Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ijab yang tak diinginkan
Dikamar rumah sakit yang dingin dan hanya terdengar suara detak mesin EKG.
Dira jang pasien, terbaring seorang wanita paruh baya dengan selang di sekujur tubuhnya yang renta.
Di mushala rumah sakit, gadis dengan mukena putih duduk bersimpuh diatas sajadahnya.
Mengangkat kedua tangannya.
Isak tertahan dari bibirnya.
Dia pun sebenarnya juga kurang sehat.
Sudah seminggu ini Maara menemani ibunya, Bu Ratmi yang koma karena sebuah kecelakaan yang menimpa mereka saat Maara memboncengi ibunya sepulang dari pasar.
Ibunya koma karena luka serius dikepala yang membentur aspal sementara Maara sendiri terpental cukup jauh dengan perut yang menghantam hidran yang membuatnya juga tak sadarkan diri selama beberapa jam.
Air bening mengalir di kedua pipinya.
Dia berharap semoga Tuhan menyelamatkan ibunya. Harta satu-satunya yang ia miliki setelah lima tahun lalu kehilangan ayah akibat serangan jantung.
Maara melepas mukenanya setelah dirasa dia terlalu lama duduk bersimpuh. Merapikan hijab warna mocca yang sedikit kusut.
Kakinya terasa sakit dan kesemutan.
Maara melipat mukenanya lalu memasukkan kedalam tas ransel. Ia kembali keruang ICU untuk mengecek kondisi ibunya.
Tangannya yang masih diperban kembali membelai tangan keriput ibunya.
Lelehan airmata kembali jatuh dipipinya.
"Ibu... Maara mohon bangunlah. Jangan tinggalkan Maara sendirian. Maara tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu...Bangun bu... Maara mohon...." lirihnya membelai pipi ibunya.
Maara tersentak ketika merasa ada seseorang yang berdiri disisinya.
Buru-buru dia menghapus sisa airmatanya.
"Maaf mengganggu malam-malam begini... Saya kemari hanya ingin memastikan kondisi mu dan juga Bu Ratmi... Apa belum ada perkembangan?" ucap seorang pria paruh baya yang berdiri disisi Maara.
"Belum pak..." geleng Maara. Dia kembali menoleh kepada ibunya "Dokter mengatakan kecil kemungkinan ibu kembali sadar...." sahut Maara dengan suara bergetar.
"Kamu tenanglah... Ibumu pasti bangun..." hiburnya menepuk pelan pundak gadis manis disampingnya.
"Terima kasih pak Rendra... Saya tidak tahu apabila tidak ada bapak, entah bagaimana nasib kami... Saya berhutang budi pada keluarga anda..."
"Sudahlah... Ini takdir dari Tuhan mempertemukan kita" ujar pak Rendra dengan tatapan yang sulit diartikan.
...****************...
"Tidak...!!! Revan tidak akan melakukannya!!" tolak seorang pria yang masih mengenakan pakaian coklat tua khas pekerja di pemerintahan.
Pria itu memijit keningnya.
"Bagaimana mungkin aku menikahi perempuan lain sementara aku sudah memiliki kekasih. Pa.. ma, apa tidak ada cara lain...? Kenapa harus mengorbankan hidup dan masa depanku?" tuturnya dengan wajah penuh permohonan.
"Revan..." bu Mira, isteri pak Rendra sekaligus ibu dari Revan menggenggam tangan putranya.
Lelehan airmata jatuh membasahi pipinya.
"Mama mohon, menikahlah dengannya. Tolong lakukan demi mama... Mama tahu ini salah mama dan harusnya bukan kamu yang menanggungnya tapi kita tak ada pilihan lain..." pinta Mira memohon pada Revan putranya.
