Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah berjalan cukup jauh dan yakin tidak ada siapa pun yang mengikuti atau mengawasi mereka, Suci mengajak Samantha berhenti di sebuah taman kecil yang tidak terlalu ramai. Di tengah taman itu terdapat sebatang pohon besar yang rindang, memberikan tempat teduh yang tenang untuk duduk dan berbicara.
Keduanya duduk berdampingan di bangku kayu yang sudah agak lapuk karena usia. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, namun suasana di antara mereka terasa berat dan menyedihkan. Suci menundukkan wajahnya, kedua tangannya meremas ujung bajunya dengan erat, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka rahasia pahit yang selama ini ia pendam sendirian.
Samantha menatapnya dengan pandangan penuh keprihatinan, menunggu dengan sabar tanpa memaksa, membiarkan sahabatnya itu bercerita dengan kecepatannya sendiri.
Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, Suci pun mulai berbicara dengan suara yang masih terbata-bata dan diselingi isak tangis.
“Sam… sebenarnya aku sudah ingin menceritakan ini sejak lama, tapi aku malu dan takut. Aku tidak ingin kamu melihatku dalam keadaan seperti ini,” ucap Suci lirih, lalu melanjutkan ceritanya.
“Setelah Ayah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya bertahun-tahun, hidup kami langsung berubah drastis. Biaya pengobatan dan perawatan Ayah saat itu sangat besar. Seluruh tabungan yang kami miliki, bahkan toko kelontong besar warisan keluarga yang menjadi sumber penghidupan utama, semuanya habis terjual dan digunakan untuk membiayai pengobatannya. Namun takdir berkata lain, Ayah tetap pergi meninggalkan kami dalam keadaan sudah tidak punya apa-apa lagi.”
Suci menjeda sejenak, menyeka air matanya yang terus mengalir, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin terasa perih.
“Saat keadaan kami paling terpuruk, datanglah pria itu. Ia menawarkan pinjaman uang yang cukup besar kepada Ibu dengan alasan untuk menutupi sisa biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Ibu menerimanya dengan rasa sangat berterima kasih, karena saat itu kami tidak punya tempat lain untuk meminta bantuan. Namun lama-kelamaan, jumlah utang itu semakin membengkak karena bunga yang tinggi. Saat Ibu menyampaikan bahwa kami sudah tidak sanggup membayarnya lagi, pria itu mengajukan satu syarat: jika ingin menghapus seluruh utang, Ibu harus bersedia menikah dengannya.”
Samantha mendengarkan dengan saksama, hatinya terasa teriris mendengar kisah itu. Ia sudah bisa menebak ke mana arah cerita selanjutnya.
“Karena sudah tidak ada jalan keluar lain dan demi memastikan aku tetap bisa hidup layak, Ibu akhirnya menerima permintaannya. Namun semua itu ternyata adalah awal dari penderitaan kami. Begitu akad nikah selesai, sifat aslinya langsung terlihat. Pria itu ternyata orang yang pemarah, kasar, dan sangat gemar berjudi. Selama ini ia menghabiskan apa pun yang tersisa hanya untuk memuaskan kebiasaannya itu. Ketika uang habis, ia melampiaskan kekesalannya kepada kami. Sering memaki, membentak, bahkan tidak segan-segan mengangkat tangan untuk memukul aku dan Ibu. Ia juga melarang aku bekerja dengan alasan takut aku lari atau bergaul sembarangan, padahal tujuannya agar kami benar-benar bergantung padanya dan tidak bisa melawan sedikit pun.”
Setelah selesai bercerita, Suci menunduk dalam dan menangis tersedu-sedu, melepaskan segala beban yang selama ini membebani hatinya.
Mendengar seluruh penjelasan itu, hati Samantha terasa sangat sesak dan pilu. Matanya pun berkaca-kaca, dan rasa bersalah yang mendalam tiba-tiba menyelimuti dirinya. Ia merasa sangat menyesal telah pergi ke luar negeri begitu lama, sehingga tidak menyadari penderitaan yang sedang dialami sahabat karibnya itu. Ia merasa gagal menjadi teman yang baik karena membiarkan Suci menanggung semuanya sendirian selama bertahun-tahun.
“Ya Tuhan… Suci, maafkan aku,” ucap Samantha dengan suara bergetar. “Selama ini aku hidup tenang di luar negeri, tidak tahu menahu apa yang terjadi di sini, sedangkan kamu menanggung semua ini sendirian. Aku merasa sangat bersalah dan menyesal. Seharusnya aku ada di sisimu saat kamu paling membutuhkan teman dan tempat bercerita.”
Tanpa ragu lagi, Samantha segera merangkul tubuh Suci dan memeluknya erat, mencoba menyalurkan kekuatan dan ketenangan. Ia mengusap punggung sahabatnya itu perlahan, berusaha menghapus rasa takut dan kesepian yang ada di hatinya.
“Dengarkan aku baik-baik, Suci. Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi menanggung semuanya sendirian. Aku berjanji, aku tidak akan membiarkanmu dan Ibu terus tersiksa seperti ini. Aku akan membantu kalian melepaskan diri dari jerat pria jahat itu, apa pun caranya,” ucap Samantha dengan nada tegas namun lembut, penuh keyakinan.
