NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

It Girl Gadungan

Suasana kantin SMA Gelanggang Alam saat jam istirahat sudah mirip pasar malam minus komidi putar.

Bau uap soto bercampur dengan aroma minyak gorengan panas.

Semua itu beradu dengan lengkingan suara ibu kantin yang sibuk menagih bayaran murid-murid.

Sesuai janjinya di kelas tadi, Lintang duduk di pojok kantin dengan wajah semringah.

Di depannya, Zahiya sedang khusyuk menghadapi semangkuk bakso urat dan es teh manis jumbo.

"Makan yang banyak, Zah. Anggap aja itu komisi atas jasa suci lu yang udah mempertemukan gua dengan masa depan," ujar Lintang.

Ia menopang dagu sambil menatap Zahiya dengan pandangan bangga.

Zahiya mengunyah baksonya lambat-lambat. "Gue sengaja pesen yang paling mahal, Lin. Mumpung lu lagi kesurupan jin dermawan."

"Santai. Buat makcomblang internasional spek lu, dompet gue selalu siap lahir batin," balas Lintang enteng.

Biarpun otaknya sering geser dan lantam, Lintang ini sebenarnya salah satu murid emas di sekolah.

Otaknya encer di urusan akademik. Peringkat paralelnya selalu konsisten di papan atas.

Suaranya kalau sudah memegang mikrofon bisa membuat merinding, dan gerakannya saat menari di acara pensi selalu sukses membuat satu sekolah histeris.

Sayangnya, semua bakat bintang itu sering tenggelam karena kelakuannya yang kelewat bobrok dan susah diatur.

Baru saja Lintang mau mencuri satu butir bakso milik Zahiya, suasana di sekitar meja panjang dekat penjual jus mendadak berbisik-bisik.

Lintang refleks menoleh. Di sana, Arka baru saja duduk bersama Leon.

Namun, yang membuat kornea mata Lintang mendadak berkedut panas adalah kehadiran Gardena.

Cewek kelas 12 IPS 1 itu datang tidak sendirian. Ia melangkah anggun didampingi dua dayang-dayang setianya, Sherly dan Fanya.

Gardena langsung menggeser duduk di dekat Arka dengan senyum paling manis miliknya.

"Hai, Arka," sapa Gardena mendayu-dayu.

Arka diam saja. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Cowok itu tetap fokus pada mangkok siomay di depannya.

Namun, Gardena sama sekali tidak menyerah.

"Congrats ya, menang lagi di kejuaraan silat tingkat provinsi kemarin. Aku yakin sih, kamu emang nggak pernah kalah," ujar Gardena, memberikan validasi penuh.

Arka masih bergeming bagai batu es.

"Oh iya, kemarin aku habis liburan dari Bandung. Terus aku sengaja bawain oleh-oleh spesial buat kamu," lanjut Gardena dengan wajah excited ala-ala memberikan kejutan.

Gardena merogoh tas kecilnya, lalu menyodorkan sebuah gelang hitam berbandul huruf G (Gifarka) ke hadapan Arka.

Arka hanya melirik benda itu sekilas tanpa minat.

Tanpa meminta izin, Gardena dengan nekat langsung menarik pergelangan tangan kanan Arka. Ia memakaikan gelang itu di sana.

Arka tetap diam, membiarkan pergelangan tangannya dipasangi gelang dengan ekspresi malas berdebat.

"Cocok deh di tangan kamu. Nih, aku juga pakai," ujar Gardena riang sambil memamerkan pergelangan tangannya sendiri yang memakai gelang serupa. Sama-sama berhuruf G.

"Ihh, cocok banget tahu, Den! Sumpah, kelihatan kompak banget!" seru Sherly heboh dari belakang.

"Iya bener! Berasa kayak gelang kapel tau nggak, emang jodoh nggak kemana!" timpal Fanya memanasi suasana.

Dari pojok kantin, sepasang mata Lintang sudah menyipit tajam menatap pemandangan itu. Jiwa bar-barnya langsung meronta gila.

"Zah, bentar. Ada uler keket lagi pamer gelang murah," bisik Lintang ketus.

Tanpa membuang waktu, Lintang bangkit dari kursinya. Ia setengah berlari riang menghampiri meja Arka.

"Arkaaaa!" seru Lintang sengaja dengan volume yang cukup terdengar.

Ia langsung berdiri tepat di samping tempat duduk Arka. Cowok stoik itu perlahan mendongak. "Kenapa?"

"Gue mau shareloc alamat rumah gue, biar lu nggak telat buat acara Sabtu sore nanti," ujar Lintang manis, sengaja menunjukkan senyum secukupnya yang dibuat seimut mungkin.

"WA aja," ujar Arka singkat.

Lintang langsung menyengir tanpa dosa. "Hehe, masalahnya gue lagi nggak ada paketan nih. Hotspot doong, Mas Crush."

Arka mengembuskan napas pendek, merasa pasrah dengan kelakuan gadis di sampingnya ini. "Sini ponselnya."

Lintang dengan cepat menyodoran ponselnya yang ber-casing penuh stiker lucu.

Tanpa banyak bicara, Arka meraih ponsel Lintang. Jemari kokohnya bergerak cepat menyalakan hotspot dari ponselnya sendiri, lalu menghubungkan jaringan internet ke ponsel Lintang.

