NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Suara Ketukan

Suara alarm dari ponsel Bylla berbunyi keras memenuhi seluruh penjuru ruangan. Sebuah alarm sebagai penanda bahwa jam kerja telah selesai. Bylla segera mematikan alarmnya yang terus berulang. Kemudian, merapikan barang-barangnya dengan gerakan cepat yang bersemangat.

"Ayo, Kak Nezha! Waktunya pulang!" seru Bylla sambil menepuk kedua tangannya riang. Ia langsung berdiri dan dengan sigap menyampirkan tas milik Nezha ke bahunya sendiri, seolah-olah itu adalah tugas utamanya hari ini.

Nezha memaksakan diri untuk bangkit dari kursi. Rasa lemas di kakinya masih terasa, namun setidaknya rasa mualnya sudah sedikit berkurang dibanding siang tadi. "Bylla, tasnya biar aku bawa sendiri saja. Kamu sudah cukup repot membawa barang-barangmu sendiri."

"Udah gak apa-apa Kak. Pasien dilarang protes," potong Bylla cepat sambil memberikan gestur menolak dengan telapak tangannya. Ia kemudian menggandeng lengan Nezha dengan hati-hati. "Ayo, Kak, kita harus bergerak cepat. Jika tidak, kita tidak akan dapat tempat duduk nanti di kereta."

Nezha hanya bisa pasrah. Mencoba mengimbangi langkah Bylla yang cepat dengan tangan senantiasa menggandeng lengan Nezha. Membawa Nezha menuju stasiun terdekat.

Perjalanan pulang sore itu terasa panjang bagi Nezha. Di dalam gerbong kereta yang padat dan bising, Bylla terus berdiri di depannya, memasang badan untuk melindungi Nezha dari desakan penumpang lain. Sikap protektif gadis magang ini membuat Nezha tersentuh, sekaligus memicu sedikit rasa bersalah karena ia harus menyembunyikan kondisi aslinya.

Tidak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya tiba di apartemen. Langkah mereka secara otomatis langsung menuju ke dalam lift. Sebuah teknologi yang mampu membawa mereka menuju lantai atas tanpa perlu membuang-buang tenaga. Begitu kotak lift itu berdenting di lantai sebelas, Nezha mengira Bylla akan pamit turun ke kamarnya. Namun, gadis berambut kuncir kuda itu tetap berdiri tegak di sampingnya saat pintu lift terbuka.

"Bylla, kamarmu kan di lantai ini? Aku bisa naik sendiri ke lantai dua belas," kata Nezha sambil menahan pintu lift agar tidak menutup kembali.

Bylla langsung menggeleng kuat-kuat. "Tidak bisa, Kak. Tugasku itu mengantar Kakak sampai tujuan dengan selamat. Kalau Kakak tiba-tiba ambruk di koridor lantai dua belas, terus tidak ada orang yang tahu bagaimana? Sudah gak apa-apa Kak, ayo."

Nezha akhirnya pasrah ketika pintu lift kembali tertutup dan membawa mereka ke lantai dua belas. Begitu sampai di depan pintu kamar Nezha, Bylla menunggu dengan sabar sampai Nezha menempelkan kartu aksesnya. Begitu pintu terbuka, Bylla langsung menuntun Nezha masuk, melewati ruang tengah yang sepi, langsung menuju kamar tidur utama.

"Nah, sekarang Kakak langsung tiduran saja. Jangan banyak bergerak dulu," perintah Bylla sambil menepuk-nepuk permukaan kasur empuk Nezha.

Nezha mendudukkan dirinya di tepi kasur, mengembuskan napas panjang saat punggungnya akhirnya bisa bersandar pada bantal. "Terima kasih banyak, Bylla. Kamu sendiri pasti juga capek, kan? Kamu pulang saja, istirahat."

"Tenang saja Kak, energi saya mah masih seratus persen," sahut Bylla riang, sudah sibuk mondar-mandir di dalam kamar Nezha. Ia meletakkan tas Nezha di meja kerja, lalu berjalan menuju dispenser air di sudut ruangan. "Sekarang, prioritasnya adalah membuat Kak Nezha nyaman. Pertama, minum dulu."

