NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23: Bayangan Hitam dari Masa Lalu: Pertemuan dengan Lin

Kedamaian yang baru saja mekar di dalam mansion mewah keluarga Oliver terasa begitu sempurna setelah akhir pekan yang dipenuhi tawa.

 Sup ikan mas segar, gelembung air yang membuat Yoyo tertidur lelap, dan deklarasi mutlak Oliver di dapur hari itu seolah telah menghapus sisa-sisa kabut kelam di dalam jiwa Viona.

Di bawah perlindungan sang tirani dingin, Viona akhirnya merasakan arti sesungguhnya dari memiliki sebuah "rumah".

Namun, takdir tidak pernah membiarkan sebuah kebahagiaan tumbuh tanpa ujian.

Terkadang, sebelum lembaran baru benar-benar bersih, bayangan hitam dari masa lalu harus dihadapi dan dihancurkan terlebih dahulu hingga ke akarnya.

Senin siang yang terik, Viona memutuskan untuk memanfaatkan mobil SUV barunya.

Didampingi oleh dua pengawal tegap kepercayaan Oliver yang mengiringi dengan mobil lain di belakang, Viona pergi ke distrik perbelanjaan pusat kota untuk membelikan beberapa buku gambar baru dan mainan edukatif untuk Yoyo.

Terapi mandiri yang disarankan Dr. Elena berjalan dengan sangat baik; Viona kini bisa melangkah di tengah keramaian pusat perbelanjaan tanpa rasa cemas yang berarti.

Setelah menyelesaikan belanjanya, Viona melangkah keluar dari lobi mall menuju area kafe semi-terbuka di dekat lobi penjemputan.

Udara siang itu cukup menyengat, membuat segelas es teh lemon terdengar sangat menggoda sebelum ia menempuh perjalanan pulang ke mansion.

Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju meja kosong di sudut kafe, sebuah suara yang sangat familiar—suara yang dulu sering menghiasi mimpi buruknya selama tiga tahun pernikahan yang menyiksa—memanggil namanya dari arah belakang.

"Viona? Apakah itu benar-benar kau?"

Tubuh Viona seketika menegang sempurna. Langkah kakinya terpaku di atas lantai marmer.

Gelas kertas di tangannya sedikit meremas akibat refleks cengkeraman jemarinya yang mendadak mendingin.

 Suara itu begitu serak, agak tidak teratur, dan membawa resonansi trauma masa lalu yang begitu pekat.

Itu adalah suara mantan suaminya: Adrian Lin.

Viona menarik napas panjang, mencoba menguasai dadanya yang mendadak bergemuruh.

Mengingat semua sesi terapinya dengan Dr. Elena dan janji perlindungan dari Oliver, Viona membalikkan tubuhnya perlahan, menegakkan punggungnya dengan sisa-sisa keberanian terbaiknya.

Ketika ia berhadapan dengan sosok itu, Viona hampir tidak mengenali pria di depannya.

Adrian Lin yang dulu selalu tampil angkuh, mengenakan setelan jas desainer mahal, dan memandang rendah dirinya dengan dagu terangkat, kini tampak sangat mengenaskan.

Pasca-runtuhnya dinasti bisnis keluarga Lin akibat hantaman mutlak dari Oliver Group beberapa minggu lalu, Adrian tampak kehilangan segalanya.

Pria itu mengenakan kemeja kusut yang tidak disetrika dengan baik, wajahnya dipenuhi jambang tipis yang tidak terawat, dan gurat-gurat stres serta lingkaran hitam yang sangat tebal membayang di bawah matanya.

Aura aristokrat tiruan yang dulu ia banggakan telah menguap, menyisakan seorang pria pecundang yang tampak frustrasi oleh kenyataan hidup.

"Rupanya benar itu kau," desis Adrian,

matanya yang kemerahan menatap Viona dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tatapannya dipenuhi oleh campuran rasa tidak percaya, kemarahan, dan rasa iri yang sangat pekat.

Ia melihat bagaimana mantan istrinya—wanita yang dulu ia perlakukan bagaikan sampah di keluarga Lin, yang selalu mengenakan baju-baju sisa dan menunduk ketakutan—kini berdiri di hadapannya dengan sangat anggun.

Viona mengenakan blus rajut berwarna krem berkelas, membawa tas tangan dari merek ternama, dan yang paling memukul harga diri Adrian:

wanita itu memancarkan aura ketenangan dan kecantikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Hebat sekali kau sekarang, Viona,"

ucap Adrian dengan nada sinis yang bergetar.

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, namun langkahnya langsung terhenti ketika melihat dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam khas pengawal Oliver Group bersiap melangkah maju dari arah belakang Viona.

Adrian mendengus kasar, menyadari siapa pemilik para pengawal itu.

"Jadi, desas-desus itu benar? Kau menjual dirimu pada Oliver? Pria berdarah dingin yang telah menghancurkan keluargaku?!"

Mendengar kata-kata "menjual dirimu", dada Viona sempat berdenyut nyeri oleh sisa-sisa luka lama.

