Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 12 : Hadiah Tak Bernama
Matahari pagi baru saja menyembul di balik cakrawala, memendarkan cahaya keemasan yang menembus sela-sela gorden balkon kamar utama. Seperti kebiasaan yang sudah tertanam sejak kecil, Nadira selalu menjadi orang pertama yang terbangun. Setelah merapikan selimut dan bantal di sofa panjang yang menjadi tempat tidurnya, ia melangkah menuju meja rias kecil di sudut ruangan untuk bersiap-siap.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti.
Di atas permukaan meja kayu yang biasanya hanya dihiasi oleh beberapa perlengkapan mengajar dan sisir kayunya, kini terletak sebuah kotak beludru berwarna biru tua yang elegan. Di atas kotak itu, bertumpu sebuah buku dengan sampul tebal bercorak klasik. Nadira mengernyitkan dahi, diliputi rasa heran yang amat sangat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat karena kejutan kecil yang sama sekali tidak ia duga.
Dengan perlahan, Nadira mendekat dan mengambil buku tersebut. Begitu melihat judul yang tertera di sampulnya, matanya seketika membelalak. *“The Little Prince”* edisi kolektor dengan ilustrasi cat air yang sangat langka. Ini adalah buku favoritnya sejak masa kanak-kanak. Buku milik almarhum ayahnya dulu yang sempat hilang entah ke mana saat mereka pindah rumah beberapa tahun silam, sebuah kehilangan yang selalu menyisakan penyesalan mendalam di hatinya.
Nadira meletakkan buku itu dengan tangan gemetar, lalu beralih membuka simpul pita kotak beludru di bawahnya. Ketika tutup kotak diangkat, aroma lembut kain wol yang berkualitas langsung menyeruak. Di dalamnya terlipat rapi sebuah syal hangat berwarna cokelat susu, sangat lembut saat bersentuhan dengan kulit jemarinya.
Nadira membolak-balik kotak tersebut, mencari secarik kertas, kartu ucapan, atau setidaknya inisial nama pengirimnya. Namun, nihil. Tidak ada satu pun petunjuk. Kotak itu benar-benar bersih dari identitas.
"Siapa yang meletakkannya di sini?" bisik Nadira pada diri sendiri, menatap bingung ke arah ranjang besar di seberang ruangan yang sudah kosong karena Arka biasanya sudah turun untuk berolahraga pagi sejak pukul lima.
Rasa penasaran yang membuncah membuat Nadira segera menyelesaikan dandanannya dan turun ke lantai bawah sambil membawa kotak misterius itu. Di koridor dekat dapur, ia berpapasan dengan Mbok Nah yang sedang membawa keranjang pakaian bersih.
"Mbok Nah," panggil Nadira, membuat pelayan paruh baya itu menghentikan langkahnya.
"Iya, Nyonya Muda? Ada yang bisa Mbok bantu?"
Nadira menunjukkan kotak di tangannya. "Mbok, apa Mbok tahu siapa yang meletakkan kotak ini di atas meja kamar saya pagi ini? Atau mungkin ada pelayan lain yang dititipi barang untuk saya?"
Mbok Nah menatap kotak beludru itu dengan saksama, lalu menggelengkan kepala dengan raut wajah polos. "Waduh, mboten pirsa, Nyonya. Setahu Mbok, sejak subuh tadi tidak ada satu pun pelayan yang berani masuk ke kamar utama. Aturan dari Tuan Arka kan sangat ketat, tidak boleh ada yang lancang masuk kecuali jadwal membersihkan kamar siang hari."
"Begitu ya, Mbok... Terima kasih kalau begitu," ucap Nadira, senyumnya menyiratkan sedikit rasa kecewa sekaligus makin bingung.
Setelah Mbok Nah pamit, Nadira berjalan menuju ruang tengah. Sebuah pemikiran mendadak melintas di kepalanya. Jika bukan para pelayan, maka hanya ada satu orang di rumah ini yang memiliki akses bebas dan alasan kuat untuk memberinya hadiah tanpa nama: Opa Wijaya.
