Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Janji Jovian
Setelah menghabiskan waktu bersama, Jovian dan Jena akhirnya kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hangat. Tidak ada lagi kecanggungan atau rasa kesal seperti malam sebelumnya. Yang ada hanya tawa kecil, candaan ringan, dan sesekali tangan Jovian yang menggenggam tangan Jena saat lampu merah menghentikan laju mobilnya.
Bagi Jena, hari itu benar-benar menjadi pengobat dari rasa kecewa yang sempat memenuhi hatinya. Bukan karena Jovian membawanya ke tempat yang indah, tetapi karena pria itu hadir sepenuhnya untuknya.
Setibanya di apartemen, mereka masuk bersama. Jena langsung melepas sandal dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. "Capek?" tanya Jovian sambil mendekat.
Jena mengangguk kecil. "Sedikit. Tapi senang."
Jovian tersenyum. Ia duduk di samping Jena lalu mengusap rambut wanita itu pelan. "Kalau begitu misiku hari ini berhasil."
"Misi apa?"
"Membuat calon istriku tersenyum lagi."
Jena menatapnya dengan tatapan lembut. "Mas nggak perlu melakukan semuanya dengan sempurna."
"Aku tahu."
"Yang aku butuhkan cuma Mas nggak lupa kalau aku ada."
Ucapan itu membuat wajah Jovian berubah sendu. Ia menggenggam tangan Jena lalu mengecup punggung tangannya. "Aku janji akan mengingatnya."
Belum sempat Jena menjawab, ponsel Jovian kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan pekerjaan. Jovian melihat layar ponselnya dan menghela napas pelan. "Kenapa?" tanya Jena.
"Mama dan Papa."
Jena mengangkat alisnya. "Mama dan Papa?" ulangnya.
Jovian mengangguk. "Dari tadi mereka kirim pesan terus menyuruh aku pulang."
Jena langsung mengerti. Selama seharian penuh, Jovian memang mengabaikan hampir semua hal demi dirinya, termasuk pesan dari keluarganya. "Ya sudah, Mas pulang saja."
Seketika wajah Jovian berubah tidak rela. "Hah? Secepat itu kamu ngusir aku?"
Jena terkekeh pelan. "Siapa yang mengusir?"
"Calon istriku."
"Mas."
"Aku masih mau di sini."
Jena menggeleng sambil tersenyum. "Pulang dulu. Nanti malam kan bisa ke sini lagi."
"Tapi aku baru saja mendapatkan waktu bersama kamu lagi."
"Besok kita kan ketemu di kantor."
Jovian terdiam beberapa detik. Meski berat, ia tahu Jena benar. Memperbaiki hubungan bukan berarti mengabaikan orang-orang lain yang juga menyayanginya. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku pulang."
Jena tersenyum. "Anak baik."
"Jangan manja-manjain aku begitu. Nanti aku nggak jadi pulang." Jena tertawa kecil. Jovian berdiri dan mendekati Jena. Tatapannya berubah lembut. Ia mengangkat dagu wanita itu perlahan. "Terima kasih untuk hari ini."
"Harusnya aku yang bilang begitu."
"Tetap aku yang bilang." Tanpa menunggu lagi, Jovian mengecup kening Jena dengan penuh kasih sayang. Setelah itu ia menatap bibir wanita tersebut sejenak.
Jena yang menyadari arah pandangan itu langsung berdehem pelan. "Mas, jangan mulai deh."
Jovian tersenyum jahil. "Mulai apa?"
"Tahu."
"Aku nggak tahu."
"Jovian."
"Sebentar saja." Belum sempat Jena protes lagi, Jovian sudah menunduk dan mengecup bibirnya lembut. Tidak terburu-buru, seolah ingin menyimpan rasa rindu untuk beberapa jam ke depan sebelum mereka bertemu lagi.
Saat ciuman itu berakhir, Jena langsung menunduk malu. "Mas ihh! Sehari ini kita udah adu bibir lima kali lho."
"Aku cuma mengambil bekal sebelum pulang."
Jena langsung memukul lengannya pelan. "Dasar."
Jovian tertawa. Kemudian ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia menoleh lagi. "Sayang."
"Hm?"
"Besok aku jemput." Jena mengangguk.
"Jadi kamu jangan berangkat dulu. Tunggu aku."
"Iya, Mas."
"Janji?"
"Janji."
Jovian tersenyum puas. "Bagus."
"Mas hati-hati di jalan."
"Iya. Kamu juga hati-hati di rumah."
Jena mengangguk.
Setelah satu tatapan terakhir yang penuh rasa sayang, Jovian akhirnya keluar dari apartemen.
Pintu tertutup perlahan. Jena berdiri beberapa saat di depan pintu sambil tersenyum kecil. Baru sehari yang lalu ia merasa begitu jauh dari pria itu, tetapi hari ini Jovian berhasil membuatnya yakin kembali bahwa dirinya tetap menjadi bagian paling penting dalam hidupnya.
Sementara di dalam lift, Jovian tersenyum sendiri sambil menyentuh bibirnya. "Aku ingin segera besok pagi," gumamnya pelan. Pintu lift terbuka dan Jovian segera keluar. Ia berjalan ceria melewati lobi dan langsung ke parkiran. Masuk ke dalam mobilnya dengan hati riang gembira dan juga lega.
