NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Sidang kedua digelar dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding sidang sebelumnya.

Aurel datang bersama Arya. Najwa juga hadir untuk memberikan dukungan kepada sahabatnya, meski kali ini ia hanya duduk sebagai pendamping.

Di sisi lain, Mahesa datang seorang diri. Kayla tidak terlihat di pengadilan. Entah karena sengaja tidak datang atau memang tidak diizinkan ikut masuk ke ruang sidang.

Sidang dimulai tepat waktu. Majelis hakim memeriksa kembali seluruh berkas perkara yang telah diajukan.

Bukti-bukti perselingkuhan. Keterangan para saksi. Serta hasil mediasi yang sebelumnya dinyatakan gagal.

Hakim kemudian mempersilakan Mahesa menyampaikan tanggapannya.

Seluruh ruangan mendadak hening. Mahesa berdiri perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih letih dibanding beberapa minggu lalu. Ia sempat melirik ke arah Aurel. Wanita itu tetap duduk tenang tanpa membalas tatapannya.

Mahesa menundukkan kepala.

"Saya..."

"...tidak memiliki lagi bantahan atas bukti-bukti yang diajukan."

Kalimat Mahesa membuat suasana ruang sidang semakin sunyi.

Arya menatap Mahesa beberapa detik. Sementara Aurel hanya menarik napas panjang.

Hakim kembali bertanya. "Apakah Saudara tetap ingin mempertahankan rumah tangga ini?"

Mahesa terdiam cukup lama. Beberapa detik yang terasa begitu panjang.

Akhirnya Mahesa menjawab dengan suara lirih. "Saya masih ingin mempertahankannya."

"Tetapi..."

"...saya sadar keputusan itu bukan lagi berada di tangan saya."

Mahesa menoleh ke arah Aurel. Matanya memerah.

"Saya sudah meminta maaf."

"Dan saya menerima bahwa penggugat tidak lagi bersedia melanjutkan rumah tangga ini."

Aurel memejamkan mata sesaat. Bukan karena bimbang. Melainkan karena akhirnya Mahesa berhenti mempersulit proses yang selama ini ia perjuangkan.

Majelis hakim saling bertukar pandang. Setelah mempertimbangkan seluruh alat bukti, keterangan para pihak, serta fakta-fakta yang terungkap selama persidangan, hakim ketua mulai membacakan amar putusan.

Suara beliau terdengar tegas memenuhi ruang sidang.

"Mengabulkan gugatan penggugat."

"Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat putus karena perceraian."

Ketika kalimat itu selesai dibacakan. Hakim mengangkat palu kayunya.

Suara palu menggema di seluruh ruangan.

Saat itulah...Ikatan pernikahan yang telah dibangun selama tujuh tahun resmi berakhir menurut putusan pengadilan.

Tak ada teriakan. Tak ada tangisan histeris.

Hanya keheningan.

Aurel menundukkan kepala. Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.

Bukan karena menyesal. Melainkan karena satu babak besar dalam hidupnya benar-benar telah selesai.

Tujuh tahun. Begitu banyak kenangan yang kini hanya tinggal cerita.

Di sisi lain, Mahesa memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Ia telah kehilangan perempuan yang selama ini selalu berada di sampingnya.

Dan kehilangan itu terjadi karena kesalahan yang ia buat sendiri.

Arya menutup map berkas perkara dengan pelan. Ia menoleh kepada Aurel.

"Bu Aurel..."

"Selamat."

"Sekarang Ibu bisa mulai menata hidup yang baru."

Aurel mengusap air matanya lalu mengangguk pelan.

"Terima kasih, Pak Arya."

"Terima kasih sudah membantu saya sampai sejauh ini."

Arya hanya tersenyum tipis. "Itu memang tugas saya."

Namun jauh di dalam hati Arya ia ikut merasa lega. Bukan karena sebuah perceraian telah terjadi. Melainkan karena seorang perempuan yang selama ini berjuang mempertahankan harga dirinya akhirnya memperoleh kepastian hukum untuk melangkah ke depan.

Di luar ruang sidang, langit tampak cerah. Aurel menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban di dadanya terasa sedikit berkurang. Perjalanannya belum selesai. Masih ada Raka yang harus ia besarkan. Masih ada luka yang perlahan harus disembuhkan.

Namun mulai hari ini...Ia tidak lagi berjalan sebagai seorang istri yang dikhianati. Melainkan sebagai seorang perempuan yang memilih bangkit dan memulai hidupnya kembali.

Suasana hati Aurel jauh lebih ringan saat melangkah keluar dari gedung pengadilan.

Meski matanya masih sembap karena sempat menangis, beban yang selama ini menghimpit dadanya perlahan mulai terangkat.

Arya berjalan di sampingnya, sementara Najwa sudah lebih dulu tersenyum lebar.

"Nah..."

"Karena perkara sudah selesai, sekarang gantian."

