NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Isi Surat

Bab 10- Isi Surat

Ingatan itu melintas kembali dengan jelas di benak Senopati, seolah baru terjadi kemarin. Malam hujan lebat, jalanan licin dan sepi, hingga mobilnya tergelincir dan menabrak pembatas jalan. Ia terjebak di dalam kabin, kesadarannya mulai menghilang, hingga sesosok gadis muda muncul dari kegelapan. Tanpa ragu, gadis itu berusaha keras membantunya keluar, lalu memapahnya menuju rumah sakit terdekat meski hujan terus membasahi tubuh keduanya.

Wajah gadis itu sempat ia lihat sekilas sebelum obat penenang bekerja, dan sejak saat itu ia tak pernah melupakan sosoknya. Ia sudah berusaha mencari-cari, namun tidak ada data, tidak ada alamat, bahkan gadis itu pun pergi begitu saja tanpa meninggalkan nama atau tanda pengenal apa pun. Hanya tersisa selembar sapu tangan bermotif bunga kecil yang terlepas tanpa disadarinya benda itu masih tersimpan rapi di laci pribadinya hingga sekarang.

Maka ketika Raisa diperkenalkan kepadanya sebagai jaminan utang, jantungnya sempat berhenti berdetak sejenak. Ia mengenali raut wajah itu, sorot matanya yang lembut namun menyimpan banyak kesedihan, persis seperti gadis yang menolongnya bertahun silam. Awalnya ia ragu, namun seiring berjalannya waktu dan melihat kebiasaan serta sifatnya, kepastian itu semakin kuat.

Itulah alasan sesungguhnya mengapa ia menerima perjanjian itu tanpa banyak pertanyaan. Bukan hanya soal kewajiban atau urusan bisnis, melainkan juga sebagai bentuk balas budi—ia ingin memastikan gadis yang pernah menyelamatkan nyawanya itu hidup dalam keamanan dan kenyamanan, jauh dari penderitaan yang selama ini menimpanya. Namun ia memilih menyimpannya sendiri, tak ingin Raisa merasa terbebani atau menganggap pernikahan ini semata-mata karena hutang budi.

"Jika kau suka dengan nuansa warna putih dan krem seperti ini, kita gunakan saja. Cocok dengan karaktermu yang lembut," suara Senopati tiba-tiba terdengar, membuyarkan lamunannya sekaligus menarik perhatian Raisa.

Raisa terkejut sejenak, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis yang mulai terlihat lebih tulus. "Terima kasih, Tuan. Rasanya warna ini terasa lebih tenang dipandang mata."

Perancang acara itu pun mencatat pilihan mereka sambil tersenyum melihat interaksi keduanya. "Baiklah, Nona. Kalau begitu kita sesuaikan semua bagian dengan nuansa itu."

Saat mereka berjalan menuju keluar gedung, Senopati melangkah sedikit di belakang. Matanya tak lepas memperhatikan punggung Raisa. Di hatinya, ia berjanji dalam hati—ia akan menjaga gadis ini, bukan hanya karena keselamatan yang pernah diberikan, tapi juga karena perasaan perlahan yang mulai tumbuh tanpa ia sadari. Meski begitu, rasa ragu masih tersisa. Bagaimana jika Raisa tahu kenyataan itu nanti? Akankah ia tetap merasa nyaman atau justru menjauh lagi?

Namun pikirannya kembali terganggu saat jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh amplop surat di dalam saku jasnya. Bayangan Kelvin dan hubungan mereka yang dulu membuat rahangnya kembali mengeras sedikit. Ia sadar, masa lalu Raisa itu masih ada, dan menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya untuk membangun masa depan baru.

Setelah selesai memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana, matahari sudah condong ke barat. Mereka bersiap meninggalkan gedung itu. Sepanjang perjalanan pulang, suasana tidak lagi sepenuhnya hening seperti tadi. Kadang Senopati bertanya hal-hal sederhana, dan Raisa pun mulai berani menjawab tanpa terbata-bata lagi.

Sesampainya di rumah, langit sudah berubah menjadi jingga kemerahan. Begitu masuk ke ruang tamu, Senopati meminta Raisa duduk sebentar. Ia berdiri di hadapannya, tangan kanannya masih menggenggam amplop cokelat itu erat. Ia menarik napas panjang, mencoba menata kata-kata agar tidak terdengar seperti memerintah lagi.

