NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017: Pengadilan Tutup

Tembakan kedua meninggalkan bau mesiu di udara pagi.

Arga Pratama tidak berlari.

Ia bergerak rendah di antara dua mobil yang berhenti, membaca jarak seperti membaca laporan yang hanya punya satu kesempatan untuk benar. Pelaku pertama masih memaksa petugas pengangkut uang membuka pintu belakang. Pelaku kedua berdiri lebih liar, pistolnya bergerak ke mana-mana, lebih berbahaya justru karena panik.

Di dalam mobil, Kiara Hartono menahan napas.

Ia ingin berteriak agar Arga kembali. Tetapi suara itu tidak keluar. Yang ia lihat di depannya adalah laki-laki yang sudah lepas dari perintah Ratna dan kursi sunyi di ujung meja keluarga.

Ini orang yang tubuhnya sudah mengenal bahaya sebelum pikirannya memberi nama.

Pelaku pertama melepaskan magazen kosong.

Setengah detik.

Hanya itu celahnya.

Arga masuk.

Ia mendorong pintu mobil di sebelahnya hingga terbuka keras. Bunyi benturan membuat pelaku pertama menoleh. Saat mata pria itu bergeser, Arga sudah berada dalam jarak tangan.

Pergelangan pelaku ditekan ke bawah.

Magazen jatuh ke aspal.

Siku Arga masuk ke tulang rusuk, pendek dan terukur. Bukan pukulan untuk menghancurkan, hanya cukup untuk membuat paru-paru kehilangan udara. Tangan kirinya menarik laras menjauh dari warga, tangan kanannya memutar pergelangan.

Senjata lepas.

Pelaku pertama jatuh berlutut.

Pelaku kedua berteriak, "Mundur!"

Ia mengangkat pistol ke arah Arga.

Kiara melihatnya.

"Arga!"

Arga sudah bergerak.

Ia menarik tubuh pelaku pertama sebagai penghalang sesaat. Pelaku kedua menahan pelatuk. Saat ragu itu muncul, Arga melepaskan pelaku pertama dan bergeser ke samping kanan.

Pelaku kedua menembak.

Peluru menghantam kaca spion mobil lain.

Pecahan kaca beterbangan.

Arga sudah sampai di bawah garis tangan lawan. Ia menangkap pergelangan bersenjata, menekan ibu jari ke arah luar, lalu memutar lengan pelaku sampai tubuh pria itu kehilangan keseimbangan.

Pistol jatuh.

Lutut Arga menekan punggungnya ke aspal.

"Diam."

Satu kata.

Pelaku itu berhenti melawan.

Seluruh jalan masih berguncang oleh jeritan dan klakson. Tetapi pusat kekacauan sudah selesai.

Arga mengambil kedua senjata, melepas magazen, mengosongkan kamar peluru, lalu meletakkannya jauh dari tangan siapa pun. Ia tidak mengangkat senjata untuk bergaya. Tidak berteriak. Tidak menginjak kepala orang yang sudah kalah.

Ia hanya memastikan semua aman.

Petugas pengangkut uang yang jatuh menatapnya dengan wajah pucat. "Pak... terima kasih."

"Periksa teman Anda," kata Arga.

Suara sirene datang dari arah selatan.

Beberapa menit kemudian, unit Brimob tiba bersama polisi lalu lintas dan petugas medis. Jalan segera ditutup. Warga diarahkan menjauh. Seorang anggota Brimob mendekati Arga setelah melihat posisi dua pelaku dan dua senjata yang sudah diamankan.

"Bapak yang melumpuhkan?"

"Saya membantu sampai petugas datang."

Anggota itu menatapnya, lalu melihat teknik ikatan sementara di tangan pelaku.

"Bapak pernah dinas?"

Arga menjawab seperti biasa. "Pernah pelatihan."

Anggota itu tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia cukup profesional untuk tidak bertanya di tengah jalan.

Kiara keluar dari mobil dengan kaki yang masih lemah.

Arga langsung menoleh. "Kamu tidak apa-apa?"

Pertanyaan itu membuat sesuatu di dadanya hampir runtuh.

Baru beberapa menit lalu, ia melihat pistol diarahkan ke Arga. Namun orang pertama yang ditanya Arga tetap dirinya.

"Aku..." Kiara menarik napas. "Aku baik-baik saja."

"Tetap di sini. Jangan mendekat ke garis polisi."

"Kamu terluka?"

"Tidak."

Ia menjawab terlalu cepat, terlalu datar.

Kiara memegang lengannya dan memeriksa sendiri. Ada goresan kecil di punggung tangan, mungkin dari pecahan kaca. Tidak dalam. Tetapi melihat darah sekecil itu saja membuat tenggorokannya menegang.

"Ini luka."

"Goresan."

