Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Keputusan
Pintu lift akhirnya tertutup sempurna, meninggalkan Rendra yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Suasana di area kantor terasa begitu sunyi hingga suara pendingin ruangan terdengar jelas di telinga. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara lebih dulu karena semua orang menyadari mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di tempat kerja.
"Kirana..." gumam Rendra sambil menatap angka lift yang terus bergerak turun.
Selina mengembuskan napas panjang, wanita itu sempat memejamkan mata sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Rasa bersalah yang sejak tadi memenuhi dadanya semakin berat setelah melihat sendiri bagaimana semua kebohongan itu menghancurkan seseorang.
"Aku sudah bilang untuk jujur sejak awal." Selina merapatkan kedua tangannya di depan tubuh.
"Kamu tidak mengerti." Rendra mengusap wajahnya kasar.
"Aku justru mulai mengerti sekarang." Selina menatap pria itu dengan kecewa.
Percakapan mereka terhenti ketika langkah sepatu terdengar mendekat, Aiden berjalan keluar dari kerumunan karyawan dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak. Sementara itu, Gavin mengikuti dari belakang sambil membawa map yang sebenarnya sudah tidak ia baca sejak lima menit lalu.
"Kalau urusan pribadi sudah selesai, silakan lanjutkan di luar kantor." Aiden memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Rendra menoleh cepat.
"Ini urusan rumah tangga saya." Rendra berusaha menjaga nada bicaranya.
"Benar." Aiden mengangguk santai. "Karena itu lebih baik tidak dilakukan di tempat kerja."
Kalimat itu terdengar biasa saja, tetapi entah kenapa membuat wajah Rendra semakin tegang.
.
Di dalam lift, Kirana berdiri sendirian sambil memandangi pantulan dirinya pada dinding baja yang mengilap. Wajah yang menatap balik ke arahnya terlihat sama seperti biasanya, tidak ada mata bengkak, tidak ada riasan yang berantakan, tidak ada tanda-tanda bahwa hidupnya baru saja berubah beberapa menit yang lalu.
Saat pintu lift terbuka di lantai parkir, langkahnya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya. Bukan karena masalahnya sudah selesai, melainkan karena akhirnya ia berhenti membohongi dirinya sendiri. Selama berbulan-bulan, ia berusaha mengabaikan semua tanda yang muncul di depan mata kini tidak ada lagi yang perlu diabaikan.
Ponsel di tangannya kembali bergetar, nama Rendra muncul di layar. Kirana menatap panggilan itu beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol tolak.
"Dia tidak mengangkat?" Gavin melirik layar ponsel di tangan Rendra.
"Tidak." Rendra mengepalkan rahangnya.
"Ya jelas." Gavin mengangguk seolah menemukan jawaban atas soal matematika sederhana.
"Kamu bisa diam?" Aiden melirik sahabatnya.
"Bisa." Gavin mengangguk cepat.
"Tapi saya rasa Bos juga berpikir begitu." Dua detik kemudian ia kembali bicara.
Aiden menghela napas panjang, kadang ia bertanya-tanya mengapa masih mempertahankan Gavin sebagai sahabat.
.
Rendra akhirnya meninggalkan kantor beberapa menit kemudian, tidak ada lagi alasan untuk bertahan setelah Kirana pergi namun sebelum sempat mencapai mobilnya langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang memanggil dari belakang.
"Rendra." Selina berdiri beberapa meter darinya.
"Apa lagi?" Rendra membalikkan badan.
"Kita selesai."
"Kita memang sudah selesai." Pria itu tertawa pendek.
"Tidak." Selina menggeleng pelan. "Aku serius."
Untuk pertama kalinya sejak mereka berbicara, Rendra benar-benar menatap wanita itu.
"Aku tidak mau melihatmu lagi." Selina menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Selina."
"Aku muak dijadikan tempat pelarian."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang diperkirakan Rendra, selama ini ia selalu menganggap Selina akan tetap berada di sisinya namun sekarang, wanita itu menatapnya seolah melihat orang asing.
"Selamat tinggal." Selina berbalik tanpa menunggu jawaban.
Rendra hanya bisa berdiri diam sambil memperhatikan sosok itu semakin menjauh.
.
.
.
