NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 berkunjung

Pagi di Ibusya Flower Studio kembali dimulai dengan aroma bunga segar yang memenuhi ruangan.

Mawar, lily, hydrangea, hingga eucalyptus tersusun rapi di rak pendingin. Musik akustik pelan mengalun dari speaker kecil di sudut toko, menemani aktivitas yang sudah dimulai sejak pukul delapan.

Wulan sedang sibuk memotong batang beberapa tangkai mawar ketika pikirannya kembali melayang.

"kayaknya lebih sering ngelihat ke arah lo."

Ucapan Siwi semalam kembali terngiang.

Wulan langsung menggeleng pelan. "Ih, apaan sih..."

"Ngomong sendiri?"

Suara Sarah membuat Wulan refleks menoleh.

"Hehe... enggak, Kak."

Sarah mengangkat sebelah alisnya. "Yakin?"

"Iya." Sarah hanya mengangguk kecil. Meski begitu, ia merasa akhir-akhir ini Wulan memang sedikit lebih sering melamun dari biasanya.

Belum sempat bertanya lebih jauh, ponselnya berdering.

"Selamat pagi, Ibusya Flower Studio." Sarah langsung berjalan ke ruang kerjanya sambil menerima telepon.

Tak sampai lima menit, telepon kedua kembali masuk, Lalu telepon ketiga.

Wulan melirik sekilas ke arah ruang kerja Sarah.

" bos emang sibuk banget euyy."

Hari itu memang jadwal mereka cukup padat. Beberapa dekorasi harus selesai sebelum akhir pekan, sementara ada dua klien yang masih meminta revisi terakhir.

Sekitar setengah jam kemudian, Sarah keluar sambil membawa beberapa map berwarna cokelat.

Raut wajahnya terlihat berpikir. "Wulan."

"Iya, Kak?"

"Kamu ada pesanan yang harus diantar?"

Wulan mengecek buku jadwal. "Hmm... enggak ada sih. paling Yang siang itu juga masih jam satuan"

Sarah mengangguk pelan. "Oke."

Ia membuka salah satu map, lalu mengembuskan napas kecil. "Masalahnya"

"Ada apa, Kak?"

"Mas Saka dari pagi meeting di kantor."

"Oh..."

"Padahal berkas ini harus ditandatangani hari ini juga."

Wulan ikut melihat map yang dipegang Sarah.

"Emang penting ya, Kak?"

"Penting. Ini revisi kontrak sama layout final. Kalau telat, proses produksi dekorasinya juga ikut mundur."

Sarah berpikir sejenak Lalu menatap Wulan.

"Wulan."

"Iya?"

"Bisa tolong anterin berkas ini ke kantor Mas Saka?"

Wulan langsung membeku. "Hah?"

Sarah tersenyum kecil. "Iya. Tolong anterin, ya."

"A-aku?"

"Iya."

"Tapi..."

Wulan menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa harus aku kenapa ngga kakak aja?"

"Soalnya aku masih harus meeting online sama vendor. Kalau ninggalin toko sekarang malah berantakan, Tenang aja."

Sarah mengambil ponselnya. "Nanti aku kirim alamat kantornya."

Beberapa detik kemudian...

Ting!

Ponsel Wulan berbunyi.

Sarah baru saja mengirim lokasi. "Nih. Tinggal ikutin maps."

Wulan menatap layar ponselnya,Alamat itu berada di kawasan perkantoran yang belum pernah ia datangi sebelumnya. "Jauh juga ya kakkkk"

"Naik motor aja pinjem sama pak nanang. Paling tiga puluh menit."

btw pak nanang itu satpam toko emas yang ada disebrang jalan yang udah akrab makanya bisa pinjem motornya pak nanang

Wulan masih terlihat ragu. "Kalau aku nyasar gimana?"

Sarah tertawa kecil. "Kan ada maps."

"Kalau maps-nya yang nyasar?"

"Wulan."

"Iya..."

"Berangkat."

Wulan menghela napas panjang. "yaudah iya ini berangkat kak..."

Sepuluh menit kemudian Wulan sudah mengenakan helm.

Map cokelat itu ia simpan rapi di dalam tas agar tidak terlipat. "Oke..."

Ia menarik napas pelan. "Cuma nganter berkas, Bukan ngelamar kerja, Biasa aja."

Ia menepuk kedua pipinya sendiri. "Lagian kenapa gue yang gugup, sih?"

Padahal, Yang akan ditemuinya cuma Saka kan?

