NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 : Don Muda Adrian

Brak!

Suara tubuh seseorang menghantam lantai beton bergema di dalam sebuah gudang tua di pinggiran Kota Zurich, Swiss.

Pria bertubuh besar itu mengerang kesakitan. Darah mengalir dari sudut bibirnya setelah sebuah tendangan telak menghantam dadanya. Ia mencoba bangkit, tetapi lututnya kembali jatuh menyentuh lantai.

Di sekelilingnya, lebih dari tiga puluh pria berbadan kekar berdiri rapi. Sebagian mengenakan jas hitam, sebagian lagi memegang koper besi dan senjata api yang tetap mengarah ke bawah.

Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Tatapan mereka hanya tertuju ke satu sosok di ujung ruangan.

Seorang pemuda duduk dengan tenang di kursi kulit berwarna hitam. Jas yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kerutan. Rambut hitamnya tersisir ke belakang dengan beberapa helai jatuh di dahinya, membuat wajah tampannya terlihat semakin dingin.

Kedua matanya yang tajam memandang lurus ke arah pria yang berlutut. Tak ada amarah, kepanikan, hanya ketenangan yang justru terasa lebih mengerikan.

"Bangun." Suaranya pelan.

Namun seluruh ruangan langsung membeku.

Pria yang berlutut itu gemetar sambil berusaha berdiri. "Do... Don... saya bisa menjelaskan..."

Pemuda itu perlahan berdiri dari kursinya.

Langkah sepatunya bergema memenuhi gudang.

Tap... Tap... Tap...

Setiap langkahnya membuat jantung semua orang berdetak lebih cepat.

Ia berhenti tepat di depan pria itu. "Apa aturan pertama keluarga Moretti?"

Pria itu menelan ludah. "Kesetiaan..."

"Lanjutkan."

"Kesetiaan... adalah harga mati."

Pemuda itu mengangguk pelan. "Lalu kenapa kau menjual informasi kepada organisasi Dragovic?"

Wajah pria itu langsung pucat. "Saya... saya terpaksa. Mereka mengancam keluarga saya."

Beberapa anak buah mulai saling melirik. Semua orang tahu siapa organisasi Dragovic. Mereka adalah musuh terbesar keluarga Moretti selama bertahun-tahun. Memberikan informasi kepada mereka sama saja dengan mengundang kematian.

Pemuda itu menghela napas pendek. "Setiap pengkhianat selalu memiliki alasan." Ia berbalik. "Johan."

Seorang pria bertubuh tinggi dengan bekas luka di pelipis segera melangkah maju. "Ya, Don."

"Bawa istri dan anaknya ke rumah perlindungan."

Pria yang berlutut langsung menangis. "Terima kasih... Terima kasih, Don!"

"Tapi..."

Ucapan pemuda itu membuat harapan pria tersebut kembali runtuh.

"Dia tetap harus mempertanggungjawabkan pengkhianatannya."

Johan mengangguk. "Saya mengerti."

Dua orang segera menyeret pria itu keluar gudang. Teriakan memohon ampun terdengar semakin menjauh hingga akhirnya menghilang.

Ruangan kembali sunyi.

Pemuda itu menatap seluruh anak buahnya. "Aku tidak pernah melarang kalian takut. Tapi jangan pernah menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk mengkhianati keluarga."

Semua orang langsung menundukkan kepala.

"Siap, Don!" Suara mereka bergema bersamaan.

Pemuda itu kembali duduk. Di atas meja kayu di depannya terdapat beberapa map rahasia, laptop, dan segelas kopi yang bahkan belum sempat disentuh.

Namanya adalah Adrian Moretti. Usianya baru dua puluh tiga tahun. Namun namanya telah menjadi mimpi buruk bagi banyak organisasi kriminal di Eropa.

Tidak hanya memimpin keluarga Moretti, Adrian juga mengendalikan jaringan keamanan rahasia yang melindungi aset-aset milik para pengusaha, kolektor, dan tokoh berpengaruh. Banyak orang kaya mempercayakan penyimpanan benda-benda berharga dan senjata koleksi mereka kepada keluarga Moretti karena reputasi mereka yang selalu menepati janji.

Bagi dunia luar, keluarga Moretti hanyalah perusahaan keamanan internasional. Namun bagi dunia bawah, nama Moretti adalah simbol kekuasaan.

Pintu gudang kembali terbuka.

Johan masuk sambil membawa sebuah tablet. "Don."

"Ada apa?"

