi sungai. Namun Marlow terikat pada Dad, koin Nightingale, dan tugas untuk membawaku tetap hidup. Rosh tidak memiliki kewajiban kepadaku selain kesetiaannya kepada raja yang sudah mati. Penilaian darinya terasa lebih jujur karena tidak ada alasan baginya untuk melindungiku.
Marlow akhirnya meninggalkan jendela.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya.
Rosh menoleh.
“Melaporkan kami?”
Pertanyaan itu terdengar tenang. Namun tubuh Marlow berubah sedikit. Matanya mengukur pintu, jendela, pedang yang berada dekat tas, dan jarak menuju lorong. Aku tahu ia tidak menginginkan pertarungan, tetapi jika Rosh memanggil pasukan, ia tidak akan diam menunggu.
Aku melihat pintu kamar Ishar.
Aku tidak ingin ada darah lain di rumah ini.
Rosh menatap Marlow beberapa saat, kemudian berbalik menuju pintu depan. Tongkatnya menghantam papan lantai secara teratur. Ketika sampai di sana, ia tidak membuka pintu. Ia memasang kait besi dari dalam, lalu menutup penutup kayu pada jendela yang menghadap jalan.
Cahaya di sisi ruangan berkurang.
Rosh berbalik kepada kami.
“Aku ingin kalian pergi sekarang.”
Walaupun telah memperkirakan keputusan itu, sesuatu tetap jatuh di dalam dadaku.
“Gunakan pintu belakang. Lewati kebun dan ikuti aliran sungai sampai keluar dari desa. Jangan melewati jembatan atau alun-alun.”
Aku melihat ke arah kamar Ishar.
“Ishar—”
“Tidak.”
Rosh menghentikanku sebelum aku selesai.
“Aku tidak akan menyerahkan kalian kepada pasukan Dann. Kalian menolong cucuku, dan aku masih menghormati Raja Jerrod. Aku akan menganggap kalian tidak pernah datang ke rumah ini.”
Marlow mengangguk.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih kepadaku.”
Rosh menatap kami dengan dingin.
“Dann mungkin berbohong tentang kematian rajaku. Ia mungkin mencuri takhta dengan darah. Namun apa yang kalian lakukan di Mitenn Highroad tetap nyata.”
Tatapannya berhenti padaku.
“Di hadapan Jessiah, kalian tetap pendosa.”
Marlow tidak membantah. Ia mengambil pedang dari dekat tas dan memasangnya di pinggang. Barang-barang kami hampir seluruhnya sudah dikemas sejak pagi, sehingga hanya sedikit yang perlu dibereskan. Selimut, batu api, pakaian, kantong air, dan sisa makanan masuk kembali ke dalam tas. Marlow tidak mengambil apa pun yang bukan milik kami.
Aku kembali ke ujung lorong dan berdiri di depan kamar Ishar.
“Ishar.”
Tidak ada jawaban.
Aku meletakkan telapak tangan pada pintu.
“Apa yang mereka katakan tentang raja adalah kebohongan. Dann membunuhnya.”
Pintu itu tetap diam.
“Tapi soal Mitenn Highroad benar.”
Tenggorokanku mengencang.
“Aku kehilangan kendali...”
Dari dalam terdengar tarikan napas yang cepat. Ishar masih berada dekat pintu.
“Aku tidak ingin berbohong kepadamu. Aku hanya tidak bisa mengatakan siapa diriku kepada orang yang baru kukenal. Bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi karena siapa pun yang mengetahui namaku bisa berada dalam bahaya.”
Tidak ada jawaban.
Marlow telah berdiri di dekat pintu belakang.
“Kal.”
Aku masih menunggu beberapa detik.
“Ishar...maaf.”
Pintu itu tidak terbuka.
Aku kembali ke ruang utama, mengenakan jubah, lalu menyentuh kantung tempat koin perak tersimpan. Rosh menunggu dekat pintu belakang dengan wajah yang tampak jauh lebih tua daripada saat kami datang semalam.
“Aliran sungai bercabang setelah hutan kecil,” katanya kepada Marlow. “Ambil sisi kanan. Jalur kiri akan membawa kalian ke lahan keluarga Mellar.”
Marlow mengangguk.
Ketika melewati Rosh, aku berhenti.
“Maaf karena membawa semua ini ke rumahmu.”
Ia menatapku cukup lama. Aku tidak tahu apakah ia masih melihat putra dari raja yang dihormatinya atau hanya seorang pemuda yang telah mencemari jalan sucinya.
“Jangan biarkan kebohongan Dann menjadi kebenaran tentang dirimu,” katanya.
Aku menundukkan kepala.
Marlow membuka pintu belakang. Udara pagi masuk bersama bau tanah, rumput, dan kayu yang baru dipotong. Tumpukan kayu bakar tersusun rapi dekat pagar. Atap belakang telah ditutup dengan sirap baru, hasil pekerjaan yang semula dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih sebelum semuanya berubah.
Aku menoleh untuk terakhir kalinya ke arah lorong.
Pintu kamar Ishar masih tertutup. Marlow melangkah keluar. Aku mengikutinya melewati ambang pintu, lalu Rosh menutupnya perlahan di belakang kami.
Kait dipasang dari dalam, dan kami meninggalkan rumah Danmer melalui kebun belakang.