Kakek Mahendra belakangan ini memang sangat memanjakannya. Beliau sering kali membelikan camilan kesukaan Nadira secara diam-diam atau memintanya menghentikan pekerjaan rumah yang berat. Nadira tersenyum tipis, merasa yakin dengan dugaannya. *Pasti Opa yang membelikannya sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawat beliau waktu itu,* pikir Nadira hangat. Ia memutuskan untuk tidak mengungkitnya secara langsung agar tidak merusak kejutan rahasia sang kakek.
---
Namun, dugaan Nadira sepenuhnya meleset.
Di balik kemudi mobil mewah yang kini sedang membelah jalanan kota menuju kantor pusat Mahendra Group, Arka Mahendra sedang menatap lurus ke depan dengan raut wajah kaku. Meskipun matanya terfokus pada marka jalan, pikirannya justru tertinggal di atas meja rias kamar utamanya.
Dua hari yang lalu, sebelum makan malam bersama orang tuanya dimulai, Arka tanpa sengaja melewati ruang tengah. Di sana, Nadira sedang berbincang santai dengan Mbok Nah sambil merajut kembali ujung syal lamanya yang mulai terurai benangnya.
*“Syal ini sudah usang sekali, Mbok. Tapi saya suka menggunakannya kalau malam hari dingin, mengingatkan saya pada mendiang Ibu,”* suara Nadira malam itu terdengar sayup-sayup di telinga Arka. *“Dulu saya juga punya buku favorit yang sering dibacakan sebelum tidur, tapi hilang waktu rumah lama kami direnovasi. Sayang sekali, sekarang edisinya sudah susah dicari.”*
Kalimat sederhana yang diucapkan Nadira dengan nada pasrah itu entah mengapa terus menempel di benak Arka bagaikan lem. Sepanjang malam, ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan mata sayu Nadira saat membicarakan barang-barangnya yang hilang.
Keesokan harinya, di sela-sela jam istirahat rapat kerja yang padat, Arka melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya demi seorang wanita. Ia meminta Yudha, asisten pribadinya, untuk melacak keberadaan buku edisi kolektor tersebut hingga ke beberapa jaringan toko buku antik di ibu kota. Tidak hanya itu, Arka bahkan meluangkan waktu sendiri untuk turun dari mobilnya, masuk ke dalam sebuah butik kain wol premium di kawasan eksklusif, dan memilih sendiri warna syal yang menurutnya paling cocok dengan warna kulit Nadira.
Namun, ego dan gengsi seorang Arka Mahendra terlalu tinggi untuk mengakui perbuatannya.
"Yudha," panggil Arka datar, memecah keheningan di dalam mobil.
Yudha yang duduk di kursi penumpang depan langsung menoleh. "Iya, Tuan Arka?"
"Pastikan masalah pembelian buku dan barang kemarin tidak masuk ke dalam laporan keuangan pribadi yang bisa diakses oleh tim audit keluarga," perintah Arka, suaranya sedingin es seolah sedang membahas penyelundupan barang ilegal, bukan sebuah hadiah romantis.
"Sudah saya atur secara anonim menggunakan rekening pribadi pihak ketiga, Tuan. Dan barangnya juga sudah saya letakkan di kamar Anda sebelum subuh tadi, sesuai instruksi," jawab Yudha dengan wajah profesional yang lempeng, meskipun di dalam hatinya ia setengah mati menahan senyum melihat sisi "asing" dari bosnya yang biasanya kejam di meja perundingan ini.
"Bagus," sahut Arka pendek. Ia menyandarkan punggungnya, membuang pandangan ke luar jendela.
Arka meraba dadanya yang berdegup dengan ritme yang tidak wajar. Ia terus merutuki dirinya sendiri. *Aku melakukan ini hanya sebagai kompensasi atas kejadian malam itu. Ya, hanya agar dia tidak terus-terusan menangis dan mengganggu ketenangan rumah. Tidak lebih,* batin Arka mencoba menyangkal, menyusun benteng pertahanan logikanya yang kian hari kian rapuh diterjang badai perasaan bernama Nadira.
