NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Satu tahun berlalu sejak penandatanganan Pakta Integrasi Logistik Nasional, dan roda waktu di Menara Bratadikara bergerak tanpa pernah melambat. Namun, di balik kedigdayaan bisnis dan stabilitas hukum yang berhasil ditegakkan oleh Aura, ada satu hari dalam setahun di mana seluruh urusan taktis klan harus tunduk pada sebuah tradisi keluarga.

Hari Peringatan Tahunan Klan Bratadikara.

Malam itu, aula utama kediaman besar Bratadikara di kawasan elite Menteng diselimuti oleh atmosfer yang sangat khidmat. Dinding-dinding marmer hitamnya dihiasi oleh untaian bunga sedap malam, sementara ratusan lilin putih besar menyala di sepanjang selasar, memancarkan cahaya temaram yang sakral. Seluruh anggota inti, para kepala distrik, dan sekutu paling setia dari empat penjuru kota hadir dengan mengenakan pakaian formal serb hitam.

Aura berdiri di depan cermin rias kamar utama kediaman lama Devan. Ia mengenakan kebaya modern beludru hitam pekat dengan sulaman benang emas berbentuk motif naga tradisional di sepanjang lengan dan kerahnya—sebuah simbol resmi yang hanya boleh dikenakan oleh wanita utama klan Bratadikara. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan tusuk konde emas kuno warisan mendiang ibu Devan.

Pintu kamar terbuka dengan ketukan tiga kali yang teratur. Devan melangkah masuk. Penampilannya malam ini begitu menawan dan sarat otoritas; ia mengenakan beskap modern hitam dengan bros emas klan Bratadikara yang tersemat di dada kirinya, dipadukan dengan kain batik parang rusak yang senada dengan milik Aura.

Devan menghentikan langkahnya beberapa meter di belakang Aura. Sepasang mata elangnya menatap pantulan tubuh istrinya di cermin dengan tatapan yang tidak pernah berubah sejak hari pertama mereka mengikat janji—tatapan penuh kekaguman dan kepemilikan yang mutlak.

"Gisela Aura," panggil Devan, suaranya yang berat terdengar sangat lembut di dalam kamar yang sunyi itu. "Bahkan setelah satu tahun, gue masih sering gak percaya kalau cewek kutu buku yang dulu numpahin kopi di kemeja gue sekarang berdiri di sini sebagai permaisuri klan ini."

Aura berbalik, menatap suaminya dengan senyuman hangat yang mengembang di bibirnya. Ia berjalan mendekat, merapikan letak bros emas di dada Devan dengan jemarinya yang lentik. "Dan aku juga tidak pernah membayangkan kalau pria arogan yang dulu mengancam akan mengeluarkan aku dari kampus, sekarang menjadi pria yang selalu memastikan susuku hangat sebelum tidur."

Devan terkekeh rendah, sebuah tawa yang sarat akan kebahagiaan murni. Ia menangkap kedua tangan Aura, mengecup punggung tangan itu secara bergantian, tepat di atas kilau cincin pernikahan mereka. "Malam ini adalah malam yang penting, Ra. Bokap gue akan mengumumkan pengunduran diri sepenuhnya dari dewan pengawas. Mulai besok, seluruh tongkat komando fisik dan legalitas klan ini ada di tangan kita berdua."

Aura mengangguk, ada secercah ketegasan yang melintas di mata cokelatnya. "Aku sudah menyiapkan semua dokumen transisi kekuasaan, Dev. Kenzo juga sudah memastikan bahwa sistem pengawasan digital di seluruh distrik tidak akan mengalami glitch selama prosesi serah terima."

"Gue tahu lo selalu selangkah di depan, Good Girl," Devan mendaratkan sebuah kecupan singkat namun dalam di bibir Aura. "Ayo. Mereka sudah menunggu kita di bawah."

Ketika Devan dan Aura melangkah menuruni tangga agung aula utama, seluruh pasang mata yang hadir di dalam ruangan seketika tertuju pada mereka. Keheningan yang magis dan penuh rasa hormat kembali turun. Di ujung tangga, Tuan Besar Bratadikara—ayah Devan—berdiri dengan tongkat berkepala perak miliknya, menatap putra tunggal dan menantunya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kelegaan seorang veteran yang tahu bahwa dinasti yang ia bangun telah berada di tangan yang tepat.

Prosesi penyerahan komando berlangsung dengan tradisi yang sangat kaku namun sarat makna. Sebuah keris pusaka keluarga diserahkan oleh Tuan Besar kepada Devan, diikuti oleh penyerahan stempel segel hukum klan dari dewan penasihat lama kepada Aura.

Saat Aura menerima stempel emas tersebut, ia berbalik menghadap ratusan perwakilan distrik. Suaranya yang jernih menggema di seluruh penjuru aula tanpa ada sedikit pun keraguan.

"Mulai malam ini," kata Aura, menatap satu per satu para pemimpin faksi dengan ketajaman seorang pengacara tertinggi. "Bratadikara tidak lagi bergerak di bawah bayang-bayang ketakutan hukum lama. Setiap kapal yang berlayar, setiap kargo yang bergerak, dan setiap kontrak yang ditandatangani akan dilindungi oleh benteng hukum yang absolut. Kita tidak lagi membutuhkan kekerasan untuk menuntut hak kita, karena draf hukum yang berada di tangan saya adalah senjata yang jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun di kota ini."

Mendengar pidato singkat namun sarat akan ancaman taktis dari Aura, seluruh hadirin serentak menundukkan kepala mereka, memberikan penghormatan tertinggi. Di sampingnya, Devan menggenggam tangan Aura dengan sangat erat, membiarkan seluruh dunia tahu bahwa di balik kekuasaan fisiknya yang menakutkan, ada otak brilian Aura yang mengendalikan arah jalannya dinasti mereka.

