Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman-teman Byan
Pertemuan kali ini setelah terakhir kali, Byan membawanya ke sebuah rumah minimalis. Eva sudah merasa tegang sebelum turun dari mobil, berpikir jika itu adalah rumah orang tua Byan, sehingga dia mungkin harus bertemu orang tuanya sekarang dan semuanya akan berakhir saat ini juga.
Matilah aku, apa yang akan mereka lakukan padaku jika tahu aku berpura-pura menjadi Nona Laila. Apa mereka akan melaporkan aku ke polisi?
Menyadari gadis disampingnya terlihat sangat gugup, Byan langsung memegang tangannya yang benar-benar terasa dingin. Byan berhenti tepat di depan pintu rumah, belum sempat membuka pintu. Dia menghadap Eva dan menatapnya lekat.
"Kenapa tanganmu dingin sekali? Apa kau gugup?"
Tidak, ini bukan hanya sekadar gugup saja. Eva sudah merasa akan mati sekarang. Bagaimana tidak, tiba-tiba Byan membawanya ke sebuah rumah, dan Eva berpikir ini adalah rumahnya yang akan mempertemukan Eva bersama orang tuanya. Itu adalah hal yang akan membuat hidup Eva habis saat itu juga.
Bagaimana jika akhirnya aku akan berakhir di Kantor Polisi? Aa... Nona tolong aku.
"Mas, kenapa membawa aku kesini? Aku sudah pernah bilang jika belum siap jika harus bertemu orang tua-"
"Haha... Kamu gugup dan diam saja dari tadi karena memikirkan itu?"
Suara tawa Byan dan ucapannya barusan, membuat Eva terdiam sejenak. Mulai berpikir jika semuanya mungkin bukan seperti yang dia kira. Namun, jika bukan rumah orang tua Byan, lalu ini rumah siapa?
"Ini hanya rumah tempat aku berkumpul bersama teman-temanku, lebih tepatnya rumah tempat kita melampiaskan rasa lelah dan penat dari pekerjaan dan masalah masing-masing. Kami sengaja membeli rumah ini hanya untuk tempat berkumpul. Dan aku membawamu kesini, memang sengaja juga untuk di kenalkan pada teman-temanku"
Eva menghela napas pelan setelah mendengar penjelasan dari Byan barusan. Tapi tunggu dulu, dikenalkan pada teman-temannya? Itu artinya teman-teman Byan akan tahu. Apa ini mungkin untuk Eva yang hanya sebatas pengganti Laila saja? Semakin banyak orang yang tahu, maka semakin mudah sandiwara ini terbongkar. Tapi ketika Byan membawanya masuk ke dalam rumah, Eva juga tidak bisa melakukan apapun, benar-benar tidak bisa menolaknya.
"Wah sudah kumpul semua orang" ucap Byan saat sampai di ruang tengah, melihat semua orang berada disana.
Eva terdiam, melihat ada 10 orang disana. Lima di antaranya adalah laki-laki, dan lima lainnya adalah perempuan.
Sepertinya ini adalah pasangan, jadi mereka semua berpasang-pasangan.
"Akhirnya yang di tunggu datang juga" ucap Bayu disana, disampingnya duduk istrinya yang tersenyum pada Eva.
Byan duduk di sofa kosong disana, meraih tangan Eva dan membuatnya duduk juga di sampingnya. "Tumben sekali semuanya datang"
"Kau tahu, istri-istri kita ini sudah penasaran dengan pasanganmu. Saat dengar kau akan membawa seorang gadis, semuanya langsung mau ikut" ucap Davin.
Byan hanya terkekeh pelan, diantara semuanya hanya tinggal dia yang belum menikah. Dan kabar Byan yang akan membawa seorang gadis, langsung membuat semua temannya ingin berkenalan.
"Jadi, ini adalah gadis yang waktu itu kau bawa makan di Restoranku? Sayangnya aku tidak sempat kesana dan bertemu kalian" ucap Bayu.
Byan hanya mengangguk dan tersenyum, dia melirik Eva yang hanya menunduk diam dengan tangannya yang saling bertaut di atas pangkuannya. Terlihat jelas jika gadis itu sedang merasa gugup sekarang. Byan meraih tangan Eva dan mengenggamnya lembut, rasa hangat dari tangan Byan membuatnya menoleh.