Namun, kali ini, benteng mentalnya jauh lebih kokoh. Ia menatap Adrian dengan mata jernihnya yang kini dingin tak tersentuh, tanpa ada setitik pun rasa takut yang dulu biasa mendominasi dirinya.

"Jaga bicaramu, Adrian,"

ucap Viona, suaranya terdengar sangat tenang, tegas, dan membawa wibawa yang secara tidak sadar ia serap dari Oliver.

"Keluargamu hancur karena keserakahan dan cara-cara kotor kalian sendiri dalam berbisnis. Jangan melimpahkan kesalahan itu pada orang lain, apalagi pada Oliver."

"Oliver?!"

Adrian tertawa hambar, suara tawanya terdengar gila di tengah keramaian kafe.

"Kau memanggilnya dengan nama depannya sekarang? Begitu cepat kau melupakan posisimu, Viona! Kau hanya seorang wanita mandul, sampah buangan yang tidak diinginkan oleh siapa pun! Dan sekarang kau berlagak menjadi nyonya besar di mansion mewah itu? Kau pikir Oliver benar-benar menginginkanmu? Dia hanya memanfaatkanmu sebagai alat, persis seperti apa yang kami lakukan dulu!"

Adrian melangkah maju lagi dengan emosi yang meledak, mengabaikan peringatan dari para pengawal.

"Kau tahu kenapa keluargaku dihancurkan olehnya? Karena dia ingin merebut sisa-sisa harga diri kami! Dan kau... kau hanyalah piala murah yang dia pajang untuk mengejek kekalahanku!"

Kata-kata kasar dan hinaan Adrian mulai menarik perhatian beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka.

Beberapa orang mulai berbisik-bisik, dan situasi menjadi semakin tidak nyaman.

Namun, sebelum dua pengawal Viona sempat bertindak untuk mengusir Adrian secara paksa, sebuah aura dingin yang teramat pekat dan mencekam mendadak menyelimuti area kafe tersebut.

Keheningan yang intimidatif seketika merayap, membuat bulu kuduk siapa pun yang berada di sana berdiri.

Dari arah lobi penjemputan mall, sesosok pria bertubuh tegap, tinggi, dan sangat dominan melangkah lebar dengan wibawa seorang penguasa mutlak.

Oliver.

CEO muda itu rupanya baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis darurat di gedung seberang dan berniat menjemput Viona sendiri setelah menerima laporan dari pengawalnya.

 Ia masih mengenakan setelan jas formal hitam bintang limanya yang sangat rapi.

Sepasang mata elangnya berkilat tajam bagaikan pisau es, langsung mengunci sosok Adrian Lin yang sedang berdiri di depan wanitanya.

Langkah kaki Oliver yang tegap berbunyi mantap di atas lantai marmer, memotong jarak di antara mereka dalam hitungan detik.

Tanpa banyak bicara, Oliver menyusupkan satu lengan kokohnya di sekitar pinggang ramping Viona, menarik tubuh wanita itu dengan sangat posesif ke dalam perlindungan sisi tubuh bidangnya.

"Deg."

Viona mendongak, menatap profil samping wajah tegap Oliver yang kini mengeras sempurna karena kemarahan yang tertahan.

Kehadiran Oliver yang tiba-tiba bagaikan runtuhnya pelindung baja yang instan bagi jiwanya.

 Rasa tidak nyaman akibat hinaan Adrian menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang mutlak.

"Oliver..." bisik Viona pelan.

Oliver tidak menjawab dengan kata-kata untuk Viona, ia hanya memberikan satu remasan hangat pada pinggang wanita itu seolah sedang berkata, “Aku di sini, kau aman.”

Pandangan dingin Oliver beralih sepenuhnya kepada Adrian Lin.

Sorot mata elang sang CEO begitu mengintimidasi, membuat Adrian yang semula berteriak gila seketika bungkam, tubuhnya bergetar ketakutan di bawah tekanan aura dominasi mutlak seorang Oliver.

"Adrian Lin,"

ucap Oliver dengan suara yang sangat rendah, berat, dan membawa getaran ancaman yang tidak main-main.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar bagaikan vonis mati bagi pendengarnya.

 "Sepertinya kehancuran bisnis keluargamu kemarin masih belum cukup untuk mengajarimu bagaimana cara menjaga lidah kotormu."

"O-Oliver..."

suara Adrian bergetar, ia mencoba menegakkan kepalanya namun gagal menghadapi intimidasi visual di depannya.

"Kau... kau hanya memajang wanita ini untuk mempermalukan aku! Dia—"

"Tutup mulutmu,"

potong Oliver dingin, suaranya tidak meninggi namun frekuensinya membuat atmosfer kafe terasa membeku.

Oliver melangkah satu langkah maju, membuat tubuh tegapnya menghalangi Viona sepenuhnya dari pandangan Adrian.

"Wanita yang sedang kau hina ini adalah Nyonya Oliver. Dia adalah pemilik sah dari mansionku, pelindung dari putriku, dan satu-satunya wanita yang memiliki hak penuh atas seluruh hidup dan perlindunganku."