Setelah prosesi formal selesai, perayaan beralih menjadi jamuan makan malam yang lebih santai di area taman dalam kediaman Menteng. Di sudut taman yang dihiasi oleh lampu-lampu lampion kuning hangat, Nyonya Rahma tampak duduk di kursi roda elektroniknya, sedang mengobrol santai dengan Profesor Wijaya yang malam itu hadir sebagai tamu kehormatan akademik yang diundang langsung oleh Aura.

"Saya harus mengakui, Nyonya Rahma," kata Profesor Wijaya sambil menyesap teh herbalnya. "Aura adalah mahasiswa terbaik yang pernah dilahirkan oleh Fakultas Hukum Universitas Ganesha. Cara dia mengintegrasikan hukum hukum internasional ke dalam sistem korporasi Bratadikara adalah sebuah terobosan akademis yang akan kami pelajari selama bertahun-tahun ke depan."

Nyonya Rahma tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca menatap Aura yang sedang berjalan mendekat bersama Devan. "Terima kasih, Profesor. Semua ini tidak lepas dari bimbingan Anda juga."

"Aura," sapa Profesor Wijaya dengan senyuman ramah yang jarang diperlihatkan di ruang kelas dulu. "Selamat atas posisi barumu. Kampus selalu terbuka jika kamu ingin kembali untuk mengambil program doktor."

"Terima kasih banyak, Profesor," jawab Aura dengan sikap hormat seorang mahasiswa yang tidak pernah hilang. "Rencana itu sudah masuk ke dalam draf taktis saya untuk tahun depan."

Devan yang berdiri di samping Aura langsung melirik istrinya dengan alis yang terangkat sebelah. "Doktor? Jadi gue harus bersiap-siap dipanggil 'Suami dari Ibu Doktor'?"

Tari yang tiba-tiba muncul dari balik pohon banyan sambil membawa sepiring kecil kue macaron langsung menyahut, "Ya ampun, Devan! Lo harus bangga dong! Punya istri pintar, cantik, dan bisa bikin seluruh mafia kota ini takluk cuma pake satu skripsi!"

Gelak tawa hangat seketika pecah di sudut taman tersebut, menghapus seluruh sisa-sisa ketegangan dari prosesi sakral sebelumnya. Di bawah langit malam Jakarta yang cerah, kebahagiaan itu terasa begitu nyata dan lengkap.

Tengah malam telah lewat ketika seluruh tamu undangan akhirnya berpamitan pulang. Kediaman Menteng kembali ke dalam kesunyiannya yang damai. Devan membawa Aura menuju sebuah balkon rahasia di lantai tiga yang menghadap langsung ke arah taman mawar putih kecil—taman tersembunyi yang dulu dibangun oleh mendiang ibu Devan.

Angin malam yang sejuk berembus lembut, memainkan ujung kebaya beludru hitam Aura. Devan melangkah ke belakang tubuh Aura, melepaskan sanggul modern istrinya secara perlahan, membiarkan rambut hitam legam yang panjang itu tergerai bebas ditiup angin malam.

"Gue lebih suka lo dengan rambut tergerai kayak gini, Ra," bisik Devan rendah, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut wangi cendana Aura, sementara kedua lengan kekarnya melingkar protektif di sekeliling pinggang gadis itu.

Aura memejamkan matanya, menikmati kehangatan dekapan Devan yang selalu menjadi tempat pemberhentian terbaik dari seluruh kepenatan dunianya. "Semuanya sudah selesai, Dev. Transisi kekuasaan sudah legal, ibuku bahagia, dan klan kita aman."

Devan memutar tubuh Aura perlahan, menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat jernih yang selalu berhasil menjinakkan seluruh kegelapan di dalam jiwanya. Di bawah sinar bulan yang keperakan, wajah tampan Devan memancarkan sebuah komitmen baru yang jauh lebih dalam dari sekadar pakta atau draf hukum apa pun.

"Perjalanan kita baru dimulai, Aura," ujar Devan, suaranya terdengar begitu tulus hingga menggetarkan sanubari Aura. "Dulu, gue membawa lo ke dalam dunia gue untuk menyelamatkan klan Bratadikara. Tapi sekarang... lo adalah alasan utama kenapa dunia ini harus tetap berdiri dengan aman. Sumpah gue malam ini di depan mendiang ibu gue dan di depan seluruh distrik adalah: gue akan membakar siapa pun yang mencoba mengusik kedamaian hidup lo, bahkan jika itu berarti gue harus melawan seluruh dunia."

Aura menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca oleh rasa haru yang teramat sangat. Ia mengangkat kedua tangannya, membingkai wajah tegas Devan dengan kelembutan yang mutlak. "Dan sumpah hukumku untukmu, Devanandra... aku akan menjadi perisai yang memastikan tidak akan ada satu pun celah di dunia ini yang bisa memisahkan kita berdua. Kita adalah satu faksi, satu nama, dan satu masa depan."

Devan tersenyum miring—sebuah senyuman penuh kemenangan murni—sebelum ia menundukkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh gairah, dan sarat akan janji abadi yang tidak akan pernah bisa digugat oleh siapa pun.

Di bawah saksi bisu hamparan mawar putih dan langit malam yang bertabur bintang, kisah tentang sang mahasiswi teladan dan penguasa takhta kegelapan Bratadikara telah resmi menutup babak perjuangan mereka, dan membuka sebuah lembaran baru tentang sebuah dinasti yang tidak hanya dipimpin oleh kekuatan fisik, melainkan dijalankan dengan kecerdasan taktis dan diikat oleh cinta yang tidak akan pernah terkalahkan oleh waktu.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!