Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran kecil dalam rumah tangga
Mendengar ucapan tiba-tiba suaminya, Aza langsung terdiam, tatapannya berubah kosong. Merunduk dengan kedua tangan gemetar di atas pangkuan.
"Aku gamau, mas." lirih Azalea, merunduk dalam.
Mendengar penolakan istrinya, Ramdan langsung kesal. Pria itu lantas menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur.
"Kamu ini, Za. Mas bilangin gini demi kebaikanmu tau." ucapnya disela memalingkan muka.
Sementara Aza. Wanita itu langsung terdiam. Matanya yang semula penuh binar langsung berkaca-kaca. Bagi Ramdan, ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Tapi tidak bagi Aza yang sudah berusaha mati-matian untuk memberikan suaminya keturunan.
Dari minum jamu tradisional, sampe cek kandungan 3 kali seminggu, minum obat kesuburan sampai ia muntah darah karena kelebihan dosis. Apa Ramdan tau? Tentu tidak. Aza tidak mungkin mau terlihat menyedihkan di depan suaminya. Semua sikap lembut dan manjanya hanya topeng untuk menutupi kesedihannya selama ini.
"Aku pasti bisa memberikan mu anak, mas." lirih Azalea dengan bibir gemetar.
Ramdan lirik malas Aza, kembali memalingkan pandangannya ke arah lain, "Padahal mas ga maksa kamu ngasi keturunan lho, mas cuma pengen rumah ini ada isinya. Tapi reaksimu bikin mas kesel."
Mendengar itu Aza sontak berdiri. Menatap nanar suaminya yang begitu enteng mengucapkan kata itu tanpa melihat pengorbanannya selama ini.
"Mass....! Aku bukannya tidak mau mengadopsi anak! Tapi kata dokter rahimku subur! Aku aman! Haid ku juga rutin! Tapi aku gatau kenapa aku gabisa hamil, mas! Mungkin saja punyamu yang—"
Azalea melotot setelah tak sengaja mengucapkan kata-kata itu. Ramdan yang tau arah potongan kalimat itu kemana lantas menoleh. Menatap istrinya dengan kening mengerut liar. Pria itu segera bangkit, duduk menghadap istrinya yang terdiam sambil menutup mulutnya syok.
"Apa kamu bilang, Za?" lirih Ramdan, suaranya memang rendah, tapi tidak dengan reaksi wajahnya yang tampak sangat marah.
Aza sontak menggeleng, air matanya jatuh, buru-buru mendekat ke arah Ramdan, memeluknya erat, "Ma-maafkan aku, mas. Aku tidak bermaksud—"
"Kau kira aku yang mandul? Begitu maksudmu?"
Azalea menggeleng di dekapan Ramdan. Sementara pria itu kini sedang meradang. Selama 3 tahun pacaran dan 2 tahun menikah, baru kali ini ia mendengar kata-kata menyebalkan dari Aza. Dan itu semakin mengusik ketenangannya.
Ramdan lantas mendorong tubuh Aza dari pelukannya hingga wanita itu tersentak, menjatuhkan tubuh Azalea ke samping. Lalu bangkit dari ranjang.
Ramdan lantas menoleh ke bawah tepat di manik mata istrinya dengan tatapan sengit.
"Aku tidak menyangka kamu berani mengucapkan kata-kata buruk itu kepadaku, Za. Selama ini aku selalu membelamu, menyayangimu, dan memenuhi semua keinginanmu, tapi kamu?! Berani menuduhku?! Meng-cap aku mandul padahal di garis keturunan keluargaku tidak ada yang mandul?"
Azalea menggeleng kuat, terisak dengan tubuh kecilnya yang gemetar. Ia sontak turun dari ranjang, merangkak ke hadapan Ramdan, memeluk erat kaki pria itu sembari meminta maaf atas kesalahannya.
"Maafkan aku, mas! Aku mohon maafkan aku! Aku tau aku salah! Tapi apa salahnya kita cek ke rumah sakit, mas. Bukan hanya aku, tapi kamu juga. Biar semuanya jelas." mohon Aza, semakin membuat kepala Ramdan meradang.
Udah tadi di rumah ibunya ia di pojokan, sekarang di rumah juga di pojokan. Belum lagi di tempat kerja tuntutan sana sini, kepalanya bisa meledak jika tidak ia tahan.
"Lepaskan aku, Aza." lirih Ramdan masih dengan suara lembut. Namun tidak dengan wajahnya yang sudah memerah, bahkan tangannya mengepal di samping tubuh.
Aza menggeleng dibawah kaki Ramdan, menangis sejadi-jadinya dan menyesali ucapannya yang terlampau keterlaluan itu.