"Kondisi di Jenewa sudah aman. Barang milik Tuan Bernard berhasil dipindahkan tanpa hambatan."

Adrian menerima tablet itu. Ia membaca laporan tersebut selama beberapa detik sebelum mengangguk puas. "Bagus."

"Bagaimana dengan wilayah Basel?"

"Masih terkendali."

"Dan Dragovic?"

Johan menghela napas. "Mereka mulai bergerak lagi."

Tatapan Adrian berubah tajam. "Aku sudah menduganya."

"Menurut informasi Luca, mereka sedang merekrut banyak orang baru."

Adrian tersenyum tipis. "Kalau begitu... biarkan mereka merasa menang lebih dulu."

Johan mengangguk. Ia sudah memahami cara berpikir Don mudanya. Adrian bukan tipe pemimpin yang terburu-buru. Ia lebih suka menunggu hingga lawannya lengah sebelum memberikan serangan yang tidak bisa dibalas.

Itulah alasan mengapa, meski usianya masih sangat muda, seluruh organisasi tetap menghormatinya. Tak lama kemudian, Adrian berjalan menuju jendela besar di sisi gudang.

Dari sana terlihat lampu-lampu Kota Zürich yang berkilauan di bawah langit malam. Kota itu tampak damai. Padahal di balik kemegahannya, banyak organisasi kriminal saling berebut kekuasaan. Dan keluarga Moretti berdiri di puncaknya.

Johan menghampiri. "Don."

"Hm?"

"Hari ini tepat delapan tahun sejak Tuan Leonardo menemukan Anda."

Kini tatapan Adrian berubah. Lebih dalam dan sunyi. Delapan tahun, rasanya seperti baru kemarin. Saat itu... ia hanyalah seorang anak berusia lima belas tahun yang bahkan tidak memiliki tempat untuk pulang.

Setiap hari ia bekerja serabutan demi bisa makan. Namun semua orang selalu memandang rendah dirinya. Ia sering dipukul oleh anak-anak yang lebih tua, uangnya dirampas.

Bahkan para penagih hutang yang bekerja untuk rentenir setempat kerap menjadikannya pelampiasan amarah hanya karena ayah kandung Adrian pernah memiliki hutang yang tak mampu dilunasi.

Malam itu hujan turun sangat deras. Adrian yang baru pulang bekerja dicegat di sebuah gang sempit.

"Lihat siapa yang datang." Beberapa pria tertawa mengejek. "Anak miskin, sampah. Mau lari ke mana sekarang?"

Tanpa banyak bicara, mereka langsung memukulinya. Adrian berusaha melawan. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Pukulan demi pukulan menghantam wajah dan tubuhnya.

Tak lama kemudian, tubuhnya tergeletak di pinggir jalan dengan wajah penuh darah. Dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran. Ia mendengar suara pintu mobil terbuka.

Sepasang sepatu kulit hitam berhenti tepat di depannya. Adrian membuka matanya perlahan. Seorang pria tua berjas hitam sedang menatapnya. Tatapan pria itu begitu tajam, tetapi anehnya tidak dipenuhi rasa meremehkan seperti orang-orang lain.

"Apa kau ingin terus menjadi korban?"

Adrian tidak menjawab.

"Aku bertanya sekali lagi."

Pria itu berjongkok. "Apa kau ingin bangkit... dan membuat mereka menyesali semuanya?"

Kali ini baru ada seseorang yang menawarkan harapan. Bukan belas kasihan, melainkan kesempatan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Adrian mengangguk pelan.

Pria tua itu tersenyum tipis. "Mulai hari ini, kau ikut denganku."

Namanya adalah Leonardo Moretti, Don keluarga Moretti. Pria yang kemudian mengubah seluruh jalan hidup Adrian. Lamunan Adrian buyar ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nama yang muncul di layar... Leonardo Moretti.

Senyum tipis akhirnya menghiasi wajahnya. "Selamat malam, Ayah."

"Bagaimana keadaanmu, Adrian?"

"Semuanya terkendali."

"Aku sudah mendengarnya." Suara Leonardo terdengar hangat. "Kau semakin mirip denganku."

Adrian terkekeh pelan. "Itu pujian atau peringatan?"

"Keduanya."

Leonardo tertawa kecil. "Lupakan pekerjaanmu malam ini. Datanglah ke mansion. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

"Sesuatu yang penting?"

"Sangat penting."

Sambungan telepon pun berakhir. Adrian menatap layar ponselnya beberapa saat.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!