Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: KONTROL MUTLAK SANG CEO
Hujan deras yang mengguyur landasan pacu bandara internasional malam itu terasa bagai ribuan jarum dingin yang menghantam jaket hitam Dafa Mahardika. Air yang mengalir di sela-sela rambut hitamnya yang basah tampak bercampur dengan tetesan darah segar dari luka perban di bahunya yang mulai merembes akibat gerakan kasarnya saat turun dari mobil taktis. Namun, sepasang mata elang pria dominan itu sama sekali tidak berkedip, tetap mengunci tajam ke arah pintu kabin jet pribadi milik keluarga Sanjaya yang baru saja terbuka.
Pria bertubuh raksasa dengan tato ular kobra di seluruh lehernya—sang Pemimpin Tertinggi The Vipers—melangkah keluar ke ambang pintu jet dengan payung hitam yang dipegang oleh anak buahnya. Seringai kejam menghiasi wajah bengisnya saat ia mengacungkan sebuah gawai pintar ke arah Dafa. Di layar gawai tersebut, tampak siaran langsung yang menampilkan kondisi ruang ICU tempat Pak Handoko (ayah Nazya) terbaring lemah, dengan seorang penyusup bertopeng yang sudah menempelkan pisau bedah tepat di atas selang oksigen utama.
"Satu langkah maju untuk menangkap Baskoro Sanjaya, Mahardika... maka detik ini juga aku akan memerintahkan untuk mencabut nyawa mertuamu!" suara si pemimpin ular bergaung berat, membelah gemuruh mesin turbin jet pribadi dan suara guntur yang saling bersahutan di langit malam.
Mendengar ancaman maut yang mengincar nyawa ayah dari wanita yang menjadi seluruh belahan jiwanya, rahang tegas Dafa mengeras sempurna hingga menciptakan garis otot yang mengerikan di wajah tampannya. Sifat posesif dan insting pelindung puncaknya bergolak liar di dalam dada bidangnya yang panas. Ia tahu betul, jika seujung rambut saja Pak Handoko terluka malam ini, maka senyuman Nazya akan lenyap dan janda muda pilihannya itu akan hancur dalam penyesalan seumur hidup. Dan Dafa, sebagai penguasa tertinggi dinasti Mahardika, menolak membiarkan wanitanya menangis lagi.
"Kamu mengira... kamu sedang memegang kendali atas hidup dan matiku, Ular?" desis Dafa. Suaranya tidak meninggi atau meledak marah, melainkan terdengar sangat rendah, bariton, dan dipenuhi oleh nada dingin yang sanggup membekukan tetesan air hujan di sekeliling mereka.
Dafa perlahan-lahan menurunkan laras senapan serbu taktisnya ke arah bawah, seolah-olah memberikan tanda bahwa ia menerima kekalahan dan bersiap untuk melakukan negosiasi.
Si pemimpin The Vipers tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Dafa, merasa di atas angin karena berhasil menundukkan sang naga bisnis nomor satu di negara ini. "Pilihan yang genius, Pak CEO! Sekarang, perintahkan seluruh kendaraan lapis bajamu untuk mundur dari jalur runway, biarkan jet pribadi Tuan Besar Baskoro lepas landas malam ini juga, atau kamu akan pulang membawa peti mati untuk mertuamu!"
Namun, di tengah tawa keji musuhnya, Dafa justru menyunggingkan sebuah senyum tipis yang teramat kejam di sudut bibirnya yang tegas—sebuah senyum predator puncak yang menandakan bahwa mangsanya baru saja berjalan masuk ke dalam perangkap kematian yang sesungguhnya.
Dafa mengangkat tangan kirinya ke udara, lalu mengetuk pelan perangkat interkom komunikasi darurat yang terpasang di daun telinganya. "Eksekusi rencana Omega. Sekarang."