"Ada satu hal yang harus kusampaikan padamu," ucap Senopati dengan nada yang lebih tenang dan lebih lembut dari biasanya.

Raisa mengangkat wajah, menatapnya dengan tatapan penasaran dan sedikit cemas. "Ada apa, Tuan?"

Senopati mengulurkan amplop itu ke arahnya. "Ini datang untukmu pagi tadi. Dari Kelvin."

Mendengar nama itu disebut, wajah Raisa langsung berubah pucat. Tangannya terasa gemetar saat menerima amplop itu. Ia menatap tulisan tangan yang tertulis di bagian depan, jantungnya kembali berdegup kencang.

"Aku sempat berpikir untuk menyimpannya saja, tak ingin hal ini mengganggu pikiranmu menjelang hari pernikahan kita," lanjut Senopati terus terang. "Tapi aku sadar, kau berhak mengetahui apa yang ingin ia sampaikan. Namun ada satu hal yang harus kau ingat—apa pun isinya, keputusanmu ke depannya harus jelas. Kita tinggal beberapa hari lagi mengikat janji, dan aku tidak ingin ada keraguan yang masih tergantung di hatimu."

Raisa memegang amplop itu erat di dadanya, air matanya mulai berkumpul di pelupuk matanya. Ia mengerti maksud Senopati. Pria itu memberinya kebebasan untuk membacanya, sekaligus mengingatkannya untuk memilih satu jalan saja.

"Terima kasih, Tuan..." jawabnya lirih. "Aku akan membacanya dengan bijak."

Senopati mengangguk pelan, lalu melangkah mundur sedikit. "Baiklah. Istirahatlah. Jika ada apa pun, panggil saja saya. Malam ini aku tidak akan menyuruhmu apa-apa lagi."

Setelah Senopati pergi menuju kamarnya, Raisa masih duduk termenung di sana. Ia menatap amplop itu lama sekali, takut membukanya namun juga penasaran dengan isi pesan dari pria yang pernah mengisi separuh hidupnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia akhirnya menyobek sedikit ujung amplop itu dan mulai membaca setiap baris tulisan di dalamnya.

"Raisa, aku tidak tau harus berkata apa? Tapi satu hal yang pasti bahwa apapun yang terjadi kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang selalu tersimpan rapi di dalam hatiku. Aku mengerti bahwa priamu ini belum bisa menjadi pria yang bisa kamu andalkan. Aku mencintaimu Sayang, tapi aku paham dunia ini berat harus ada pengorbanan agar kedepannya kehidupan bisa menjadi lebih baik untuk kamu. Maafkan aku sekali lagi, sekali lagi aku mengatakan bahwa aku iklas Sayang, dengan apapun keputusanmu yang kamu ambil termaksud menikah dengan pria itu. Aku pamit Sayang, ini terakhir kalinya aku mengirim surat Untukmu?" Raisa menangis sejadi-jadinya membaca surat dari Kelvin.

"Maafkan aku sayang, aku juga mencintaimu, maafkan aku?" Isak tangis Raisa di dalam kamar terdengar oleh Senopati dari balik pintu, ternyata saat Raisa masuk kamarnya Senopati diam-diam berdiri depan pintu kamar Raisa.

"Aku menerima pekerjaan yang pernah aku bahas denganmu, jadi sayang aku memutuskan berangkat ke Jerman hari ini, sampai jumpa lagi semoga kamu bahagia dan aku tidak mendengar kabar buruk tentangmu, dari Kelvin yang mencintaimu." Lanjut surat Kelvin, Raisa semakin menangis setelah surat itu ia baca.

Mungkin sekitar jam tujuh malam Raisa mendapat pesan whatsap dari sahabat dekatnya. Raisa juga sudah mulai tenang dan jauh lebih baik setelah menangis.

(Raisa, kamu jadi hadirkan di pesta ulang tahunku malam ini?)

Raisa baru ingat kalau malam ini sahabatnya berulang tahun dan di adakan di rumahnya. Tiara adalah salah satu sahabat dekat Raisa sejak mereka masih SMA. Raisa segera berlari keluar menuju ruangan Senopati untuk meminta izin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!