"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12 Di Bawah Perlindungannya
Sore itu, seluruh pekerja Kediaman Liem dikumpulkan di ruang staf.
Hansen berdiri di depan tanpa membawa catatan. Angie berada beberapa langkah di belakangnya, masih belum terbiasa dengan tatapan yang kini tertuju kepadanya.
"Mulai hari ini, Angie bekerja langsung di bawah pengawasanku," kata Hansen. "Setiap gangguan, ancaman, penghinaan, atau tindakan yang membahayakannya akan dianggap sebagai tindakan terhadap saya."
Wati menegang. Sri menatap lantai. Lina diam-diam mengangkat ibu jari kepada Angie dari balik punggung pekerja lain.
"Aturan ini bukan izin bagi siapa pun untuk memperlakukannya seperti nyonya rumah," lanjut Hansen. "Angie tetap memiliki tugas dan batas. Namun tidak ada lagi yang boleh memakai status pekerja untuk menyakitinya."
Wati mengangkat kepala. "Kalau ada kecelakaan biasa, apa kami juga langsung dituduh, Tuan Muda?"
Beberapa pekerja menarik napas. Tidak ada yang berani menyela pengumuman Hansen seperti itu.
"Kecelakaan diselidiki sebagai kecelakaan," jawab Hansen. "Tindakan sengaja diselidiki sebagai tindakan sengaja. Rekaman dapur menunjukkan perbedaannya."
Wajah Wati langsung kaku.
"Saya tidak memecatmu karena saat ini kamu lebih berguna di dalam rumah daripada di luar," lanjut Hansen. "Jangan salah mengira itu sebagai pengampunan."
Wati menunduk. Semua orang kini tahu Hansen sedang menunggu pihak yang memberi perintah membuat kesalahan berikutnya.
Lina maju setengah langkah. "Kalau kami melihat orang mencurigakan di sekitar kamar Baby, harus melapor ke siapa?"
"Pak Hasan, kepala keamanan, atau langsung kepadaku. Tidak ada laporan yang dihukum selama dibuat dengan jujur."
Perlindungan terhadap Angie ternyata juga membuat pekerja lain lebih berani bicara.
Ia mengalihkan pandangan kepada Pak Hasan. "Pastikan semua orang memahami."
"Baik, Tuan Muda."
Jawaban itu sopan seperti biasa, tetapi jeda sebelum mengucapkannya sedikit lebih panjang. Hansen menyimpan detail tersebut tanpa menunjukkan reaksi.
Setelah pekerja bubar, ia meminta Angie datang ke ruang kerja. Di atas meja terdapat alat kecil berwarna hitam, tidak lebih besar dari kartu akses.
"Ini tombol darurat internal," jelas Hansen. "Tekan satu kali untuk menghubungi ruang keamanan. Tekan dua kali untuk menghubungiku langsung."
Ia menekan tombol uji. Lampu hijau menyala tanpa suara, lalu ponsel Hansen bergetar di atas meja. Lokasi perangkat muncul sebagai titik kecil di denah Kediaman Liem.
"Tidak merekam suara dan tidak melacak di luar kawasan rumah kecuali mode darurat aktif," katanya. "Kamu bisa mematikannya saat sedang libur."
Angie membalik alat tersebut. "Jadi ini bukan cara baru untuk mengawasi saya?"
"Kalau aku ingin mengawasimu, aku tidak akan memberitahumu letak tombolnya."
"Itu tidak menenangkan."
"Tapi jujur."
Angie mengambilnya. "Bahkan saat Tuan sedang rapat?"
"Terutama saat aku sedang rapat."
"Kalau Guai hanya menangis?"
"Telepon biasa."
"Kalau saya tidak sengaja menekan?"
"Aku akan datang dan memastikan kamu cukup ceroboh untuk melakukannya."
Angie menahan senyum. "Tuan selalu membuat pertolongan terdengar seperti ancaman."
"Agar kamu tidak menolaknya."
Ia menggenggam alat itu. Perlindungan Hansen terasa nyata, tetapi juga terlalu besar. Seorang direktur konglomerat tidak seharusnya bisa dipanggil dua kali tekan oleh pengasuh anaknya.
"Kenapa Tuan melakukan semua ini?"
"Karena dua orang di rumah ini sudah mencoba menjadikanmu sasaran."
"Itu jawaban aman."
Hansen menatapnya, mengingat bagaimana Angie mengulang kalimatnya di dekat kolam. "Untuk saat ini, terima saja."
Di halaman belakang, Pak Hasan memastikan teknisi keamanan pulang sebelum masuk ke gudang linen. Ia mengunci pintu, mengeluarkan ponsel lama dari balik tumpukan handuk, lalu mengetik satu pesan.
`Rahasia ASI sudah diketahui. Tuan Muda menaikkan gaji Angie dan memberi perlindungan langsung. Pengawasan rumah diperketat.`
Penerima tidak memiliki nama, hanya satu nomor.
Jempol Pak Hasan berhenti di atas tombol kirim. Wajah putrinya muncul sebagai gambar layar, tersenyum dari ranjang rumah sakit beberapa bulan lalu. Pesan ancaman terakhir masih tersimpan di ponsel itu.
Nyonya Lau mengetahui rumah sakit tempat putrinya menjalani perawatan ginjal dan jumlah biaya yang belum dibayar. Ia tidak pernah meminta Pak Hasan mencelakai siapa pun secara langsung. Ia hanya menuntut jadwal, nama tamu, serta perubahan keamanan, lalu mengingatkan apa yang bisa terjadi jika ia berhenti bekerja sama.
Pak Hasan telah meyakinkan dirinya bahwa informasi bukan kekerasan.
Setelah Guai hampir mati, kebohongan itu tidak lagi mudah dipercaya.
Ia menutup mata, lalu menekan kirim.
Di kamar pekerja, Angie memasang alat darurat pada tali seragam. Begitu sendirian, kata-kata Hansen pagi tadi kembali mengganggunya.
Satu tahun yang lalu, kamu ada di mana?
Ia memejamkan mata dan mencoba memaksa ingatan muncul.
Lampu putih.
Rasa sakit yang membelah tubuh.
Seseorang memintanya mengejan. Tangisan bayi terdengar dekat, begitu dekat hingga kedua lengannya bergerak ingin meraih.
Lalu bayangan perempuan dengan gelang batu hijau membungkuk di atas ranjang.
Rasa sakit tajam menusuk kepala Angie. Ia membuka mata dan terhuyung ke dinding.
Semua gambar lenyap, menyisakan keringat dingin di tengkuk.
"Cuma mimpi," bisiknya.
Malam turun.
Di dapur yang sudah sepi, Celine mengeluarkan botol kaca kecil dari tas. Ia menuangkan cairan bening ke dalam segelas jus jeruk, mengaduknya, lalu membuang botol kosong ke tempat sampah luar.
Ia membawa gelas itu ke lantai dua.
Di depan kamar Hansen, Celine menarik napas, membentuk senyum lembut, lalu mengetuk pintu.
"Hansen, aku membawakan jus untukmu."
Di dalam kamar, tidak ada jawaban selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.