Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Setiap malam setelah Kian tertidur, Nadia kembali duduk di depan meja kerjanya. Pensil dan buku sketsa menjadi teman setianya. Ia menggambar berbagai desain busana muslim dengan penuh ketelitian, sesekali memperbaiki detail yang menurutnya masih kurang sempurna. Semangatnya justru semakin besar karena kini ia memiliki modal untuk mewujudkan ide-ide yang selama ini hanya tersimpan di dalam kepalanya.
Dalam hati, Nadia selalu mengingat satu prinsip yang ia pegang erat. Ia bersyukur atas setiap pintu rezeki yang Allah bukakan, tetapi ia juga percaya bahwa rezeki terbaik adalah yang mampu membangun masa depan. Karena itulah, setiap langkah yang ia ambil hari ini selalu diarahkan untuk mendekatkannya pada satu impian besar: melihat namanya tertera pada sebuah label busana hasil karyanya sendiri.
***
Menjelang sore, Dila berpamitan pulang dari rumah Nadia. Seperti biasa, ia masih sempat melambaikan tangan kepada Kian sebelum mengendarai motornya meninggalkan gang kontrakan. Perasaannya begitu ringan. Ia ikut bahagia melihat kehidupan sahabatnya yang perlahan mulai membaik.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ketika melewati sebuah jalan yang tidak terlalu ramai, Dila menyadari ada dua pria tak dikenal yang memperhatikannya dari pinggir jalan. Awalnya ia tidak menaruh curiga dan terus melaju dengan kecepatan sedang.
Beberapa ratus meter kemudian, sebuah sepeda motor melaju dari arah belakang dan memepet kendaraannya. Dila refleks menghindar. Belum sempat ia menenangkan diri, dari arah berlawanan sebuah mobil melaju cukup kencang. Situasinya terjadi begitu cepat.
Dila membanting setang motornya agar tidak bertabrakan langsung dengan kendaraan di depannya. Ban motornya kehilangan keseimbangan. Bruk! Tubuh Dila terlempar ke aspal. Motornya terseret beberapa meter hingga berhenti di tepi jalan.
Orang-orang yang berada di sekitar lokasi langsung berlari memberikan pertolongan. Sementara itu, dua pria yang sebelumnya terlihat berada di sekitar jalan tersebut justru menghilang sebelum sempat dikenali.
Dila masih sadar, tetapi kepalanya terasa berputar hebat. Lutut dan lengannya dipenuhi luka lecet, sementara bahunya terasa sangat nyeri setiap kali digerakkan. Seseorang segera menghubungi ambulans.
Tak lama kemudian, Dila dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Di ruang instalasi gawat darurat, dokter segera melakukan pemeriksaan menyeluruh. Syukurlah, hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada cedera yang mengancam nyawa. Meski demikian, Dila mengalami benturan cukup keras pada bahu dan kepala sehingga dokter memutuskan ia harus menjalani observasi serta perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, kabar kecelakaan tersebut segera sampai ke telinga Nadia. Tanpa membuang waktu, Nadia langsung bergegas menuju rumah sakit dengan wajah pucat. Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Apakah itu benar-benar kecelakaan biasa? Atau ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Dila?
Pertanyaan itu terus menghantui benaknya, terlebih mengingat begitu banyak masalah yang baru saja mereka hadapi dalam beberapa minggu terakhir.
Di rumah sakit, setelah memastikan kondisi Dila mulai membaik, Nadia keluar dari ruang perawatan. Di lorong yang mulai sepi, ia berpapasan dengan Bima, suami Dila, yang sejak tadi mengurus berbagai keperluan administrasi.
Wajah Bima tampak lelah. Namun, ia tetap menyapa Nadia dengan sopan. "Nadia, boleh saya bicara sebentar?" Bima menarik napas panjang sebelum akhirnya menyampaikan isi hatinya. "Maaf, Nad. Bukan saya tidak bersimpati dengan keadaan kamu dan Kian. Saya dan Dila benar-benar peduli sama kalian. Bahkan saya tahu, selama ini Dila datang ke rumahmu karena dia tulus ingin menemani kamu." Ia menundukkan kepala sejenak. "Tapi... Dila juga sedang hamil."
