Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Singgasana Berdarah dan Lidah Beracun
Langkah kaki Alana menggema di sepanjang koridor bawah tanah Mansion Utama yang dingin, lembap, dan minim pencahayaan. Bau mesiu, karat besi, dan sisa-sisa darah kering yang menguar dari dinding-dinding beton mempertegas fungsi ruangan ini sebagai tempat eksekusi dan interogasi rahasia faksi pertama. Dua pengawal berjas hitam mendorong punggung Alana dengan kasar hingga dia melangkah masuk ke tengah sebuah ruangan interogasi yang luas.
Di tengah ruangan, di bawah sorotan lampu gantung tunggal yang menyala terang, telah menunggu dua penguasa faksi pertama. Nyonya Eleanor Rossi duduk dengan anggun di atas kursi kulit mewah, sementara Cedric berdiri di sampingnya sambil membersihkan pisau belati perak kesayangannya dengan selembar kain sutra.
"Jatuhkan dia berlutut!" perintah Cedric dengan suara baritonnya yang kasar dan penuh kebencian.
Namun, sebelum tangan para pengawal sempat menyentuh bahunya, Alana sudah melangkah maju dengan tenang. Tanpa menunggu perintah atau izin dari siapa pun, dia menarik sebuah kursi besi berat yang berada di depan meja interogasi, lalu mendudukkan dirinya dengan gerakan yang teramat santai dan anggun—seolah dia sedang menghadiri pertemuan bisnis kelas atas, bukan sebagai seorang tahanan politik.
Ketenangan Alana yang mutlak ini seketika membuat suasana di dalam ruangan bawah tanah menjadi hening. Dua pengawal yang membawanya membeku, menatap Eleanor untuk meminta instruksi lebih lanjut.
Cedric yang melihat kelancangan itu seketika meradang. Dia melangkah maju dengan cepat, menghantamkan telapak tangan kirinya ke atas meja besi hingga menimbulkan suara dentuman yang keras. Brakkk! Pria bertato ular itu mencondongkan tubuhnya, mengarahkan ujung pisau belatinya tepat beberapa milimeter di depan bola mata Alana.
"Kamu pikir kamu siapa, Anak Haram?!" bentak Cedric dengan urat-urat leher yang menegang. "Kamu berada di wilayahku sekarang! Satu gerakanku saja, dan aku bisa menguliti wajah cantikmu ini hingga tidak ada satu pun pria di Eropa Selatan yang sudi menyentuhmu!"
Alana tidak memundurkan kepalanya sedikit pun. Dia bahkan tidak mengedipkan matanya di hadapan kilatan pisau belati itu. Sepasang matanya yang sedingin es menatap lurus ke dalam manik mata Cedric yang dipenuhi amarah primitif, lalu beralih menatap Eleanor yang sedang memperhatikan perilakunya dengan tatapan mata yang menyipit curiga.
"Nyonya Eleanor," Alana mengabaikan ancaman fisik Cedric dan memilih langsung berbicara kepada sang pemegang kendali utama. "Apakah ini cara faksi pertama memperlakukan aset berharga yang akan membawakan sepuluh ribu pasukan militer dari Eropa Selatan untuk Anda? Mengancam akan merusak barang dagangan sebelum transaksi resmi dimulai murni hanya membuktikan betapa amatirnya cara kerja putra mahkota Anda."
"Kau—!" Cedric bersiap mengayunkan tinjunya, namun suara ketukan sepatu hak tinggi Eleanor di atas lantai marmer menghentikan gerakannya.
"Cukup, Cedric. Mundur," perintah Eleanor dengan nada suara yang dingin namun penuh otoritas yang mutlak.
Cedric mendengus kasar, menarik kembali pisaunya dan mundur dua langkah dengan napas yang memburu, meski matanya tetap menatap Alana bagaikan seekor serigala yang siap menerkam.
Eleanor memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan yang dihiasi cincin berlian. "Alana... aku harus mengakui bahwa kamu telah banyak berubah dalam beberapa hari ini. Keberanianmu ini... dari mana kamu mendapatkannya? Apakah kamu mengira, hanya karena Xavier mempersulit anggaranku dan Julian merusak dokumen pernikahanmu, kamu bisa mendikte faksi pertama di rumah ini?"
Eleanor tersenyum sinis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang teramat kejam. "Kamu salah besar, Gadis Kecil. Dokumen legalitas itu bisa dibuat ulang, dan Xavier tidak akan bisa menahan uangku selamanya. Dalam dua minggu, atau bahkan lebih cepat, kamu akan tetap diseret ke kapal menuju Eropa Selatan secara paksa. Nasibmu sebagai tumbal politik untuk kejayaan faksi pertama sudah mutlak di bawah hukum keluarga Garrick."