Jena duduk di tepi ranjang sambil mengusap fotonya bersama Jovian yang ia jadikan wallpaper. "Ya Tuhan ... semoga tak ada lagi kesalahpahaman dan pertengkaran antara aku dan Jovian. Semoga hubungan kami selalu aman dan tentram. Dijauhkan dari orang ketiga. Baik itu wanita, lelaki atau pun dari pihak keluarga. Aamiin." Jena mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah. "Sekarang aku mau bersih-bersih ah. Berendam air hangat sambil berkhayal tentang pernikahanku dan Jovian, hihihi ..." Gadis itu pun bangkit dari tepi ranjang, berlari kecil menuju kamar mandi.
***
Mobil Jovian akhirnya memasuki halaman rumah mewah milik kedua orang tuanya. Begitu mesin mobil dimatikan, ia menarik napas panjang sejenak sebelum turun. Ia tahu kedua orang tuanya pasti sudah menunggu, mengingat sejak tadi ponselnya dipenuhi pesan dari mereka.
Baru saja Jovian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, ia melihat Bimo dan Sifa duduk di ruang tamu dengan wajah serius, seolah sudah menunggunya sejak lama.
"Jovian." Suara tegas Bimo membuat langkah Jovian terhenti.
"Iya, Pa?"
Bimo berdiri dari duduknya, menatap putranya dengan tatapan tajam. "Kenapa kamu menginap?"
Jovian menghela napas pelan. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan keluar. "Pa-"
"Papa sudah bilang tadi malam, jangan menginap di tempat Jena. Kalian belum sah sebagai suami istri." Nada suara Bimo terdengar lebih keras. "Kamu dan Jena tidak melakukan hubungan yang dilarang, kan?"
Mata Jovian langsung membesar karena tidak menyangka ayahnya akan bertanya sejujur itu. "Nggak, Pa."
"Serius?" Kali ini Sifa ikut menyela. Tatapannya penuh selidik sebagai seorang ibu yang khawatir.
"Serius, Ma," jawab Jovian tegas. "Aku dan Jena hanya menghabiskan waktu bersama. Kami mengobrol, menyelesaikan kesalahpahaman, dan meluruskan masalah yang terjadi di antara kami."
Bimo dan Sifa saling pandang sejenak.
Bimo lalu menghela napas. "Jangan ulangi lagi. Jangan jadi anak pembangkang."
Jovian mengerutkan kening. "Pa?"
"Papa nggak suka anak Papa menginap di tempat wanita yang statusnya masih belum sah. Kamu harus menjaga batas."
"Iya, Jo," timpal Sifa dengan nada lebih lembut. "Mama juga nggak suka. Bukan karena mama tidak percaya pada kamu atau Jena, tapi karena ada hal-hal yang tetap harus dijaga sebelum menikah."
Jovian mengusap wajahnya pelan. "Papa dan Mama kenapa jadi posesif begini, sih? Dulu-dulu nggak pernah mempermasalahkan aku mau menginap atau tidak di tempat Jena."
Bimo kembali duduk, lalu menatap putranya dalam. "Itu dulu. Kalau sekarang beda. Kamu sudah jadi pemimpin perusahaan Ardhana Group." Jovian terdiam. "Setiap langkah kamu akan diperhatikan banyak orang. Kamu harus menjaga sikap dan nama baik keluarga." Kalimat itu membuat Jovian tidak bisa langsung membantah. Bimo melanjutkan dengan nada lebih serius. "Dan ada satu hal lagi."
"Apa, Pa?"
"Tadi Michelle datang ke sini."
Seketika ekspresi Jovian berubah. "Mau ngapain?"
Bimo menjawab. "Dia ingin bertemu denganmu, tapi kamu tidak ada. Dia juga bilang kalau kamu mengabaikan telepon dan pesan darinya."
Jovian langsung teringat bagaimana ia mematikan ponselnya di pantai demi menghabiskan waktu bersama Jena. "Pa, aku-"
"Hubungi dia kembali." Suara Bimo memotong. "Papa tidak mau proyek kerja sama dengan MS Fashion mengalami kendala hanya karena masalah pribadi."
Jovian terdiam. Di satu sisi, ia baru saja berjanji pada Jena bahwa ia akan belajar membagi waktu dan tidak lagi mengutamakan Michelle ataupun pekerjaan dibanding dirinya. Namun di sisi lain, ia juga sadar bahwa Michelle adalah rekan bisnis yang harus ia hadapi secara profesional.
Melihat putranya diam, Sifa kembali berbicara. "Jo, Mama senang kamu akhirnya memperbaiki hubunganmu dengan Jena." Jovian menoleh pada ibunya. "Tapi kamu juga harus belajar membedakan urusan pribadi dan pekerjaan."
Bimo mengangguk setuju. "Jangan mengabaikan Michelle sebagai partner bisnis. Kalau kamu bersikap tidak profesional ... bisa-bisa kerja sama kita dengan MS Fashion tak akan berlangsung lama. Ingat, Jo. Papa sudah menantikan kerja sama ini sejak lama. Kamu jangan sampai membuat semuanya berantakan hanya karena urusan pribadimu dengan Jena."
Ucapan kedua orang tuanya membuat Jovian terdiam beberapa saat. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Baik, Pa. Baik, Ma. Aku akan menghubungi Michelle."
Bimo mengangguk puas. "Bagus."
Jovian mengambil ponselnya dari saku. Ia melihat banyak notifikasi yang masuk. Ada belasan panggilan tidak terjawab, dan juga beberapa pesan dari Michelle.
Namun sebelum menekan tombol panggil, ia teringat wajah Jena yang tersenyum di pantai sambil berkata bahwa ia hanya ingin diingat.
Jovian menarik napas panjang. Kali ini, ia harus membuktikan bahwa ia bisa menjadi pemimpin perusahaan yang bertanggung jawab tanpa mengorbankan wanita yang akan menjadi istrinya.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