NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ciuman di Malam Badai

Pai apel yang manis dan hangat perlahan habis dimakan. Dua piring kecil di atas meja ruang keluarga kini hanya menyisakan remah-remah kulit pai yang renyah. Film Mickey Mouse juga sudah berakhir. Alex tampak puas, berbaring di sofa dengan perut kenyang dan hati yang bahagia.

Liora melihat jam dinding di ruang keluarga. Jarum panjang sudah menunjuk ke angka dua belas, dan jarum pendek berada di angka sembilan. Sudah pukul sembilan malam.

"Alex, sudah waktunya tidur," kata Liora sambil mengumpulkan piring-piring kotor.

Alex menguap lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Alex ngantuk, Liora."

Liora mengangguk. "Ayo, kita naik ke lantai atas."

Mereka berdua naik ke lantai dua. Liora mengantar Alex ke depan kamarnya, seperti biasa. Ia membukakan pintu kamar Alex, dan Alex melangkah masuk.

"Selamat tidur, Alex. Jangan lupa berdoa," kata Liora dengan lembut, seperti rutinitas setiap malam.

Liora berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pintu, masuk, dan menutupnya kembali. Ia berganti pakaian dengan daster tidur berwarna krem yang nyaman, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menarik selimut hingga ke dadanya, mematikan lampu meja, dan memejamkan matanya.

Namun, baru saja ia akan terlelap, suara guntur menggelegar di luar.

Bruuummm!

Suara itu begitu keras, mengguncang jendela. Cahaya petir menyambar di langit, menerangi kamar Liora sejenak sebelum kembali gelap. Hujan di luar semakin deras, seperti air yang dituangkan dari langit. Suara air yang jatuh ke atap rumah menjadi semakin riuh.

Liora membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar, merasakan sedikit ketidaknyamanan. Badai seperti ini membuatnya gelisah.

Dan kemudian, ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.

Tok. Tok. Tok.

Liora mengerutkan kening. Ia bangkit dari tempat tidur, menyalakan lampu meja, dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu.

Dan di sana, di ambang pintu, berdiri Alex.

Alex mengenakan piyama tidurnya yang bergambar mobil balap. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya terlihat takut. Ia memeluk bantalnya erat-erat, seperti anak kecil yang sedang mencari perlindungan.

"Liora," panggil Alex dengan suara pelan, sedikit bergetar. "Alex takut. Petirnya keras banget. Alex nggak bisa tidur sendirian."

Liora menatap Alex. Di belakang Alex, petir kembali menyambar, diikuti oleh suara guntur yang menggelegar. Alex langsung menutup telinganya dengan tangan, dan matanya berair.

"Liora... boleh Alex tidur sama Liora?" pinta Alex, suaranya hampir menangis. "Alex janji nggak akan nakal. Alex cuma takut."

Liora menatap wajah Alex yang penuh ketakutan. Hatinya terasa luluh. Ia tidak tega membiarkan Alex tidur sendirian dalam keadaan takut seperti itu. Badai memang menakutkan, bahkan untuk orang dewasa sekalipun.

Liora menghela napas panjang. "Baiklah, Alex. Masuklah."

Wajah Alex langsung berseri-seri, meskipun rasa takutnya masih ada. Ia segera melangkah masuk ke kamar Liora, dan tanpa diminta, ia langsung naik ke tempat tidur Liora. Ia berbaring di sisi kiri tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, dan memeluk bantalnya erat-erat.

Liora mematikan lampu, lalu berbaring di sisi kanan tempat tidur. Ia menarik selimut yang sama—satu selimut besar yang menutupi mereka berdua.

Kamar itu menjadi gelap. Hanya cahaya petir yang sesekali menyambar, menerangi ruangan sekejap sebelum kembali gelap.

Mereka berdua berbaring berhadapan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter. Liora bisa merasakan napas Alex yang hangat, dan Alex bisa merasakan napas Liora yang sedikit bergetar.

Alex menatap Liora. Dalam gelap, matanya yang masih takut perlahan berubah. Ia memandang wajah Liora—alisnya, hidungnya, dan akhirnya, bibirnya.

Bibir Liora yang sedikit terbuka. Berwarna merah muda alami. Tampak lembut dan hangat.

Alex mengingat sesuatu. Ia mengingat janji yang Liora ucapkan di kebun apel pagi tadi. Saat itu, Liora berkata bahwa ia akan melakukan apa saja agar Alex mau memaafkannya.

