NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGEJAR KUCING ABU

Keiko kembali melanjutkan langkahnya. Matahari mulai menyisakan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan. Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun bambu hingga terdengar suara gemerisik yang menenangkan.

Tak lama kemudian rumah kayu peninggalan neneknya mulai terlihat dari balik pepohonan. Rumah itu berdiri tenang seperti biasa.

Di dalam rumah, setelah meletakkan tas di atas meja, ia mengambil cairan antiseptik dan beberapa lembar kasa. Begitu cairan bening itu menyentuh luka di tangannya, ia langsung meringis. "Ah...Perih banget"

Ia meniup pelan punggung tangannya sambil tertawa kecil pada diri sendiri. "awas aja lain kali nggak akan ku tolong"

Keiko terdiam, Beberapa detik kemudian ia mengembuskan napas sambil menggeleng. "Kayaknya tetap bakal ku tolong." Jawaban itu keluar begitu saja tanpa dipikirkan.

Ia sendiri baru menyadari betapa mudahnya ia berubah pikiran.

Setelah plester tipis sudah menutupi bekas cakarannya Ia membuka kulkas tua di sudut dapur. Isinya tidak banyak. Masih ada nasi sisa semalam, beberapa sayuran, telur, dan dua potong ikan yang dibelinya pagi tadi.

"Hm..."

Tak butuh waktu lama, aroma ikan panggang mulai memenuhi dapur kecil itu.

Keiko memasaknya sederhana, hanya dibumbui garam dan sedikit kecap. Aroma ikan yang dipanggang di atas wajan perlahan menyebar hingga ke ruang tengah.

Sambil menunggu matang, ia membuka jendela dapur.

Dari sana tampak hamparan pegunungan yang mengelilingi Tsukimori. Kabut tipis mulai turun perlahan, membuat puncak-puncak bukit terlihat samar.

"Indah..."gumamnya pelan Tak heran nenek selalu betah tinggal di desa ini. Beberapa menit kemudian makan siangnya selesai.

Keiko membawa sepiring nasi dan ikan panggang ke beranda depan. Ia duduk bersila di atas lantai kayu, menikmati semilir angin sore yang bertiup lembut.

Suasana desa begitu tenang.Tak ada suara klakson kendaraan, Tak ada deru mesin.

Hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok dari kejauhan dan tawa anak-anak yang sedang bermain di jalan desa.

Keiko mengambil sepotong ikan. Baru saja hendak menyuapkannya ke mulut., Gerbang bambu di depan rumah bergerak pelan.

Krekk...

Keiko spontan mengangkat kepala. Seekor kucing abu-abu melangkah santai memasuki halaman, Langkahnya ringan, Ekornya terangkat tinggi Seolah rumah itu memang bukan tempat asing baginya.

Keiko langsung mengenalinya. "Kamu lagi?"

Kucing itu berhenti sebentar.Sepasang mata keemasannya menatap Keiko tanpa berkedip. Lalu Ia kembali berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Keiko menatap bekas plester di tangannya Alisnya terangkat.

"Masih berani datang?" Ia meletakkan piring di lantai beranda "Hei."

Kucing itu tidak menoleh dia Tetap berjalan santai menuju halaman belakang. Keiko segera berdiri "Kamu dengar, kan?"

"Tunggu dulu."

Kucing itu tetap mengabaikannya Keiko menghela napas panjang "Dasar..."

Ia menuruni beranda sambil berjalan pelan. Awalnya ia hanya ingin mengusir kucing itu keluar halaman.

Namun begitu melihat si kucing terus berjalan tanpa rasa bersalah, entah kenapa rasa kesalnya kembali muncul.

"Aku belum selesai ngomel, tahu." Ia mempercepat langkah.

Jarak mereka kini tinggal beberapa meter. Kucing abu-abu itu akhirnya berhenti.

Keiko tersenyum tipis. "Nah...Gitu dong." Ia mengulurkan tangan perlahan. "Biar aku lihat wajahmu baik-baik."

Sesaat kemudian Kucing itu melirik sekilas ke arah tangan Keiko. Lalu, dengan gerakan ringan yang nyaris tak terdengar, ia melompat turun dari batu pijakan dan berlari menuju kebun belakang rumah.

"Lho!"