Kalimat itu membuat Nadia semakin merasa tidak enak.
"Kehamilan ini sudah lima tahun kami tunggu. Kami sudah melewati banyak kekecewaan sebelum akhirnya Allah menitipkan anak ini." Suara Bima terdengar lirih. "Dokter meminta Dila lebih banyak istirahat dan mengurangi aktivitas yang melelahkan. Tapi Dila susah sekali dinasihati. Begitu kamu telepon atau butuh ditemani, dia pasti langsung berangkat."
Nadia menggigit bibirnya.
"Sebenarnya kami sering berdebat karena ituu. Bukan karena saya tidak ingin dia membantu kamu. Saya hanya takut terjadi sesuatu pada istri dan anak saya." Bima mengembuskan napas panjang. "Hari ini, saat saya melihat dia terbaring di rumah sakit, saya benar-benar ketakutan."
Nadia menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah. "Aku... aku benar-benar minta maaf, Mas."
Bima segera menggeleng. "Ini bukan salah kamu. Saya tahu Dila datang atas kemauannya sendiri." Ia tersenyum tipis. "Yang saya minta cuma satu. Tolong, kalau memang tidak benar-benar mendesak, jangan biarkan Dila terlalu sering ikut mengurus masalahmu. Dia itu kalau sudah sayang sama seseorang, kadang lupa menjaga dirinya sendiri."
Air mata Nadia perlahan menggenang. Selama ini ia hanya melihat ketulusan Dila sebagai sahabat. Ia tidak pernah menyadari bahwa di balik semua perhatian itu, ada seorang suami yang diam-diam khawatir setiap kali istrinya pergi, bahkan harus beberapa kali berselisih paham karena Dila selalu memprioritaskan membantu Nadia. Saat itu juga, Nadia mengambil keputusan dalam hati. Ia tidak ingin lagi menjadi alasan yang membuat rumah tangga sahabatnya dipenuhi pertengkaran. Sebesar apa pun rasa syukurnya memiliki Dila, ia sadar bahwa kini ada seseorang yang jauh lebih berhak mendapatkan perhatian penuh dari sahabatnya: keluarga kecil yang telah lima tahun menanti kehadiran buah hati mereka.
Begitu diizinkan masuk ke ruang perawatan, Nadia langsung menghampiri ranjang Dila. Wajah sahabatnya masih tampak pucat, tetapi sudah bisa tersenyum melihat kedatangannya. Namun senyum Nadia justru menghilang. Ia menatap Dila dengan kesal sekaligus sedih. "Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau lagi hamil?"
Dila tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya. "Aku belum siap berbagi kebahagiaan saat kamu lagi sedih."
Nadia langsung menggeleng kuat. "Dila..."
"Aku takut setiap kali cerita soal kehamilan, kamu malah kepikiran. Waktu itu hidupmu lagi hancur-hancurnya. Aku nggak mau tanpa sengaja bikin kamu merasa sendirian. Makanya aku pilih diam."
Air mata Nadia akhirnya jatuh. "Kamu ini benar-benar... Kalau terjadi sesuatu pada keponakanku, kamu pikir aku nggak akan dihantui rasa bersalah!"
Dila tersenyum sambil menggenggam tangan sahabatnya. "Aku cuma pengin kamu bangkit dulu."
Nadia balas menggenggam tangan Dila lebih erat. "Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia, tau!" Suara Nadia bergetar. "Aku mungkin lagi punya banyak masalah, tapi bukan berarti aku nggak bisa ikut senang lihat sahabatku akhirnya hamil setelah lima tahun menunggu." Nadia mengusap air matanya sendiri sambil tersenyum. "Justru aku sedih karena kamu menanggung kebahagiaan sebesar ini sendirian."
Dila tertawa kecil di sela tangisnya. "Aku hanya nggak mau kamu jadi nggak enak hati nanti, Nad."
"Aku marah karena kamu nggak percaya kalau aku juga bisa ikut bahagia." Keduanya saling berpandangan, lalu tertawa pelan meski mata mereka sama-sama basah. Untuk sesaat, ruang perawatan itu dipenuhi haru.