Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ini Cuma Akting
"Lanjut doong, masa mainnya setengah-setengah?" celetuk Aira merapikan posisi ponselnya.
Namun, saat akan menekan tombol memulai video, sebuah panggilan kembali masuk. Kali ini dari Faisal, ayahnya.
"Bapaaak," sambutnya dengan bahagia. "Iya, Pak, kemarin hapeku jatuh. Jadi layarnya rusak parah ... Oh ya? Baik, Pak. Hari ini akan langsung Aira beli hape baru dari uang yang Bapak kirim. Makasi ya, Pak. Bapak selalu menjadi yang terbaik," ucap Aira dengan wajah cerah.
"Om ... Nanti aja rekamnya. Temenin aku dulu beli hape baru," ucapnya dengan penuh semangat.
.
.
.
Satu jam kemudian, dengan ponsel barunya yang paling canggih, ia langsung melancarkan aksi dari rencananya tadi.
"Menggunakan ini, hasilnya pasti akan lebih bagus," cengirnya lampu indikator merah di sudut layar ponsel baru milik Aira sudah berkedip pelan.
Mode perekaman video pendek telah aktif, siap menangkap setiap jengkal kemanisan yang sengaja dirancang demi membuat Mas Beni di pulau timur sana terbakar amarah setengah mati.
"Om Teddy, posisinya sudah pas belum? Muka ganteng Om Teddy harus kelihatan jelas. Biar si Beni sadar, aku tak merasa sedih sama sekali karena pernikahannya!" bisik Aira berapi-api, memastikan sudut pengambilan gambar dari sela dasbor tidak meleset sedikit pun.
Teddy tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas dalam, memperbaiki letak kerah kemejanya, lalu menoleh lambat-lambat ke arah Aira. Ketika sepasang mata elangnya menatap mata bulat milik gadis di sampingnya, tatapan Teddy mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi lebih lembut, teduh, dan penuh dengan binar kasih sayang.
Teddy membayangkan seolah sedang berhadapan dengan wanita yang selama belasan tahun ini ia puja dalam diam.
"Sepertinya sudah pas. Sekarang, ikuti saja alurnya," ucap Teddy dengan suara rendah dan berat tetapi terdengar sangat manis di depan kamera.
Teddy mengulurkan tangan kanannya. Dengan telaten, jemari kokohnya bergerak mengusap puncak kepala Aira, merapikan anak rambut gadis itu dengan penuh kelembutan. Sentuhan itu terasa begitu tulus. Hal itu membuat perasaan hangat yang berbeda di hati Aira.
'Bahkan, adegan seperti ini pun belum sempat dilakukan Mas Beni padaku,' batinnya tanpa sadar wajahnya perlahan semakin merona.
"Jangan cemas. Mulai hari ini, saya lah yang akan menjagamu. Kamu tidak perlu lagi memikirkan siapa pun yang tidak bisa menghargai dirimu," ujar Teddy dengan tatapan yang begitu dalam, membuat Aira benar-benar terpaku dan menahan napas.
Atmosfer di dalam mobil itu terasa begitu aneh. Aira yang hatinya baru saja hancur lebur karena pengkhianatan, merasa benar-benar tersanjung dan terbang hingga langit ke ketujuh.
'Apakah seperti ini rasanya dicintai olehnya? Sampai susah bernapas,' batin Aira kembali.
Aira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mencoba menarik kembali logika yang hampir tenggelam oleh perasaan yang ikut terhanyut oleh ucapan yang manis itu. Di tengah moment itu, dia menahan tangan Teddy yang masih asik akting mengusap rambutnya dengan lembut.
"Aduh, Mas Om! Cut, cut! Jangan diusap-usap begitu dong kepalaku lagi rekaman! Aku belum keramas beberapa hari, tauk. Praktik di stase jiwa ini bener-bener bikin aku pusing sampai mandi pun tak bisa kulakukan dengan maksimal. Rambutku sudah mulai berminyak. Kalau minyaknya nempel di tangan Om Teddy, gimana? Bukannya cemburu, Mas Beni malah ngakak lihat rambut lepekku dielus-elus!" ceplos Aira blak-blakan dengan wajah tanpa dosa.
Teddy seketika membeku di tempatnya. Senyum tulus yang tadi keluar langsung berubah kedutan di pelipisnya. Sandiwara pangeran pelindung yang baru saja ia bangun dengan totalitas penuh mendadak ambyar berkeping-keping dalam hitungan satu detik akibat kicauan ajaib Aira.
Teddy memejamkan matanya sejenak. "Huuuffftttt ...." Menghela napas berusaha menguasai diri. "Eheemmm ...."
"Aira, kita ini sedang merekam video membalas dendam, bukan membuat vlog perawatan rambut!" desis Teddy menahan emosi.
Hal ini membuat Aira refleks menyengir kuda hingga memperlihatkan deretan giginya, menggaruk pelipis yang tidak gatal.
"Hehe, iya, Om. Maaf ... Yuk, lanjut! Take dua, kamera rolling, action!" sahut Aira dengan bisikan cempreng yang bersemangat.
Teddy menarik napas, kembali mengatur ekspresi wajahnya menjadi sosok pria idaman yang sempurna dan penyayang. Ia meraih sebuah kotak beludru merah kecil dari saku dasbor. Kotak itu berisi jepitan rambut kristal swarovski berbentuk stroberi yang tadi sempat dibelinya. Dengan gerakan tangan yang sangat telaten dan lembut, Teddy memasangkan jepitan mewah itu ke rambut Aira yang tersanggul rapi.
"Ini untukmu. Saya ingin pacar saya ini, selalu tampil bersinar, di mana pun dia berada," ucap Teddy lembut, dan senyuman yang membuat jantung siapa pun meleleh.
Deg.
Jantung Aira serasa mau melompat keluar dari rongga dadanya. Gila! Meskipun otaknya tahu persis bahwa ini semua hanyalah sandiwara sesuai kesepakatan aliansi mereka untuk memanas-manasin Beni, sikap Teddy ini terlalu sempurna sebagai pacar pura-pura. Degub jantung Aira mulai bergerak dengan cepat tak terkendali. Bola mata Aira mulai mencoba melihat apa pun agar tak terhipnotis oleh rayuan pura-pura itu.
'Woi lah, Om Teddy ... aktingnya jangan sampai menjiwai kali lah. Jantungku sungguh tak kuat!' batin Aira menjerit salah tingkah.
Setelah akting mereka dirasa cukup untuk memanasi Beni, dengan segera Aira menekan tombol berhenti dan memeluk ponsel barunya itu.
'Hape baru dapat rekaman seperti ini rasanya sungguh sesuatu ...' kekehnya dalam hati. 'Ini mah, dracin kalah ...' kekeh Aira dalam hati
"Mantap banget hasilnya, Om! Ini sih kalau dikirim, si Beni bakalan langsung kayang sambil nangis darah di pulau jauh sana, Om!"
Teddy hanya bisa mengembus napas pendek melihat tingkah ajaib gadis di sampingnya ini. Sifat kaku itu muncul saat ia mulai memindahkan gigi mobil untuk menjalankan kendaraan menuju rumah Tante Nani.
Namun di dalam lubuk hati Teddy yang terdalam, ada sebuah kepuasan lama yang akhirnya terpenuhi karena bisa memperlakukan seorang wanita dengan begitu istimewa. Namun, wajah Aira merona setiap melirik Teddy yang menatap jalan dengan fokus. Dengan cepat dia menepuk kedua pipi.
'Sadar, Neng ... Sadar ... Ini cuma akting!'
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