Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. ( Antara Gila & Cinta )
Jika orang-orang mengira akan ada hal buruk menimpa Andrea, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih mengamuk meluapkan amarah, tiran yang dikenal bengis itu malah terjebak oleh kebucinan yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Sedangkan Andrea? Gadis itu hanya diam dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apa dia sudah gila? Bukankah memaksaku kemari karena ingin membuat perhitungan ya? Kok malah bertingkah seperti orang kasmaran? Sakit," ujar Andrea sambil menatap Lucien yang terus membelakanginya. Merasa ada yang tak beres, dia putuskan untuk menghampirinya saja. Andrea lalu menepuk pundak Lucien dari belakang. "Kau baik-baik saja?"
(Lihat-lihat, dia bahkan berani menyentuhku. Harus bagaimana aku membalas rasa sukanya yang begitu terang-terangan? Langsung menciumnya atau kubawa pulang ke mansion?)
Untung saja suara hati Lucien hanya dia seorang yang mendengar. Karena jika kegilaannya sampai didengar oleh Andrea, bisa dipastikan akan terjadi keributan besar di sana mengingat Lucien telah mendapat plakat sebagai orang mesum.
"Kenapa diam saja? Pita suaramu terbelit lidah ya?" tanya Andrea kembali mendesak. Sungguh, dia sudah tak tahan dengan suasana begini.
"Ekhmmm, bisa menjauh sedikit tidak? Aku anti bersentuhan dengan orang asing. Kulitku bisa ruam nanti," ucap Lucien sok jual mahal.
Apa-apaan orang ini. Kenapa kesannya Andrea seperti sengaja melakukan kontak fisik? Diakan hanya menoel pundak, itupun terhalang baju yang dipakainya. Kenapa jadi kikuk begini?
"Bersihkan tanganmu dengan hand sanitizer terlebih dahulu sebelum menyentuhku. Ingat, jangan sampai lupa."
"Lucien."
"Ya?"
Dengan cepat Lucien berbalik menghadap Andrea. Benarkan? Gadis ini memang sedang menggodanya. Perkataannya barusan pasti membuatnya tersinggung, lalu memilih untuk mengakui secara langsung. Ahh, menjadi orang tampan memang sulit.
"Otakmu sakit ya?"
"A-apa? Otakku sakit?"
"Ya. Aku heran sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang diriku saat aku menoel pundakmu. Memintaku membersihkan tangan dengan hand sanitizer dengan alasan kalau kulitmu mudah ruam. Kau pikir aku virus?" protes Andrea menahan dongkol. Kalau saja tak memikirkan masa depannya, dia akan lebih memilih untuk mencari pekerjaan di tempat lain saja.
Lucien cengo. Kenapa keadaan jadi berbalik begini ya? Bukankah Andrea ingin mengakui perasaan terhadapnya? Kenapa malah melayangkan protes? Ini tidak benar.
"Berhenti memperlihatkan tampang bodohmu. Itu membuatku geli."
"Bodoh kau bilang?"
Emosi Lucien terpancing. Sambil memelototkan mata, dia lantang melakukan pembelaan diri.
"Orang sinting mana yang berani menyebut pemilik GS Company sebagai orang bodoh? Cuma kau, Andrea. Sialan!"
"Kau memakiku?"
"Ya. Sialan. Kau sialan! Kenapa memangnya? Tidak terima?"
"Yakkk Lucien, mulutmu benar-benar kelewatan ya. Apa yang sudah kulakukan sampai kau berani memakiku seperti itu?" amuk Andrea berapi-api.
"Kau bertanya apa yang sudah kau lakukan? Hei gadis kolot, hal begini masih harus ku jelaskan juga? Kemana perginya otakmu yang begitu kau banggakan itu. Pikir sendiri. Siapa suruh membuatku kecewa. Huh!"
Tak terima dimaki tanpa sebab, Andrea dengan liar menatap sekeliling ruangan mencari sesuatu. Semakin lama orang ini semakin tak tahu aturan. Di tempat tinggalnya dulu para lelaki harus menghormati wanita dan dilarang bicara kasar. Tetapi di kota? Bahkan tanpa ada kesalahan pun mereka bisa dengan bebas melayangkan makian. Kesalahan seperti ini tak boleh dibiarkan. Harus dididik agar tak menjadi kebiasaan.
"Mau apa kau?" tanya Lucien bingung melihat Andrea tiba-tiba mengambil stik golf miliknya. Sambil menelan ludah, dia mundur ke belakang saat gadis ini berjalan ke arahnya. "Andrea, aku ini bosmu. Jangan coba-coba menyerangku atau aku akan melaporkanmu pada polisi."
"Laporkan saja kalau begitu. Aku punya alasan kuat untuk membela diri di sana nanti," sahut Andrea tak gentar. Tongkat yang dia ambil lumayan berat juga, harusnya bisa memberikan efek jera pada Lucien.
"Jangan gila, An. Tongkat itu terbuat dari besi. Bagaimana kalau nanti aku terluka?"
"Ada banyak rumah sakit yang bisa mengobati lukamu. Sekarang biarkan aku mendidikmu agar kau tumbuh menjadi pria yang bisa menghormati perempuan!"
Kedua mata Lucien terbelalak lebar saat Andrea mengayunkan stik golf ke arahnya. Reflek, dia berteriak kuat lalu melompat naik ke atas meja. Gila, gadis ini benar-benar sudah gila.