Oliver menatap Adrian dengan pandangan merendahkan yang sangat menyiksa harga diri pria Lin itu.

"Kau menyebutnya sampah buangan? Kenyataannya adalah, kau dan keluargamu terlalu buta dan terlalu tidak berharga untuk menyadari permata yang pernah berada di genggamanmu. Kau mencampakkannya, dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu yang kini membuatmu berakhir mengenaskan di jalanan ini."

Oliver melirik ke arah sekretaris pribadinya yang baru saja tiba di belakangnya.

"Sekretaris, hubungi otoritas pengawasan kredit distrik. Aku ingin seluruh sisa aset pribadi Adrian Lin dan jaminan apartemen sewaan ibunya diperiksa kembali sore ini juga. Jika ada satu sen pun tunggakan atau ketidaksesuaian, sita semuanya tanpa penundaan."

Mendengar perintah kejam dan tak kenal ampun itu, wajah Adrian Lin berubah menjadi seputih kertas. Ia menyadari bahwa satu kalimat hinaannya kepada Viona hari ini telah berhasil merenggut sisa-sisa napas terakhir kehidupan finansial keluarganya yang sedang di ujung tanduk.

"Tidak... Oliver! Kau tidak bisa melakukan ini! Aku... aku hanya—"

Adrian memohon dengan suara yang kini pecah oleh kepanikan yang luar biasa.

"Aku bisa, dan aku baru saja melakukannya,"

sahut Oliver tanpa ekspresi. Ia berbalik, mengabaikan keberadaan Adrian sepenuhnya seolah pria itu hanyalah debu yang tidak penting.

Oliver merangkul bahu Viona dengan sangat lembut, membimbing wanita itu melangkah meninggalkan area kafe menuju mobil Rolls-Royce hitamnya yang sudah bersiap di depan lobi penjemputan.

 Dua pengawal tegap langsung berdiri menghalangi Adrian yang mencoba mengejar, mengusir pria pecundang itu kembali ke dalam kegelapan masa lalunya yang kini benar-benar hancur tanpa sisa.

Di dalam keheningan mobil Rolls-Royce yang bergerak membelah jalanan kota yang mulai diguyur rintik hujan sore, Viona duduk bersandar di kursi penumpang.

Tangannya masih sedikit dingin, namun kehangatan dari tangan Oliver yang kini sedang menggenggam erat jemarinya memberikan ketenangan yang luar biasa.

Oliver menyetir dengan satu tangan, sementara tangan sebelahnya terus mengusap pelan punggung tangan Viona, menyalurkan kehangatan instan yang menenangkan detak jantung wanita itu.

"Apakah kau baik-baik saja, Viona?"

tanya Oliver pelan, suaranya yang rendah dan berat kini dipenuhi oleh kecemasan yang tulus, sangat kontras dengan nada kejamnya kepada Adrian beberapa menit lalu.

 "Maafkan aku karena terlambat tiba di sana. Aku seharusnya tidak membiarkanmu berjalan di luar tanpa kehadiranku."

Viona menoleh, menatap profil samping wajah tampan Oliver yang kini tampak begitu khawatir.

Sebuah senyuman manis dan tulus perlahan terukir di bibirnya.

"Aku baik-baik saja, Oliver... sangat baik-baik saja,"

bisik Viona tulus. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada jemari kokoh Oliver.

 "Anehnya, saat melihat Adrian tadi... aku tidak merasakan ketakutan yang biasa menyiksaku. Hinaannya tidak lagi bisa melukaiku, karena di dalam kepalaku, aku tahu aku memiliki sebuah benteng yang jauh lebih kuat di rumah. Aku memiliki dirimu."

Oliver menghentikan mobilnya sejenak di lampu merah.

Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Viona.

Tangan besarnya naik, menangkup sisi wajah Viona dengan kelembutan yang sangat protektif, ibu jarinya menghapus setitik air mata sisa ketegangan yang sempat menggantung di sudut mata Viona.

"Kau tidak akan pernah perlu menghadapi bayangan hitam itu sendirian lagi, Viona,"

janji Oliver dengan nada rendah yang mutlak.

"Masa lalumu dengan bajingan itu telah berakhir hari ini. Mulai detik ini, setiap kali bayangan dari masa lalu mencoba datang melukaimu, aku yang akan berdiri di depanmu untuk menghancurkannya hingga tak bersisa. Kau adalah milikku, dan perlindunganku atas dirimu adalah sesuatu yang abadi."

Di bawah rintik hujan sore yang membasahi kaca mobil, Viona merasakan kedamaian yang teramat sempurna meresap ke dalam seluruh jiwanya.

Pertemuan dengan Lin hari ini bukan lagi sebuah pemicu serangan panik, melainkan sebuah babak penegasan mutlak:

bahwa bayangan hitam dari masa lalu telah hancur sepenuhnya di bawah kaki sang tirani dingin, dan kini, hidupnya telah seutuhnya aman di dalam dekapan cinta dan perlindungan abadi seorang Oliver.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!