Aa.. Jantungku.
Eva hanya mencoba mengatur napasnya yang tiba-tiba merasa jantungnya memberikan debaran kencang hingga membuatnya sulit mengatur napasnya sendiri. Ketika Byan memperkenalkan satu persatu teman-temannya dan juga para istri mereka, Eva senantiasa mengangguk dan tersenyum sopan. Dia juga memperkenalkan dirinya sebagai Laila. Meski selalu merasa aneh ketika dirinya memperkenalkan diri dengan nama Laila.
"Laila, ayo ikut dengan kami" Wanita bernama Shafa, istri dari pria bernama Bara merangkul tangannya dan membawanya pergi sebelum Eva sempat menolak. "Kita harus ngobrol-ngobrol disana. Biarkan saja para pria disini"
Eva hanya tersenyum saja, tidak menyangka juga jika semua istri dari teman-teman Byan itu begitu menerima kehadirannya. Mereka membawa Eva ke taman belakang, duduk di teras dengan cemilan dan beberapa minuman yang di siapkan.
Menikmati malam bersama dengan teman memang menyenangkan, tapi Eva masih mencoba untuk masuk dalam obrolan mereka dengan tenang. Karena ini adalah pertama kalinya dia mengobrol dengan banyak orang tanpa Laila di sampingnya.
Ya, kepribadian Eva dan Laila memang cukup berbanding terbalik. Saat Laila sangat ceria dan bisa berinteraksi dengan banyak orang. Sementara Eva sangat sulit berinteraksi, sulit membuka diri dengan orang-orang baru seperti ini.
"Laila, bicaralah. Kamu hanya diam saja, ceritakan bagaimana kamu bisa bersama Byan" ucap Yumna, istri dari Davin ini.
Eva hanya tersenyum tipis, dia bingung harus berbicara apa dan bagaimana cara mengikuti obrolan mereka. "Em, kami hanya di jodohkan oleh orang tua"
"Dan kamu menerimanya? Bukan karena terpaksa 'kan?" tanya Irena, istri dari Andreas.
Eva hanya terdiam, dia juga bingung bagaimana menjawabnya. Jika dia bicara menerima perjodohan ini, tapi sebenarnya bukan dia juga yang di jodohkan. Karena sebenarnya Laila sangat ingin perjodohan ini dibatalkan.
"Karena Laila mau di ajak kesini, sudah pasti dia menerima perjodohan ini. Lagian apa yang kurang dari Byan? Dia tampan, mapan, dan kelebihannya pria yang hangat dan berhati lembut. Beda sekali dengan para suami kita" ucap Raina sambil tertawa pelan.
Eva hanya tersenyum saja menyikapi obrolan mereka, dan tentang Byan yang di ucapkan oleh istri dari Marvin itu, dia menyetujuinya. Memang Byan adalah pria yang hangat dan penuh peduli.
*
Semuanya terasa menyenangkan bagi Eva yang jarang sekali berinteraksi dengan banyak orang tanpa Laila selama ini, meski dia hanya menimpali beberapa obrolan yang menyangkut dirinya, seperti menjawab pertanyaan. Namun, Eva menyadari jika semua orang benar-benar hangat padanya.
"Bagaimana? Mereka baik padamu 'kan?"
Eva mengangguk, dia tersenyum mengingat ada orang-orang yang menunjukan sedikit perhatian padanya selain dari Laila. "Ya, mereka sangat baik dan hangat. Senang ya punya teman-teman seperti itu"
Byan tersenyum, dia mengelus lembut kepala Eva. Lalu kembali lagi pada kemudinya. "Sekarang mereka juga menjadi temanmu, apa tadi sudah bertukar nomor ponsel?"
Eva mengangguk, rasanya mempunyai beberapa teman selain Laila, cukup menyenangkan juga baginya.
"Aku juga ingin bertemu dengan teman-temanmu. Kau juga sering pergi dengan temanmu 'kan? Aku ingin tahu mereka semua"
Eva terdiam, dia lupa jika selama ini hanya berbohong tentang teman itu. Karena nyatanya sejak kecil temannya hanyalah Laila, kemana pun dia pergi hanya bersama Laila. Hingga dewasa pun hanya Laila yang menjadi teman dekatnya.
Semakin alasan dan kebohongan, maka akan semakin sulit untuk berkata jujur.
Bersambung