Alana menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi yang dingin. Sebuah senyuman tipis, yang terasa sangat misterius dan sarat akan racun manipulasi psikologis, terukir di sudut bibirnya. Dia menghela napas pendek, lalu menggelengkan kepalanya dengan tatapan penuh rasa iba—sebuah tatapan yang sengaja dia arahkan tepat kepada Cedric, bukan kepada Eleanor.
"Saya kasihan kepada Anda, Tuan Muda Cedric," ucap Alana dengan nada suara yang melembut, namun setiap katanya dirancang dengan presisi untuk menyuntikkan racun kecurigaan ke dalam hati pria temperamental itu.
Cedric mengernyitkan dahinya, merasa terhina sekaligus bingung. "Apa maksudmu, sialan?!"
"Apakah Anda benar-benar berpikir bahwa semua rencana pernikahan politik ini dilakukan demi membangun takhta masa depan untuk Anda?" Alana melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Cedric dengan sorot mata yang penuh manipulasi tingkat tinggi. "Apakah Anda begitu naif hingga tidak bisa melihat kebenaran di depan mata Anda sendiri?"
"Jaga bicaramu, Alana!" bentak Eleanor, wajahnya yang semula tenang kini mulai menunjukkan riak kemarahan karena menyadari arah pembicaraan Alana yang mulai berbahaya. "Pengawal, sumbat mulutnya!"
"Biarkan dia bicara, Ibu!" potong Cedric tiba-tiba, mengangkat tangan kanannya untuk menahan para pengawal. Sifat dasar Cedric yang egois, haus akan kekuasaan, dan selalu merasa tidak aman terhadap posisinya sebagai putra mahkota membuat rasa penasarannya terusik oleh umpan Alana. "Aku ingin mendengar omong kosong apa yang ingin dia katakan."
Alana tersenyum dalam hati. Bidak keduanya di ruangan ini telah termakan umpan.
"Tuan Muda Cedric, jika pernikahan politik saya dengan sindikat Eropa Selatan itu terjadi, seluruh dokumen kontrak aliansi militer dan pasokan senjata baru tidak akan pernah ditulis atas nama Anda," lanjut Alana dengan suara yang stabil, memanfaatkan analisis taktisnya dari memori dunia modern tentang perebutan kekuasaan korporasi. "Kontrak itu akan ditandatangani dan dipegang penuh oleh Nyonya Eleanor selaku perwakilan sah keluarga Rossi."
Alana melirik Eleanor sekilas sebelum kembali menatap Cedric yang mulai mendengarkan dengan serius. "Dengan sepuluh ribu pasukan militer baru di bawah kendali mutlak ibumu, posisi siapa yang sebenarnya akan paling terancam di mansion ini? Itu adalah posisi Anda, Tuan Muda Cedric. Anda hanya akan didepak ke garis depan sebagai tameng hidup untuk bertempur melawan faksi kedua dan ketiga, sementara takhta Bos Besar yang sesungguhnya akan dipegang oleh ibumu di balik layar. Anda tidak sedang dibangunkan sebuah takhta... Anda murni sedang digunakan sebagai alat untuk membangun singgasana permaisuri milik ibumu sendiri."
"Cukup! Diam kau, Anak Haram!!" Eleanor berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang meledak. "Pengawal, seret dia ke sel isolasi sekarang juga! Jangan biarkan dia berbicara satu kata pun lagi!"
Dua pengawal langsung maju dan mencengkeram bahu Alana dengan kasar, menariknya berdiri dari kursi besi. Alana tidak melawan. Dia membiarkan tubuhnya diseret mundur menuju pintu keluar ruangan bawah tanah. Namun, saat tubuhnya menjauh, Alana tetap mempertahankan pandangan matanya, menatap lurus ke arah Cedric.
Di bawah sorotan lampu gantung yang temaram, Cedric tidak lagi menatap Alana dengan amarah. Sebaliknya, pria bertato ular itu kini berdiri mematung dengan mata yang bergerak-gerak gelisah, menatap punggung ibunya sendiri dengan kilatan kecurigaan dan ketidakpercayaan yang teramat mendalam. Racun manipulasi Alana telah menyebar di dalam aliran darah faksi pertama.
Retakan internal yang fatal telah resmi tercipta di antara ibu dan anak itu, dan Alana tersenyum dingin di dalam kegelapan koridor sel isolasi, mengetahui bahwa mahkota sang Permaisuri kini sedang berada di ambang kehancuran dari dalam sarangnya sendiri.