Malam harinya, rumah Kirana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu ruang tamu menyala terang, tetapi tidak ada suara televisi ataupun musik yang mengisi ruangan. Wanita itu duduk di sofa sambil memandangi secangkir teh yang sudah dingin sejak satu jam lalu.
Ponselnya kembali bergetar kali ini Dita.
"Aku datang." Dita langsung bicara begitu panggilan tersambung.
"Tidak usah."
"Aku sudah di depan rumahmu."
Kirana menoleh ke arah jendela, benar saja mobil Dita sudah terparkir di luar pagar.
"Lain kali kalau mau menolak, lebih cepat sedikit." Dita masuk sambil membawa dua kantong makanan.
"Aku tidak lapar." Kirana membantu menutup pintu.
"Itu sebabnya aku membawa makanan."
Logika Dita memang sering aneh, namun entah kenapa selalu berhasil membuat suasana sedikit lebih ringan.
"Aku sudah mengatakan ingin berpisah." Kirana duduk kembali di sofa.
Dita yang sedang membuka bungkusan makanan langsung berhenti.
"Serius?"
"Iya."
"Dan?"
"Tidak ada dan."
Dita menatap sahabatnya beberapa saat, selama bertahun-tahun mengenal Kirana ia tahu wanita itu bukan tipe yang membuat keputusan karena emosi sesaat. Jika kalimat itu sudah keluar, berarti semuanya sudah dipikirkan dengan matang.
"Kalau begitu aku mendukungmu." Dita menyerahkan satu kotak makanan.
"Kamu tidak mencoba mencegahku?" Kirana menerima kotak itu.
"Mencegah untuk apa?" Dita mengangkat bahu.
"Karena pernikahan harus dipertahankan."
"Pernikahan memang harus dipertahankan." Dita membuka sendok plastiknya. "Tapi tidak sendirian."
Kirana terdiam, kalimat sederhana itu terasa begitu tepat.
.
.
.
Di apartemen miliknya, Aiden berdiri di depan jendela sambil memandangi lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Sejak pulang dari kantor, pikirannya terus kembali pada satu orang yang sama. Bukan karena ia ingin memanfaatkan keadaan, melainkan karena ia tahu seperti apa rasanya dikhianati oleh seseorang yang dipercaya.
"Bos." Gavin muncul dari dapur sambil membawa minuman kaleng.
"Hm?" Aiden tetap memandang ke luar.
"Jangan kirim pesan."
"Aku tidak akan mengirim pesan."
"Bagus."
"Aku hanya ingin tahu kabarnya."
"Nah." Gavin langsung menunjuk wajah sahabatnya. "Kalimat itu yang berbahaya."
"Kenapa?" Aiden akhirnya menoleh.
"Karena biasanya semua masalah cinta dimulai dari ingin tahu kabar."
Untuk pertama kalinya malam itu, Aiden tertawa kecil namun jauh di dalam hatinya ada satu hal yang tidak bisa ia sangkal lagi. Perasaan yang awalnya hanya rasa penasaran sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan itu berbahaya karena wanita yang terus memenuhi pikirannya itu masih berstatus istri orang meski mungkin tidak akan lama lagi.
.
.
.
Keesokan paginya, Kirana datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia berharap bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum harus menghadapi pertanyaan atau tatapan aneh dari siapa pun, namun harapan itu langsung buyar saat melihat sesuatu di atas mejanya.
Sebuah buket bunga mawar putih, cantik, mewah dan jelas bukan miliknya.
Kirana mengernyit lalu mengambil kartu kecil yang terselip di antara bunga-bunga tersebut, beberapa detik kemudian wajahnya berubah datar karena hanya ada satu kalimat pendek yang tertulis di sana.
Maafkan aku. — Rendra
Dan tepat saat itu, suara seseorang terdengar dari belakang.
"Kalau aku jadi kamu, bunga itu akan kubuang." Dita berhenti di samping meja sambil menatap buket tersebut.
Namun sebelum Kirana sempat menjawab, suara lain terdengar dari arah yang berbeda.
"Aku setuju."
Kirana langsung menoleh, Aiden berdiri beberapa langkah dari sana dan untuk pertama kalinya... dua pria itu akan segera berada di tempat yang sama demi satu wanita.