NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29: Gempa Pertama Bursa Efek

Langit Jakarta di akhir bulan Juni memancarkan hawa panas yang membungkus deretan gedung pencakar langit di kawasan bisnis Jakarta.

Di lantai dua ruko Salman Group, Udara terasa begitu dingin oleh embusan pendingin ruangan, namun intensitas ketegangan di dalamnya tidak kalah membakar.

Lima buah layar monitor tabung berukuran besar berjejer di atas meja panjang, menampilkan pergerakan grafik lilin hijau dan merah yang naik-turun dengan kecepatan tinggi.

Doni Salman berdiri di tengah ruangan dengan melipat kedua tangannya di dada.

Kemeja putihnya yang bersih tampak kontras dengan latar belakang kegelapan ruangan yang sengaja digelapkan agar fokus para analis tertuju sepenuhnya pada pergerakan bursa efek Jakarta.

Di sebelahnya, dua orang analis muda yang baru ia rekrut dari sekuritas papan atas bergerak lincah menekan papan ketik komputer.

"Mas Doni! Volume perdagangan saham BUMI melonjak drastis dalam sepuluh menit terakhir!" seru salah seorang analis, suaranya bergetar menahan ketegangan.

"Ada pembelian masif dari beberapa sekuritas asing. Harga saham melesat menembus batas psikologis baru!"

Doni melangkah maju, sepasang mata sumur tuanya mengunci angka digital yang terus berkedip di sudut kanan atas layar monitor.

BUMI: Rp1.250 (+9,6%)

Di dalam ingatan masa depannya, pertengahan tahun 2006 adalah momentum emas di mana komoditas batu bara global mulai menggila akibat lonjakan permintaan energi dari negara-negara industri baru di Asia.

Kelompok usaha Bakrie, yang mengendalikan saham BUMI, sedang berada di puncak gelombang pasang finansial.

Modal 10,5 miliar rupiah yang Doni tanamkan secara rahasia melalui anomali kliring Bank Nusa Sentosa sebulan lalu kini telah berlipat ganda, membengkak menjadi lebih dari dua 12,5 miliar rupiah nilai bersih di atas kertas.

"Mulai lakukan pencairan bertahap," perintah Doni, suaranya terdengar begitu datar, tenang, seolah-olah ia tidak sedang membicarakan perputaran uang miliaran rupiah yang bisa mengubah nasib seseorang dalam semalam.

"Lepas sepuluh persen posisi kita setiap kali harga naik lima puluh rupiah."

"Jangan biarkan pergerakan volume penjualan kita memicu kecurigaan otoritas bursa."

"Kita harus keluar dari pasar dengan kantong penuh sebelum sentimen koreksi teknis harian terjadi sore ini."

"Baik, Pak Komisaris!" kedua analis itu langsung mengeksekusi perintah dengan kecepatan penuh.

Doni kembali memundurkan langkahnya, bersandar pada tepian meja jati.

Keuntungan masif dari bursa saham ini bukan sekadar angka kemenangannya sebagai seorang spekulan; ini adalah amunisi riil yang ia butuhkan untuk mendanai fase berikutnya dari rencana penaklukan PT Santoso Karya.

Saat badai likuiditas menghantam perbankan Jakarta beberapa minggu lagi, uang tunai adalah raja diraja, dan Salman Group akan menjadi satu-satunya entitas yang memiliki likuiditas paling melimpah di bawah tanah Jakarta.

Sementara itu, kontras dengan perayaan senyap di ruko Pluit, suasana di lantai tertinggi Menara Thamrin justru dilingkupi oleh kepanikan yang mulai merayap naik.

Di dalam ruang kerja Direktur Utama, Devan Santoso berdiri di dekat jendela kaca besarnya dengan memegang gagang telepon nirkabel berkancing emas.

Wajah paruh bayanya tampak tegang, dengan kerutan dahi yang semakin mendalam.

"Apa maksudmu tidak bisa dicairkan sekarang, Susilo?!" bentak Devan, suaranya meninggi hingga terdengar parau.

"Itu adalah dana taktis termin pertama untuk pembelian struktur besi baja sektor utara! Nilainya lima puluh miliar rupiah!"

"Jika uang itu tidak masuk ke rekening vendor sore ini, seluruh proyek pengecoran jembatan Marunda akan berhenti total!"

Suara desis kecemasan terdengar dari balik pelantang telepon, menampilkan suara Susilo, salah satu direktur operasional Bank Nusa Sentosa yang selama ini menjadi rekanan gelap Devan dalam pencucian dana proyek.

"Maaf, Pak Devan... ini bukan kebijakan dari cabang kami."

"Otoritas Bank pagi ini mendadak memperketat rasio kecukupan modal (CAR) di kantor pusat kami terkait audit investigasi kredit sawit di Sumatra."

"Ada pembatasan penarikan dana pihak ketiga di atas sepuluh miliar untuk sementara waktu. Kami sedang mengusahakan dana talangan, tapi... butuh waktu setidaknya tiga sampai empat hari kerja."

"Tiga hari kerja?!" Devan mencengkeram gagang teleponnya begitu kuat hingga jemarinya memutih.

"Kamu tahu sendiri denda penalti dari kementerian pekerjaan umum jika proyek ini mandek sehari saja?! Sialan!"

Devan membanting gagang telepon itu kembali ke tempatnya dengan kasar, hingga beberapa lembar kertas dokumen di atas mejanya beterbangan.