Revan menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Bayar saja dia dan lunasi tagihan rumah sakitnya. Kenapa harus melibatkan aku? Aku tidak menyukainya! Nanti bagaimana kalau Laura pulang dan mendapati aku menikah dengan perempuan lain? Apa yang harus aku katakan padanya sementara kami sudah saling membuat janji untuk menikah ketika dia menyelesaikan studinya diluar negeri?" Revan lagi lagi menyugar rambutnya.
"Laura pasti akan sedih...." lanjutnya lagi.
"Nanti biar mama yang akan bicara pada Laura... Mama yakin dia pasti akan mengerti. Mama mohon Revan... Ini satu-satunya cara agar mama tidak dipenjara..." binar mata memohon terpancar di mata Mira.
Revan sebagai anak satu-satunya tidak mungkin menolak jika melihat betapa menghibanya sang mama.
Sebagai anak tunggal, permintaan Revan yang mana tidak dipenuhi oleh kedua orangtuanya.
Bahkan Rendra menerima keputusan putra tunggalnya itu untuk tidak ikut campur dalam urusan bisnis real estate yang telah digelutinya.
Revan lebih memilih menjadi jaksa dibanding seorang bisnisman seperti papanya.
"Biarkan aku mengenalnya dulu..." putus Revan kemudian.
Kedua paruh baya itu saling pandang dan tersenyum kemudian.
"Terima kasih. Besok kita kerumah sakit... Kamu akan mama kenalkan padanya. Dia juga tak kalah cantik dengan Laura..." tutur Mira.
"Jangan membandingkan mereka ma... Laura jauh lebih dari segala!" ujar Revan sedikit keras karena kekasihnya dibandingkan dengan perempuan yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.
"Baiklah... maafkan mama..."
Revan bergegas ke kamarnya karena ponsel di saku celananya sejak tadi terus bergetar.
Sudah bisa dipastikan itu panggilan dari kekasihnya Laura.
Revan menarik nafas sejenak sebelum menggulir layar ponsel.
"Ya sayang... Kenapa? Kamu kangen aku?" ujar Revan begitu dia menekan panggilan masuk.
"Kangen banget... Aku belum bisa pulang liburan ini. Dosen memintaku untuk jadi asistennya selama satu musim ini.."
"Tak apa... Nanti aku yang akan menyusulmu kesana..."
"Yeayy... baiklah...Aku tunggu..."
Revan memutus panggilan.
Tak lama sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
Sebuah foto yang diambil secara candid oleh ibunya, Mira.
Revan menghempas ponselnya keatas kasur dan merebahkan diri diranjang empuk miliknya.
~^~
Tepat tengah malam, pintu kamarnya diketuk berulang kali dari luar.
Revan yang baru saja tertidur cukup kesal dibuatnya.
"Kenapa sih ma? Ini udah tengah malam loh..." kesalnya ketika pintu baru saja dibuka dan mendapati sang mama yang berdiri dengan wajah cemas.
"Ganti pakaian mu... Kita kerumah sakit sekarang juga...!" perintah Mira.
"Kenapa memangnya?"
"Sudah, jangan banyak tanya. Nanti mama jelaskan diperjalanan..." lagi Mira mendesak.
Dengan ogah-ogahan, Revan menuruti perintah mamanya.
Mobil yang dikendarai oleh Pak Jupri melaju membelah jalanan sepi ibukota.
"Ibu Ratmi, kejang-kejang.... Tadi dokter menghubungi papa dan meminta segera kesana. Dokter mengatakan mungkin saja ini..." Mira tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Ketakutan itu makin nyata dimata lelahnya.
Revan paham dan tak lagi bertanya.
Dia membuang pandangan keluar jendela.
Pikirannya carut-marut.
Sesampainya dirumah sakit, tim medis nampak begitu sibuk hilir-mudik.
Didepan ruangan, ada seorang gadis dengan abaya sederhana terisak menatap nanar pintu ruang ICU.
"Maara...." panggil Mira hingga gadis itu menoleh.
Matanya dipenuhi airmata yang siap turun membanjiri kedua pipinya.