Perjalanan menuju kantor berlangsung cukup lancar Sesekali Wulan mengikuti petunjuk dari aplikasi maps. "Belok kanan"

"Oke."

"Lurus lima ratus meter."

"Oke."

Sampai akhirnya "Lho?"

Ia menghentikan motornya di pinggir jalan. "Ini kok muter lagi?"

Wulan memandangi layar ponselnya dengan bingung."Eh kayaknya tadi aku kelewatan belok."

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Pantes aja muter-muter."

Setelah berbalik arah, akhirnya perjalanan kembali sesuai jalur Semakin dekat ke lokasi, bangunan-bangunan di sekitarnya mulai berubah.

Deretan ruko berganti menjadi gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi.

Wulan melambatkan motornya."Buset dah Segede ini?"

Ia menoleh ke kanan dan kiri Banyak orang berlalu-lalang mengenakan kemeja rapi, blazer, serta membawa laptop.

Suasananya jauh berbeda dengan toko bunga tempatnya bekerja setiap hari.

Beberapa menit kemudian, aplikasi maps memberi petunjuk terakhir."Anda telah sampai di tujuan."

Wulan mendongak Di hadapannya berdiri sebuah gedung perkantoran modern dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari.

Logo perusahaan terpampang besar di bagian depan. " omg babang Saka kerja di sini?"

Entah kenapa Ia langsung merasa minder.

Dirinya yang hanya mengenakan kemeja putih, celana jeans, dan sneakers sederhana tiba-tiba merasa begitu biasa di tengah orang-orang yang berpakaian formal. "Gimana kalau aku salah masuk? terus malah disuruh keluar?"

Wulan menggigit bibir bawahnya pelan."Udahlah Udah jauh-jauh ke sini juga masa balik lagi."

Ia memarkir motor di area parkir tamu, Setelah memastikan map masih aman di dalam tas, Wulan berjalan pelan menuju pintu utama gedung.

Pintu kaca otomatis terbuka, Ruangan lobby yang luas langsung menyambutnya.

Lantainya mengilap, Pendingin ruangan terasa sejuk.

Beberapa orang tampak duduk di area tunggu sambil mengetik di laptop masing-masing.

Di sisi kanan terdapat meja resepsionis Wulan menarik napas panjang sekali lagi."Ayo, Wulan pasi bisa."

Ia melangkah mendekati meja tersebut. "Permisi, Mbak..."

Resepsionis itu langsung tersenyum ramah.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya mau ketemu Mas Saka."

"Mas Saka?"

"Iya..."

"Boleh saya tahu dari perusahaan mana?"

"Ibusya Flower Studio."

Resepsionis itu mengetik sesuatu di komputernya.

"Apakah sudah ada janji sebelumnya?"

Pertanyaan itu membuat Wulan langsung gugup.

"Eee..."

Belum sempat ia menjawab...

"Lho?" sebuah suara yang terdengar begitu familiar membuat Wulan spontan menoleh.

"Wulan?"

Mata Wulan langsung berbinar. "Kak Nara?"

Nara tersenyum lebar begitu melihat Wulan. "Lho, beneran kamu."

Wulan ikut tersenyum sambil mengangguk.

"Iya, Kak."

"Kok bisa di sini?"

Wulan mengangkat sedikit map cokelat yang dibawanya.

"Aku disuruh Kak Sarah nganter berkas buat Mas Saka cuma belum ada janji"

Nara mengangguk paham. " yaampun kok bisa yaudah"

Ia melirik jam tangan sebentar sebelum kembali menatap Wulan. "Kebetulan aku juga mau ke atas. Yuk, bareng aja."

"Eh? Nggak ngerepotin, Kak?"

"Nggak, dong."

Wulan langsung mengangguk lega.

"Alhamdulillah kirain tadi aku ga bakal kasih ni map"

Nara terkekeh. " kenapa ga telpon aku aja"

" lupa ga inget udah panik duluan"

Mereka berdua tertawa kecil Resepsionis yang tadi sempat melayani Wulan pun langsung mengangguk sopan. "Silakan, Mbak."

"Makasih."

Lift perlahan bergerak naik Di dalamnya hanya ada Wulan dan Nara.

Wulan berdiri sambil memeluk map di dadanya Entah kenapa, semakin dekat ke lantai tujuan, rasa gugupnya justru semakin besar.

Nara yang berdiri di sampingnya melirik sekilas.

"Gugup?"

"Hah?"

"Gugup, ya?"

Wulan langsung menggeleng cepat. "Nggak kok."

Nara menahan senyum. "Padahal kelihatan."