"Buang stik golf itu sekarang juga, Andrea. Kalau tidak ....
"Kalau tidak apa? Mau lapor polisi? Ya sudah lapor saja," sahut Andrea memotong ucapan Lucien. Tak mau membuang waktu, dia kembali mengangkat stik golf. "Orang kota sepertimu harus diberi pelajaran supaya tidak mudah memaki orang. Kalau tidak nanti akan keterusan. Itu tidak baik!"
(Jadi dia menggila karena aku memakinya? Sialan! Tak ku sangka emosinya jauh lebih buruk dariku)
Saat Andrea sedang sibuk mendidik Lucien, Veroz masuk ke dalam ruangan. Untuk seperkian detik dia sempat terkesima oleh huru-hara yang sedang terjadi di hadapannya. Seorang Tiran yang bengis sedang menjerit sambil mengaduh kesakitan saat dipukuli oleh seorang gadis. Dan lucunya, Tiran itu berada di atas meja sambil terus melompat menghindari serangan.
"Veroz, cepat bawa gadis gila ini keluar dari ruanganku. Argghhh, berhenti memukulku!" teriak Lucien tak berdaya.
"Aku tidak akan berhenti sampai kau mengakui kesalahanmu," sahut Andrea sengit. Dia terus menyerang. Tak kena dibagian kaki, pindah ke bagian punggung.
"Sakit! Astaga, Veroz, apa yang kau lakukan di sana. Cepat tolong aku!"
"Hah? Ba-baiklah, Tuan."
Dengan cepat Veroz mendekat lalu berniat merebut stik golf dari tangan Nona Andrea. Namun, belum juga niat tersebut terlaksana, dia sudah lebih dulu dibungkam oleh satu ucapan yang mana membuat tengkuk meremang.
"Bosmu saja berani aku pukul, apalagi kau. Tuan Veroz, jangan ikut campur atau aku akan memukulmu juga!" ancam Andrea seraya mengacungkan stik kepada Veroz.
Ruh ditubuh Lucien hampir terbang keluar menyaksikan Veroz yang langsung tunduk pada ancaman Andrea. Bagaimana bisa?
(Persetan dengan pengkhianatan Veroz. Lebih baik aku pikirkan cara untuk menghentikan kemarahan Andrea. Jika tidak, tulang di tubuhku bisa remuk semua. Astaga, gadis ini seram sekali saat mengamuk)
"Aku salah, aku minta maaf."
Ruangan mendadak hening saat kata maaf terucap keluar dari bibir Lucien. Veroz bahkan sampai speechless mendengarnya. Benarkah kalimat tersebut keluar dari mulut bosnya? Sungguh keajaiban dunia yang langka.
"Ternyata orang kota bisa minta maaf juga ya?" ejek Andrea agak salah tingkah setelah Lucien meminta maaf. Pengakuan yang tak pernah dia bayangkan akan terucap begitu cepat dari mulut seseorang yang arogan dan juga aneh.
"Aku sudah merendahkan diri untuk minta maaf tapi kau malah mengejekku? Andrea, ini penghinaan namanya."
"Lalu aku harus bagaimana? Menyanjung dan memberikan ucapan selamat?"
Bibir Lucien bergerak pelan, tapi tak ada kata yang terucap. Dia sedang marah sekarang, harusnya dibujuk, bukan malah diejek. Kenapa sih gadis ini begitu tidak peka. Jelas-jelas suka, tapi malah sok jual mahal.
"Tuan Lucien, semua orang sudah menunggu Anda di ruang meeting." Veroz menatap bosnya. Dari gerakan bibir, dia bisa membaca kalau bosnya sedang mengkhayalkan sesuatu. Manusia yang memiliki ego tingkat dewa tak sadar telah jatuh cinta, sungguh menggelitik untuk dilihat.
"Kau ... kau dipecat!" Sedikit terbata saat Lucien bicara. Mendadak gugup tanpa sebab, dia berjalan cepat menuju pintu meninggalkan Veroz dan Andrea di sana.
Mendengar kata dipecat, kedua kaki Andrea langsung lemas. Bertopang pada tongkat yang tadi dia gunakan untuk mendidik Lucien, dia menatap sedih ke arah Veroz.
"Aku bahkan belum tahu apa pekerjaanku, tapi Lucien sudah memecatku. Kenapa nasibku sial sekali ya?"
"Nona, jangan sedih. Meskipun bengis dan sangat tampan, sebenarnya Tuan Lucien adalah sosok yang humoris. Percayalah, dia tak benar-benar ingin memecat Anda. Sekarang lebih baik kita pergi ke ruang meeting menyusulnya. Saya jamin pekerjaan Anda di sini aman," ucap Veroz menyalurkan ketenangan. Tentu saja. Tiran itu sedang mabuk cinta, kata pecat yang diucapkan hanyalah kebalikan atas keinginan agar tetap tinggal.
Nelangsa, dengan patuh Andrea mengekor di belakang Veroz. Semoga saja memang benar kalau pekerjaan barunya aman meski barusan dia dengar sendiri saat Lucien mengucapkan kata pecat.
(Tuan Lucien, perasaan Anda sudah tersesat jauh. Sangat amat jauh sampai Anda tak bisa membedakan mana cinta dan mana gila)
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