Suci mengangkat wajahnya, menatap Samantha dengan pandangan penuh harapan yang mulai muncul kembali setelah sekian lama hilang. “Tapi Sam… bagaimana caranya? Kami tidak punya kekuasaan dan tidak punya uang. Ia pasti akan marah besar dan bertindak lebih kejam jika kami mencoba melawannya.”
Samantha menggeleng mantap, lalu menggenggam kedua tangan Suci erat-erat. “Tenang saja, aku ada di sini sekarang. Aku punya keluarga, mereka pasti akan membantu kamu dan tidak akan membiarkan dia terus berbuat semena-mena. Kita akan atur langkah demi langkah dengan cara yang benar dan aman. Percayalah padaku, Suci. Mulai hari ini, kalian tidak sendirian lagi.”
Di bawah naungan pohon itu, persahabatan mereka yang telah terjalin sejak masa kanak-kanak itu kini menjadi kekuatan baru yang siap mengubah nasib buruk yang menimpa Suci dan ibunya.
Mendengar janji dan ketegasan Samantha, beban berat yang selama ini menekan hati Suci seolah terangkat sebagian. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini bukan lagi air mata kesedihan semata, melainkan air mata rasa lega dan syukur. Ia membalas pelukan Samantha dengan erat, seolah mendapatkan kembali tempat berteduh yang selama ini hilang.
“Terima kasih, Sam… terima kasih banyak. Rasanya seperti ada cahaya yang masuk lagi ke dalam hidupku setelah sekian lama terasa gelap dan suram. Aku pikir tidak ada lagi yang peduli padaku, tapi ternyata kamu tetap ada di sisiku,” ucap Suci dengan suara parau namun sudah terdengar lebih tenang.
Samantha melepaskan pelukannya, lalu tersenyum lembut sambil mengusap sisa air mata di pipi sahabatnya itu. “Sudahlah, jangan katakan itu. Kita sudah bersahabat sejak kecil, kan? Tugas saling menjaga dan membantu itu memang sudah sepantasnya kita lakukan. Sekarang, lupakan sejenak semua kesedihan itu. Ayo, aku ajak kamu pergi untuk sedikit menghibur diri dan melupakan masalah sebentar.”
Suci mengangguk pelan, mengikuti langkah Samantha menuju mobil yang terparkir agak jauh dari taman itu. Begitu keduanya sudah duduk dan Samantha mulai melajukan kendaraannya, suasana di dalam mobil terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Saat melewati jalan raya yang ramai, Samantha membuka percakapan lagi dengan nada ceria, ingin membuat hati Suci semakin tenang.
“Ngomong-ngomong, Suci. Selama ini aku sudah memikirkan rencana untuk masa depanku di sini. Selama di luar negeri, aku sempat mengikuti kursus tata rias dan perawatan kecantikan. Aku sudah berniat ingin membuka usaha sendiri, yaitu sebuah salon kecantikan yang nyaman dan berkualitas,” jelas Samantha dengan semangat.
Suci menoleh menatapnya dengan pandangan penasaran, “Wah, itu ide yang bagus sekali, Sam. Kamu memang selalu pandai dalam hal-hal seperti itu.”
Samantha tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih hangat dan penuh harapan. “Nah, itulah sebabnya aku butuh orang yang bisa aku percaya sepenuhnya untuk membantuku. Aku ingin kamu menjadi asisten utamaku nanti di salon itu. Kamu akan membantuku mengurus pelanggan, mengatur jadwal, dan hal-hal lainnya. Nanti aku juga akan mendaftarkan mu ke kursus agar kemampuanmu bertambah. Bagaimana menurutmu?”
Mendengar penawaran itu, wajah Suci seketika bersinar cerah. Matanya terbelalak karena tak menyangka akan mendapatkan kesempatan sebaik itu. Rasa senang dan terima kasih yang mendalam memenuhi hatinya hingga membuat matanya kembali berkaca-kaca, kali ini karena kebahagiaan.
“Benarkah, Sam? Kamu benar-benar ingin mempekerjakan ku? Padahal aku belum punya pengalaman apa pun di bidang ini,” tanya Suci dengan nada tidak percaya.
“Tentu saja benar. Tidak masalah jika belum punya pengalaman, semuanya bisa dipelajari. Yang terpenting bagiku adalah kepercayaan dan kesungguhan hati. Aku tahu kamu orang yang rajin dan bisa diandalkan,” jawab Samantha meyakinkan.
Suci segera menggenggam tangan Samantha yang ada di atas kemudi dengan lembut namun erat. Senyum lebar terukir di wajahnya yang sudah lama tidak terlihat ceria seperti ini.
“Terima kasih… terima kasih banyak, Sam. Kamu tidak hanya ingin membantuku lepas dari penderitaan, tapi juga memberiku kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Aku janji akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakanmu,” ucapnya tulus dengan nada penuh rasa syukur.
Samantha hanya tersenyum puas melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Sudah, jangan berterima kasih terus. Kita jalani saja semuanya perlahan. Sekarang kita tuju dulu salon terbaik di kota ini. Hari ini waktunya kita memanjakan diri , agar kamu merasa lebih segar dan percaya diri lagi.”
Mobil terus melaju, membawa harapan baru yang mulai tumbuh di hati Suci, dan membuat langkah mereka menuju masa depan terasa lebih ringan dan penuh semangat.
Bersambung...