Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Nathalie, membuat kepalanya tersentak ke samping. Rasa perih dan panas langsung menyebar di wajahnya. Tapi itu tidak menghentikannya. Amarah, jijik, dan keputusasaan yang sudah memuncak membuatnya meledak.
“Pergi! Aku tidak sudi disentuh sama kamu!” sentak Nathalie dengan suara nyaring yang penuh kebencian. Matanya memerah, air mata bercampur amarah mengalir deras di pipinya yang memerah bekas tamparan.
Dengan gerakan cepat, ia meraih apa saja yang ada di dekatnya, gelas, vas bunga kecil, bantal, bahkan asbak, dan melemparkannya ke arah Hadi. Barang-barang beterbangan. Hadi mundur sambil mengumpat, salah satu gelas mengenai bahunya hingga pecah.
“Kau anak kurang ajar!” bentak pria tua itu sambil melindungi wajahnya.
Dyah, yang berdiri di samping, tidak tinggal diam. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi iba, ia menyeret lengan putrinya dengan kasar. Kuku-kukunya menancap ke kulit Nathalie hingga meninggalkan bekas merah. Nathalie meronta sekuat tenaga, tapi tenaga ibunya yang sudah nekat membuatnya tak berdaya.
“Ibu! Lepaskan! Ibu gila?!” jerit Nathalie sambil berusaha melepaskan cengkeraman ibunya.
Dyah tak menggubris. Ia menyeret putrinya masuk ke dalam kamar dengan brutal. Hadi mengikuti di belakang dengan senyum mesum yang semakin lebar. Begitu ketiganya masuk, Dyah mendorong Nathalie ke dalam kamar, lalu cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Klik.
Suara kunci berputar terdengar seperti vonis mati.
“Aku sudah bayar mahal pada ibumu. Kamu harus mau melayaniku anak manis" ucap Hadi dengan suara serak penuh nafsu sambil tersenyum menjijikan. Giginya yang kuning dan tidak rapi terlihat jelas.
Kamar itu sempit dan pengap. Hanya ada kasur tipis di sudut, lemari kecil, dan jendela kecil yang tertutup rapat. Cahaya redup dari lampu kuning membuat suasana semakin mencekam. Nathalie mundur hingga punggungnya membentur dinding. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal karena ketakutan dan amarah.
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak… aku tidak sudi! Jangan dekati aku, tua bangka!” teriaknya dengan suara parau. “Pergi! Aku tidak mau!”
Hadi tertawa rendah, suaranya seperti geraman. Ia melangkah mendekat perlahan, tangannya mulai membuka kancing baju lusuhnya. “Kamu sudah biasa kan? Ibumu bilang kamu sudah pernah melayani orang-orang di klub malam. Aku juga bayar mahal. Jangan sok suci.”
Nathalie merasa marah, Ia melihat ke sekeliling, mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata. Matanya penuh air mata, tapi tatapannya penuh perlawanan.
“Ibu… tolong… buka pintunya!” jerit Nathalie sambil memukul-mukul pintu kayu dengan kepalan tangannya yang sudah memar. “Ibu! Ini anakmu! Ibu tega menjualku seperti ini?!”
Tak ada jawaban dari luar. Hanya suara tawa kecil Dyah yang samar terdengar dari ruang tamu, diikuti suara kursi roda ayahnya yang berderit lemah, pria itu pasti sedang menangis tak berdaya.
Hadi semakin dekat. Bau badannya yang pengap dan bercampur minyak kayu putih membuat Nathalie semakin mual. Pria itu mengulurkan tangan, mencoba meraih lengan Nathalie. Dengan sigap, Nathalie menampar tangan itu keras dan mendorong dada pria tua itu sekuat tenaga.
“Jangan sentuh aku!” jeritnya lagi, suaranya sudah serak karena menangis.
Hatinya hancur. Dia masih merasa menyesal karena telah menjual tubuhnya pada Drake. Tapi kini ibunya sendiri yang menjualnya kepada pria tua mesum ini. Rasa pengkhianatan yang paling dalam menusuk jiwanya.
Nathalie terus mundur ke sudut kamar, tubuhnya gemetar hebat. Ia siap melawan sekuat tenaga.