"Maafkan aku, mas! Aku mohon jangan emosi, kamu bikin aku takut, mas. Kamu tau aku dulu suka disiksa ayah dan juga ibu. Cuma kamu sandaranku satu-satunya mas, aku mohon mas." isak Aza gemetar.
Ramdan merasakan dengan jelas bagaimana gemetar tubuh Aza di kakinya. Namun maaf dari istrinya tak mampu menghapus kekesalan yang meradang di dalam hati.
"Kubilang lepaskan!"
Ramdan tarik kakinya paksa dari hadapan Aza, hingga tubuh ringkih sang istri terjerembab ke depan. Berjalan menuju pintu keluar demi tidak melampiaskan emosinya pada istrinya itu.
"Mas! Aku mohon maafkan aku mas!" seru Aza meringkuk di samping ranjang, menatap punggung suaminya yang menjauh itu dengan tangis yang menyayat.
BRAKK!!
Pintu kamar Ramdan banting sedemikian rupa hingga tubuh Aza mengejang hebat, terduduk lemah di atas lantai yang dingin. Setiap mendengar hentakan benda yang keras, dada Aza langsung sesak. Kilas balik ingatan masa lalu dimana ayahnya juga melakukan hal sama pada ibunya membuat seluruh tubuh Aza gemetar.
Wanita itu langsung meringkuk, memeluk lututnya bersandar pada ranjang, menutup telinganya kuat-kuat.
*
BRAKKK!!
"Dasar wanita bodoh! Mencuci bajuku saja tidak becus!"
"Halahh! Kau minta aku mencuci dengan becus! Memangnya kau kasi aku apa?! Kerjaan judi dan main wanita. Kau fikir aku bodoh!"
"Melawan kamu?!"
"IYA! Kenapa memangnya!? Lelaki bajingan seperti kamu memang—"
BUGHHH!!
Hantaman kuat melesat di pipi Bu Nana, membuat Aza kecil itu gemetar hebat dibalik pintu yang terbuka sedikit. Dimana hanya bola mata Aza yang terlihat dari dalam.
Disana, ia melihat bagaimana ayahnya menghajar ibunya membabi buta. Boneka kelinci di pelukannya langsung luruh. Ia terduduk dengan nafas tersengal. Dadanya gemetar hebat, air matanya luruh dengan mata bulatnya yang terus melotot. Menyaksikan adegan tragis kekerasan di depannya.
Semenjak kejadian itu. Aza yang baru berusia 7 tahun kerap mengalami sesak nafas setiap mendengar gebrakan meja atau pintu. Bahkan lentingan karet yang menjepret tubuh teman yang dibully masa SMP, langsung membuat bahunya terjingkit.
*
"Tidak, aku mohon....Jangan lakukan ini padaku, mas." rintih Aza gemetar, menangis bisu, menutup telinganya kuat-kuat.
Ia tak mengira, Ramdan yang tidak pernah memperlakukannya kasar, sekarang berani menggebrak pintu. Namun Aza yang dasarnya cinta buta, menganggap itu pelampiasan Ramdan agar tidak menyakiti dirinya.
"Iya, Mas Ramdan pasti gabisa ngelampiasin emosi ke aku, makannya dia lampiasin ke pintu." rintihnya gemetar.
Setelah sekian lama meringkuk menenangkan diri. Aza mulai bangkit dengan sisa-sisa getaran tubuh yang menggila. Ia berjalan sedikit oyong menuju pintu, melongok ke luar untuk mengecek dimana suaminya.
Namun ternyata kosong, ia tertegun. Lantas berjalan cepat menuruni tangga ke bawah, mengecek ruangan di dalam rumah satu persatu.
"Mass..." panggilnya.
Namun nihil, ia sama sekali tak menemukan keberadaan Ramdan di dalam rumah. Tubuh Aza langsung ambruk, terduduk di atas lantai yang dingin menusuk, menangisi dirinya sekaligus apa yang terjadi di dalam rumah tangganya.
"Mas aku mohon maafkan aku."
Sementara Ramdan yang emosi pada Aza langsung keluar dari rumah. Ia bawa mobilnya menyusuri jalan, berniat ke suatu bar tempat rekomendasi teman kantornya 1 bulan lalu.
*
"Bro, ayolah.... nongkrong-nongkrong. Kamu terlalu lurus jadi laki-laki." bisik teman baik Ramdan, Gian.
Ramdan yang fokus mengetik di depan komputer itu tak menggubris.
"Istriku gasuka aku ke bar." singkat pria itu.
Gian berdecak kecil. Lantas menyandarkan punggungnya pada kursi sembari menatap ke arah Ramdan yang begitu fokus dan berdedikasi pada kerjaannya.
"Meski disana ada Mia?"