Alex menelan ludah. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar di antara suara hujan dan guntur.

"Liora..."

Liora membuka matanya. "Ya, Alex?"

"Liora ingat janji Liora? Di kebun apel tadi pagi. Liora bilang, Liora akan melakukan apa saja agar Alex tidak marah," kata Alex dengan suara yang lebih dewasa dari biasanya, tetapi masih pelan.

Liora mengerutkan kening. Ia memang ingat ucapannya itu. "Aku ingat, Alex. Kenapa?"

Alex menatap bibir Liora lagi. "Alex... Alex mau mencium Liora. Seperti yang ada di buku itu. Liora bilang, Alex boleh cium kalau sudah menikah. Dan Alex sudah menikah dengan Liora."

Liora menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu permintaan ini akan datang suatu saat, tetapi ia tidak menyangka akan terjadi di malam badai seperti ini.

Alex melihat keheningan Liora. Ia menunduk, wajahnya terlihat sedih. "Tapi kalau Liora tidak mau, Alex tidak akan marah. Alex janji. Alex cuma mau minta... tapi kalau Liora tidak mau, Alex akan kembali ke kamar Alex."

Liora mendengar suara Alex yang hampir menangis. Ia melihat wajah Alex yang penuh ketakutan dan kerendahan hati. Alex tidak memaksa. Alex hanya meminta.

Dan Liora teringat, betapa Alex sangat menyukainya. Betapa Alex selalu tersenyum saat melihatnya. Betapa Alex selalu memujinya.

Liora menelan ludahnya. "Alex..."

Alex menatapnya penuh harap.

"Liora... Liora mau," bisik Liora, suaranya nyaris tidak terdengar.

Mata Alex membulat. "Benarkah, Liora? Alex tidak marah kalau Liora tidak mau, kok."

Liora menggeleng perlahan. "Aku mau, Alex."

Alex tersenyum. Senyuman yang berbeda dari biasanya—bukan senyuman polos, tetapi senyuman yang penuh arti. Ia mendekatkan wajahnya. Perlahan, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Liora.

Liora menutup matanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Napasnya tertahan.

Bibir Alex menyentuh bibir Liora.

Sentuhan itu sangat lembut. Seperti sebuah bulu yang jatuh di atas kelopak bunga. Alex mencium Liora dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang berharga.

Liora merasakan sensasi aneh. Bibir Alex terasa hangat dan sedikit kasar, tetapi sentuhannya sangat halus. Alex tidak bergerak, tidak menekan, hanya diam di sana, seolah menikmati momen itu.

Liora merasa sesak napas. Napasnya bercampur dengan napas Alex. Ia membuka matanya sedikit, dan melihat wajah Alex yang sangat dekat. Alex juga membuka matanya, dan mereka saling menatap.

Ciuman itu berlangsung hanya beberapa detik, tetapi rasanya seperti selamanya.

Alex perlahan menjauhkan wajahnya. Ia tersenyum—senyuman yang sangat bahagia.

"Terima kasih, Liora," bisiknya. "Alex suka ciuman ini. Alex suka Liora."

Liora tidak bisa berkata-kata. Wajahnya terasa panas. Ia tahu wajahnya pasti sudah semerah tomat, tetapi dalam gelap, Alex mungkin tidak bisa melihatnya.

Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Terima kasih, Alex."

Alex tersenyum lagi, lalu ia bergerak sedikit, mendekatkan tubuhnya pada Liora. Ia memeluk Liora dengan lembut, lengannya melingkar di pinggang Liora. Kepalanya bersandar di bahu Liora.

"Selamat tidur, Liora," bisiknya.

Liora diam membeku. Tubuhnya terasa kaku, tetapi perlahan, ia mulai rileks. Ia merasakan kehangatan tubuh Alex, dan ia merasakan ketenangan yang aneh.

"Selamat tidur, Alex," balasnya pelan.

Di luar, hujan masih turun. Petir masih sesekali menyambar, tetapi Alex tidak lagi takut. Ia tertidur dengan nyaman dalam pelukan Liora.

Liora masih terbuka matanya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Bibirnya masih terasa hangat. Wajahnya masih merah. Hatinya masih berdegup kencang.

Ini adalah malam pertama ia mencium suaminya. Malam yang tidak akan ia lupakan.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!