" emang nya kak? " ucap wulan sambil memegang pipinya.

"Iya, soalnya map yang kamu pegang dari tadi udah hampir penyok."

Wulan langsung menunduk Benar saja.

Tanpa sadar ia menggenggam map itu terlalu erat.

" eh anjirr" Ia buru-buru melonggarkan pegangannya.

Nara tertawa kecil."Tenang aja."

"Aku bukan takut tapii.."

"Terus?"

"takut salah ruangan."

"Iya."

"takut salah ngomong."

"Iya."

"takut ganggu meeting juga"

"Iya." Nara mengangguk berkali-kali seolah percaya Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, "Atau takut ketemu Saka?"

Wulan langsung menoleh cepat.

"Hah? ya nggak lah!"

"Bener?"

"Iya."

Nara tersenyum usil. "Padahal pipinya udah jawab duluan."

Refleks Wulan menyentuh pipinya lagi "Merah?"

Nara justru tertawa. "Hahaha... ketahuan, deh."

"Kak Nara!"

"Iya, iya. Udah, nggak aku godain lagi."

Wulan hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil menggeleng pelan.

Kenapa sih semua orang sekarang hobinya ngeledekin dia? Kemarin Siwi Sekarang Kak Nara.

Pintu lift terbuka.

"Lantai kita." Nara melangkah lebih dulu.

Wulan mengikuti dari belakang sambil memperhatikan suasana kantor.

Berbeda dengan yang ia bayangkan, Ruangan itu tidak terlalu kaku, Beberapa meja kerja tertata rapi.

Di sudut ruangan terdapat rak berisi contoh katalog dekorasi, beberapa miniatur panggung, serta papan besar yang dipenuhi desain acara.

Beberapa karyawan tampak sibuk berdiskusi, Ada yang mengetik di laptop, Ada pula yang sedang mencetak gambar layout.

"Wah..."

Tanpa sadar Wulan berbisik pelan. "Bagus banget"

Nara tersenyum. "Masih kecil dibanding kantor pusat."

Wulan langsung melotot."sumpah?"

Nara terkekeh."Becanda."

Mereka berjalan melewati beberapa meja Beberapa karyawan yang melihat Nara langsung menyapa.

"Siang, bu nara."

"Siang."

Namun tak sedikit pula yang diam-diam memperhatikan Wulan.

"Eh..."

"Itu siapa?"

"Nggak tahu."

"Temennya Kak Nara?"

"Bukan kali."

"Soalnya baru lihat."

Bisikan pelan itu memang tidak terdengar jelas.

Namun cukup membuat Wulan semakin salah tingkah. " dih kenapa lo pada liatin gue, ga pernah liat bidadari yaa pantess "

Nara yang menyadarinya hanya tersenyum kecil.

" iya kamu tuh cantiknya melebihi bidadari"

" ihh kok denger sih kak perasaan aku ngomong nya pelan deh"

" aku mah sura sekecil apapun pasti denger, tenang aja Disini kalau ada orang baru memang langsung jadi pusat perhatian."

"Oh"Wulan mengangguk pelan.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kaca dengan tulisan Project Manager.

Nara mengetuk pelan.

Tok.

Tok.

"Masuk." Suara itu terdengar dari dalam.

Nara membuka pintu terlebih dahulu Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi tertata sangat rapi.

Sebuah meja kerja dipenuhi laptop, beberapa gulungan layout, serta contoh material dekorasi.

Di balik meja Saka sedang fokus membaca dokumen.

"Ka..." Belum sempat Nara menyelesaikan ucapannya, Saka lebih dulu mengangkat kepala.

Tatapannya langsung berhenti, Bukan pada Nara, Melainkan pada sosok yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, Wulan.

Selama beberapa detik Saka hanya diam.

Raut wajahnya yang biasanya tenang tampak sedikit berubah.

Seolah tidak menyangka orang yang datang adalah Wulan.

"Wulan?"

Wulan yang sejak tadi memeluk map di dadanya langsung tersenyum canggung.

"Ehehe siang kak"

" ini Kak Sarah nyuruh aku nganter berkas."

Saka masih menatapnya beberapa saat. Lalu pandangannya beralih ke map yang dibawa Wulan. "Oh."

Ia berdiri dari kursinya. "Masuk."

Wulan melangkah perlahan masuk ke ruangan Sementara Nara berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan keduanya Sudut bibirnya terangkat tipis.

Dalam hati ia hanya bisa tersenyum geli.

Kayaknya... bakal menarik, nih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!