"Bu Mira... Ibu saya...." Maara tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Mira memeluk Maara dan mengusap punggungnya.
"Kamu sabar ya...Bu Ratmi pasti akan sembuh.."
Bahu Maara bergetar.
Revan yang menatapnya cukup iba.
Mata indah itu terus meneteskan airmata seperti anak sungai.
"Ayo menikah...!" ujar Revan hingga membuat ketiganya ternganga terlebih Maara.
Kening gadis berkerudung hitam itu berkerut dalam.
"Aku akan menikahimu dan jadi pelindung bagimu" tegas Revan sekali lagi.
Bibir Maara terbuka tapi tak ada kata yang keluar dari bibirnya.
Tak lama, tim dokter memanggil keluarga pasien.
"Pasien dalam kondisi kritis... Jadi alangkah baiknya, semua keluarga berkumpul" titah dokter yang merawat bu Ratmi.
Kaki Maara rasanya lemas tak bertulang.
Disela kepanikan semua orang, asisten pak Rendra datang bersama seseorang mengenakan baju koko dan peci hitam.
"Pak... Ini penghulunya..." ujar Fandi, asisten pak Rendra.
Dengan wajah mengantuk, Fandi tetap melakukan perintah atasannya walaupun begitu banyak pertanyaan didalam kepalanya.
Maara yang masih kebingungan menatap satu-persatu wajah-wajah itu guna mencari sebuah penjelasan.
"Maara.. Revan putra saya akan menikahimu malam ini juga... Dan setelahnya, kami yang akan menjadi keluarga sekaligus walimu setelahnya...." jelas Mira kepada Maara yang masih belum paham akan situasinya.
"Tapi..." Kalimat Maara menggantung karena Mira telah menggiringnya masuk kedalam kamar dimana bu Ratmi masih terbaring tak sadarkan diri.
"Dokter, kami ingin mengadakan akad di sini dihadapan bu Ratmi" ujar Rendra meminta izin kepada dokter jaga yang segera dianggukan oleh dokter muda itu.
"Kita mulai pak..." Revan telah bersiap di posisinya diikuti oleh Maara yang duduk disisi Revan.
"Karena mbak Maara tidak memiliki saudara maka saya yang akan bertindak sebagai wali nikahnya... " ujar penghulu.
Maara memijit jari-jarinya.
Ini masih aneh baginya tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
Mira benar, dia hanya sebatang kara saat ini.
Sebagai seorang perempuan, Maara juga takut akan fitnah diluar sana.
"Kita mulai..." suara penghulu membuyarkan lamunan Maara.
"Saudara Revan Adiyasa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Maara Hayuning binti Masri Anugrah dengan mas kawin uang tunai sebesar satu juta rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Maara Hayuning binti Masri Anugrah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" suara Revan begitu lantang memecah sunyinya ruangan ICU.
"Bagaimana? Sah?"
"Sah" ujar semua saksi yang hadir termasuk tim medis yang masih berada disana.
Tttiiiiiitttttttt.....
Suara titik panjang membuyarkan suasana haru itu dan berganti dengan suasana isak tangis dari Maara.
"Ibu.... Bangun bu... Tolong jangan tinggalkan Maara... Ibu... Maara mohon...." lirih Maara mengguncang tubuh ibunya.
"Maara...." Mira ikut menenangkan perempuan yang kini sudah jadi menantunya.
Bu Ratmi tak bisa bertahan dan menghembuskan nafas sesaat setelah akad dilaksanakan.
Ada bulir bening di sudut matanya yang jadi petanda jika dia tahu pernikahan ini namun ajal sudah lebih dulu sampai sebelum dia bisa membuka mata.
bersambung....
Hallo semua readers....
Aku balik lagi dengan cerita yang lebih seru, menguras airmata serta emosi..
(Tapi jangan timpuk author dengan sendal ya, cukup tab suka, komentar yang positif, serta gift... 😍)
Canda sayang....
Terima kasih...
Enjoyed....