NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8.Balas Budi Telah Lunas

Beberapa orang yang sedang melintas mulai melirik ke arah mereka.

Vira tetap berdiri tegak di belakang etalase tokonya. "Aku berubah karena akhirnya aku sadar."

"Sadar apa?" tanya Daril tak sabar.

"Sadar kalau rasa terima kasih bukan alasan buat ngorbanin seluruh hidupku."

Daril terdiam, lidahnya terasa kelu.

Vira kembali melanjutkan dengan nada suara datar. "Kamu memang pernah menyelamatkan nyawaku. Aku gak pernah ngelupain itu."

Vira menatap pria di depannya itu dalam-dalam. "Tapi nyelametin nyawaku bukan berarti kamu berhak nentuin masa depanku."

Setiap kata yang diucapkan Vira terasa seperti tamparan keras bagi Daril. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan asing.

Ia masih melihat wajah yang sama. Namun perempuan yang berdiri di depannya bukan lagi Vira yang selalu mengangguk dan mengiyakan semua keinginannya.

Daril masih berdiri di depan toko Vira beberapa saat. Ia mencoba membujuk lagi.

"Ra, kita sudah empat tahun bersama. Masa semuanya selesai begitu saja?"

Namun Vira malah melayani pelanggan yang baru datang, seolah Daril hanyalah orang biasa.

"Beli apa, Bu?" tanya Vira sopan.

"Telur, Ra," sahut ibu tersebut. "Boleh Ibu milih sendiri gak?"

"Oh, boleh, Bu," jawab Vira. "Nanti naikkan saja di timbangan digital ini." Vira menunjuk timbang di atas etalase.

Ibu itu menatap timbangan itu, lalu mengangguk kecil.

Daril yang diabaikan merasa harga dirinya terluka.

"Kamu pasti akan menyesal, Ra," ucap Daril dengan rahang mengeras.

Vira menatap.pria itu lurus. Seketika senyum ramah pada pelanggan tadi hilang. "Aku gak akan pernah menyesali keputusanku hari ini."

Dalam hati ia melanjutkan, "Keputusan yang seharusnya aku buat di kehidupan sebelumnya. Agar aku gak mati di tangan orang yang tak seharusnya aku cintai."

Ibu-ibu yang sedang memilih telur melirik sekilas. Ia mendengar waktu Daril berkata, ''Ra, kita sudah empat tahun bersama. Masa semuanya selesai begitu saja?'

Dalam hati ia bergumam. "Mereka beneran putus?"

Daril kehilangan kata-kata. Ia menatap Vira beberapa saat, lalu berbalik meninggalkan toko dengan langkah lebar penuh amarah. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kalau memang ada laki-laki lain..." gumamnya pelan. "Akan kucari tahu siapa orangnya."

Sementara itu, Vira memandangi punggung Daril hingga menghilang di tikungan Dadanya terasa sesak. Perlahan, ia mengembuskan napas panjang.

"Akhirnya..." Sudut matanya mulai memanas. "Aku berhasil mengatakan tidak."

Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, tetapi bibirnya melengkung ke atas. "Kali ini aku akan hidup buat diriku sendiri."

***

Daril pulang dengan kepala masih dipenuhi kejengkelan. Ia tak menyangka Vira yang selama ini selalu memenuhi permintaannya tiba-tiba berubah. Yang paling sulit ia terima, gadis itu bahkan mengakhiri hubungan mereka.

Begitu masuk ke rumah, Daril langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tengah. Wajahnya kusut seperti baru saja kalah judi miliaran rupiah.

"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Mirna yang baru keluar dari dapur.

Daril mengembuskan napas kasar. "Vira gak mau kasih aku modal, Bu."

Mirna mengernyit.

"Jangankan modal," lanjut Daril. "Dia malah mutusin aku. Katanya balas budinya sama aku udah kelar."

"Apa?" Mata Mirna membelalak. "Sampai mutusin kamu?"

Daril mengangguk lemas.

Mirna langsung mendecak kesal. "Ibu sudah bilang. Pasti ada laki-laki lain." Ia meremas ujung dasternya. "Apa dia gak ingat, kalau bukan karena kamu dulu menyelamatkannya, dia pasti sudah mati. Sekarang setelah punya uang, dia malah lupa diri."

Daril mengusap wajahnya frustrasi.

"Terus aku harus gimana, Bu? Sekarang aku gak punya kerjaan. Masa aku harus jadi ojol? Yang bener aja. Aku ini lulusan S-1."

Mirna menatap putranya beberapa saat. "Memangnya kenapa kalau jadi ojol? Yang penting dapat uang."

Daril langsung menggeleng. "Ya malulah, Bu. Kalau ujung-ujungnya jadi kang ojek, ngapain aku kuliah?""