Setelah tersambung, Arka menyodorkan ponsel itu kembali. Lintang menerimanya dengan mata berbinar, lalu buru-buru menekan tombol share location di ruang obrolan mereka.

"Udah masuk belum, Ka?" tanya Lintang.

Arka melirik layar ponselnya yang tergeletak di meja. "Udah."

"Coba liat dulu, kali aja gue salah shareloc malah ngirim alamat rumah tetangga gue," pinta Lintang mencari alasan.

"Gak usah," kata Arka datar.

"Iiiih, coba liat duluuu, nanti kalau lu nyasar ke rumah pak RT gimana?" bujuk Lintang lagi dengan nada merengek.

Arka akhirnya mengalah. Ia kembali membuka ponselnya untuk memeriksa peta lokasi yang dikirim Lintang.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Lintang.

Dengan gerakan cepat, Lintang langsung membungkukkan tubuhnya ke depan. Kepalanya sengaja disejajarkan sangat dekat dengan kepala Arka, ikut melongok melihat layar ponsel cowok itu.

Aroma parfum manis buah beri dari rambut Lintang mendadak menguar di indra penciuman Arka, membuat cowok itu sempat menghentikan gerakan jemarinya selama satu detik.

Sementara itu, di seberang meja, wajah Gardena dan kedua dayang-dayangnya langsung berubah masam dan pucat karena kalah telak oleh modus tingkat dewa milik Lintang.

"Lintang! Ngapain sih duduk deket-deket begitu? Arka risih tahu!" ujar Gardena dengan nada ketus.

Persona anggun yang tadi dipamerkan Gardena runtuh seketika melihat kedekatan Lintang dan Arka.

Lintang perlahan mendongak, menatap Gardena dengan malas.

Ia kembali menegakkan tubuhnya, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan santai.

"Arka emang risih sama gue," ujar Lintang enteng. "Tapi dia pasti lebih risih dipasangin gelang kapel dua ribuan sama lu."

Wajah Gardena langsung memerah padam menahan malu.

"Oh iya, sekalian gue mau pamer nih," lanjut Lintang dengan wajah penuh kebanggaan.

"Gue satu kelompok sama Arka buat tugas Prakarya bazar nanti. Berdua doang!"

Lintang mengangkat tangan kanannya, membentuk pose dua jari tepat di depan wajah Gardena.

"Nggak bisa kan, lu? Yahaaa! Cuma masangin gelang doang mah nggak usah bangga. Bentar lagi juga dibuang sama Arka," panasi Lintang tanpa ampun.

Gardena yang sudah berada di puncak emosi langsung menunjuk wajah Lintang. "Kamu-!"

"Udah," potong Arka dengan suara beratnya yang dingin.

Seketika atmosfer di meja kantin itu mendadak senyap. Arka mengalihkan pandangannya, melirik tajam ke arah Lintang. "Balik ke meja lu."

"Nggak mau," ujar Lintang santai tanpa rasa takut sedikit pun.

Melihat Lintang yang keras kepala, Arka tidak mendebat lagi. Ia memutar kepalanya, beralih melirik Gardena tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Tatapan mata elang Arka begitu mengintimidasi. Gardena yang merasa seperti akan segera diamuk langsung salah tingkah.

"Arka... aku duluan ya. Jangan diilangin gelangnya, oke?" pamit Gardena buru-buru demi menyelamatkan muka.

Tanpa menunggu jawaban Arka, Gardena langsung memberi isyarat pada kedua dayang-dayangnya. Mereka bertiga langsung balik kanan dan bubar jalan dari kantin.

Lintang bertepuk tangan heboh merayakan kemenangannya.

Leon yang duduk di seberang Arka sampai menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

"Gila lu, Lin. Pawang uler spek lu emang nggak ada tandingannya di sekolah ini," puji Leon setengah menyindir.

Lintang mengibaskan rambutnya angkuh. "Makanya, jangan meragukan kemampuan Lintang Gentariana."

"Tapi ucapan lu tadi agak keterlaluan nggak sih? Kasihan juga tuh anak orang mukanya sampai kayak kepiting rebus," sahut Leon sambil menyuap sisa siomaynya.

"Biarin aja. Siapa suruh caper duluan sama crush gue," balas Lintang telak.

Setelah drama kantin selesai dan musuhnya menyingkir, Lintang melirik ke arah Arka yang kembali fokus pada ponselnya.

"Udah, ah. Misi selesai, gue mau balik ke meja gue dulu. Bye, Mas Crush!" Lintang melengos begitu saja dengan langkah riang yang melompat-lompat kecil.

Leon memperhatikan punggung mungil Lintang sampai kembali ke mejanya, lalu menoleh ke arah Arka.

"Ka, asli... lu nggak capek apa hari-hari diurusin sama dua cewek sekaligus begitu?" tanya Leon penasaran.

"Nggak ngurus," ujar Arka datar.

Tangan kiri Arka bergerak naik, memegang gelang hitam berhuruf G yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

Dengan satu tarikan kasar yang kuat tanpa ragu, Arka memutus gelang tersebut.

Kretek!

Tali gelang itu putus total. Tanpa ekspresi, Arka melemparkan potongan gelang itu begitu saja ke dalam kotak sampah kecil di bawah meja kantin.

Leon melotot, hampir tersedak ludahnya sendiri. "Anjir, beneran dibuang!"

Arka tidak menyahut. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu bangkit berdiri meninggalkan Leon yang masih syok di tempat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!