Pria tua itu menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit megahnya, napasnya memburu oleh luapan amarah yang bercampur dengan rasa takut yang samar.

Ingatannya mendadak terlempar pada kalimat ancaman yang diucapkan Doni Salman di ruang rapat minggu lalu, serta laporan histeris dari Amanda kemarin sore mengenai analisis risiko Bank Nusa Sentosa yang dipegang oleh anak muda itu.

Bagaimana mungkin anak itu bisa tahu kalau Bank Nusa Sentosa akan kolaps sebelum dewan komisarisku mengetahuinya? Apakah Doni Salman memiliki jaringan intelijen finansial di dalam Bank Indonesia? Atau... apakah dia sendiri yang sedang menggerakkan badai ini dari belakang layar? Pemikiran itu membuat bulu kuduk Devan Santoso memanjang tegak.

Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun kariernya sebagai raja kontraktor, Devan merasa ada seutas tali tak kasat mata yang sedang melilit lehernya, dan ujung tali itu dipegang oleh seorang mantan kuli gudang pudar dari Marunda.

"Amanda!" teriak Devan memanggil putri tunggalnya yang sejak tadi duduk diam di sofa kulit sudut ruangan.

Amanda mengangkat wajah cantiknya, matanya yang tajam memancarkan kecemasan yang sama besar.

"Iya, Papa? Jadi benar... apa yang dikatakan Doni Salman kemarin tentang bank itu?"

"Anak itu bukan manusia biasa, Amanda," desis Devan Santoso, suaranya bergetar tipis.

"Dia tahu tentang pembekuan dana ini sebelum direksi bank mengumumkannya kepadaku."

"Kita harus bergerak cepat. Cari tahu di mana Doni Salman mendapatkan data itu."

"Jika kita tidak bisa menarik dana kita dari Bank Nusa Sentosa minggu ini, kita harus mencari pinjaman dana segar dari pihak ketiga untuk menutupi biaya vendor, atau... PT Santoso Karya akan dinyatakan gagal bayar dalam waktu satu bulan."

Amanda menggigit bibir bawahnya hingga lipstik merah marunnya sedikit memudar.

Ego sosialitanya yang tinggi kini runtuh, menyisakan ketakutan akan kehilangan seluruh kemewahan hidupnya.

"Aku akan mencoba mendekati tim legal kita, Papa."

"Pasti ada celah untuk membatalkan hak opsi saham dua persen miliknya agar kita bisa menjadikannya jaminan di bank lain."

"Lakukan sekarang! Jangan tunggu sampai besok!" perintah Devan dengan mata yang memerah beringas.

Kembali ke ruko Pluit, waktu telah menunjukkan pukul empat sore jam penutupan perdagangan Bursa Efek Jakarta.

Layar monitor tabung di hadapan Doni Salman mulai menampilkan grafik statis yang menandakan aktivitas pasar hari ini telah resmi berakhir.

Analis utama Doni membalikkan badannya dengan wajah yang dipenuhi limpahan keringat kepuasan.

Ia menyerahkan selembar slip konfirmasi transaksi harian dari perusahaan sekuritas yang menjadi perantara mereka.

"Seluruh posisi sepuluh persen telah berhasil dilikuidasi pada harga tertinggi harian, Pak Doni," kata analis itu dengan nada penuh hormat yang mutlak.

"Total dana tunai yang berhasil kita amankan dari portofolio saham BUMI sore ini adalah sebesar 13,2 miliar rupiah."

" Dana ini sudah efektif masuk ke dalam rekening utama Salman Group di Bank Mandiri pusat."

Doni Salman menerima slip kertas tersebut, membacanya sekilas, lalu menyelipkannya ke dalam saku kemeja putihnya dengan gerakan yang sangat rileks.

Tiga belas miliar rupiah dana tunai likuid di tahun 2006 adalah kekuatan finansial yang sangat masif lebih dari cukup untuk membeli seluruh surat utang PT Santoso Karya yang sebentar lagi akan dilempar murah oleh para vendor yang panik akibat pembekuan dana Devan di Bank Nusa Sentosa.

Doni melangkah menuju papan tulis putih di dinding ruangan.

Ia mengambil sebuah spidol hitam, lalu menarik garis silang besar di atas tulisan nama ANDREAS, kemudian membuat sebuah tanda panah tebal dari nama BANK NUSA SENTOSA langsung menuju ke arah tulisan nama DEVAN SANTOSO.

"Gempa pertama di bursa efek sudah selesai kita manfaatkan,"

Bisik Doni Salman pada keheningan ruangan lantai dua, sepasang mata sumur tuanya berkilat kejam memantulkan cahaya redup layar komputer.

"Sekarang, biarkan kepanikan melanda Menara Thamrin."

"Saat Devan mulai merangkak keluar dari kantornya untuk mengemis pinjaman dana segar kepada para lintah darat Jakarta minggu depan, aku sendiri yang akan berdiri di ujung pintu dengan membawa surat perjanjian akuisisi atas seluruh aset tanah masa depannya."

Langkah keempat dari cetak biru balas dendamnya kini telah resmi bergeser dari fase pertahanan operasional di pelabuhan menuju serangan finansial terbuka di jantung ibu kota.

Dan di bawah kendali bayangan Doni Salman, lonceng kematian untuk eksistensi bisnis keluarga Santoso kini telah mulai berdentang dengan ritme yang semakin cepat, dingin, dan mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!