Bylla menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya di nakas meja samping tempat tidur. Matanya kemudian menjelajahi meja kerja Nezha, mencari sesuatu. "Kak, obat atau suplemen gizi harian Kakak disimpan di mana? Biasanya kalau lelah begini, minum suplemen dari pemerintah bisa langsung memulihkan energi."

Jantung Nezha berdegup agak kencang. "Ah... itu, ada di laci meja kerja sebelah kanan. Botol kecil warna putih."

Itu adalah suplemen standar yang dibagikan pemerintah untuk menjaga stamina pekerja. Tentu saja, Nezha tidak boleh meminumnya dalam kondisi hamil seperti ini. Bukan karena apa-apa, hanya saja kandungan kimia di dalamnya terlalu keras untuk janin. Namun ia membiarkan Bylla mengambilnya agar gadis itu tidak curiga.

Bylla mengambil botol tersebut, meletakkannya di samping gelas air hangat, lalu pandangannya beralih ke tubuh Nezha. "Kak Nezha, itu seragamnya pasti tidak nyaman kalau dipakai tidur. Kakak harus ganti pakaian yang lebih longgar. Biar saya ambilkan di lemari, ya?"

Mendengar kata 'lemari', Nezha mendadak menegang. Seluruh kantuk dan lemasnya menguap dalam sekejap.

Di dalam lemari pakaian yang menempel di dinding kamarnya itu, bukan hanya ada tumpukan kain. Melainkan terdapat rahasia besar yang selama ini ia dan juga Carson sembunyikan. Di balik panel kayu tersebut, terdapat sebuah lubang yang menjadi jalur aman untuk mereka berdua bertemu tanpa terdeteksi kamera pengawas.

"Eh, Bylla! Tidak usah, biar aku—"

Kalimat Nezha terlambat. Bylla sudah melangkah ringan dan menarik pintu lemari pakaian Nezha hingga terbuka lebar.

Nezha menahan napasnya, mencengkeram pinggiran sprei kasurnya dengan erat. Matanya menatap lurus ke dalam lemari, bersiap untuk skenario terburuk jika Bylla menyadari ada keganjilan pada kedalaman lemari atau struktur panel belakangnya.

Bylla berdiri di depan lemari, jemarinya memilah-milah gantungan baju dengan santai. "Wah, baju-baju Kak Nezha rapi sekali ya, tidak seperti lemariku yang berantakan. Hmm... yang mana ya yang paling nyaman? Ah, kaos abu-abu longgar ini saja ya, Kak?"

Bylla menarik sebuah kaos katun longgar dan celana kain ringan dari gantungan, lalu berbalik sambil tersenyum lebar. Pintu lemari itu ia biarkan terbuka setengah.

Nezha mengembuskan napas pelan yang terasa sangat melegakan dadanya. Beruntung, tumpukan baju yang ia susun di sana, berhasil menyamarkan keberadaan panel rahasia itu. "Iya, itu saja. Terima kasih, Bylla."

"Sama-sama! Ini Kak, pakaian gantinya. Mau saya bantu ganti sekarang?" tanya Bylla menawarkan diri dengan polos.

"Tidak, tidak usah. Nanti saja setelah kamu pulang, aku bisa sendiri," jawab Nezha cepat, sedikit merona karena canggung.

Bylla terkekeh, lalu duduk di kursi putar dekat meja kerja Nezha. Seperti biasa, begitu ada kesempatan, gadis itu langsung memulai ocehan panjangnya tanpa henti.

Nezha hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk dan tersenyum tipis. Suara ceria Bylla memenuhi ruangan yang tadinya sunyi itu. Nezha menghargai perhatian gadis ini, namun di dalam hati, ia hanya ingin Bylla segera pergi agar ia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan tanpa perlu berpura-pura kuat.

"...terus ya Kak, Kak Shanaz itu kalau sudah marah saat patroli, matanya bisa melotot besar sekali seperti sensor termal rusak, lucu banget deh kalau diingat—"

Tok. Tok. Tok. ... Tok.