Keiko refleks mengejarnya.

"Hei..Tunggu dulu!" Tanpa sadar, langkahnya berubah menjadi lari kecil. Daun-daun kering beterbangan saat ia melewati kebun yang mulai dipenuhi rumput liar.

Sementara di depannya, kucing abu-abu itu berlari santai, tidak terlalu cepat, tetapi selalu berhasil menjaga jarak.

"Jangan lari!" seru Keiko sambil tertawa kesal "Kalau berani nyakar, ya berani tanggung jawab!"

Tentu saja Kucing itu tidak menggubrisnya sedikit pun.

Keiko terus mengejar hingga melewati kebun belakang. Semak-semak yang mulai meninggi bergoyang kasar setiap kali ia melangkah. Sesekali ujung roknya tersangkut ranting kering, memaksanya berhenti sejenak dengan napas memburu.

"Sebentar saja... diam dulu," pinta Keiko terengah-engah. "Aku tidak akan memukulmu."

Kucing abu-abu itu berhenti di bawah pohon kesemek. Kepalanya menoleh sedikit ke belakang, seolah memastikan Keiko masih berada dalam jangkauannya.

"Nah, begitu saja dari tadi," ujar Keiko, mencoba melunakkan suaranya. Ia mengangkat kedua tangan dengan gerakan pelan, berusaha tidak membuat pergerakan yang mengejutkan. "Kita damai, ya?"

Jarak mereka kini tinggal dua meter. Keiko merasa di atas angin, perlahan membungkukkan badan untuk mengulurkan tangan. Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh bulu abu-abu itu—*Hup!*—kucing itu melompat ringan ke atas tunggul kayu di sampingnya.

Keiko hanya bisa melongo. "Serius?"

Kucing itu tidak mengeong, tidak mendesis, hanya menatapnya datar sebelum melompat lagi ke arah batu besar di dekat sumur tua. Kejar-kejaran itu berulang sampai enam kali hingga Keiko benar-benar kehabisan napas. Ia membungkuk dengan tangan bertumpu pada lutut, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Kamu... cepat banget," lirihnya di sela napas yang tersengal.

Saat mendongak, kucing itu sudah duduk santai di atas pagar kayu yang membatasi kebun bambu. Ekornya menjuntai pelan, terlihat sangat tenang seolah tidak melakukan apa pun. Keiko mendekati pagar itu, menyandarkan siku di sana. Kini mereka hanya berjarak kurang dari satu meter.

"Kalau dipikir-pikir," gumam Keiko sambil menatap mata keemasan itu, "terima kasih juga sih. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak bakal sadar kalau ternyata aku masih sepenakut itu." Ia mengangkat tangan kanannya yang berplester. "Lihat, ini hasil kerja kerasmu. Perih, tahu."

Kucing itu memiringkan kepala. Tidak ada tanda penyesalan, hanya tatapan tenang yang membuat Keiko menghela napas pasrah.

"Aku masih kesal. Tapi... syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa."

Keiko terkejut sendiri dengan ucapannya. Ia baru sadar, sejak tadi ia bukan lagi mengejar kucing itu karena kesal dicakar, melainkan karena ingin memastikan nyawanya selamat.

Tanpa suara, kucing itu melompat turun dan berjalan menuju mangkuk tanah liat tua di dekat sumur—tempat nenek dulu biasa menampung air hujan. Setelah minum dengan tenang hingga tetesan air membasahi kumisnya, kucing itu melirik Keiko sekilas, lalu berjalan menuju gerbang bambu.

Sesaat sebelum menghilang, kucing itu berhenti dan mengibaskan ekornya pelan sebelum akhirnya benar-benar lenyap di balik pagar.

Keiko terpaku di tempatnya berdiri. "Dasar kucing aneh."

Meski mulutnya menggerutu, tanpa sadar ia berjalan menuju mangkuk tanah liat tadi, membuang air sisa, dan mengisinya dengan air baru dari sumur. Keiko meletakkannya kembali di posisi semula, namun baru beberapa langkah berjalan, ia berhenti mendadak.

Ia mengerutkan dahi. "Lho... kenapa aku malah ngisi air lagi?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin sore yang berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di halaman rumah tua itu, seolah jawaban atas pertanyaannya telah lama hilang ditelan waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!