Mirna mendesah panjang. "Malu gak bakal bikin kita kenyang, Ril."

Kalimat itu membuat Daril terdiam.

"Selama ini beras, minyak, gula, bahkan uang berobat Ibu banyak dibantu Vira. Kalau sekarang dia benar-benar berhenti membantu, kita mau makan apa?"

Bahu Daril langsung merosot. "Aku juga gak tahu."

Ruangan itu mendadak dipenuhi keheningan. Keduanya sama-sama memikirkan bagaimana cara bertahan hidup... dan bagaimana agar Vira mau membantu mereka lagi.

Beberapa saat kemudian, Mirna membuka suara. "Kalau menurut Ibu, kamu awasi saja Vira."

Daril mengangkat kepala.

"Cari tahu kenapa dia berubah,". lanjut Mirna. Ibu yakin pasti ada penyebabnya."

Rahang Daril mengeras. "Nanti akan kucari tahu. Siapa pun yang membuat Vira berubah seperti ini, aku gak akan tinggal diam."

"Tapi..." Ia mengembuskan napas berat. "Sebelum itu, kita harus cari uang dulu."

***

Kabar tentang putusnya Daril dan Vira menyebar di desa seperti puntung rokok jatuh di hutan jati yang sedang meranggas.

Di teras rumah salah satu warga, beberapa ibu-ibu sedang duduk sambil menganyam tas plastik.

"Kalian dengar belum? Vira sama Daril putus."

"Hah? Serius? Bukannya mereka sudah lama dekat?"

"Iya. Katanya yang mutusin malah Vira."

"Lho, kok bisa? Setahuku Vira sayang banget sama Daril."

"Itu, 'kan, dulu."

"Kalau dipikir-pikir, memang sudah lama juga Vira yang terus membantu keluarga Daril."

"Iya. Tiap bulan ngirim beras, minyak, gula. Belum lagi uang berobat buat Mirna."

"Aku juga dengar Vira sampai gak jadi kuliah supaya Daril tetep bisa menyelesaikan kuliahnya."

"Bener. Daril hampir putus kuliah karena ayahnya meninggal."

"Kasihan juga, ya Vira."

"Sekarang Daril sudah lulus setahun lebih, tapi masih belum punya pekerjaan tetap."

"Kalau terus begitu, siapa yang tahan?"

Salah seorang ibu tertawa kecil.

"Kalau aku masih punya anak bujang, sudah kusuruh cepat-cepat deketin Vira."

"Ya jelas. Cantik, baik hati, punya toko, rumah sendiri lagi."

"Yang paling penting rajin dan gak sombong."

"Iya. Menantu seperti itu susah dicari."

Seorang ibu yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.

"Menurutku, justru sekarang Vira sudah sadar. Perempuan juga capek kalau terus memberi, sementara yang diberi tidak berusaha berubah."

Semua mengangguk setuju.

"Semoga saja Vira dapat jodoh yang lebih baik."

"Sayang ya, di kampung ini pemuda yang benar-benar rajin cuma sedikit."

Lalu seorang ibu menjawab, "Ada, sih. Arvin."

Ia menunjuk ke arah rumah di seberang jalan. Di halaman rumah itu, Arvin tampak mengangkat karung-karung pasir seorang diri. Ibu-ibu yang lain ikut menoleh ke arah pemuda itu.

"Kasihan anak itu," gumam salah seorang dari mereka. "Orangnya pekerja keras, cuma nasibnya saja yang berat."

Sejenak, tak ada lagi yang berbicara. Suara anyaman plastik kembali mendominasi teras rumah itu.

Tiba-tiba, suara seorang bocah terdengar dari jalan depan.

"Kak Arvin!"

Semua menoleh.

Bocah itu berlari kecil sambil melambai-lambaikan tangan.

"Kak Arvin, Kak Vira nyariin! Disuruh datang ke toko sekarang!"

Sontak para ibu saling berpandangan.

"Vira nyari Arvin?"

"Ada urusan apa, ya?"

Di sisi lain, Arvin yang baru saja selesai mengangkat karung pasir tampak ikut tertegun mendengar panggilan itu.

Arvin mengernyit bingung. Seingatnya, ia dan Vira bahkan belum pernah berbincang lebih dari beberapa kalimat. Lalu... untuk apa gadis itu mencarinya?

 

...✨"Balas budi memiliki akhir, tetapi harga diri tidak boleh ikut dikorbankan."...

..."Tidak semua orang yang pernah menolongmu berhak menentukan masa depanmu."...

..."Keberanian terbesar bukan mempertahankan hubungan yang salah, melainkan berani mengakhirinya."...

..."Kesempatan kedua adalah hadiah untuk memperbaiki pilihan, bukan mengulang penderitaan."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!