Suara ketukan itu pendek, teratur, namun terdengar sangat jelas memotong kalimat panjang Bylla.

Suasana kamar mendadak hening seketika.

Bylla langsung menghentikan bicaranya, kepalanya berputar cepat melirik ke sekeliling ruangan dengan kening berkerut bingung. "Eh? Suara apa itu, Kak?"

Nezha membeku di atas kasurnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah mau melompat keluar. Ia tahu persis dari mana asal suara itu. Ketukan itu berasal dari balik panel kayu lemarinya yang terbuka setengah. Carson pasti baru saja pulang kerja dan ingin memeriksa kondisinya, tanpa tahu bahwa di dalam kamar ini masih ada orang lain.

"Suara? Suara apa? Aku tidak dengar apa-apa," kilah Nezha, mencoba membuat suara dan ekspresi wajahnya senatural mungkin, meski tangannya di bawah selimut bergetar.

"Ih, ada kok, Kak! Jelas sekali tadi," Bylla bangkit berdiri dari kursinya, matanya menyipit penuh selidik saat ia berjalan mendekati area dinding dekat lemari pakaian. "Seperti suara ketukan di kayu atau beton begitu, Kak. Apa ada tikus di dalam atap apartemen ini? Tapi kan gedung ini punya sistem sanitasi ultrasonik, tidak mungkin ada hewan yang bersarang di sana."

Sebelum Bylla melangkah lebih dekat ke arah lemari yang terbuka, Nezha dengan cepat mengambil gelas air hangat di nakasnya sengaja dengan gerakan agak ceroboh, membuat sendok kecil di dalamnya berdenting nyaring melawan kaca.

"Ah, Bylla, mungkin itu suara dari pipa air gedung atau tetangga sebelah," potong Nezha, menarik perhatian Bylla kembali padanya.

Bersamaan dengan ucapannya, Nezha menatap lurus ke arah celah lemari yang terbuka, lalu berdeham agak keras satu kali, disusul dengan dua ketukan pelan menggunakan ujung kukunya pada permukaan gelas kaca di tangannya.

Ting. Ting.

Itu adalah kode balasan darurat untuk Carson.

Jangan masuk, ada orang lain di sini.

Di balik dinding, suasana kembali sunyi. Tidak ada lagi suara ketukan susulan. Carson tampaknya langsung menangkap kode bahaya tersebut.

Bylla berbalik, menatap Nezha dengan ekspresi agak ragu namun akhirnya mengangguk. "Hmm... iya juga sih, Kak. Kamar saya di bawah juga kadang suka ada suara aneh dari balik dinding. Sepertinya gedung ini memang sudah waktunya diperbaiki."

Nezha meletakkan kembali gelasnya, lalu memandangi Bylla dengan tatapan lelah yang tidak dibuat-buat. "Bylla, ini sudah mulai malam. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan istirahat."

Bylla melirik jam digital di pergelangan tangannya, lalu tersenyum maklum. "Ah, iya, sudah hampir jam enam malam. Kalau begitu saya pamit pulang ya, Kak."

Bylla berjalan menuju pintu kamar, namun sebelum keluar, ia berbalik sekali lagi. "Obatnya jangan lupa diminum, Kak. Kalau nanti malam Kak Nezha butuh sesuatu atau merasa makin parah, langsung hubungi nomor interkom kamarku saja, Kak. Nanti saya langsung naik ke sini."

Nezha tersenyum tulus, rasa terima kasihnya kali ini benar-benar nyata. "Iya, Bylla. Terima kasih banyak untuk hari ini ya. Kamu benar-benar sudah banyak membantuku."

"Sama-sama, Kak Nezha! Selamat malam, cepat sembuh Kak!" Dengan lambaian tangan riang, Bylla melangkah keluar dan menutup pintu apartemen Nezha dengan rapat.

Begitu suara kunci otomatis pintu depan berbunyi, menandakan pintu telah terkunci dari luar, Nezha langsung menyandarkan kepalanya ke dinding dengan lemas, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Kamar itu kini kembali ke dalam keheningan total yang nyaman.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!