Detik itu juga, siaran langsung di layar gawai yang dipegang oleh pemimpin The Vipers mendadak berubah drastis. Sebelum si penyusup bertopeng sempat mengiris selang oksigen Pak Handoko, dinding kaca luar ruang ICU rumah sakit Mahardika meledak hancur berantakan akibat hantaman peluru penembak jitu (sniper) jarak jauh divisi dua Mahardika yang telah bersiaga di gedung seberang sejak sepuluh menit lalu.
BANG!
Peluru presisi tinggi itu menembus tepat di tengah dahi si penyusup bertopeng hingga tubuhnya terlempar ke belakang dan tumbang ke lantai tanpa sempat menggerakkan pisau bedahnya seujung milimeter pun. Detik berikutnya, lima orang pasukan taktis Mahardika berpakaian hitam legam melompat masuk menembus jendela kaca yang hancur, langsung mengamankan tubuh Pak Handoko dan mengunci seluruh ruang ICU dalam perlindungan mutlak.
Wajah pemimpin The Vipers seketika memucat sempurna menyerupai mayat saat melihat seluruh rencana penyanderaannya hancur total dalam hitungan detik di depan matanya sendiri. "B-Bagaimana mungkin?! Bagaimana kamu bisa tahu posisi penyusupku?!"
"Kamu terlalu meremehkan jaringan intelijen The Obsidian, Ular," ucap Dafa dingin sembari kembali mengangkat laras senapan serbunya lurus ke arah dada sang pemimpin tentara bayaran. "Sejak kamu menginjakkan kaki di kota ini, seluruh frekuensi sinyal komunikasi rahasiamu sudah berada di dalam brankas memoriku."
ATTACK!
Tanpa membuang waktu satu fraksi detik pun, Dafa memberikan komando serangan massal kepada seluruh tim taktis divisi satu yang mengepung landasan pacu. Rentetan tembakan taktis berperedam suara kembali membubung tinggi di bawah guyuran hujan lebat bandara.
Pasukan khusus Mahardika bergerak layaknya badai hitam yang tak terbendung, menyerbu naik ke atas tangga jet pribadi dan melumpuhkan sisa-sisa penjaga The Vipers dengan akurasi yang luar biasa mengerikan. Dafa melangkah paling depan, menaiki tangga jet dengan langkah kaki yang konstan dan sarat akan ancaman pembantaian mutlak.
Saat pintu kabin mewah jet pribadi itu didobrak paksa dari luar, Baskoro Sanjaya yang terduduk di kursi kulitnya langsung kencing di celana ketakutan. Gelas wiski di tangannya jatuh dan pecah berantakan di atas lantai kabin saat ia melihat Dafa Mahardika berdiri di depannya dengan pakaian yang ternoda darah dan aura haus darah yang telah mencapai level tak terbatas.
"D-Dafa... tolong ampuni aku... Aku akan memberikan seluruh saham Sanjaya Group kepadamu! Semuanya! Asalkan kamu membiarkan aku hidup!" ratap Baskoro sembari berlutut di bawah lantai kabin, menangis histeris sembari mencoba mencium ujung sepatu lars hitam Dafa.
Dafa menatap tua bangka di bawah kakinya dengan pandangan mata elang yang teramat pekat dan dipenuhi rasa jijik yang mendalam. "Saham keluargamu sudah menjadi sampah sejak kamu berani menyentuh ibuku dan meneror istriku, Baskoro. Malam ini... kamu dan putramu Rendy akan membusuk di dalam sel bawah tanah Mahardika sampai maut menjemput kalian."
Dafa membalikkan tubuh besarnya dengan gerakan yang sangat anggun, menyerahkan proses penyeretan Baskoro dan sisa pasukan ular kepada Mikael. Pria itu berjalan cepat menuruni tangga jet, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi di tempat yang memuakkan ini karena jiwanya terus memanggil satu nama yang menjadi penawar seluruh lelahnya: Nazya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan mewah hitam milik Dafa kembali membelah gerbang utama Rumah Sakit Pusat Mahardika. Tanpa memedulikan tatapan syok dari para perawat dan dokter jaga yang melihat pakaiannya yang dipenuhi noda darah kering dan bubuk mesiu, Dafa melangkah lebar menyusuri koridor lantai VIP baru tempat Nazya dipindahkan demi keamanan.