"Tetap luka."

Arga diam.

Anggota Brimob yang tadi berbicara kembali. "Pak, Bu, jalan ke arah Pengadilan ditutup sementara. Area ini masuk perimeter olah TKP. Kami juga dapat info kantor Pengadilan pagi ini menunda layanan tatap muka karena akses utama terdampak penutupan."

Kiara menoleh. "Semua layanan?"

"Untuk hari ini, iya, Bu. Pengumuman resmi sedang ditempel. Mohon maaf."

Sopir yang masih pucat mendekati mereka. "Bu, kita lanjut atau kembali?"

Kiara tidak langsung menjawab.

Pengadilan tutup.

Perceraian tertunda lagi.

Jika ini terjadi sebulan lalu, mungkin ia akan menyebutnya kebetulan. Hari ini, ia tidak tahu harus menyebutnya apa. Jalan menuju akhir mereka seperti selalu patah sebelum sampai pintu.

Mereka tetap pergi ke gedung Pengadilan setelah polisi mengizinkan mobil memutar jalur alternatif.

Di depan pagar, kertas pengumuman ditempel di papan informasi:

Pelayanan administrasi tatap muka hari ini ditunda karena penutupan akses dan koordinasi keamanan. Pemohon diminta menjadwalkan ulang.

Kiara membaca kalimat itu sampai selesai.

Map perjanjian perceraian terasa berat di tangannya.

Arga berdiri di sampingnya, tidak mengatakan apa pun.

Beberapa pasangan lain mengeluh di dekat gerbang. Seorang petugas keamanan meminta semua orang kembali besok atau menunggu pengumuman lanjutan. Dunia tetap berjalan, hanya satu pintu hari itu tertutup.

Kiara duduk di tepi bak tanaman beton di luar pagar.

Kakinya lemas. Semua pertanyaan yang selama ini ia tahan tiba-tiba berdiri bersamaan.

Video bank.

Helikopter Cakra.

Laporan militer terkunci.

Tembakan pagi ini.

Arga yang bergerak di antara pistol dan warga sipil seperti ia pernah melakukan itu dalam hidup lain.

"Kamu sebenarnya siapa?" bisik Kiara.

Arga mendengar.

Ia berjongkok di depannya dan membuka botol air mineral yang dibeli dari warung kecil dekat pagar.

Ia menyerahkan botol itu.

"Minum dulu."

"Arga."

"Aku antar kamu pulang dulu."

Jawaban itu bukan jawaban.

Tetapi kali ini Kiara tidak membiarkannya lewat begitu saja. Ia menerima botol itu, tetapi matanya tetap menahan wajah Arga.

"Kamu selalu bilang nanti."

Arga menatapnya lama.

Di matanya, Kiara melihat pintu yang dijaga dari dalam. Sesuatu di baliknya terlalu besar untuk dibuka malam itu.

"Aku tahu," katanya pelan.

"Kalau kamu tahu, kenapa tetap begitu?"

Angin panas dari jalan membawa suara klakson jauh. Arga menunduk sedikit, seolah memilih kata yang paling tidak melukai.

"Karena sebagian hal, begitu dibuka, tidak bisa ditutup lagi."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu."

"Kalau begitu berhenti memperlakukan aku seperti orang yang harus diselamatkan dari kebenaran."

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang Kiara rencanakan.

Arga tidak marah.

Itu lagi-lagi membuatnya semakin sulit bernapas.

"Hari ini bukan waktunya," katanya.

"Kapan?"

Arga berdiri perlahan. "Saat kamu bertanya karena ingin tahu. Jangan karena takut."

Kiara terdiam.

Ia ingin membantah, tetapi tidak bisa. Karena sebagian dari dirinya memang takut. Takut jika Arga terlalu besar untuk semua yang pernah ia pikirkan. Takut jika kesalahan keluarganya lebih dalam daripada yang bisa ia perbaiki. Takut jika setelah tahu semuanya, ia tidak punya hak lagi untuk meminta laki-laki itu menoleh.

Dalam perjalanan pulang, Kiara duduk di kursi depan.

Sopir mengemudi lebih hati-hati daripada biasanya. Jalanan masih dialihkan. Sirene terdengar jauh, mengecil di belakang mereka.

Kiara menatap sisi wajah Arga ketika ia mengambil alih kemudi di pertengahan jalan karena sopir masih gemetar. Fokus Arga pada jalan, kedua tangannya tenang di setir, goresan kecil di punggung tangan mulai mengering.

Tiba-tiba, ingatan video bank muncul di kepalanya.

Gerakan yang sama.

Tenang yang sama.

Bahaya yang sama-sama tunduk seolah ia sudah lama mengenal pria itu.

Kiara tidak bertanya lagi hari itu.

Tetapi pertanyaannya tidak pergi.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!