Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jalani saja
Begitu mereka berdua sampai di depan gerbang rumah Tiara, dugaan Arga terbukti. Ibu Tiara sudah berdiri di sana dengan ekspresi wajah perpaduan antara kesal dan khawatir.
"Tiara! Kamu dari mana saja?! Kenapa pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah?!" bentak ibunya langsung.
Arga melangkah maju ke depan Tiara. "Tenang, Nyonya. Dia dari tadi bersama saya untuk belajar banyak hal."
"Kamu lagi?! Belajar apa? Anak saya malah jadi pembangkang dan suka keluyuran setelah bertemu denganmu!"
Arga menghela napas pendek. "Jangan mengekang anakmu sendiri cuma karena dulu Anda pernah dikekang di masa lalu. Bukannya orang tua tidak boleh bersikap tegas kepada anak, tapi semua itu ada batasnya. Lagian nilai sekolahnya sekarang sudah membaik, kan? Dia juga kelihatan jauh lebih ceria. Tadi aku juga mengajarinya cara bekerja mencari uang, jadi tolong jangan berisik."
Dengan santai, Arga langsung berbalik badan untuk pergi. "Duluan ya. Dan sudah kubilang dari awal, jangan memprotes metode belajarku, Nyonya. Anda sendiri yang sudah menyetujui janji taruhan itu."
Ibu Tiara seketika bungkam, tidak tahu harus membalas apa lagi. Ia hanya bisa berdecak kesal lalu menatap putrinya. "Ayo masuk ke dalam. Ayahmu sebentar lagi pulang."
"Iya, Ibu..." jawab Tiara.
Meskipun sekilas tidak terlihat, Tiara bisa merasakan kalau sikap ibunya perlahan mulai sedikit melunak. Tampaknya kata-kata Arga tadi cukup mengusik pikirannya.
Sementara itu, Arga berjalan kaki tanpa arah tujuan yang jelas.
Pertemuannya dengan ibunya Darren tadi siang benar-benar membuat isi kepalanya menjadi campur aduk.
'Jadi, anak kecil tadi itu Darren?' Arga tersenyum getir.
Di kehidupan pertamanya dulu saat ia sudah berusia 36 tahun, ia sempat mencari tahu informasi tentang ibu kandungnya yang pergi begitu saja setelah menerima sejumlah uang dari keluarga Wijaya.
Ternyata, wanita itu telah menikah lagi dengan pria kaya dan memiliki beberapa anak.
Arga hanya merasa fakta itu sedikit mengecewakan. Apakah ibunya tidak pernah mengingat keberadaannya sama sekali?
"Yah, anak dari hubungan gelap kayak aku ini memang gak lebih dari sekadar sampah di mata mereka, kan? Gak ada yang spesial. Tapi aku juga gak punya niat untuk balas dendam. Kalau mereka mengganggu hidupku, akan kubalas. Tapi kalau mereka diam, aku juga akan tetap diam," gumam Arga pada dirinya sendiri.
Arga menatap langit yang kini sudah sepenuhnya gelap. "Aku akan menikmati kehidupan kedua ini dengan bebas dan tanpa beban. Sudah cukup aku merasakan pahitnya hidup di masa lalu, kali ini waktunya aku menikmati bagian yang enaknya saja. Tapi bahasaku barusan kayaknya agak berlebihan, wkwk."
Ia terus melangkah menyusuri trotoar jalan hingga langkah kakinya mendadak terhenti di dekat area parkiran sebuah hotel.
Di sudut remang-remang, ia melihat seorang wanita dengan pakaian minim sedang duduk bersimpuh di tanah sambil menangis terisak.
Arga berjalan mendekat. Entah kenapa, ia merasa kehidupan barunya ini selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sedang tertimpa masalah, dan ia seolah selalu ditarik untuk ikut terlibat.
"Apa kamu butuh tempat bersandar?" tanya Arga datar.
Wanita itu mendongak untuk melihat siapa yang berbicara.
Saat pandangan mereka bertemu, Arga sedikit terkejut, begitu juga dengan wanita tersebut yang langsung menghentikan tangisnya.
"Kamu...? Adiknya Reyhan...!" ucap wanita itu terbata-bata.
Arga tersenyum tipis. "Sepertinya pertemuan kedua kita ini kebetulan yang pas. Jadi, apa kamu masih butuh tempat bersandar?"