Saat pintu kamar rawat nomor 305 dibuka dengan sentakan pelan, Nazya yang sedari tadi tidak bisa tidur dan terus meremas selimutnya dengan cemas, langsung menolehkan kepala cantiknya cepat.
Begitu melihat sosok tegap suaminya berdiri di ambang pintu dalam kondisi utuh meskipun tampak sangat lelah, janda muda itu langsung mengabaikan rasa perih di kakinya. Ia menurunkan tubuh rampingnya dari atas ranjang, berlari pincang dengan air mata yang tumpah ruah membasahi pipi cantiknya, lalu menghamburkan seluruh tubuh kurusnya ke dalam pelukan bidang Dafa yang hangat.
"Mas Dafa! Mas kembali... Ya Tuhan, terima kasih..." tangis Nazya pecah di dada bidang Dafa, kedua tangan kurusnya memeluk erat pinggang kokoh suaminya seolah takut jika pria dominan itu akan menghilang lagi dari hidupnya.
Dafa merengkuh tubuh ramping Nazya ke dalam pelukan posesifnya yang mutlak. Lengan kekarnya mengunci pinggang sang istri dengan teramat erat dan rapat, sementara tangan kanannya mengusap lembut punggung Nazya, menyalurkan seluruh sisa kehangatan pelindung terakhirnya untuk meredam kepanikan sang janda muda. "Aku sudah kembali, Nazya-ku... Badai sudah berlalu. Baskoro dan Rendy sudah tamat. Ayahmu juga sudah aman di bawah penjagaanku."
Jerat gairah dan ikatan batin di antara sepasang kekasih yang baru saja melewati neraka pertempuran itu terasa semakin mengikat pekat dan intim di tengah keheningan kamar rumah sakit. Dafa merendahkan wajah tampannya, mengecup lama pucuk kepala Nazya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata indah istrinya yang masih basah oleh sisa air mata.
Sifat dominan Dafa bergejolak melihat bibir ranum Nazya yang bergetar. Ia menangkup sepasang pipi pias istrinya dengan kedua tangan besarnya yang hangat, lalu membawa bibir ranum itu ke dalam sebuah ciuman yang teramat intens, lama, dan sarat akan luapan emosi posesif yang menuntut kepemilikan seutuhnya, menegaskan bahwa wanita janda muda ini adalah takdir mutlak yang akan ia lindungi sampai hembusan napas terakhirnya.
Namun, tepat di saat kehangatan intim di antara mereka baru saja mengembalikan ketenangan yang hilang, pintu kamar rawat nomor 305 mendadak didobrak terbuka secara kasar dari luar hingga menghantam dinding beton.
Mikael melangkah masuk dengan napas yang memburu cepat dan wajah yang dipenuhi oleh ekspresi horor yang luar biasa pekat—bahkan jauh lebih panik daripada saat Mami Kinanti diculik sebelumnya. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen berkas hasil autopsi medis yang baru saja keluar dari laboratorium forensik pusat.
"P-Pak Dafa... Ibu Nazya... mohon ampun, ini gila..." suara Mikael bergetar hebat hingga dokumen di tangannya bergetar kasar. "Hasil tes DNA forensik dari sisa darah di tubuh penasihat hukum keluarga Sanjaya baru saja keluar... Pria yang selama ini menggerakkan seluruh konspirasi, yang mendanai sabotase truk, dan yang memerintahkan The Vipers untuk menghancurkan kita... dia bukan Baskoro Sanjaya ataupun Rendy. Dia adalah seseorang dari masa lalu yang memiliki hubungan darah kandung yang sangat dekat dengan Anda, Pak... Seseorang yang seharusnya sudah Anda makamkan dengan tangan Anda sendiri lima tahun lalu!"
Terima kasih sudah setia membaca cerita DAFA dan NAZYA sampai sini ya teman-teman, jangan lupa LIKE & FOLLOW akun ini biar Author semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Kita update bab baru setiap hari.
jam 00:06 pagi dan 12:00 siang.