Aurel menoleh heran. "Gantian apa?"

Najwa langsung menyeringai, "Kamu yang traktir."

Aurel tertawa kecil. "Boleh.Aku memang sudah niat."

Arya sempat menolak. "Tidak usah repot, Bu Aurel."

Namun Aurel menggeleng."Selama ini Pak Arya dan Najwa yang banyak membantu saya."

"Sekali-sekali biar saya yang mentraktir."

Najwa langsung mengangkat tangan. "Setuju!"

Tak lama kemudian, mereka kembali duduk di kafe yang sama seperti beberapa hari lalu.

Pelayan datang menghampiri.

Kali ini Aurel langsung berkata,

"Hari ini saya yang bayar."

Najwa tertawa. "Wah...Resmi jadi janda langsung bagi-bagi traktiran."

Aurel memutar bola matanya sambil tersenyum. "Kamu ini."

Najwa belum berhenti menggoda. "Harusnya aku kasih ucapan."

"Selamat hari jadi sebagai janda."

Arya yang sedang meminum kopinya hampir tersedak mendengar ucapan itu. Ia menatap Najwa sambil menggeleng kecil.

Najwa malah tertawa semakin keras.

Aurel akhirnya ikut tertawa. "Orang lain sedih habis cerai."

"Aku malah dirayain."

Najwa mengangguk mantap.

"Karena ini bukan perayaan perceraian."

"Tapi perayaan karena kamu berhasil keluar dari hubungan yang menyakitkan."

Kalimat itu membuat senyum Aurel perlahan memudar. Ia mengangguk pelan.

"Mungkin benar."

Beberapa saat mereka menikmati kopi masing-masing.

Lalu Aurel kembali membuka pembicaraan.

"Ada satu hal yang masih sering kupikirkan."

Najwa dan Arya menoleh bersamaan.

"Apa?" tanya Najwa.

Aurel memutar pelan sendok di dalam gelasnya.

"Aku penasaran...Sebenarnya bagaimana awal hubungan Mahesa dan Kayla."

"Aku benar-benar tidak tahu."

"Rasanya sulit dipercaya."

"Tujuh tahun..."

"...dan aku tidak menyadarinya."

Najwa menghela napas panjang.

"Aku juga sempat memikirkan itu."

Aurel tersenyum pahit. "Kadang aku bertanya ke diriku sendiri."

"Apa aku sebodoh itu?"

"Apa aku memang tidak peka?"

Najwa langsung menggeleng. "Bukan."

Aurel menatap sahabatnya. "Lalu?"

Najwa tersenyum tipis. "Kamu bukan bodoh."

"Kamu cuma..."

"...buta karena cinta."

Kalimat itu membuat Aurel terdiam. Najwa melanjutkan,

"Kamu terlalu percaya kepada suamimu."

"Dan terlalu percaya kepada sahabatmu."

"Kalau dua orang yang paling kamu percaya bersekongkol menyembunyikan sesuatu..."

"...siapa pun akan sulit menyadarinya."

Arya yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya ikut berbicara. "Saya setuju."

"Kebanyakan orang yang dikhianati bukan tidak cerdas."

"Mereka hanya tidak memiliki alasan untuk mencurigai orang yang mereka cintai dan percayai."

Aurel memandang Arya. "Tapi tetap saja..."

"Aku merasa seperti orang paling bodoh."

Arya menggeleng pelan. "Justru sebaliknya."

"Orang yang mampu mempercayai dengan tulus bukanlah orang bodoh."

"Yang keliru adalah orang yang menyalahgunakan kepercayaan itu."

Suasana kembali hening. Aurel menatap keluar jendela kafe.

"Kalau saja waktu bisa diulang..."

"Aku ingin tahu kapan semuanya dimulai."

"Supaya aku tidak hidup dalam kebohongan selama tujuh tahun."

Najwa menggenggam tangan Aurel. "Mungkin suatu hari nanti kamu akan tahu jawabannya."

"Tapi menurutku..."

"...itu tidak akan mengubah apa pun."

Aurel menoleh. "Kenapa?"

"Karena sekarang kamu sudah bebas."

"Mau mereka mulai selingkuh di tahun pertama atau tahun ketujuh..."

"...hasilnya tetap sama."

"Kamu sudah memilih pergi."

Aurel tersenyum tipis. "Iya."

"Aku memang sudah memilih pergi." Dan untuk pertama kalinya sejak semua pengkhianatan itu terbongkar, Aurel menyebut kata itu tanpa rasa ragu. Pergi. Bukan karena menyerah. Melainkan karena akhirnya ia memilih dirinya sendiri.

1
Yuyu
mamam tuh
Eneng Farida
dasar tidak tahu dri kmu kayla pengen hdup seneng dan bahagia atas jeri payah istri sah makan tuh laki2 kere
Ma Em
Semoga masalah Aurel dgn Mahesa cepat selesai .
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!