---
Sore harinya, di pusat perbelanjaan kelas atas yang terletak tidak jauh dari kantor pusat Mahendra Group, Selena sedang melangkah keluar dari sebuah klinik kecantikan. Wajahnya yang rupawan tampak ditekuk kesal. Keputusan Arka yang memutasinya ke kantor cabang luar kota benar-benar menghancurkan harga dirinya, meskipun ia berhasil menundanya selama beberapa minggu berkat intervensi koneksi ayahnya.
Saat sedang berjalan menuju area parkir VIP, langkah Selena mendadak terkunci. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah pintu keluar sebuah toko buku impor yang cukup besar di sudut mal.
Dari dalam toko tersebut, muncul sosok pria tinggi tegap berbalut setelan jas mahal yang sangat ia kenal. Arka Mahendra.
Selena tertegun. Sepanjang bertahun-tahun ia mengenal Arka, pria itu tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di toko buku umum seperti itu. Jika Arka membutuhkan literatur bisnis atau laporan ekonomi makro, tim sekretaris atau asisten pribadinya yang akan menyediakannya langsung di atas meja kerja. Arka adalah pria yang menghargai efisiensi waktu di atas segalanya.
Namun hari ini, Arka berjalan keluar dari sana dengan tangan kosong, sementara Yudha berjalan satu langkah di belakangnya sambil mendekap sebuah bungkusan kertas tebal dengan sangat hati-hati.
Selena bersembunyi di balik pilar marmer besar, mengamati raut wajah Arka dari kejauhan. Ada gurat ekspresi yang tidak biasa di wajah dingin pria itu—bukan kemarahan bisnis, melainkan sebuah kilatan kepedulian yang samar yang disembunyikan dengan rapat.
"Ada yang tidak beres," bisik Selena, jemarinya mencengkeram tali tas Hermes-nya hingga memutih. Rasa cemburu dan curiga yang sempat padam kini kembali berkobar hebat di dalam dadanya.
Sejak pernikahan kontrak dengan guru TK miskin itu diumumkan, Selena bisa merasakan perubahan atmosfer yang radikal dari diri Arka. Pria yang biasanya acuh tak acuh dan kejam terhadap rumor kini bertindak sangat protektif. Dan melihat Arka rela membuang waktu berharganya di toko buku... Selena yakin, semua ini ada hubungannya dengan Nadira.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Nadira?" gumam Selena dengan senyum miring yang penuh kedengkian. "Kita lihat saja seberapa lama topeng lugumu itu bisa bertahan di depan Arka."
---
Malam harinya, rintik hujan kembali membasahi halaman luas rumah keluarga Mahendra, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Suasana di dalam rumah sudah sangat sepi karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Opa Wijaya sudah beristirahat di kamarnya setelah meminum obat.
Nadira berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman samping. Tubuhnya sedikit menggigil karena embusan angin malam yang menyelinap dari celah ventilasi. Teringat akan hadiah misterius pagi tadi, ia berjalan menuju sofa dan mengambil syal cokelat susu yang masih baru tersebut.
Dengan gerakan perlahan, Nadira melilitkan kain wol itu di lehernya.
Seketika, kehangatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahannya jauh lebih lembut dari yang ia bayangkan, memberikan rasa nyaman yang entah mengapa membuat hatinya ikut merasa damai. Nadira mengusap ujung syal itu dengan senyuman lembut yang merekah di bibirnya. Di tangan kirinya, ia memeluk erat buku *The Little Prince* pemberian sang "anonim", berniat membacanya di bawah pendar lampu sudut sebelum tidur.
Pada saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan hitam memasuki pelataran rumah. Arka melangkah masuk ke dalam lobi utama dengan langkah yang sengaja diredam. Ia melepaskan jas kerjanya dan menyerahkannya kepada pelayan yang menyambutnya di depan pintu, lalu berjalan melewati koridor tengah untuk menuju lantai atas.