Di luar kamar, Dyah duduk tenang sambil menghitung uang yang diterimanya dari pria tua itu. Sementara di dalam, Nathalie berjuang melawan nasib yang semakin kejam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hadi semakin nekat. Dengan gerakan cepat yang tak disangka Nathalie, pria tua itu menarik tangan perempuan itu dengan kasar. Jari-jarinya yang kasar dan penuh urat menjepit pergelangan tangan Nathalie hingga terasa nyeri. Dengan kekuatan yang masih cukup besar meski usianya sudah lanjut, Hadi membanting tubuh Nathalie ke atas kasur tipis yang sudah usang.
“Aaah!” jerit Nathalie saat punggungnya membentur kasur keras. Kasur itu nyaris tak ada busanya, membuat tulang punggungnya terasa sakit. Hadi langsung naik ke atas tubuhnya, menindihnya dengan berat badan yang membuat napas Nathalie tersengal.
“Jangan banyak tingkah, anak manis,” desis Hadi sambil tersenyum mesum. Bau mulutnya yang tidak sedap menyengat hidung Nathalie. Satu tangannya menekan kedua pergelangan tangan Nathalie di atas kepala, sementara tangan satunya mulai merayap ke dada perempuan itu, meremas kasar melalui kain baju.
Nathalie meronta sekuat tenaga. Tubuhnya menggeliat liar di bawah tubuh Hadi. “Lepaskan! Lepaskan aku, bajingan!” teriaknya sambil menendang-nendang kakinya. Air matanya mengalir deras, campuran ketakutan dan amarah yang membara.
Hadi tertawa serak, menikmati perlawanan Nathalie. Ia menekan tubuhnya lebih kuat, lututnya menjepit pinggul perempuan itu agar tak bisa bergerak leluasa. Tangan kasarnya mulai menarik naik baju Nathalie, memperlihatkan kulit perut yang mulus.
Di saat keputusasaan hampir menguasai dirinya, mata Nathalie tertuju pada lampu meja kecil di samping kasur. Lampu tidur berbahan keramik dengan kaki besi yang cukup berat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggapai-gapai tangan kirinya yang masih agak longgar.
Bugh!
Nathalie berhasil meraih lampu itu dan langsung memukulkannya sekuat tenaga ke kepala Hadi.
"AKH...."
Suara benturan yang keras terdengar. Hadi menjerit kesakitan, tubuhnya limbung seketika. Darah mengalir dari pelipisnya yang terluka. Ia mengaduh sambil memegangi kepalanya, melepaskan cengkeraman di tubuh Nathalie.
Nathalie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan adrenalin yang membanjiri tubuhnya, ia mendorong tubuh Hadi sekuat tenaga hingga pria tua itu terguling ke samping. Ia bangkit dengan cepat, meski kakinya gemetar hebat. Tanpa pikir panjang, ia meraih kursi kecil di sudut kamar dan menghantamkannya sekali lagi ke punggung Hadi yang sedang meringkuk kesakitan.
“Dasar tua bangka mesum!” teriak Nathalie dengan suara parau.
Ia berlari ke pintu kamar dan memukul-mukulnya keras. “Ibu! Buka pintunya! Buka sekarang juga!”
Tak ada jawaban. Dyah rupanya sudah pergi entah ke mana, atau sengaja tidak peduli. Nathalie panik. Ia melihat kunci cadangan yang biasa disimpan di laci kecil dekat pintu. Dengan tangan gemetar, ia berhasil membuka kunci dari dalam.
Begitu pintu terbuka, Nathalie langsung berlari keluar rumah.
“Aku harus pergi" gumamnya sambil berlari terbirit-birit.
Hadi yang masih meringkuk di kamar meneriakkan umpatan kasar dari dalam. Nathalie tidak peduli. Ia terus berlari keluar ke gang sempit di depan rumahnya, berlari sekuat tenaga meski tubuhnya sakit di mana-mana. Malam yang gelap menyambutnya.
Air matanya tak berhenti mengalir. Pengkhianatan ibunya terasa lebih menyakitkan daripada segala penderitaan fisik yang ia alami.
Dengan napas tersengal dan tubuh gemetar, ia berjalan tanpa tujuan yang jelas. Namun saat di tengah jalan tiba-tiba.....
Ckit.......
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal. Mobil itu mengerem mendadak karena hampir saja menabrak Nathalie.
Tak lama pengendara mobil pun keluar mengecek kondisi Nathalie yang sedang berjongkok di tengah jalan sambil menutup wajahnya.
"Kamu tidak apa-apa?"