Namun, langkah kaki Arka terhenti saat matanya menangkap siluet seorang wanita yang berdiri di dekat jendela kaca ruang tengah yang remang-remang.
Itu Nadira.
Di bawah temaram cahaya lampu dinding yang kekuningan, Nadira tampak begitu anggun dalam kesederhanaannya. Dan yang membuat jantung Arka mendadak berhenti berdetak selama satu detik adalah pemandangan di leher wanita itu. Syal cokelat susu pilihannya melingkar dengan sempurna di sana, berpadu manis dengan rambut Nadira yang dibiarkan tergerai malam ini. Wanita itu tampak sedang tersenyum sangat manis, menatap buku lama yang kini telah kembali ke pelukannya dengan binar mata penuh rasa syukur.
Arka berdiri terpaku di kegelapan koridor, beberapa meter dari tempat Nadira berada. Pandangannya terkunci pada senyuman tulus di wajah istrinya. Kehangatan yang terpancar dari sosok Nadira malam itu seolah-olah meruntuhkan seluruh kelelahan yang ia bawa dari dunia luar yang kejam.
Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, sudut bibir Arka Mahendra yang biasanya lurus dan kaku perlahan-lahan terangkat. Sebuah senyuman tipis—sangat tipis, namun penuh dengan perasaan yang tulus—terukir di wajah pria dingin itu. Ada kepuasan aneh yang membuncah di dalam dadanya saat melihat hadiahnya dipakai dan dihargai dengan begitu luar biasa oleh wanita tersebut.
Namun, detik berikutnya, kesadaran Arka kembali menyengat.
Ia tersentak, menyadari ekspresi wajahnya sendiri yang baru saja melonggar. Dengan cepat, Arka menghapus senyuman itu dari bibirnya, mengembalikan raut wajahnya menjadi sedingin dan sekaku es batu. Ia berdeham kecil dengan volume yang sengaja dikeraskan untuk memutus keheningan.
Suara dehaman itu membuat Nadira langsung menoleh dengan terkejut. Begitu melihat Arka yang berdiri di kegelapan koridor, Nadira buru-buru membetulkan posisi berdirinya dan sedikit merapatkan syalnya.
"Eh... Pak Arka," sapa Nadira dengan nada canggung, rona merah samar muncul di kedua pipinya. "Anda baru pulang?"
Arka melangkah maju memasuki area terang, wajahnya kembali datar tanpa emosi. Matanya sempat melirik sekilas ke arah syal di leher Nadira sebelum kembali menatap lurus ke arah mata wanita itu.
"Ya," jawab Arka pendek, suaranya terdengar berat. "Syal yang bagus."
Nadira spontan menyentuh syal di lehernya, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit manis. "Ah, iya, Pak! Ini hadiah misterius yang saya temukan di meja kamar pagi ini. Saya rasa ini dari Opa Wijaya sebagai kejutan. Sangat hangat dan nyaman sekali, bahkan buku favorit saya yang hilang juga ada. Saya sangat beruntung."
Mendengar nama kakeknya disebut sebagai pemilik kredit atas kerja kerasnya, Arka sempat merasakan kedutan kecil di pelipisnya karena menahan kesal. Namun, egonya tetap memaksanya untuk diam.
"Baguslah kalau begitu," ucap Arka dingin, mengabaikan fakta bahwa dialah sang pengirim sebenarnya. Ia berjalan melewati Nadira begitu saja, menuju tangga lantai dua dengan langkah tegap. "Jangan tidur terlalu larut. Besok kamu harus mengajar."
"Baik, Pak. Selamat malam," jawab Nadira lembut ke arah punggung Arka yang kian menjauh.
Arka terus melangkah naik ke tangga tanpa menoleh lagi. Namun, di dalam dadanya, pertempuran hebat antara lembar kontrak satu tahun dan debaran jantung yang makin tidak terkendali itu kian bergolak hebat, menyisakan sebuah kesadaran bahwa benteng pertahanannya kini telah runtuh satu bata lagi karena senyuman seorang guru TK dengan syal hangat di lehernya.